e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

JALAN PENGINGKARAN


BAB 5
JALAN PENGINGKARAN

Jai: Sebelumnya, nenek sebutkan ada dua jalan. Jalan mana yang lebih baik bagi kebanyakan orang, nek, jalan kesadaran spiritual atau jalan pelayanan tanpa pamrih?

Nenek: Seseorang yang memiliki kesadaran KeTuhanan sejati percaya bahwa semua kerja dilakukan oleh energi alam dan ia bukan pelaku yang sebenarnya dari suatu tindakan. Orang semacam ini disebut Samnyāsi atau pengingkaran diri dan memiliki kesadaran diri sejati.

Seorang KarmaYogi bekerja tanpa mengharapkan hasil untuk dirinya dari pekerjaan yang dilakukannya. KarmaYoga mempersiapkan seseorang untuk menerima kesadaran diri sejati. (Gita 4,38, 5,06). Kesadaran diri sejati akan mengarah pada pengingkaran diri. Jadi pelayanan tanpa pamrih atau KarmaYoga membentuk dasar pengingkaran (Samnyāsa). Kedua jalan itu akhirnya mengarah kepada Tuhan. Krishna menganggap KarmaYoga lebih baik diantara kedua jalan karena lebih cepat dan lebih mudah bagi kebanyakan orang untuk diikuti. (Gita 5,02).

Jai: Bukankah kata pengingkaran biasanya berarti meninggalkan harta benda duniawi dan tinggal di sebuah Ashram atau di tempat sepi?

Nenek: Kata Samnyasa dalam arti sempit berarti membatalkan (atau menyerahkan) semua kepentingan pribadi, harta benda dan benda-benda duniawi. Tapi itu juga berarti hidup dalam masyarakat dan melayani masyarakat dengan melakukan satu tugas tanpa kepentingan pribadi apapun. Orang semacam ini disebut Karmā-Samnyāsi. Beberapa pemimpin spiritual, seperti Adi Sankarāchārya, memilih jalan pengingkaran diri dari semua harta duniawi sebagai jalur tertinggi dan tujuan hidup. Dia sendiri menjadi Samnyāsi ketika masih kecil. Krishna berkata: "Orang yang tercerahkan atau Samnyāsi (atau pertapa, atau orang yang telah meninggalkan semua kepentingan pribadi) melihat Tuhan di dalam semua. Orang semacam itu melihat orang terpelajar, orang buta huruf, orang kaya, yang miskin, orang buangan, bahkan seekor sapi, gajah, atau anjing dengan penglihatan yang sama. "(Gita 5,18)

Aku akan menceritakan kisah tentang seorang pemimpin rohani yang besar, pahlawan, guru, Samnyāsi dan pemikir besar. Namanya Adi Sankarāchārya. Seorang yang mendalami Gita berhutang kepadanya dengan penuh penghargaan dan rasa hormat.


5. Adi Sankarāchārya

Adi Sankarāchārya (atau Sankara) adalah penulis dan promotor non-dualistik sebuah filsafat Vedanta, yang menyatakan bahwa seluruh alam semesta tidak lain adalah Tuhan. Ia dilahirkan di negara bagian Kerala pada tahun 788 M. Pada usia delapan tahun, dia telah belajar ke empat Veda, dan pada usia dua belas tahun, sudah fasih dalam semua kitab-kitab Hindu. Dia diyakini sebagai Deva Shiva dalam wujud manusia.

Dia menulis banyak buku, termasuk komentar pada Bhagavad-Gita, Upanisad, BrahmaSutra dan banyak lainnya. Kitab Suci Bhagavad-Gita tersembunyi dalam Mahābhārata bab kedelapan sebelum Sankara membawanya kepada kita. Sankara mengambil Gita dari Mahābhārata, memberikan judul bab, dan menulis komentar pertama dari Gita dalam bahasa Sanskerta. Terjemahan Bahasa Inggris pertama dari Gita itu dilakukan oleh penguasa Inggris pada abad ke-19.

Sankara mendirikan empat ashram utama di berbagai penjuru India: di Shringeri, Badrināth, Dvārkā dan Puri. Dia menghentikan penyebaran Buddha terhadap Hindu dan mengembalikan Hindu ke kejayaan masa lalu. Menurut filsafat non-dualismenya, jiva individual (jiva) adalah Brahman (Tuhan), dan dunia adalah permainan Māyā, khayalan energy Brahmā. Ia jelas seorang yang telah mencapai tingkat kesadaran diri. Tetapi pada awalnya, ia memiliki perasaan dualitas, membedakan antara kasta tinggi dan rendah. Kepercayaannya yang mutlak pada Tuhan (Brahmā) tidak terlalu kuat di dalam hatinya. Suatu hari, ia pergi ke kuil Shiva di kota suci Banāras setelah mandi di sungai suci Gangā. Dia melihat seorang kasta rendah, seorang tukang daging, membawa beban daging. Tukang daging itu menghampirinya dan berusaha menyentuh kaki Sankara dengan hormat.

Sankara berteriak marah: "Pergi! Beraninya kau menyentuhku? Sekarang aku harus mandi lagi."

"Wahai Orang Suci," kata si tukang daging, "Aku tidak menyentuhmu, engkaupun tidak menyentuhku. Jiva yang murni bukanlah tubuh atau lima unsur pembentuk tubuh." (Penjelasan yang lebih rinci ada dalam Bab 13.)

Lalu Sankara melihat wujud Deva Shiva pada di tukang daging. Deva Shiva sendiri datang pada Sankara untuk menanamkan filsafat non-dualistik dalam dirinya. Sankara menjadi orang yang jauh lebih baik mulai hari itu karena kasih karunia Deva Shiva.

Kisah ini menggambarkan bahwa kesetaraan dengan semua mahluk sangat sulit untuk dilakukan sepanjang waktu. Untuk memiliki perasaan seperti itu seseorang harus benar-benar menyadari Tuhan atau seorang Samnyāsi yang sempurna.

Bab 5 Ringkasan: Krishna menyatakan bahwa pelayanan tanpa pamerih (atau pelayanan kemanusiaan tanpa terikat pada hasil) sebagai jalan terbaik bagi kebanyakan orang. Kedua jalan, baik jalan kesadaran diri maupun jalan pelayanan tanpa pamerih, mengarah ke kehidupan yang bahagia di bumi dan di Nirvāna setelah kematian. Samnyāsa tidak berarti meninggalkan harta benda duniawi. Tetapi berarti tidak melekat pada harta tersebut. Seseorang yang tercerahkan melihat Tuhan di dalam semua mahluk dan memperlakukan semua orang sama.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts