e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Menggali Kuburan Bayi

Sedang berdua bersama guru (bapak saya) dekat sungai kering (pangkung). Kami ke tempat itu karena ada keluarga yang salah mengubur bayi. Bayi yang meninggal baru berumur tiga bulan. Guru menyuruh saya yang menggali untuk menemukan mayat bayi tersebut pada tempat yang diperkirakan dikubur.

Baru sekali saya mencangkul gundukan tanahnya dari arah tenggara (kelod kangin), saya dinasehati agar tidak menggali dari arah itu karena arah tenggara merupakan arah yang dikuasai 'Kala', bhuta kala. Lalu saya hendak bergeser ke arah selatan, lagi-lagi saya dilarang menggali kuburan dari arah selatan. Katanya, arah selatan dikuasai rajanya 'Kala'. Kemudian saya disuruh menggali dari arah barat daya (kelod kauh). Meski arah tersebut juga dikuasai kala namun bhuta kala pada arah itu lebih jinak. Lalu saya menggali baru beberapa cangkulan sudah muncul pembungkus bayinya. Tampaknya mayat bayi tersebut sudah hancur. Saya hanya menemukan kelapa yang telah hancur terpecah belah.

Mimpi tersebut menggambarkan adanya pemali terkubur di tempat itu. Dalam mimpi samar-samar berada di sudut rumah kakak sepupu saya yang baru dibangun sekitar tiga bulan lalu. Hal ini selaras dengan umur bayinya yang berumur tiga bulan.

Berdasarkan hari mimpinya jatuh pada hari Buda Pahing nuju Paniron. Buda ngaran bantang (batang), arahnya barat. Pahing ngaran patok, arahnya Selatan. Paniron ngaran sarwa hidup, arahnya barat daya. Jumblah uripnya 7+9+8= 24:4= 5, sisa 4, artinya dewa agung, sesuunan (dewata). Jadi mimpi tersebut petunjuk dari sesuunan (dewata) yaitu Bhatara Hyang Guru menyamar menjadi bapak saya yang biasa dipanggil guru. Beliau hendak memberitahu bahwa di sudut barat daya (gabungan arah Buda Pahing) pekarangan rumah sepupu saya ada batang hidup yang dikubur sehingga menjadi pemali.

Mimpi di atas tidak hanya menggambarkan adanya pemali juga memberi pelajaran tentang arah yang dikuasai Bhuta Kala. Saat saya bertemu dengan bapak saya sepulang dari Denpasar, saya tanya tentang arah yang dimaksud. Ternyata memang benar bahwa arah barat daya, tenggara, dan selatan dikuasai 'Kala'. Saya tahunya hanya arah selatan dikuasai dewa Kematian. Oleh sebab itulah dalam masyarakat Hindu Bali arah pemujaan di rumah untuk dewa tidak boleh berada di selatan, tenggara, dan barat daya. Biasanya arah tersebut di pekarangan dijadikan tempat mendirikan palinggih untuk Kala. Seperti palinggih Sanghyang Indra Belaka. Namun secara khusus palinggih untuk Indra Belaka selalu ditempatkan ke arah keramat, artinya 'nyumbahnya' ke arah keramat, bukan palinggihnya menghadap ke arah keramat.

Bila arah tenggara, barat daya dan selatan dikuasai kala, sebaliknya arah timur, timur laut, dan utara dikuasai dewa-dewi, terutama arah timur laut. Oleh karena itulah arah timur laut rumah masyarakat Hindu Bali didirikan sanggah Kamulan atau minimal palinggih ke Surya. Sedangkan khusus pada arah barat laut didirikan palinggih Tugun Karang yang merupakan Satpamnya rumah. Menurut kepercayaan orang Bali, arah barat laut dijadikan pintu keluar oleh leyak, mungkin juga bagi mahkluk gaib lainnya. Itulah sebabnya pada arah tersebut didirikan palinggih Tugun Karang.

Konsep arah mata angin di Bali tidaklah sama dengan konsep mata angin yang dikenal masyarakat dunia. Di Bali dikenal konsep Segara-Gunung atau secara khusus disebut Hulu-Teben. Hulu atau daerah yang lebih tinggi dianggap arah utara (kaja). Sedangkan teben atau daerah yang lebih rendah dianggap arah selatan (kelod). Menurut seorang sulinggih, katanya kaja ngaran kajang, kajang ngaran Brahma. Kelod ngaran Lod, Lod ngaran segara.

Saat ini beberapa masyarakat Bali mulai mengubah konsep segara-gunung atau hulu-teben dengan konsep arah mata angin dengan berpatokan bahwa tempat terbitnya matahari sebagai arah kangin (timur). Kaitannya dengan religius atau keagamaan, hal itu tidak benar karena dalam kepercayaan masyarakat Hindu bahwa dewa-dewa-dewi berkedudukan di gunung. Oleh karena itulah arah pemujaan tidak boleh membelakangi gunung. Apabila kita berpatokan pada matahari sebagai arah kangin (timur), maka tak urung kita melakukan pemujaan dengan membelakangi gunung. Memang arah matahari dalam ajaran Hindu sebagai arah suci juga, akan tetapi itu hanya berlaku umum. Secara khusus, arah gununglah yang harus diutamakan sebagai arah suci. Untuk memahami hal itu, perlu kiranya diungkap sebuah adagium dalam dunia hukum bahwa 'aturan umum dikesampingkan aturan khusus'.

Keberadaan arah tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemujaan, melainkan juga berkaitan dengan hal-hal yang terlihat sepele, seperti posisi tidur. Berdasarkan ajaran Nitisastra, arah tidur yang sebaiknya dihindari yaitu kepala berada pada arah selatan dan barat. Arah yang disarankan yaitu kepala berada di timur atau di utara. Arah pada saat makan juga diatur dalam ajaran Hindu. Hanya saja masyarakat secara umum tidak begitu menghiraukan hal ini. Barangkali karena hal sepele.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts