e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Kasih Sayang yang Salah-Mempersembahkan Kematian Untuk Generasi Muda

Melihat semakin banyaknya kasus-kasus yang menimpa anak-anak dan remaja yang membuat kita mengelus dada dan membuat hati miris , lihat saja contohnya kasus kecelakaan kendaraan bermotor semakin hari kian meningkat. Seperti kasus kecelakaan yang menewaskan pelajar di Bali. Seperti yang diberitakanBali TV beberapa hari lalu “AKIBAT MENGEMUDI DENGAN KECEPATAN TINGGI DAN TIDAK MENGUASAI KENDALI, DUA PELAJAR SMP DI DENPASAR TEWAS MENGENASKAN. MOBIL YANG DIKENDARAI MENABRAK POHON, BAHKAN MOBIL TERBELAH MENJADI DUA DAN TERBAKAR. SEDANGKAN, SATU KORBAN LAINNYA DALAM KONDISI SEKARAT, DAN KINI DIRAWAT DI RUMAH SAKIT.(Bali TV)”
Diharian Bali Post juga diberitakan Kecelakaan maut juga menimpa pelajar SMP seperti kutipan berita berikut:
“KECELAKAAN maut juga dialami pelajar kelas III SMP PGRI di Denpasar, I Kadek Mega Tirta Kembara (15), beralamat di Jalan Kebo Iwa, Padangsambian. Kadek Mega Tirta Kembara saat itu membonceng Aditya Riski Darisalam (14), beralamat di Jalan Imam Bonjol. Mereka mengalami kecelakaan di Jalan Mahendradatta, tepatnya di sepan Salon Cantika. Kendaraan yang dikemudikan Mega Tirta bertabrakan dengan sebuah truk Fuso L 8652 UT yang dikemudikan Mohammad Ikhsan.
Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 13.00 wita. Ketika itu korban mengendarai Yamaha Mio DK 6120 A meluncur dari arah utara. Pada saat bersamaan di jalur berlawanan tiba-tiba nongol sebuah truk Fuso hendak menyalip sebuah kendaraan privat mengemudi. Tabrakan pun tak terhindarkan. ”Truk melewati as jalan sehingga mengenai sepeda motor Mio yang dikemudikan korban. Kejadian tersebut mengakibatkn korban terjatuh,” kata sumber di kepolisian. Mega Tirta pun dilarikan ke rumah sakit. Namun naas, sebelum tiba di rumah sakit, dia sudah mengembuskan napas terakhirnya”(Harian Bali Post).
Kasus kecelakaan ini hanya sebagian kecil dari sejumlah kecelakaan yang menelan korban anak dibawah umur yang nota bene adalah generasi muda harapan bangsa, kenapa hal seperti semakin banyak terjadi? Salah siapa? . tidaklah salah bila Kitab suci mengatakan “Sayang Tongkat anak  Rusak” artinya apabila kita terlalu sayang terhadap anak maka sebenarnya kita menghancurkan generasi muda yang akan Harapan Bangsa kedepannya. dengan tidak berani memberikan hukuman yang benar. Memberikan fasilitas kendaraan yang berupa mobil, sepeda motor kepada anak dibawah umur bukanlah suatu hal yang tepat, dikatakan pemberian seperti itu adalah merupakan “kasih sayang yang salah - mempersembahkan kematian untuk generasi muda” .
Di pedesaan realita yang ada lebih parah lagi, anak SD sudah diizinkan membawa sepeda motor, mau dijadikan apa genarasi muda? Mau kita bunuh secara pélan-pelan tapi pasti akibat keteledoran orang tua?
Pemberian yang tidak mendidik sangat banyak jenisnya , seperti misalnya membelikan HP, Laptop, dll untuk anak-anak SD. Yang sewaktu-waktu dapat disalah gunakan. Menyanyangi anak dengan memberikan sesuatu berupa benda materi bukanlah hal yang uttama, didalam kitab suci bhagavad gita disebutkan bahwa persembahan yang uttama adalah persembahan berupa “pengetahuan suci”, sudah seyogianya para orang tua lebih menekankan pada pemberian fasilitas yang membawa generasi muda lebih cerdas dan arif bijaksana. Demikian juga untuk anak-anak seyogianya tidak hanya menginginkan materi yang tidak kekal (bersifat sementara), carilah arta yang tidak dapat dicuri oleh siapa pun yaitu Pengetahuan seperti apa yang disebutan kitab suci Slokantara Sloka 4 (9)
Anityam yauwanam rupamanityo drawyasamcayah,
Anityah priyasamyogastasmad dharmam samacaret.
Kalinganya, ikang kayowanan mwang rupa, tan lana jatinya ,ikang kasugihan samuha ning drewya, tan lana ika, muwah ikang wwang amangan aturu lawan rabinnya , tan lana ika, matangyan ulahakna dharma juga, tan angalah-alaha sama ning dadi janma , wenang matakwana salwir ing sinanggah dharma sasana ri sang pandita, marapwan tan anemu papa, mangkana kramaning dadi janma.
Arti
Keremajaan dan kecantikan rupa itu tidak langgeng. Timbunan kekayuan pun tidak langgeng. Hubungan dengan yang dicintai pun tidak langgeng. Oleh karena itu kita harus selalu mengejar dharma (kebajikan,hukum,kebenaran) karena hanya itulah yang langgeng.




Dikatakan bahwa keremajaan dan kecantikan rupa itu ialah sesuatu yang tidak kekal. Kekayaan dan kumpulan harta benda pun demikian juga halnya. Dan kesenangan hidup sehari-hari , umpamanya makan serba lezat , menikmati asmara dengan istri , segalanya ini tidak langgeng. Maka dari itu orang harus mencurahkan pikiran pada pelaksanaan kebenaran saja. Ia tdak boleh melakukan kekerasan terhadap sesama mahkluk. Dan selanjutnya ia wajib bertanya-tanya kepada pendeta, tentang melaksanakan peraturan dharma (Dharmasastra). Dengan demikian tidak akan menemui malapetaka . inilah kewajiban manusia.
Kendalikan Anak
Beberapa kutipan opini yang dilansir dari Bali Post dalam kolom Warung Global “Adnyana di Pedungan menyatakan hal yang sama, keluarga dan orangtua harus mengendalikan anak. Ia juga sangat prihatin dengan hal ini. Awe di Legian menyampaikan keprihatinnya kalau boleh pihak sekolah tetap melarang siswa SMP bawa kendaraan ke sekolah. Namun pengawasan orangtua harusnya selektif jangan sampai kejadian ini terjadi lagi. Jangan terlalu berlebihan memanjakan anak. Arca Putu menyatakan sebenarnya di sini adalah ketegasan dari orangtua, di samping peran sekolah yang melarang siswanya membawa kendaraan, kalau boleh sepeda motor pun harus dilarang, tapi di sini juga harus ada peran pemerintah menyediakan angkutan umum menuju sekolah, di sinilah peran serta semua pihak.
Mardika di Kuta keheranan dan menilai hebat, masih SMP sudah bawa mobil. Yang penting gaya mengenai kronologis kecelakaan kemarin di Renon. Kata polisi tidak ada bau alkohol, apa mungkin karena saling kejar-kejaran sama temennya ya??? Bisa sampai separah itu? Adnyana Kemenuh menyampaikan, ”Ini bentuk kasih sayang yang salah sasaran dari orangtua kepada anak.” Siapa yang tidak sayang sama anak kandung sendiri? Makanya pihak kepolisian memberi batasan usia anak untuk memiliki SIM/Surat Izin Mengemudi minimal umur 17 tahun, maksudnya agar si pengemudinya sudah cukup dewasa mengemudikan kendaraan di jalan umum agar tidak membahayakan pengemudi maupun orang lain. Sangat memprihatinkan kondisi ini untuk menjadi perhatian kita semua, khususnya para orangtua yang memiliki anak akil baliq agar mengawasi ketat penggunaan sepeda motor maupun mobil. Sayang tunas bangsa meninggal sia-sia. Sedangkan Yudi Anjan menyatakan karena perubahan zaman semakin modern jadi kita sebagai orangtua tidak bisa berbuat banyak. Kalau dari pihak kepolisian dicegah dengan belum mengeluarkan SIM usia SMP.
“Sikap adil dan sayang orangtua terhadap anak sebagaimana mestinya adalah masa depan bagi mereka, karena tak jarang sikap orangtua yang berlebihan dalam kasih sayang membuat anak terjerumus dalam kesalahan” .(K.R.)

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts