Voice Of Merta Mupu

Voice Of Merta Mupu : Cerita Tak Tertata

Motivasi Menulis

Channel Youtube

Perjodohan Berdasarkan Nama

Perjodohan Berdasarkan Nama

Nama yang Tak Terpakai dalam Ilmu Perjodohan

Sebelum melangkah lebih jauh menggali patemuan atau perjodohan berdasarkan nama, kita perlu mengetahui nama-nama yang tidak terpakai. Untuk menghindari kesalahan menggali dan memaknai perjodohan berdasarkan nama, penting untuk diingat dan diketahui bahwa nama yang dipakai dalam perjodoham adalah nama telu bulanan atau nama yang diupacarai. Nama diluar itu tidak terpakai karena nama yang sakral dan memiliki jiwa adalah yang terlahir dari upacara, nama yang terbentuk dari ritual nama smaranam.

Berangkat dari asas tersebut nama yang tidak terhitung atau tidak terpakai dalam ilmu perjodohan yaitu nama alias atau nama panggilan baru, nama keluarga, gelar kebangsawanan, nama urut dan nama gelar keagamaan.

Nama Alias

Seringkali dalam masyarakat nama seseorang diperkenalkan ke masyarakat umum bukan nama telu bulanannya melainkan nama baru yang dibuat atas dasar faktor tertentu. Ada pula sengaja ganti nama tetapi tanpa diupacarai. Nama seperti itu tidak terpakai dalam ilmu perjodohan, kecuali nama baru itu kemudian diupacarai.

Nama Keluarga

Pada era sekarang masyarakat mulai berlomba-lomba menambahkan nama keluarga di belakang nama anaknya. Bahkan ada pula menambahkan nama leluhurnya di depan ataupun di belakang namanya, sehingga nama anak generasi sekarang menjadi panjang.

Nama Kebangsawanan

Dalam tata sosial masyarakat tertentu memiliki nama kebangsawanan, seperti di Bali banyak orang Bali memiliki nama lengkap dengan gelar kebangsawanan, seperti Ida Bagus, Ida Ayu (Dayu), Cokorda, Dewa, Desak, Gusti, Sang, Ngurah, dan lainnya.

Nama Urut

Nama orang Bali juga memiliki ciri khas, dimana nama seseorang lengkap dengan urutan kelahirannya. Nama urut ini kemungkinan lahir dari ajaran Kanda Pat (saudara empat) sehingga nama urut dalam tata kemasyarakatan orang Bali hanya sampai empat. Berikut nama seseorang berdasarkan urutan kelahirannya:

Anak pertama: Wayan (Wayahan atau tertua), Gede, Putu.
Anak kedua: Nengah (di tengah), Made (madianan).
Anak ketiga: Nyoman, Komang.
Anak keempat: Ketut.
Apabila anaknya lebih dari empat maka diulang menjadi Wayan Balik atau Wayan Tagel. Bisa juga bila anak pertama ditambahi kata Wayan maka anak kelima ditambahi kata Putu. Khusus untuk perempuan, nama Luh juga tidak terpakai.

Nama Religi

Selain nama urut, ada juga nama yang dimiliki seseorang berdasarkan gelar keagamaan, seperti Mangku, Jero, dan Balian.

 Kadar Cinta Berdasarkan Nama dan Kelahiran

Menurut kepercayaan masyarakat tradisional, nama dan hari kelahiran seseorang dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa mencintai pasangannya, bukan melulu soal takdir. Bila kita hanya meyakini karena adanya takdir, maka pikiran kita terbelenggu pada 'kehendak Tuhan' sehingga kita hanya bisa pasrah. Memang sangat baik apabila mampu menyerahkan diri secara total pada kehendak Ilahi, akan tetapi tak sedikit kita terjebak 'pasrah' namun tidak iklas seutuhnya, dengan kata lain pasrah setengah-setengah. Akibatnya tentu seringkali membuat kita kehilangan keyakinan tentang keberadaan-Nya. Celakanya lagi, tak sedikit orang yang meyakini jodoh sebagai takdir menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang terkait urusan seks, dengan dalih mungpung muda, aji mungpung. Bahkan terjun ke dalam pergaulan seks bebas. Sesungguhnya hal demikian dapat menghalangi kita bahkan menjauhkan kita dari jodoh yang sebenarnya.

Bila kita cermati ajaran agama, jodoh sebenarnya bukan takdir melainkan karma. Sederhananya kita sebut sebagai nasib, dimana nasib bisa berubah yang disebabkan oleh karma; karma baik (subha karma) ataupun karma buruk (asubha karma), dengan kata lain jodoh merupakan sebagian 'takdir' yang terbentuk dari karma pada kehidupan terdahulu dan sebagiannya lagi ditentukan oleh perbuatan kita sekarang. Oleh karena itu bila seseorang banyak melakukan dosa berkaitan dengan cinta maka dia akan berjodoh dengan orang yang tidak sesuai harapan. Sebaliknya orang yang memuliakan cinta dan berperilaku baik maka ia menemukan pasangan yang baik pula. 'Sebagaimana aku, demikianlah pasanganku', jodoh kita merupakan cerminan dari diri kita. Selanjutnya jodoh yang kita temukan pun akibat faktor nama dan hari kelahiran.

Berdasarkan Nama

Untuk mengetahui keterkaitan nama seseorang yang membuat bisa saling mencintai, terlebih dulu kita pelajari kedudukan aksara sebagai berikut:

Baris I : A/Ha, Na, Ca, Ra, Ka
Baris II : Da, Ta, Sa, Wa, La
Baris III : Pa, Dha, Ja, Ya, Nya
Baris IV : Ma, Ga, Ba, Ta, Nga

Orang yang bisa saling mencintai apabila aksara nama depannya ada pada satu baris. Umpama nama pasangan pria Chandra, pasangan wanita Nina Utami. Aksara Ca dan Na ada pada satu baris sehingga hal ini cukup baik, apalagi aksaranya berdampingan. Umpama nama pasangan pria Juliawan, nama pasangan wanita Yuni Sara. Aksara Ja/ju berdampingan dengan aksara Ya/yu.

Bila berbeda baris maka ada yang lebih sayang, ada yang tidak, hal ini kurang baik. Nama depan dengan aksara baris I mengalahkan baris II, baris II mengalahkan baris III, baris III mengalahkan baris IV, baris IV mengalahkan baris I. Umpama nama pasangan pria Wijaya. Nama pasangan wanita Purnami. Aksara Wa/Wi mengalahkan aksara Pa/Pu sehingga pada pasangan ini istri lebih tunduk pada suami.

Apabila aksara depan 'ngelangkar gunung' atau berlawanan maka hal ini tidak baik; bisa tukaran, bermusuh-musuhan, bahkan berpeluang bercerai meski pada awalnya saling mencintai. Yang dimaksud aksara ngelangkar gunung yaitu aksara baris I dengan baris III, baris II dengan baris IV. Umpama nama pasangan pria Raditya, pasangan wanita Yumi. Aksara Ra dan Ya/Yu berlawanan sehingga pasangan ini cenderung tukaran, sering bertengkar.

Selain perhitungan berdasarkan aksara depan, juga berdasarkan aksara depan, tengah dan aksara belakang. Ketentuannya, apabila terdapat unsur aksara nama pasangan berdampingan maka akan saling menyayangi, siapa yang aksaranya di belakang maka dia akan lebih sayang, terutama abila aksara belakang pasangan berdampingan dengan aksara depan pasangannya. Umpama nama pasangan pria Dhanaswara, nama pasangan wanita Kali Utami. Aksara nama belakang Ra (dhanaswaRA) berdampingan dengan aksara depan KA (KAli). Lihat a, na, ca, RA, Ka. Dalam kasus tersebut Kali lebih sayang pada Dhanaswara. Contoh lain; nama pria Arnata, nama wanita Sri Kumari. Aksara TA (arnaTA) berdampingan dengan aksara SA (Sri). Lihat da, TA, SA, wa, la. Dalam hal ini wanitanya lebih sayang pada pasangan prianya.
Contoh lain berdasarkan aksara nama di belakang berdampingan dengan aksara di tengah. Umpama nama pasangan wanita Murti, nama pasangan pria Widiana; Aksara TA (murTI) berdampingan dengan akasara DA (wiDIana). Pada kasus yang demikian Murti lebih sayang pada Widiana. Di sisi lain pasangan ini bermusuh-musuhan akibat aksara depan Ma (MUrti) dan aksara Wa (WIdiana) berada pada baris yang berlawanan. Lihat tabel baris di atas. Sehingga pasangan seperti itu senang bertengkar tetapi di satu sisi saling mencintai.

Apabila unsur aksaranya tumpang tindih, maka hal ini sangat baik, bisa saling mencintai. Umpama nama pria Karnata, nama wanita Desy. Aksara Da (DEsy) berada di depan aksara Ta (karnaTA). Lihat DA, TA, sa, wa, la. Dalam hal ini Karnata lebih sayang pada Desy. Di satu sisi Desy lebih sayang pada Karnata, karena aksara Sa (deSy) berada di belakang aksara Ta (karnaTa). Lihat da, TA, SA, wa, la. Dalam kasus ini ada tiga aksara yang berdampingan yaitu aksara Da, Ta, Sa. Lihat DA, TA, SA, wa, la.

Oleh sebab itu seseorang seringkali mudah jatuh cinta pada pasangan yang memiliki unsur aksara berdampingan. Umpama bila pria namanya Arta maka nama wanita yang dicintai umpama DIaNA. Aksara A pada Arta berdampingan dengan Na pada Diana. Lihat A, Na, ca, ra, ka. Aksara TA pada arTA berdampingan dengan aksara Da pada DIana. Lihat DA, TA, sa, wa, la. Demikian pula bila Arta disandingkan dengan DEwi, wiDI, liaNA, SAriNI, dsb. Maka akan mudah saling mencintai.

Bersambung.. (akan diulas secara khusus berdasarkan kelahiran).

Temu Sorot, Perjodohan Berdasarkan Makna Nama

Diantara petung perjodohan berdasarkan nama, barangkali perjodohan berdasarkan makna nama jarang dipelajari orang, padahal kehidupan rumah tangga seseorang dapat dibaca melalui gabungan nama pasangan suami-istri sehingga membentuk suatu makna. Dalam tradisi di Bali hal ini disebut temu sorot: perjodohan berdasarkan 'sorot' namanya.

Untuk mengartikan makna nama pasangan suami-istri menggunakan bahasa lokal, bahasa yang biasa digunakan sehari-hari dalam kehidupan keluarga bersangkutan. Dengan kata lain menggunakan bahasa ibunya. Umpamanya orang Bali menggunakan bahasa Bali, orang Jawa menggunakan bahasa Jawa. Meski satu daerah adakalanya juga memiliki sedikit perbedaan bahasa, seperti Bali selatan berbeda sedikit dengan Bali utara. Sehingga untuk memaknai arti nama pasangan suami istri kudu dimaknai sendiri.

Memaknai nama gabungan suami istri bisa dalam bentuk nama Utuh-Pendek, dan huruf nama depan. Lebih jelasnya bisa lihat contoh-contoh di bawah ini:

Nama Utuh-Pendek

Bila nama suami istri digabung berdasarkan namanya secara utuh akan memiliki makna baik, namun seringkali bila makna nama pendeknya dimaknai bermakna buruk. Demikian sebaliknya. Umpamanya nama suami Arta, nama istri Asih. Bila digabungkan menjadi Artane Asih: rejeki mencintainya. Diterjemahkan bebas rejeki datang. Bila nama pendek maknanya artane aas (rejekinya jatuh). Contoh lain; suami namanya Pertas Bagia, isteri Ayu Artini. Makna nama utuh Ayu Bagia (selamat berbahagia). Makna pendek Ayu Tas-tasa (yang baik dirabas). Nama suami Sukerta, istri namanya Sami Astini. Makna utuh sami sukerta (semua sejahtra), makna pendek sami suker (semua sulit). Bisa juga dimaknai Suker Aas (yang sulit jatuh), sukerta aas (kesejahteraan jatuh atau hilang).

Banyak pula makna nama gabungan suami istri tidak memiliki makna pendek, hanya bisa dimaknai secara utuh. Umpama nama suami Merta, istri Sarini. Makna utuh mertane mesari (kekayaannya awet). Bisa juga dimaknai Sarin Merta (intinya kekakayaan atau rejeki). Contoh lain; suami bernama Artawan, istri nama Sugiani. Maknanya Sugih Arta (harta berlimpah). Bisa juga dimaknai Ani/Ana arta (ada harta). Nama suami Kecen Merta, nama istri Widiani. Maknanya ana widi ngicenin merta (ada Tuhan melimpahkan kekayaan).

Adakalanya nama seseorang terlihat baik ketika digabungkan bisa bermakna buruk. Umpama nama suami Widiana, nama istri Luh Muli. Maknanya widi mulih (Tuhan pergi atau Tuhan meninggalkannya). Nama suami Sudana, nama istri Larasati. Maknanya dana lara atau lara dana (menderita dalam hal harta).

Huruf Depan

Banyak sekali nama pasangan suami istri tidak bisa digabungkan atau bila digabungkan tidak ada maknanya. Hal seperti itu dimaknai dengan mengambil huruf atau aksara nama depan pasangan suami istri. Contohnya sebagai berikut: nama suami Lanang, nama istri Luh Sisan. Aksara yang diambil yaitu La dan Si. Bila digabungkan menjadi Lasi yang artinya kambuh. Bila bercocok tanam sering gagal panen karena lasi atau ngelasinin. Kalau sakit sering kambuh sakitnya. Kata La dan Si juga bisa bermakna Sila atau duduk bersila. Agar mudah rejekinya carilah pekerjaan duduk seperti kerja kantoran. Jualan di tempat kios atau pasar, dimana saat jualan dengan cara duduk, bukan jalan berkeliling.

Contoh lain; nama suami Lanus, nama istri Sumiarti. Bila digabungkan menjadi Sula yang artinya perut kembung. Hal ini melambangkan pasangan ini sering membuat pasangannya marah, diumpamakan perut kembung. Kata itu juga bisa dimaknai Lan Su atau Laan pesu yang artinya silakan keluar. Hal ini mengisyaratkan dalam mencari harta dengan berpergian keluar atau berkeliling, seperti jualan keliling, kirim barang keluar daerah, dan lain sebagainya.

Dapat pula huruf nama seseorang hanya satu huruf di depan diambil. Umpamanya, nama suami Orta Ariawan, nama istri Gampil. Bila digabung menjadi O-Ga. Oga artinya tergores pisau atau sabit. Hal ter sebut melambangkan pasangan ini sering sakit, baik sakit raga maupun sakit pikiran.

Seringkali makna nama pasangan langsung berisi penudaannya atau penolaknya. Umpamanya pasangan dengan aksara depan Sa dan Wa: SAni Asih - WArdana Putra, Wati - Sandiasa, Dlsb. Bila digabungkan artinya Sawa (mayat), dimaknai kematian. Kalau dibalik menjadi Wasa (Tuhan). Jadi, untuk mencegah hal-hal buruk atau penderitaan pada pasangan ini hendaknya taat berbhakti kepada Tuhan. Contoh lain dengan aksara depan Pa dan Ta. Pata ngaran pati, pati ngaran mati. Umpama nama suami Pandu Widnyana, nama istri Tasya Ariningsih. Untuk menghendari hal yang tak diinginkan bagi pasangan ini hendaknya berusaha mengendalikan pikiran atau Tapa, kebalikan dari Pata.

Dalam mencari jodoh berdasarkan temu sorot, ada dua hal yang sangat ditekankan untuk dihindari yaitu gabungan nama suami istri yang memiliki aksara Ma dan Ta. Bila digabungkan menjadi Mata, mata ngaran mati. Dan juga aksara La dan Ra, yang artinya Lara. Lara ngaran sengsara. Ada juga yang menyarankan menghindari pasangan dengan aksara depan Ma dan La, yang artinya Mala atau kotor.

Unsur aksara Ma dan Ta maupun aksara La dan Ra pada pasangan suami istri, tidak hanya pada bagian aksara depan, tetapi juga pada aksara tengah ataupun belakang. Contoh; nama suami MAndiasa, nama istri ParwaTI. Bila digabung aksara nama depan suami dan aksara nama belakang istri menjadi Mati. Pasangan seperti ini akan meninggal salah satu sebelum waktunya. Mati tidak hanya dimaknai mati raganya tetapi juga mati hartanya atau miskin.

 Perjodohan Sastra Tunggal Sebaiknya Dihindari

Dalam ilmu perjodohan berdasarkan nama dikenal yang namanya temu 'sastra tunggal', dimana aksara atau huruf nama pasangan suami-istri memiliki aksara yang sama, baik aksara atau huruf nama di depan, tengah maupun di belakang. Secara umum perjodohan sastra tunggal dipandang tidak baik sehingga cenderung dihindari. Sebenarnya tidak semuanya buruk, hanya sastra tunggal tertentu yang seharusnya dihindari yaitu sastra tunggal biasa, sastra tunggal cicing enjek ikuh, dan sastra tunggal maulu suku.

Sastra Tunggal Biasa

Apabila kita lihat jumblah aksara Bali maka terdapat 18 sastra tunggal, sedangkan aksara Jawa terdapat 20 sastra tunggal. Dari keseluruhan aksara itu terdapat beberapa sastra tunggal biasa yang sebaiknya dihindari seperti aksara Na, Ra, Da, Ta, Pa. Umpama istri namanya NAreswari, suami namanya NityaNAnda (sastra tunggal Na). Istri: Luh GauRI, suami: SuRAma Putra (Sastra tunggal Ra). Istri: SuDIani, suami DArpa (sastra tunggal Da). Istri: DarTI, suami: SukarTA (sastra tunggal Ta). Istri: Indrani PUtri, suami: PIsana (sastra tunggal Pa).

Bila pasangan suami istri dengan nama sastra tunggal biasanya sulit hidupnya. Ada yang sakit-sakitan walau mudah mencari rejeki, ada yang sulit cari harta meski jarang sakit, ada yang sering berantem, dan lain sebagainya.

Cicing Enjek Ikuh

Cicing enjek ikuh bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya anjing diinjak ekornya. Itu adalah bahasa kias yang menggambarkan bahwa perjodohan cicing enjek ikuh pertanda bahaya atau kurang baik. Kalau anjing diinjak ekornya pasti menggigit.

Yang dimaksud perjodohan cicing enjek ikuh apabila huruf depan pasangan sama dengan huruf belakang pasangan. Dengan kata lain aksara nama depan dan belakang memiliki aksara yang sama atau tunggal. Umpama suaminya bernama JayadraTA, istrinya bernama TArini (jayadraTA-TAri
ni). Contoh lain; Nama suami: Nareswara, nama istri: Sudiani (SudiaNI-NAreswara). Nama suami: Sudarma, nama istri: Ari Yasa (yaSA-SUdarma). Nama suami: Karma Dinata, nama istri: Sukri (SuKRI-KArma). Nb; dalam ejaan aksara, kata KRI bila dibawa ke dasar aksara menjadi KA).

Hal di atas juga berlaku untuk nama lengkap. Umpamanya suami bernama Adi Sukrawan, nama istri Ginarsi (ginarSI-SUkrawan). Suami: Yoginanda Putra, Istri: Diah Ayu Laksmi (aYU-YOginanda).

Perjodohan cicing enjek ikuh dimaknai cepat kaya cepat mati. Artinya, kalau pasangan perjodohan ini mudah mencari rejeki maka akan cepat meninggal salah satu, barangkali belum memiliki cucu sudah meninggal. Bisa juga dimaknai cepat naik cepat turun, gampang melejit gampang jatuh. Apabila hidupnya datar-datar saja atau sedang, akan lama hidupnya. Bisa juga hidupnya sehat-sehat saja namun sulit mencari rejeki. Dapat pula gampang mencari rejeki namun sakit-sakitan atau tidak memiliki keturunan. Dengan kata lain, perjodohan ini selalu diiringi suka dukanya, derita dan bahagianya seimbang.

Maulu Suku

Dalam menulis aksara ada namanya 'Ulu' bunyinya i, ditulis di atas aksara pokok. Bila suatu aksara diisi ulu maka berbunyi i. Umpamanya aksara Ja diisi ulu bunyinya menjadi Ji. Demikian pula dengan Suku, bila suatu aksara diisi Suku maka bunyinya U, ditulis di bawah aksara pokok. Umpama aksara Ra diisi suku maka akan berbunyi Ru.

Apabila nama pasangan suami istri dengan sastra tunggal maulu suku dimaknai akan cepat berpisah atau bercerai, baik cerai hidup maupun cerai mati, mati salah satu sebelum waktunya. Paling sederhana dalam rumah tangganya sering bertengkar atau tukaran apabila bisa bertahan lama dalam berumah tangga. Berikut contoh sastra tunggal maulu suku:

Umpama nama suami Sudarta, nama istri Sintya Dewi (SUdarta-SIntya). Suami: Basudewa, istri: Darsini (baSUdewa-darSIni). Suami; Sudana Putra, istri: Simpen Sari (SUdana-SImpen). Suami: Darma Suta, Istri: Parmi Asih (SUta-aSIh).

 Perjodohan Berdasarkan Huruf Depan

Diantara petung perjodohan berdasarkan nama, tampaknya menghitung perjodohan dengan neptu aksara atau huruf depan pasangan paling mudah dipahami, mengingat aksara depan seseorang hanya satu dan sudah pasti. Aksara yang digunakan pada perhitungan ini menggunakan aksara Jawa yang jumblahnya 20. Neptu atau nilai angka masing-masing aksara sebagai berikut:

Ha/A : 10 , Pa : 8
Na : 2 , Dha : 6
Ca : 3 , Ja : 3
Ra : 8 , Ya : 10
Ka : 8 , Nya : 6

Da : 4 , Ma : 4
Ta : 4 , Ga : 6
Sa : 12 , Ba : 2
Wa : 6 , Tha : 6
La : 6 , Nga : 6

Cara menghitungnya dengan menjumblahkan neptu aksara depan kedua pasangan; pria dan wanita. Hasil penjumblahannya dibagi 5 atau dikurangi 5, dan kelipatannya. Lalu lihat sisa berapa.

Umpama;
Nama pasangan pria Dhrestarastra Putra, aksara depan yaitu Dha, neptunya 6.
Nama pasangan wanita Gandari Maheswari, aksara depan yaitu Ga, neptunya 6. Jumblah neptunya 6+6= 12:5= 2, sisa 2. Atau bila dengan pengurangan kelipatan 5 yaitu; 12-10= 2, artinya sisa 2 yaitu jatuh pada Lungguh.

Makna masing-masing sisa perhitungan penjumblahan neptu aksara depan pasangan sebagai berikut, bila bersisa:

1. Shri ; banyak rejekinya.
2. Lungguh ; dihormati orang, mendapat kedudukan atau jabatan.
3. Gedong ; bisa kaya, mudah mencari harta.
4. Lara ; melarat, mendapat kesengsaraan.
5. Pati ; mati, mendapat kematian. Makna mati tidak selalu mati raganya ataupun sakit-sakitan. Bisa juga dimaknai mati rejekinya atau miskin. Bila rejekinya baik kemungkinan akan sakit-sakitan dan sebaliknya.

*Disarikan dari sumber internet yang bersumberkan pada buku Primbon Jawa.

 Perjodohan Berdasarkan Huruf Belakang

Dibandingkan perjodohan berdasarkan huruf depan, perjodohan dengan huruf belakang lebih sulit bagi masyarakat awam. Seringkali seseorang salah dalam mencari aksara dasar pada huruf belakangnya. Umpama namanya Supatra. Acap kali aksara dasar huruf belakang yang dicari yaitu Ra, padahal yang benar adalah aksara Ta. Sedangkan bila nama Supatra ditulis atau dieja Supatera, maka aksara yang dihitung yaitu Ra. Demikian pula bila namanya Sukri, maka yang termasuk aksara belakang yaitu Ka, bukan Ra/Ri. Bilamana dieja Sukeri maka aksara yang dihitung yaitu aksara Ra/Ri.

Contoh lain, namanya Anugrah. Aksara belakang yaitu Ga, bukan Ra maupun H/Ha. Bila ditulis atau dieja Anugraha, aksara belakang yaitu Ha/A. Seandainya ditulis Anugerah, maka aksara belakangnya Ra. Demikian pula nama Satia/Satya. Aksara belakangnya Ta, bukan Ya ataupun A. Bila ditulis dan dieja Satiya barulah aksara belakangnya Ya. Mencari aksara dasar atau pokok seperti itu akan mudah dipahami bila tahu 'anggah-ungguhing' menulis aksara Bali ataupun aksara Jawa.

Aksara yang digunakan pada petung perjodohan ini adalah aksara Bali yang jumblahnya 18. Neptu aksara sebagai berikut:
Baris I > A/ha : 1, Na : 2, Ca : 3, Ra : 4, Ka : 5.
Baris II > Da : 1, Ta : 2, Sa : 3, Wa : 4, La : 5.
Baris III > Ma : 1, Ga : 2, Ba : 3, Nga : 4, Pa : 5.
Baris IV > Ja : 1, Ya : 2, Nya : 3.

Cara menghitungnya dengan menjumblahkan neptu aksara belakang, lalu dikurang 5 bila jumblahnya lebih dari 5. Umpama nama pasangan pria Sudana. Aksara belakang yaitu Na, neptunya 2. Nama pasangan wanita Putri. Aksara belakang Ta, neptunya 2. Jumblah 2+2= 4, artinya sisa 4: Lara. Bila sisa:

1. Peta : cerewet, tukaran, sering bersilang pendapat hal baik maupun hal yang tak patut.
2. Pati : mati, sakit-sakitan, salah satu meninggal tidak pada waktunya, bisa juga bermakna mati rejekinya bila bisa hidup sehat dan panjang umur.
3. Gedong : bisa kaya, mudah mencari harta.
4. Lara : hidup melarat, sengsara, sakit-sakitan.
5. Sri : mengalir rejekinya, gampang mencari penghidupan.

*Disarikan dari catatan bapak saya, diturunkan dari generasi terdahulu.

 Perjodohan Berdasarkan Gabungan Neptu Huruf Depan dan Belakang

Aksara depan dan belakang pada nama seseorang memiliki arti tersendiri, hal itu terjadi kemungkinan karena nada suara yang keluar dari mulut kita memiliki tekanan berbeda pada aksara depan dan belakang apabila menyebut nama seseorang. Oleh karena itu aksara depan maupun belakang diutamakan dalam mencari makna nama, khususnya dalam ilmu perjodohan.

Untuk mencari makna dan arti perjodohan berdasarkan gabungan aksara depan dan belakang dari nama inti menggunakan aksara 18 dengan urutan yang berbeda dari biasanya. Urutan dan neptunya sebagai berikut:

A/Ha: 1
Na : 2
Ca : 3
Ra : 4
Ka : 5
Pa : 6
Da : 7
Ja : 8
Ya : 9
Nya : 10
Ma : 11
Ga : 12
Sa : 13
Wa : 14
La : 15
Ta : 16
Nga : 17
Ba : 18

Cara menghitungnya dengan mengambil aksara depan dan belakang  pasangan pria dan wanita. Jumblahkan neptu aksara depan dan belakang kedua pasangan, lalu dibagi 16, atau dikurangi 16, dan kelipatannya. Kemudian lihat sisanya berapa.

Umpama:
Nama pasangan pria Mahendradatta, aksara yang diambil yaitu Ma dan Ta (MAhendradatTA). Neptunya 11+16= 27. Nama istri Yunisa, aksara yang diambil Ya dan Sa (YUniSA). Neptunya 9+13= 22. Lalu jumblah neptu kedua pasangan dijumblahkan, 27+22= 49:16= 3, sisa 1 : Suka duka, baik buruk.

Hasil sisa perhitungannya hampir sama dengan perjodohan Lontar Tri Pramana. Teks aslinya berbahasa Bali namun disini terjemahkan bebas ke dalam bahasa Indonesia. Di bawah ini makna hasil perhitungannya. Bila sisa:

1. Suka-duka, baik buruk.
2. Hidup sengsara, miskin
3. Sering menderita, sering bertengkar (doyan wirang).
4. Anaknya meninggal
5. Sangat baik, lunas lanus sada nulus, hidup rukun dan bahagia.
6. Kesakitan, hidup merana
7. Sedang; suka duka, lambat laun hidup bahagia.
8. Kelaraan, Leyak galak memusuhi; anak sering sakit.
9. Sangat buruk, baya pati, sering berebut atau bertengkar.
10. Lumayan baik, memiliki sifat-sifat kepemimpinan, paling rendah menjadi kepala lingkungan.
11. Cukup harta, bijaksana, penghidupan baik.
12. Baik, lambat laut bisa berharta, rukun berkeluarga.
13. Tidak kurang harta benda, gampang mencari harta; gedong simpen.
14. Kurang baik, tidak tercapai apa yang dicita-citakan, sering ngambul karena merasa menderita.
15. Tidak memiliki keturunan atau sulit mendapatkan anak.
16. Mendapat kedudukan, mendapat kebahagian, manggih ledang.

Selain menghitung gabungan neptu aksara depan dan belakang pasangan, juga terdapat metode menghitung neptu aksara depan dan belakang pasangan secara terpisah, lalu disandingkan. Neptu aksaranya sebagai berikut:

A/Ha, Wa, La = 1
Ga, Ka = 2
Dha, Na = 3
Ba, Da, Ma = 4
Ca, Ya = 5
Ja = 6
Pa, Ra, Ta = 7
Sa, Tha = 9
Nga, Nya = 10

Ambil neptu aksara atau huruf depan dan belakang dari nama pasangan. Jumblahkan masing-masing urip atau neptu aksaranya, kemudian dibagi 9. Lalu lihat jumblah neptu laki-laki sisa berapa, dan perempuan sisa berapa.

Umpama:
Nama pasangan pria Widnya: Wa/Wi= 1, Nya= 10. Jumblah 1+10= 11:9 = 1, sisa 2.
Nama pasangan wanita Sutarmi: Sa/Su= 9, Mi/Ma= 4. Jumblah 9+4= 13:9=1, sisa 4. Jadi, perjodohan pasangan Widnya dan Sutarmi adalah Sisa 2 dan 4 : Baik.

Di bawah ini baik-buruk perjodohan pasangan berdasarkan aksara depan dan belakang kedua pasangan. Jika bersisa:

1 dan 1 : Baik
1 dan 2 : Baik
1 dan 3 : Tukaran
1 dan 4 : Putus
1 dan 5 : Putus
1 dan 6 : Putus
1 dan 7 : Jadi musuh
1 dan 8 : Pati (mati)
1 dan 9 : Jadi kepala, prajuru, pejabat
2 dan 2 : Baik
2 dan 3 : Pati
2 dan 4 : Baik
2 dan 5 : Putus
2 dan 6 : Tak baik
2 dan 7 : Putus tak putus, sering bercerai
2 dan 8 : Awet, tak putus, malas
2 dan 9 : Baik
3 dan 3 : Patah (berpisah), cerai setelah tua
3 dan 4 : Tak jadi atau tak boleh, sering bercerai
3 dan 5 : Putus
3 dan 6 : Baik
3 dan 7 : Celaka
3 dan 8 : Putus
3 dan 9 : Baik
4 dan 4 : Jahat
4 dan 5 : Putus
4 dan 6 : Putus
4 dan 7 : Jadi musuh, tukaran
4 dan 8 : Jadi musuh
4 dan 9 : Kurang baik
5 dan 5 : Bahaya, mengalah
5 dan 6 : Putus
5 dan 7 : Putus
5 dan 8 : Putus
5 dan 9 : Baik
6 dan 6 : Tak baik, tetapi tak putus, kurang baik
6 dan 7 : Baik
6 dan 8 : Baik
6 dan 9 : Putus
7 dan 7 : Baik
7 dan 8 : Baik
7 dan 9 : Jahat
8 dan 8 : Baik
8 dan 9 : Kaya anak, tetapi banyak meninggal
9 dan 9 : Putus tak putus, cerai tetapi kembali.

*Disarikan dari buku catatan bapak saya dan buku saku PERHITUNGAN BAIK BURUKNYA ORANG BERSUAMI ISTRI karya Wayan Simpen AB.
Siapakah Bhatara Hyang Guru?

Siapakah Bhatara Hyang Guru?

Saya sering menyebut Bhatara Hyang Guru dalam beberapa ulasan mengenai mimpi. Yang menjadi pertanyaan, siapakah Bhatara Hyang Guru? Diantara dewa yang agung yang dipuja umat manusia, khususnya umat Hindu di Bali, dalam tataran konsep parhyangan, Bhatara Hyang Guru paling dekat dengan kita, dipuja di Sanggah Kamulan; pura di rumah. Beliau sering hadir dalam mimpi dengan berbagai penyamaran seperti muncul sebagai seorang ayah, guru, orang suci, paman, bahkan sebagai teman. Oleh karena itu bila mimpi bertemu atau ditolong ayah itu pertanda ditolong Bhatara Hyang Guru. Sebaliknya bila mimpi dimarahi atau bertengkar dengan ayah itu pertanda Bhatara duka (marah) pada kita. Demikian pula bila mimpi ditinggalkan ayah pertanda kurang baik.

Bagi sebagian besar lelaki, Bhatara Hyang Guru dalam mimpi cenderung muncul sebagai sosok laki-laki. Dari beberapa cerita mimpi yang dialami perempuan, ternyata beliau hadir sebagai sosok seorang ibu. Adakalanya muncul dalam wujud menyeramkan seperti penggambaran Leak dalam drama Calonarang. Beliau sebenarnya Bhatari ring Dalem atau Bhatari Durga. Meskipun wujud-Nya menyeramkan namun sesungguhnya beliau maha pengasih dan penyayang dengan wujud yang sangat cantik.

Dari hal itu kita dapat memahami bahwa Bhatara Hyang Guru berwujud laki-laki dan perempuan; Ardhanareswari. Di Bali dikenal dengan sebutan Sanghyang Rwa Bhineda; I Meme teken I Bapa atau Tuhan Ibu dan Tuhan Bapa. Aksara sucinya Ang dan Ah. Di dalam Bhuana Agung beliau adalah Pertiwi dan Akasa.

Lontar Sarining Kanda Pat Sari menyebutkan bahwa 'Sane nitah Ida Sanghyang Panca Maha Bhuta Ida Sanghyang Tiga Sakti, sane nitah Sanghyang Tiga Sakti I Meme muah I Bapa.' Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa yang memerintah Sanghyang Panca Maha Bhuta yang merupakan perwujudan saudara kita (kanda pat) adalah Sanghyang Tiga Sakti (Tri Murti). Sanghyang Tiga Sakti diperintah oleh Tuhan Ibu dan Tuhan Bapa. Hal tersebut menyiratkan bahwa kedudukan Bhatara Hyang Guru dalam sistem pemerintahan semesta memiliki kedudukan yang sangat tinggi, maha agung. Dalam Wraspati Kalpa disebutkan 'Sanghyang Guru Wisesa sinembah dening dewata kabeh', artinya Sanghyang Guru Wisesa (Bhatara Hyang Guru) dipuja oleh semua dewa.

Di dalam Bhuana Alit (tubuh kita), I Meme menyatu dalam nafas masuk, sedangkan I Bapa menyatu dalam nafas keluar kita. Lingga-Nya atau stana-Nya; I Meme di mata kiri, I Bapa di mata kanan. Oleh karena itulah sebelum sembahyang penting untuk mengatur nafas (pranayama) dan saat sembahyang atau meditasi memusatkan pikiran dengan menyatukan pandangan mata kiri dan mata kanan dengan cara memusatkan pandangan mata ke ujung hidung. Dengan cara itu Tuhan Ibu dan Tuhan Bapa menyatu menjadi Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Esa).

Ajaran tersebut bila dibawa ke dalam konsep ketuhanan Hindu yang berpaham Siwastik maka yang dimaksud I Meme dan I Bapa adalah Shiwa dan Parvati. Shiwa yang dimaksud dalam konteks ini adalah Sada Shiwa, Tuhan yang berwujud, dewanya dewa. Dari Sada Shiwa munculah Tri Murti; Brahma, Wisnu dan Rudra. Demikian pula muncul dewa-dewi, surga-neraka dan alam semesta beserta isinya. Shiwa-Parwati berasal dari Parama Shiwa atau Parameswara (Tuhan tertinggi atau Iswara tertinggi). Beliaulah sumber dari segala sumber, beliau tak berwujud, bukan ini bukan itu, tak terdefinisikan, berada dimana-mana.

Tentang Tuhan Ibu dan Tuhan Bapa uraiannya juga terdapat dalam lontar Kanda Pat Dewa. Saya coba kutip beberapa penggalan isinya yang penting saja, sebagai berikut:

Sarin Madiane pituinya, angkihane, malingga ring sarin getihe, maharan Sanghyang Adista...

... yan ida malingga ring bhuana agung terus ida ring Kamimitan, magenah ida ring sarin getihe, terus ida maring uat tingale (urat mata), maharan ida Sanghyang Pustaka Jati, ida maraga atma, angkihane metu, maharan Bapa Akasa, yan ida magenah ring bhuana agung terus ida magenah ring Kahyangan Kamimitan, malingga ida ring paibon tengen maharan ida Batara Kawitan, yan ida magenah ring raga sarira, ring getih ida malingga, terus maring tingale tengen maharan ida Sanghyang Mas Celing...

Angkihane ane masuk, Ibu Pratiwi arane, yan ida magenah ring bhuana agung terus maring Kahyangan Kamimitan, maharan ida Batara Wayah, yan ida magenah ring raga sarira ring getih ida malingga, terus maring tingale kiwa maharan ida Sanghyang Meleng...

... wenang ida gawenang kahyangan Gedong Tarib rong tiga, ngaran Kamulan, yan tan mangkana, sasar Batarane tiga, wenang nyakitin manusa...

Sarin getihe sane ening, ento mesari putih ento dadi Dewan suwung, malingga ida ring ambarane. Ida maraga Sasuwunan, ida dadi Resining Dewa, dadi Resining Manusa, ida meraga sukla, ida meraga wenang, ida maraga tunggal yaning urip, yaning pati, yan ida malinggih ring Kahyangan Agung, ring Pajenengan ida malinggih, yan ida malinggih ring Sunya Taya, ring ambara ida malinggih, maraga tingal terus ngadeg ring surya kalih maharan ida Sanghyang Siwa Meneng, ida Dewaning rasa, bayu, sabda, idep, sami nunggal ring rasa, muah sanaknya asta, mekadi ida Sanghyang Celing, Sanghyang Pustaka, sami nunggal bakti ring ida Sanghyang Siwa Meneng...

... ida sakti luih, ngebekang jagat, ida maraga Widhi wasa, ida meraga titah, ida meraga hening sukla...

Bahan bacaan:
AUM Upacara Manusa Yadnya
Kanda Pat Dewa
Kanda Pat Sari
Wraspati Kalpa
Mengundang Leak

Mengundang Leak

Secara umum Leak dalam masyaralat Bali mendapat stigma negatif, hal tersebut terjadi akibat ilmu leak disalahgunakan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Layaknya bom, yang dahulu digunakan untuk menghancurkan bangunan yang sudah rusak sehingga memudahkan tukang bangunan bekerja, kini bom identik dengan senjata peledak yang menakutkan dan mematikan. Akibatnya bom identik dengan tindakan teror. Demikian pula halnya dengan ilmu leak, pada awalnya ilmu leak digunakan sebagai tahap pemurnian diri untuk mencapai 'kelepasan' atau 'kamoksaan'. Lama kelamaan ilmu leak digolongkan menjadi ilmu hitam sehingga dipandang buruk dalam masyarakat. Saking dianggap negatifnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), leak diartikan sebagai hantu jadi-jadian, konon berupa binatang seperti kera, burung hantu, dsb, yang diciptakan seseorang dengan jalan memantrai diri.

Pada saat ini, ilmu leak digolongkan menjadi dua aliran, yaitu pangiwa; aliran kiri dan, panengen; aliran kanan. Leak aliran kanan seperti leak sari digunakan untuk tujuan kebaikan. Sedangkan aliran kiri tergolong leak perusak, untuk tujuani menyakiti orang lain. Secara khusus masyarakat mengenalnya sebagai 'panestian'. Banyak orang yang menjadi desti turunan dari keluarga terdahulunya tanpa disadarinya, biasanya dialami kaum perempuan. Sedangkan kaum laki-laki cenderung disengaja, sengaja belajar ilmu leak agar sakti mandra guna. Orang seperti ini biasanya suka perang di alam gaib, siat peteng istilah di Bali. Mereka berkumpul di gunung Agung dari segala penjuru pulau Bali bahkan dari luar Bali, misalnya Lombok. Untuk mencapai gunung Agung hanya dilalui dalam hitungan kedipan mata, layaknya mimpi tiba-tiba sudah di puncak gunung. Mereka juga biasa saling undang, lalu rapat untuk bertempur. Yang datang hanyalah rohnya, sedangkan raga fisiknya tidur. Istilah kerennya 'merogo sukmo', astral injection. Semakin tinggi tingkatan ilmunya, semakin cepat pergerakannya. Secara umum, terdapat sebelas tingkatan ilmu leak. Seperti berubah jadi sapi berkaki tiga, kera, dsb, dan yang paling tinggi menjadi bade tumpang sebelas.

Ada yang berpendapat bahwa belajar pangeleakan sebuah kemunduran. Akan tetapi kalau dipahami hakekat ilmu leak, malahan itu adalah sebuah kemajuan spiritual. Tidak sembarang orang bisa melepaskan rohnya dari badan fisik. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Kalau dipikir-pikir ilmu leak itu menakjubkan. Perang di alam mimpi saja merasa senang apalagi bisa merogo sukmo lalu adu kesaktian di alam gaib, pasti menakjubkan. Saya pernah mengundang leak namun akhirnya mereka hangus terbakar. Kronologinya sebagai berikut:

Saya sedang berada di halaman rumah nenek bersama Jero Kadek Suaraman, sepupu saya. Ada beberapa orang lain yang tak saya kenal hadir disana, mereka seakan ingin menonton hiburan tarian Calonarang, tarian yang bercerita tentang ratunya Leak Rangdeng Dirah. Sepupuku menyuruh saya untuk menari menjadi muridnya leak. Supaya murid-murid leak bisa merasuk ke dalam diri saya, saya lalu menari nengkleng; menari dengan kaki terangkat sebelah dan berkerudung kain kasa putih merajah. Sebelum mulai menari, punggung saya ditepuk oleh jero Kadek. Lalu saya berputar tiga kali mengelilingi halaman rumah nenek diikuti jero Kadek Suaraman. Pada putaran terakhir, saya merasakan dan melihat mahkluk gaib berkelebat, seakan sungguhan leak akan datang. Timbul perasaan takut bila sungguhan dirasuki leak. Tiba-tiba telapak tangan terasa panas, lalu mengeluarkan asap, menyembur layaknya semprotan nyamuk. Hal itu membuat leak yang hendak datang seakan merasa terbakar sehingga tidak jadi hadir merasuki saya.

Seusai menari seperti itu, saya masuk ke kamar nenek. Lalu berceloteh ke jero Kadek Suaraman. 'Bli sih disuruh mengundang leak, gak ada yang berani datang. Mereka pada terbakar. Soalnya tangan bli 'panes'. Ujarku tergelitik.

Sesaat kemudian tersadar, ternyata hanya mimpi. Mimpi tersebut pertanda buruk dan baik. Mimpi menari pertanda buruk, hal buruk datang dari makluk gaib untuk mengganggu atau menyakiti nenek atau kakek. Akan tetapi karena mahkluk gaibnya terbakar dan tidak jadi datang, maka hal itu pertanda baik. Hal baik ini merupakan pertolongan Ratu Kauh, dewata yang kahyangannya di pura Tringan. Apa penyebab hal buruk hampir datang untuk nenek atau lakek? Untuk mengetahuinya dapat digali dengan tenung tanya lara. Berdasarkan hari mimpinya jatuh pada Soma Wage nuju Tungleh. Soma ngaran umah (rumah), arahnya utara. Wage ngaran gumi (bumi) atau gedogan (kandang hewan), arahnya utara. Tungleh ngaran sarwa mati. Jumblah uripnya 4+4+7= 15:4= 3, sisa 3, artinya manusa atau sang wengi atau mamedi. Karena nuju tungleh disertai hari pasaran wage, maka hal ini cenderung pemalinan sehingga hal buruk cenderung datang dari Sang Wengi. Hal di atas bila disusun menjadi sebuah kalimat maka berarti 'Sang Wengi dajan umahe' (jin dari arah utara rumah).

Setelah saya cek ke rumah nenek, ternyata waktu kakek memperbaiki kandang, kakek menaruh beberapa batang kayu bekas tiang kandang. Tempat menaruh kayu itu dilalui jalan niskala (jalan di alam gaib) sehingga mengganggu perjalanan Sang Wengi yang ada di utara rumah nenek. Itulah penyebab hampir datang musibah namun masih diselamatkan dewa sehingga tidak terjadi apa-apa. Dapat dikatakan mimpi tersebut baru peringatan.

Hal menarik yang perlu dicermati dari kronologi mimpi tersebut bahwa tangan 'panes'. Panes dalam konteks ini bukan berarti panas melainkan bermakna memiliki khasiat. Khasiat tersebut bisa merugikan maupun menguntungkan. Telapak tangan kita sesungguhnya memang bisa memancarkan energi yaitu energi prana yang berasal dari energi prana semesta, terutama prana matahari. Sehingga telapak tangan kita bisa digunakan untuk mengobati dan juga untuk mengusir kekuatan jahat. Untuk bisa merasakan adanya energi di telapak tangan caranya cukup sederhana, dengan mengaktifkan cakra tangan.

Cobalah sentuh atau tekan bagian tengah telapak tangan kanan sekira sepuluh detik dengan ibu jari tangan kiri. Demikian sebaliknya, telapak tangan kiri disentuh dengan ibu jari tangan kanan. Kemudian pusatkan pikiran pada kedua telapak tangan, lalu rasakan dan nikmati energi hangat yang timbul. Lakukan setiap hari minimal seminggu dan rasakan apa yang terjadi. Telapak tangan kita mulai bisa mengakses energi semesta, energi prana. Energi tersebut bisa digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain.
Ini Sebabnya Rumah Bali Kuno Tak Ada Sanggah Kamulan

Ini Sebabnya Rumah Bali Kuno Tak Ada Sanggah Kamulan

Bila kita cermati, dulu di desa-desa Bali aga tidak ada sanggah kamulan atau pura di rumah. Keberadaan sanggah kamulan berkembang setelah hadirnya rumah modern. Hal itu terjadi karena rumah Bali kuno di desa-desa menggunakan model pondok seka roras, yaitu rumah yang bertiang 12.

Berbeda dengan masyarakat Bali selatan, hampir semua rumah memiliki sanggah kamulan atau lebih umum disebut sanggah. Lebih-lebih rumah yang menggunakan konsep 'bale agung' atau umah gede. Dimana pada rumah ini memiliki banyak bale atau bangunan, seperti bale daja, bale dauh, bale delod, bale dangin, dan bangunan pelengkap lainnya.

Sepintas kita melihat perbedaan yang sangat mencolok, seolah-olah konsep rumah masyarakat Bali Aga tak sesuai aturan. Akan tetapi ketika kita telaah ternyata esensinya sama saja. Pondok seka roras yang dikenal dalam masyarakat Bali merupakan miniatur dari umah gede. Dalam rumah seka roras ini terdapat ambe (di selatan), peluangan (halaman rumah di dalam ruangan), bedawan (bedauhan/barat), patokan (pusat/tengah), bedanginan (timur), dan pawan atau paon (dapur).

Menariknya, meskipun dapur di dalam rumah berbahan serba kayu, beratapkan 'belu' (sejenis ilalang), maupun bilahan bambu, akan tetapi jarang sekali terjadi kebakaran. Demikian pula tembok bangunannya, meski bahannya dari 'keladang' tanpa perekat semen, hanya menggunakan tanah merah, namun temboknya mampu bertahan puluhan tahun, padahal jika sengaja didorong mudah sekali roboh.

Diantara beberapa ruangan dalam rumah seka roras, bedanginan dianggap sebagai ruangan sakral, dikeramatkan, didalamnya terdapat tempat suci disebut planggatan, katanya di Bali timur disebut Kajan. Planggatan inilah dianggap sebagai 'pura' di rumah. Akan tetapi, meski dianggap tempat suci, fungsinya tidak sama dengan sanggah Kamulan, hanya berfungsi sebagai pengayingan. Hanya upacara kecil saja yang boleh dilakukan di planggatan. Sedangkan sanggah kamulan fungsi utamanya sebagai pemujaan kepada leluhur, terutama di gedong rong telu. Bilamana sebuah keluarga akan melaksanakan upacara besar maka seseorang membuat Sanggar Surya berbahan bambu.

Oleh karena tidak ada rong telu tempat stana leluhur di planggatan maka masyarakat yang memiliki atau mewarisi konsep rumah sekaa roras memiliki palinggih atau pesimpangan dewa Hyang, fungsi dan bentuknya hampir sama dengan sanggah kamulan. Bedanya, palinggih dewa hyang diempon oleh banyak orang (kurang lebih 20-50 kk), sedangkan sanggah kamulan hanya diempon oleh satu keluarga atau orang yang tinggal menetap dalam rumah bersangkutan.

Seiring perkembangan jaman, kini semakin banyak masyarakat Bali Aga ataupun masyarakat yang mewarisi konsep rumah seka roras sudah membangun sanggah kamulan di masing-masing rumah atau setidaknya memiliki pelingih Dewa Raksa dan Kala Raksa apabila bangunan rumahnya tidak lagi berbentk seka roras (saka roras). Melihat fungsi sanggah kamulan dan palinggih dewa hyang hampir sama, maka keluarga yang telah memiliki sanggah kamulan seharusnya tidak perlu lagi palinggih dewa hyang karena dewa hyang atau leluhur telah berstana di sanggah kamulan.

Bilamana setiap anggota pangempon dewa hyang sudah memiliki sanggah, idealnya palinggih dewa hyang dinaikan menjadi pura panti/pura ibu (paibon).

Keberadaan pondok seka roras era sekarang semakin termarjinalkan, dianggap kuno, milik orang miskin. Tak jarang si pemilik rumah seka roras menelantarkan rumah kuno ini, padahal rumah seka roras termasuk rumah keramat karena di dalamnya terdapat pelanggatan. Oleh sebab itu, apabila hendak menghancurkan rumah seka roras harus dibuatkan upacara atau banten pelebur, pangesengan dan pengayut karena menghancurkan rumah seka roras hampir sama dengan menghancurkan sanggah kamulan, dan tentunya si pemilik rumah seka roras yang sudah dihancurkan harus memiliki sanggah kamulan baru sebagai pengganti planggatan. Sebab, di planggatan tempat stana atma atau semua roh keluarga kita, kita-kita yang masih hidup maupun yang sudah meningal.

Tak sedikit masyarakat menderita penyakit aneh gara-gara menelantarkan rumah seka roras atau memposisikan rumah tersebut pada tempat yang tidak semestinya, seperti misalnya membangun bangunan baru di sebelah timur seka roras, membangun rumah baru di duur (atas) rumah seka roras. Akibatnya rumah seka roras menjadi leteh atau kotor, tentunya berakibat disharmoni dalam keluarga, seperti sakit-sakitan, rezeki mandeg/sret, dan lain sebagainya..
Mencegah Anak Jadi Jero Dasaran

Mencegah Anak Jadi Jero Dasaran

Beberapa masyarakat Songan mulai mempertanyakan keberadaan Jero Dasaran yang usianya semakin muda dan jumblahnya semakin banyak. Ada apa gerangan? Sebelum lanjut membaca tulisan ini, kiranya perlu membaca ulasan ‘Bhatara Satiman’ pada tulisan sebelumnya.

Kalau kita hitung-hitung secara serampangan kira-kira yang jadi Jero Dasaran 50 % lebih, yang lainnya Jero Mangku sekira 10%, Dewa Kembar 5 %, Jero Balian 4%, Jero Peduluan 1 %, sisanya masyarakat biasa yang tidak jadi jero.

Ambil contoh di keluarga saya; Bapak jadi jero Mangku, Ibu jadi Jero Dasaran, tapi anak-anaknya yang berjumblah 5 orang tak satu pun jadi Jero dasaran, begitu pun kedua cucunya. Coba lihat keluarga saudara bapak saya; Paman Wa jadi Jero kembar, istri pertamanya jadi Jero Dasaran, istri kedua jadi Jero Balian. Dari 5 anaknya, 2 jadi Jero Dasaran, 1 dewa kembar, 2 lagi jadi pemangku (tapi setelah kawin keluar, mengikuti suaminya jadi pemangku). Dari dua cucunya, keduanya jadi jero dasaran, padahal masih kecil.
Lihat lagi adik bapak saya; Guru jadi jero pemangku, tentu istrinya mengikutinya; pemangku dewa hyang. Dari 3 anaknya, 1 jadi Jero Dasaran.

Dari kenyataan tersebut, Jero dasaran paling mendominasi, diikuti Jero Mangku, lalu Dewa Kembar, terakhir Jero Balian. Sedangkan Jero-Jero yang duduk dalam sistem pemerintahan adat (peduluan) itu memang keharusan, seperti Jero Kraman, Jero Nyarikan, Jero Kubayan, dan lain sebagainya. Demikian pula halnya yang menjadi Jero Mangku. Hal tersebut karena setiap ada pura, dewa hyang, dewa kembar, wajib ada pemangkunya. Sehingga kenyataan ini tak perlu dipertanyakan. Yang sering tak masuk akal adalah keberadaan Jero Dasaran dan Dewa Kembar (yang pasangannya tidak ada). Sedangkan Jero Balian masih wajar-wajar saja, karena yang menjadi Jero Balian sedikit, masih menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Kenyataan ini saya pernah saya tanyakan ke bapakku, ada apa di balik fenomena orang jadi Jero Dasaran semakin banyak dan semakin muda? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa jadi jero dasaran itu memang sebuah kebutuhan, dan memang sebagian orang benar-benar ‘Kajumput’ oleh Ida Bhatara untuk ngiring pekayunan Ida Bhatara. Tetapi kemungkinannya, banyak juga yang hanya ikut-ikutan; misalnya takut anaknya tak sembuh-sembuh atau bahkan takut anaknya meninggal pada usia muda sehingga lebih baik dijadikan Jero Dasaran ketimbang anaknya hidupnya sengsara bahkan meninggal. Sebagaimana kita ketahui seseorang yang akan menjadi Jero dasaran pasti didahului sakit, sakit-sakitan, bahkan buduh alias gila.

Untuk mencegah menjadi orang yang hanya ikut-ikutan menjadikan anak sebagai Jero dasaran atau takut anaknya kenapa-kenapa bila tidak dijadikan Jero dasaran, kira-kira hal di bawah ini perlu direnungkan atau setidaknya dipertimbangkan;

Pertama, anak yang lahir eteh-etehnya dilengkapi, termasuk pada saat sang istri hamil (klik di google Tapa Brata Wanita Hamil), demikian ketika anak sudah lahir; ari-arinya diberikan upakara sebagaimana yang tertuang dalam Kanda Pat Rare dan Lontar Usadha Wong Beling. Demikian pula upacara lainnya sebagaimana mestinya seperti; adanya pelangkiran, kepus pungsed, 3 hari, 42 hari, 3 bulanan, otonan, dst. Dalam masyarakat Songan,kalau kita perhatikan pada umumnya yang kurang mendapat perhatian pada saat istri hamil dan penanaman ari-ari.

Kedua, Pawintenan Saraswati. Ketika anak akan menempuh pendidikan, anak diupacarai pawintenan Saraswati di sekolah. Dalam tradisi Veda hal ini dikenal Upanayana Samskara.

Ketiga, Mandeg Semaya. Mandeg semaya ini berpedoman pada ilmu perbintangan yang tertuang dalam Lontar Wraspati Kalpa. Dalam lontar ini menyebutkan ciri-ciri sakitnya seseorang, waktu sakitnya dan upacaranya berdasarkan hari kelahiran anak.


Bila kita cermati waktu sakitnya seseorang berdasarkan hari kelaharian, seperti; lumangkang; awal digendong, ajejalan; baru belajar berjalan, acacawet; pertama bisa memakai pakaian sendiri, menek kelih; rikala uning nyledet anak len (belajar melirik lawan jenis), masomahan (menikah), maduwe putra (memiliki anak), maduwe cucu (memilki cucu); Yang terakhir ini ada tradisi upacara nutug baya mecucu ketika memiliki cucu dan upacara nutug baya mekumpi ketika sudah memiliki kumpi atau cicit.

Hal tersebut tersebut tergantung hari apa lahirnya seseorang. Contoh misalnya saya, menurut primbon saya akan sakit ketika baru tahu melirik cewek. Waktu saya sakit parah itu kelas 4 SD. Tahu gak, waktu saya kelas 3 sudah pernah mejek nyonyo. Tapi tua cepok sajaan, sing bani. Waktu itu saya sakit hampir sebulan, sampai tak sekolah padahal sudah dibawa ke dokter di Kintamani tapi tak kunjung sembuh, bahkan pernah dikiranya mati waktu pingsan. Setelah serius ditangani bapakku, dicari dari mana penyebab sakitnya lalui dibuatkanlah pebayuhan sesuai petunjuk lontar. Sembuh sudah. Sampai saat ini hampir tak pernah sakit, kalau pun sakit karena sakit akibat alam seperti batuk-batuk, panas dingin. Tapi menurut lontar itu saya akan bayar mandeg semaya pada saat maduwe putra asiki.

Oleh karena itu, bila anak kita sakit tak kunjung sembuh padahal sudah berobat ke dokter, lihat dulu sakitnya apa, cocok apa tidak dengan mandeg semaya-nya. Jika ternyata mandeg semaya, buatkan upacaranya. Bila ternyata tidak, barulah lari ke solusi akhir, jadi Jero Dasaran. Ini pun bila memiliki ciri-ciri melik untuk memastikannya atau biar yakin sepenuhnya.

Kenapa saya berani mengatakan hal itu, karena saudara-saudara saya dan keponakan saya diperlakukan seperti itu oleh bapak, terbukti sampai saat ini tak satupun anaknya jadi Jero. Gak ada tuh Jero Pertas, Jero Merta Mupu, padahal orangnya gendeng-gendengan, huahaha.

Tanggapan seseorang atas tulisan ini di facebook, salah satunya dikomentari oleh mbak Tri, sebagai berikut;

Saya tidak lahir di songan tetapi tiang sekeluarga mengalami fenomena ini. Saya terus mencari jawaban mulai dari lingkungan yang paling dekat hingga lingkungan terjauh. Kesimpulan sementara secara logis, setiap orang lahir dengan karma dan bekel masing-masing. Orang-orang yang kita sebut melik adalah memiliki kelebihan, saya lebih suka menyebutnya keunikan. Tugas kahirnya adalah bagaimana ia bisa menggali dan memahami diri sehingga berguna untuk dirinya dan orang lain karena dia dilahirkan lebih, memiliki kemampuan khusus. Kalau kita pakai bahasa bebas, orang-orang melik ini sangat bagus berprofesi sebagai Healer. Di Bali healer itu identik dengan sang dharmousada atau Balian, bahasa kasarnya dukun/pemyembuh. Dasar pijakannya sebagai seorang healer itu adalah berbuat baik untuk dirinya sendiri, berbuat baik untuk orang lain. Permasalahannya banyak dukun yang membantu seseorang untuk menyakiti oranglain. Ini perlu kecerdasan dan kebijaksanaan yang lebih agar tidak terjadi al demikian. Kasus melik ini tidak hanya terjadi di Bali. Di seluruh belahan dunia ada, hanya saja beda istilah. Di amerika, di jerman, juga ada orang melik. Rata-rata orang sepert itu berprofesi sebagai guru spiritual dan meditator yang tampil sangat biasa dan tidak tenget. Apa yang buat melik di Bali menjadi tenget karena pemahaman kita yang dibungkus dengan primitif yang bernuansa ego. Sehingga melik yang merupakan anugerah untuk menjadi pribadi yang unik akhirnya menjadi momok menakutkan yang berusaha untuk dihindari dan diingkari.

Asal muasal kenapa leluhur kita memberi panggilan "Jero". Jero =inside =di dalam, ditujukan kepada sang jati diri/spirit/soul/Ruh yg suci dan murni yg bersemayam. Agar sang raga mampu menjadi altar-Nya. Guna menjalan tugas-tuas mulia agar bhuana agung dan bhuana alit selaras-seimbang. Bila sang raga yang mengusung "Jero" tidak sanggup mengekpresikan hal yang demikian maka sudah mengurangi makna Jero yang sesungguhnya.

Jero yang sesungguhnya, adalah soul/spirit yg diusung oleh raga yang sudah mampu mengekpresikan semangat kemanusiaan yang mengalirkan informasi dan energi yang selaras dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada di alam semesta. Orang-orang yang sudah pada tingkat ruh/soul/spiritnya terkoneksi erat dengan raga/body/badan. Kalau dilihat dari frekwensi gelombang otaknya berada di delta. Disitulah seluruh informasi alam bawah sadar terhubung anatara manusia satu dengan yang lain. Dan tentu pula terhubung dengan energi alam semsta dan mahkuk lain yang lebih tinggi atau mulia di alam semesta ini.
Back To Top