e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mencegah Anak Jadi Jero Dasaran

Beberapa masyarakat Songan mulai mempertanyakan keberadaan Jero Dasaran yang usianya semakin muda dan jumblahnya semakin banyak. Ada apa gerangan? Sebelum lanjut membaca tulisan ini, kiranya perlu membaca ulasan ‘Bhatara Satiman’ pada tulisan sebelumnya.

Kalau kita hitung-hitung secara serampangan kira-kira yang jadi Jero Dasaran 50 % lebih, yang lainnya Jero Mangku sekira 10%, Dewa Kembar 5 %, Jero Balian 4%, Jero Peduluan 1 %, sisanya masyarakat biasa yang tidak jadi jero.

Ambil contoh di keluarga saya; Bapak jadi jero Mangku, Ibu jadi Jero Dasaran, tapi anak-anaknya yang berjumblah 5 orang tak satu pun jadi Jero dasaran, begitu pun kedua cucunya. Coba lihat keluarga saudara bapak saya; Paman Wa jadi Jero kembar, istri pertamanya jadi Jero Dasaran, istri kedua jadi Jero Balian. Dari 5 anaknya, 2 jadi Jero Dasaran, 1 dewa kembar, 2 lagi jadi pemangku (tapi setelah kawin keluar, mengikuti suaminya jadi pemangku). Dari dua cucunya, keduanya jadi jero dasaran, padahal masih kecil.
Lihat lagi adik bapak saya; Guru jadi jero pemangku, tentu istrinya mengikutinya; pemangku dewa hyang. Dari 3 anaknya, 1 jadi Jero Dasaran.

Dari kenyataan tersebut, Jero dasaran paling mendominasi, diikuti Jero Mangku, lalu Dewa Kembar, terakhir Jero Balian. Sedangkan Jero-Jero yang duduk dalam sistem pemerintahan adat (peduluan) itu memang keharusan, seperti Jero Kraman, Jero Nyarikan, Jero Kubayan, dan lain sebagainya. Demikian pula halnya yang menjadi Jero Mangku. Hal tersebut karena setiap ada pura, dewa hyang, dewa kembar, wajib ada pemangkunya. Sehingga kenyataan ini tak perlu dipertanyakan. Yang sering tak masuk akal adalah keberadaan Jero Dasaran dan Dewa Kembar (yang pasangannya tidak ada). Sedangkan Jero Balian masih wajar-wajar saja, karena yang menjadi Jero Balian sedikit, masih menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kenyataan ini saya pernah saya tanyakan ke bapakku, ada apa di balik fenomena orang jadi Jero Dasaran semakin banyak dan semakin muda? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa jadi jero dasaran itu memang sebuah kebutuhan, dan memang sebagian orang benar-benar ‘Kajumput’ oleh Ida Bhatara untuk ngiring pekayunan Ida Bhatara. Tetapi kemungkinannya, banyak juga yang hanya ikut-ikutan; misalnya takut anaknya tak sembuh-sembuh atau bahkan takut anaknya meninggal pada usia muda sehingga lebih baik dijadikan Jero Dasaran ketimbang anaknya hidupnya sengsara bahkan meninggal. Sebagaimana kita ketahui seseorang yang akan menjadi Jero dasaran pasti didahului sakit, sakit-sakitan, bahkan buduh alias gila.

Untuk mencegah menjadi orang yang hanya ikut-ikutan menjadikan anak sebagai Jero dasaran atau takut anaknya kenapa-kenapa bila tidak dijadikan Jero dasaran, kira-kira hal di bawah ini perlu direnungkan atau setidaknya dipertimbangkan;

Pertama, anak yang lahir eteh-etehnya dilengkapi, termasuk pada saat sang istri hamil (klik di google Tapa Brata Wanita Hamil), demikian ketika anak sudah lahir; ari-arinya diberikan upakara sebagaimana yang tertuang dalam Kanda Pat Rare dan Lontar Usadha Wong Beling. Demikian pula upacara lainnya sebagaimana mestinya seperti; adanya pelangkiran, kepus pungsed, 3 hari, 42 hari, 3 bulanan, otonan, dst. Dalam masyarakat Songan,kalau kita perhatikan pada umumnya yang kurang mendapat perhatian pada saat istri hamil dan penanaman ari-ari.

Kedua, Pawintenan Saraswati. Ketika anak akan menempuh pendidikan, anak diupacarai pawintenan Saraswati di sekolah. Dalam tradisi Veda hal ini dikenal Upanayana Samskara.

Ketiga, Mandeg Semaya. Mandeg semaya ini berpedoman pada ilmu perbintangan yang tertuang dalam Lontar Wraspati Kalpa. Dalam lontar ini menyebutkan ciri-ciri sakitnya seseorang, waktu sakitnya dan upacaranya berdasarkan hari kelahiran anak.


Bila kita cermati waktu sakitnya seseorang berdasarkan hari kelaharian, seperti; lumangkang; awal digendong, ajejalan; baru belajar berjalan, acacawet; pertama bisa memakai pakaian sendiri, menek kelih; rikala uning nyledet anak len (belajar melirik lawan jenis), masomahan (menikah), maduwe putra (memiliki anak), maduwe cucu (memilki cucu); Yang terakhir ini ada tradisi upacara nutug baya mecucu ketika memiliki cucu dan upacara nutug baya mekumpi ketika sudah memiliki kumpi atau cicit.

Hal tersebut tersebut tergantung hari apa lahirnya seseorang. Contoh misalnya saya, menurut primbon saya akan sakit ketika baru tahu melirik cewek. Waktu saya sakit parah itu kelas 4 SD. Tahu gak, waktu saya kelas 3 sudah pernah mejek nyonyo. Tapi tua cepok sajaan, sing bani. Waktu itu saya sakit hampir sebulan, sampai tak sekolah padahal sudah dibawa ke dokter di Kintamani tapi tak kunjung sembuh, bahkan pernah dikiranya mati waktu pingsan. Setelah serius ditangani bapakku, dicari dari mana penyebab sakitnya lalui dibuatkanlah pebayuhan sesuai petunjuk lontar. Sembuh sudah. Sampai saat ini hampir tak pernah sakit, kalau pun sakit karena sakit akibat alam seperti batuk-batuk, panas dingin. Tapi menurut lontar itu saya akan bayar mandeg semaya pada saat maduwe putra asiki.

Oleh karena itu, bila anak kita sakit tak kunjung sembuh padahal sudah berobat ke dokter, lihat dulu sakitnya apa, cocok apa tidak dengan mandeg semaya-nya. Jika ternyata mandeg semaya, buatkan upacaranya. Bila ternyata tidak, barulah lari ke solusi akhir, jadi Jero Dasaran. Ini pun bila memiliki ciri-ciri melik untuk memastikannya atau biar yakin sepenuhnya.

Kenapa saya berani mengatakan hal itu, karena saudara-saudara saya dan keponakan saya diperlakukan seperti itu oleh bapak, terbukti sampai saat ini tak satupun anaknya jadi Jero. Gak ada tuh Jero Pertas, Jero Merta Mupu, padahal orangnya gendeng-gendengan, huahaha.

Tanggapan seseorang atas tulisan ini di facebook, salah satunya dikomentari oleh mbak Tri, sebagai berikut;

Saya tidak lahir di songan tetapi tiang sekeluarga mengalami fenomena ini. Saya terus mencari jawaban mulai dari lingkungan yang paling dekat hingga lingkungan terjauh. Kesimpulan sementara secara logis, setiap orang lahir dengan karma dan bekel masing-masing. Orang-orang yang kita sebut melik adalah memiliki kelebihan, saya lebih suka menyebutnya keunikan. Tugas kahirnya adalah bagaimana ia bisa menggali dan memahami diri sehingga berguna untuk dirinya dan orang lain karena dia dilahirkan lebih, memiliki kemampuan khusus. Kalau kita pakai bahasa bebas, orang-orang melik ini sangat bagus berprofesi sebagai Healer. Di Bali healer itu identik dengan sang dharmousada atau Balian, bahasa kasarnya dukun/pemyembuh. Dasar pijakannya sebagai seorang healer itu adalah berbuat baik untuk dirinya sendiri, berbuat baik untuk orang lain. Permasalahannya banyak dukun yang membantu seseorang untuk menyakiti oranglain. Ini perlu kecerdasan dan kebijaksanaan yang lebih agar tidak terjadi al demikian. Kasus melik ini tidak hanya terjadi di Bali. Di seluruh belahan dunia ada, hanya saja beda istilah. Di amerika, di jerman, juga ada orang melik. Rata-rata orang sepert itu berprofesi sebagai guru spiritual dan meditator yang tampil sangat biasa dan tidak tenget. Apa yang buat melik di Bali menjadi tenget karena pemahaman kita yang dibungkus dengan primitif yang bernuansa ego. Sehingga melik yang merupakan anugerah untuk menjadi pribadi yang unik akhirnya menjadi momok menakutkan yang berusaha untuk dihindari dan diingkari.

Asal muasal kenapa leluhur kita memberi panggilan "Jero". Jero =inside =di dalam, ditujukan kepada sang jati diri/spirit/soul/Ruh yg suci dan murni yg bersemayam. Agar sang raga mampu menjadi altar-Nya. Guna menjalan tugas-tuas mulia agar bhuana agung dan bhuana alit selaras-seimbang. Bila sang raga yang mengusung "Jero" tidak sanggup mengekpresikan hal yang demikian maka sudah mengurangi makna Jero yang sesungguhnya.

Jero yang sesungguhnya, adalah soul/spirit yg diusung oleh raga yang sudah mampu mengekpresikan semangat kemanusiaan yang mengalirkan informasi dan energi yang selaras dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada di alam semesta. Orang-orang yang sudah pada tingkat ruh/soul/spiritnya terkoneksi erat dengan raga/body/badan. Kalau dilihat dari frekwensi gelombang otaknya berada di delta. Disitulah seluruh informasi alam bawah sadar terhubung anatara manusia satu dengan yang lain. Dan tentu pula terhubung dengan energi alam semsta dan mahkuk lain yang lebih tinggi atau mulia di alam semesta ini.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts