Voice Of Merta Mupu

Voice Of Merta Mupu : Cerita Tak Tertata

Motivasi Menulis

Channel Youtube

Undangan Pelatihan Pengobatan Tradisional Setelah Nyepi

Undangan Pelatihan Pengobatan Tradisional Setelah Nyepi


Saat aku melihat orang-orang sakit, terkadang hati terenyuh melihatnya, merasa prihatin, namun tak bisa berbuat apa, terutama ketika melihat keluarga jatuh sakit. Bahkan muncul niat untuk belajar pengobatan tradisional atau usada, Balian Usada. Ini hal yang paling memungkinkan yang bisa dipelajari mengingat usia sudah lumayan 'uzur'. Kalaulah misalnya kuliah lagi di kedokteran atau perawat tentu sulit, bahkan mustahil.

Menurut petunjuk mimpiku ya gaes, katanya bakat aku sesungguhnya adalah seorang perawat, dokter. Sedangkan pendidikan yang ditempuh selama ini dianggap salah jurusan. Miris deh! Tapi iya loh, aku mudah paham hal-hal bernuansa pengobatan. Kadang terobsesi memiliki isteri seorang bidan, perawat atau apalah, yang penting mengurus orang sakit. Andai kata, calon isteriku baru tamat SMA, terbesit keinginan membiayai isteri kuliah di bidang kesehatan. Ingin memadukan pengobatan medis - non medis, karena kenyataannya dalam masyarakat Bali bila kedua metode pengobatan ini dipadukan lebih baik hasilnya.

Keinginanku belajar pengobatan tradisonal sepertinya disambut baik alam semesta. Dipucuk ulam tiba, aku dapat undangan pelatihan pengobatan tradisional setelah Nyepi. Ada yang mau ikut? Simak ulasan lengkapnya:

Aku lagi santai di rumah, datanglah seseorang menghampiriku. Ia membawa surat undangan. Setelah dibaca, ternyata isi surat itu undangan Pelatihan Pengobatan Tradisional yang akan diselenggarakan oleh lembaga resmi pemerintah. Kegiatan pelatihan tersebut setelah Nyepi. Saya diberi mandat untuk mengundang masyarakat lainnya, turut juga diundang masyarakat penerima bantuan Program Keluarga Harapan. Bahagianya hatiku akan menghadiri pelatihan tersebut.
Sayangnya hanya dalam mimpi.

Kelihatannya mimpi ini terlihat sederhana, namun bila kita ditelusuri lebih dalam akan bernilai tinggi. Aku sih geli-geli sedap memaknainya, soalnya memang sempat berdoa menjelang tidur supaya dikaruniai kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit. Mimpi di atas maknanya bahwa beliau Yang Di Atas berkenan mengabulkan keinginan saya itu, tetapi akan terjadi setelah menjalankan catur brata penyepian dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kelak bisa membantu masyarakat dan menjadi harapan keluarga (makna Program Keluarga Harapan). Yang sulit adalah menerapkan catur brata penyepian dalam kehidupan sehari-hari, sebab yang dimaksud catur brata penyepian sebenarnya bermakna sangat dalam. Uraian sederhananya sebagai berikut :

1. Amati Gni yaitu tidak menyalakan api dalam diri seperti; mengendalikan emosi, mengendalikan nafsu hewani, mengendalikan keinginan, sebagaimana ajaran sastra: Tiada api yang dapat menyamai nafsu, tiada cengkeraman yang dapat menyamai kebencian, tiada jaring yang dapat menyamai ketidaktahuan, dan tiada arus yang sederas nafsu keinginan. [Dhammapada, 251]

2. Amati Karya yaitu tidak berbuat (akarma). Yang dimaksud tidak berbuat bukanlah malas-malasan atau tidak bekerja, melainkan "Berbuat sebagai tidak berbuat", yaitu bekerja tanpa mengharapkan pahala, bekerja dengan tulus iklas, sehingga kita tidak terikat oleh karma. Inilah yang disebut Akarma: perbuatan yang tidak berbuah, perbuatan yang tidak menghasilkan Karma, yang mampu mengantarkan seseorang terbebas dari kelahiran dan kematian.
.
Sebagaimana ajaran Bhagavad Gita dikenal tiga jenis Karma yaitu Wikarma, Sukarma dan Akarma. 
Wikarma; perbuatan jahat, menghasilkan keburukan.
Sukarma ; Perbuatan baik, menghasilkan kebaikan.
Akarma ; Perbuatan yang tidak menghasilkan pahala dari perbuatan itu. 
Yang terakhir inilah yang dimaksud amati karya; berbuat sebagai tidak berbuat. Contoh sederhananya: tidak bahagia dikala mendapat kesenangan, tidak bersedih hati tatkala menderita. Tetap seimbang dalam keadaan suka-duka.

"Ini disebut perbuatan bukan gelap juga bukan terang dengan akibat bukan gelap juga bukan terang yang mengarah menuju hancurnya perbuatan/Nibanna." [MN 57/Kukkuravatika Sutta]

3. Amati Lelungaan yaitu tidak bepergian; tidak membiarkan pikiran liar pergi kesana kemari. Seperti disebutkan dalam Dhamapada: Sukar dikendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya. Adalah baik untuk mengendalikan pikiran, suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan. [Dhammapada Syair 35]

4. Amati Lelanguan yaitu tidak mencari hiburan. Dalam menapaki kehidupan kecendrungan kita suka menghibur diri melalui panca indera kita. Menikmati pemandangan 'indah' melalui mata. Mendengarkan berita yang tak seharusnya didengarkan, seperti gosip, berita houks (hoax), dan lainnya.
Merasakan kenikmatan berlebihan dengan kemewahan melalui indera peraba. Menikmati makanan enak secara berlebihan dengan mulut, bahkan menjadikan perut sebagai kuburan hewan. Dan menikmati bau enak berlebihan melalui hidung.
Kecendrungan-kecendrungan inilah yang hendaknya kita kendalikan.

Apakah kita bisa menerapkan catur brata penyepian dalam kehidupan sehari-hari? Bila kita siap, dewata akan mengundang kita untuk mengabulkan doa kita setelah Nyepi. Bahkan seseorang yang mampu demikian akan sakti sidhi ngucap.
Kundangan Pemujaan

Kundangan Pemujaan

Om S di timur rumah saya melaksanakan suatu Yadnya atau korban suci. Saya dan bapakku diundang karena jadi Pemangku atau (pendeta), akan nganteb banten.
"Karena aku sudah pernah diajari nganteb banten oleh bapakku, maka aku akan lebih mahir dari bapakku." Gumamku dalam hati sambil melirik bapakku yang sedang nganteb dengan nyumbah. Pikiran congkak menguasai diri saat mulai nganteb atau melantunkan lagu pujian kepada dewata. Lagu pujaan yang akan saya lakukan lebih panjang dari bapakku. Beliau hanya menggunakan mantra Veda berbahasa Sansekerta, sedangkan saya, selain menggunakan mantra Veda, juga akan sertai usana Bali (membahasakan sendiri mantra veda yang diucapkan), karena saya tidak begitu paham dengan bahasa Sansekerta, supaya tidak berdosa melantunkan suatu pujaan tanpa mengetahui maknanya.

Ketika mulai pemujaan, saya kebingungan: mana duluan membersihkan diri ataukah mohon 'Panugrahan', dan dengan sigap saya membersihkan diri dulu dengan mantra: Om prasada stiti sarira shiwa suci nirmala ya namah svaha.
Lalu mengucapkan mantra panugrahan dengan nyakupang tangan tanpa sarana:

Om awignam astu namah sidiem.

Om Shri Saraswati ya namah.

Om Saraswati namastubyam,
Warade kama rupini,
Sidhiramba karisyami,
Sidhir bawantu mesada.

Dalam pikiranku, bahwa panugrahan Saraswati boleh diganti dengan lagu pujaan Saraswati yang dari India tersebut, sehingga itu yang saya pakai. Lalu saya lanjutkan dengan Panugrahan kepada Bhatara Guru:

Singgian pakulun Sanghyang Guru Reka. Mamitang lugra titiang anguntap jeng palungguh cokor ratu.... dst.

Tiba-tiba suasana berubah, pemujaan sudah sampai tahap upasaksi kepada Sanghyang Surya menggunakan sekar kuning, disitu saya mengucapkan mantra Siwa Raditya dan saya sertai dengan usana Bali. Setelah usai usana Bali, sertai dengan Kuta Mantra: Om Hrang Hring Sah parama siwa aditya ya namah svaha. Lalu pentilkan sekar ke arah kaja kangin atau timur laut (ke depan sebelah kanan).
"Bila usana bali berupa pujian kepada-Nya, akhiri dengan mantra ini untuk menguatkan mantra tersebut." Pikirku.

Tahap pemujaan berikutnya saya melantunkan puja permohonan keselamatan kepada dewata untuk om S. Dalam pikiranku, tidak perlu menyebutkan nama orang yang sedang melaksanakan Yadnya, tetapi diganti dengan 'Sang Madue Karya", sambil pikiran fokus kepada orangnya, yang melaksanakan Yadnya. Tidak menyebutkan nama bersangkutan supaya tidak ada perasaan kikuk menyebut nama orang yang lebih tua.

Diakhir doa berupa permohonan menggunakan usana Bali, saya akhiri dengan mantra: Om Sidhirastu tat astu astu ya namah svaha.
"Bila mantra atau doa berupa permohonan, akhiri dengan mantra ini supaya sidi atau mujarab." Pikirku.

Setelah sadar dari mimpi, merasa bahagia. Ternyata beliau Bhatara Hyang Guru (simbol bapak/guru) berkenan mengajari saya yang berkaitan dengan pemujaan. Begitulah cara Tuhan mengajari kita melalui mimpi.

Ada beberapa poin penting yang diajarkan disini yang tampak berbeda dari apa yang sudah menjadi tradisi:

Pertama, biasakan membahasakan sendiri mantra yang diucapkan menggunakan bahasa Sansekerta menjadi bahasa yang kita pahami, bahasa Bali. Sebab dikatakan berdosa bila kita mengucapkan mantra sedangkan kita tidak tahu artinya. Sehingga bagusnya kita pakai keduanya. Awalnya mantra sansekerta, kemudian tambahi dengan bahasa sendiri, usana Bali. Jaman sekarang banyak anak muda yang senang belajar mantra kramaning sembah, padahal tidak tahu artinya, sehingga pemujaannya tidak khusuk.

Kedua, secara tradisi sembah saat memohon Panugrahan nyumbah meserana sekar. Dalam mimpi: nyumbah tanpa serana.

Ketiga, Panugrahan Saraswati ada mantra khusus, tetapi ternyata boleh diganti dengan mantra yang berasal dari India sebagai mana doa di atas.

Keempat, kalau kita baca beberapa buku, mantra Panugrahan itu ada yang menjelang 'Nuhur Ida Bhatara', ada yang diucapkan paling awal. Tetapi dalam mimpi, diucapkan setelah mantra pembersihan raga seperti di atas.
Bila kita urutkan menjadi:
-Mantra Padmasana (duduk)
-Pranayama
-Karosodana
-Mantra Menyucikan Raga
-Panugrahan.
Dst...

Kelima, kebiasaan masyarakat mementilkan bunga pada saat nunas upasaksi biasanya dipentilkan ke depan. Yang benar adalah ke depan sebelah kanan (timur laut). Ini pernah saya baca dalam sebuah buku. Hanya khusus upasaksi ke Surya saja.

Keenam, secara tradisi biasa menyebutkan orang yang melaksanakan yadnya saat nganteb banten, terutama saat doa permohonan atau nunas waranugraha. Akan tetapi ternyata tidak perlu menyebut nama orangya, melainkan diganti dengan kata 'Sang maduwe karya' sambil pikiran fokus kepada orang yang melaksanakan yadnya tersebut.

Ketujuh, awalnya saya tidak tahu kapan dan bagaimana penggunaan Kuta Mantra dan Mantra Sidirastu.
Kuta Mantra: om hrang hring sah paramasiwa aditya ya namah svaha.
Sidirastu: Om Sidhirastu tat astu astu ya namah svaha.
Kuta mantra digunakan diakhir pujaan apabila mantra ataupun usana bali berupa lagu pujian untuk menguatkan mantra yang diucapkan, sedangkan mantra Sidirastu digunakan bilamana doa berupa permohonan, supaya doanya mujarab atau sidi.
Setan Pencabut Nyawa

Setan Pencabut Nyawa


Dalam ajaran agama besar seperti Islam dan Kristen dikenal istilah setan; satan. Setan digolongkan ke dalam roh jahat atau mahkluk gaib dengan sifat-sifat jahat pengganggu manusia, kebalikan dari sifat malaikat. Tak beda jauh dengan konsep tersebut, dalam ajaran Hindu dikenal istilah 'Bhuta Kala', kata ini gabungan dari kata 'Bhuta' dan 'Kala'. Bhuta Kala digolongkan sebagai mahkluk jahat pengganggu manusia, sama seperti Setan dan Iblis. Menurut kepercayaan Hindu, Bhuta Kala ciptaan Tuhan (Shiwa), mereka tercipta dari sifat marah-Nya, sekaligus beliau sebagai rajanya kala, beliau bergelar Mahakala, dengam wujud yang sangat mengerikan, menakutkan. Semua tunduk kepada-Nya, baik dewa maupun Kala. Yang menjadi pimpinan dari Bhuta Kala yaitu Dewa Ganesa, itulah sebabnya beliau disebut Gana Pati.

Ketika nyawa seseorang akan diambil, dicabut, bhuta kala diijinkan oleh-Nya untuk mengganggu orang tersebut dan mengambil nyawanya. Hal itu pula menyebabkan bila akan ada yang meninggal suara anjing melololong karena anjing bisa melihat bhuta kala. Beberapa waktu lalu saya sempat melihat wujud Bhuta Kala yang aeng, setan pencabut nyawa, utusan Mahadewa untuk mencabut nyawa seorang sulinggih.

Saat sandi kala, maghrib, saya bersama bapakku sedang berada di timur laut rumah sehabis dari kebun. Tiba-tiba saya melihat bayangan hitam, semakin lama semakin jelas, ternyata itu Bhuta Kala. Bagian bawah kakinya besar, kehitaman, kepalanya banyak, mengerikan seperti tengkorak manusia berjejer. Kepalanya bisa bertambah terus hingga menjulang tinggi ke langit.

'Itu namanya Bhuta Kala pencabut nyawa," Ujar bapakku. 'Itu utusan dewa Shiwa untuk mencabut nyawa sulinggih yang mengambil keputusan yang bukan-bukan." Imbuh bapakku. Saya curiga sulinggih yang dimaksud sulinggih yang saya kenal. Meski saya melihat wujud bhuta kala yang sangat menyeramkan itu, sedikitpun saya tidak takut. Mungkin karena ada bapak saya.

Setelah sadar dari mimpi, merasa bersyukur pernah melihat bhuta kala, soalnya seperti nyata. Setelah itu saya merenungkan maknanya. Saya menduga hal ini ada kaitannya dengan persembahyanganyang sempat terhenti dalam keluarga saya selama tiga hari berturut-turut, bahkan kajeng kliwon uwudan pun tidak mesegehan. Sebabnya, baik saya maupun bapak saya merasa marah kepada dewa gara-gara terjadi krisis mencekik leher, merasa rugi bhakti kepada Tuhan.

Makna mimpi di atas kurang lebih begini; bhuta kala maknanya kemarahan, soalnya kalau seseorang yang marah di tempat saya dikatakan 'mekala'. Sulinggih simbol sesuhunan atau dewa, sedangkan bapak atau guru simbol bhatara hyang guru. Sehingga maknanya bila dibahasakan menjadi, 'Bhatara Hyang Guru memberitahu: bila kamu marah kepada dewa maka energi dari-Nya akan lenyap (tercabut nyawanya)' sehingga hal ini membuat keberuntungan akan lenyap pula.

Marah kepada Tuhan itu memang sangat tidak baik, hal ini akan menyebabkan kita akan lebih terpuruk lagi. Tuhan sama sekali tidak marah kepada kita atas kemaran kita kepadaNya, melainkan ketika kita marah kepada-Nya secara otomatis kita menjauhkan diri dari perlindungan-Nya, energi-Nya.
Tumben Memimpikan Teman Facebook

Tumben Memimpikan Teman Facebook

Biasanya kita memimpikan orang yang sudah pernah ditemui di dunia nyata, namun adakalanya seseorang yang hadir dalam mimpi adalah orang yang kita kenal di dunia maya. Bahkan ada orang yang memimpikan orang yang tidak dikenalnya, tetapi di kemudian hari orang itu nyata adanya, dengan kata lain lebih dulu bertemu dalam mimpi. Nah! Tadi malam saya tumben memimpikan teman facebook dari pulau Jawa, muslimah. Ceritanya begini:

Di dekat rumah tantenya saya bertemu om Tole di jalan, om dari pihak ibu, berboncengan dengan seseorang. Mereka baru pulang dari berjudi sambung ayam, katanya menang. Mereka pun berlalu, saya melanjutkan perjalanan ke sebuah pos. Disana akan diadakan pernikahan sepupu. Saya menghiasi pohon yang tumbuh di sekitat pos. Daun-daun pepohonan sebagian di bawahnya saya cat dengan cat warna merah agar pemandangan lebih indah dan arristik.

Tak lama berselang kedua pengantin sudah datang beserta rombongan. Ternyata pengantinnya teman facebook saya, Pidiyan**. Pernikahannya tentulah menggunakan adat Jawa, baik pakaiannya maupun proses akad nikahnya, termasuk pendetanya, seorang Romo Pendeta Hindu berpakaian khas adat Jawa.

Saat mereka sibuk dengan acara pernikahannya, saya sibuk menghaturkan persembahan canang sari di beberapa tempat yang seharusnya. Menjelang akhir proses pernikahan, Pidiyan** ingin tahu ramalan masa depan hubungannya, meski dia sendiri sudah tahu ilmu perjodohan dan juga sudah tahu mencari hari baik pernikahan yang diajarkan dalam keluarganya secara turun-temurun.

"Anakku, pada awal-awal pernikahanmu, suamimu akan sering berselingkuh karena tidak puas denganmu. Tetapi di kemudian hari akan hidup rukun." Ujar Romo pendeta setelah melihat perbintangan mereka.
Mendengar kata-kata itu dari Romo Pendeta, suaminya nyengir. Merasa ketahuan kalau dirinya play boy.
"Bagaimana mungkin hal itu terjadi, Romo Pendeta? Padahal kami sudah mempelajari ilmu perjodohan, dan tentunya kami juga sudah menikah pada hari yang baik."
"Tampaknya dalam hal ini, kekuatan takdir lebih berkuasa" jawab Romo Pendeta.

Saya ikut menyimak percakapan menarik itu, lalu memberitahu nasehat pada Pidi**ti, "Menurutmu, mana lebih baik bahagia dulu dibandingkan menderita terlebih dahulu?"
Belum dijawab keburu bangun.

Tersadar dari mimpi berasa bahwa mimpi itu sebuah sindiran, selain juga pertanda ada kaletehan di rumah tantenya (simbol pernikahan). Hal menarik bagi saya makna dari kronologi mimpinya. Mimpi ini merupakan nasehat Bhatara Kawitan (simbol om Tole karena omnya menjadi jero dasaran Bhatara Kawitan), sehingga Romo Pendeta itu adalah Bhatara Kawitan. Beliau membawa nasehat atau kabar baik (simbol menang berjudi).

Bhatara Kawitan memberitahu bahwa meski saya sudah tahu ilmu perjodohan dan juga mempelajari hari baik pernikahan, namun takdir lebih berkuasa atas apa yang saya alami, yaitu merasa menderita soal kehidupan asmara. Lalu diberikan bayangan atau pilihan, 'Mana lebih baik menderita dahulu atau bahagia lebih dulu kemudian menderita?' (Simbol saya memberi nasehat pada temannya, namun maksud sebenarnya nasehat itu ditunjukan ke saya).

Dalam ajaran Hindu terdapat dalil yang selaras dengan nasehat tersebut, dinyatakan bahwa kebahagiaan berakhir dengan penderitaan, dan penderitaan berakhir dengan kebahagiaan. Oleh karena itu, orang bijaksana tidak bersedih hati di kala duka, tidak bersenang-senan
g di kala bahagia. Dia yang tetap seimbang dalam kedua keadaan itu maka kebahagiaannya akan langgeng (sat cit ananda).

Mimpi di atas merupakan bimbingan dari Sesuhunan (dewata), melanjutkan mimpi sehari sebelumnya yang juga berupa bimbingan. Jawaban dari doa dua hari lalu. Oleh karena itulah dalam mimpi saya sibuk menghaturkan canang sari pada saat teman saya sibuk acara nikah.

Memang, dalam kehidupan kita takdir (nasib: karma masa lalu) dominan lebih berkuasa, namun sebagiannya juga merupakan karma masa kini. Menurut penelitian spiritual, 65 persen kehidupan kita saat ini ditentukan oleh kekuatan takdir/nasib, sisanya merupakan kehendak bebas. Kehendak bebas inilah yang kita gunakan untuk memperbaiki nasib buruk kita, dengan menerima apa yang menimpa kita, mesyukuri apa yang telah didapat, dan berusaha semaksimal mungkin. Dalam hal pernikahan, guna mengurangi hal-hal tak baik dalam mengarungi bahtera rumah tangga kita bisa mempelajari ilmu perjodohan (patemuan) agar tidak menikah dengan sembarang orang, juga menikah pada hari baik, mengenal pasangan dan keluarganya lebih jauh sebelum menikah, dan lain sebagainya. Agar kelak tidak menyesal, dan tidak menyalahkan Tuhan atas apa yang kita alami.
Penebusan Dosa

Penebusan Dosa

Sedang di Denpasar di tempat kerja dulu, saya baru bangun habis tidur di lantai. Saya merasa sudah banyak berbuat dosa sehingga perlu kiranya melakukan penebusan dosa. Saya kemudian menyediakan sarana persembahyangan berupa canang sari. Lalu bermeditasi duduk bersila dan mengucapkan nama suci dewa Wisnu sebelum memuja dewa tertinggi (Parameswara: Iswara/Mahadewa).

'Om Narayana Ya Namah Swaha, Om Narayana Ya Namah Swaha, Om Narayana Ya Namah Swaha..' itulah doa awal bila hendak melakukan penebusan dosa, lakukan secara berulang sebanyak-banyaknya. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan pemujaan kepada Tuhan (Parameswara) untuk memohon ampunan dan memuja beliau.

Entah bagaimana ceritanta, sudah datang keponakanku. Saya diajak nonton film Ramayana versi Indonesia. Saya menjelaskan kepada keponakan saya bahwa cerita yang ada di film berkisah tentang Shri Rama dibantu raja Sugriwa dari kerajaan Kiskenda beserta pasukan kera untuk menyerang Rahwana. Saya pun menyaksikan pasukan kera menyerang kerajaan alengka. Di sisi lain juga ada para dayang yang sedang menari.

Setelah sadar dari mimpi tubuh terasa segar padahal sudah hampir seharian sakit di leher, pegal yang cukup menyiksa. Sakit ini sepertinya akibat sakit 'Carub', sakit yang disebabkan oleh kotor secara niskala, dimana siangnya saya tidur di mobil dengan meletakan kepala di tempat duduk: hal ini seharusnya tak boleh dilakukan oleh orang tertentu. Saat tidur itu saya mimpi bawa motor di jalan menanjak, saking menanjaknya hampir tidak bisa naik, lebih-lebih jalan menikung. Saat menikung itu saya berjalan agak di tebing. Agar motornya bisa naik, saya turunkan kaki sebelah. Ketika kaki menginjak jalan ternyata ada tahi hewan di tanah. Sandalnya sampai penuh berisi tahi hewan.

Saat tersadar dari mimpi merasa tak enak badan. Dan saya curiga mimpi itu bermakna saya 'carub', kotor secara niskala akibat salah tidur. Sekitar sejam kemudian leher mulai terasa sakit, pegal-pegal, berlanjut hingga malamnya.

Mimpi melakukan penebusan dosa itu bermakna 'disucikan' dewa. Juga bermakna diajari cara melakukan penyucian diri dengan japa mantra. Dalam kenyataan saya tidak pernah pakai japa mantra seperti itu namun dalam mimpi melakukan hal seperti itu. Ini menandakan diberi pengetahuan tentang penyucian diri.

Pada kronologi nonton film, mimpi ini bermakna: dewa memberitahu (makna melihat Shri Rama) bahwa di pekarangan ada kaletehan (makna melihat kera) akibat ada pamali (makna melihat anak kecil). Kaletehan ini bisa mendatangkan musibah (makna melihat orang menari). Sepertinya kaletehan yang dimaksud bukan hanya pamali berupa dedaunan dari luar pekarangan yang sudah menyentuh atap rumah yang belum sempat dibersihkan, juga akibat salah satu daksina linggih di Kamulan belum diganti padahal sudah dua hari terjatuh.

Nb: kera terkadang juga bermakna serangan ilmu hitam (khususnya pangleakan).
Back To Top