e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Jika Leluhur Reinkarnasi Perlukah Persembahan?

Dalam sebuah diskusi di dunia maya ada yang bertanya, ‘Apakah perlu persembahan Kepada leluhur sedangkan mereka mungkin sudah berreinkarnasi?’ pertanyaan demikian barangkali pernah muncul dalam benak kita sebagai umat Hindu yang kritis, namun sikap kritis terkadang menimbulkan keraguan dalam hati seseorang dalam melaksanakan tradisi dan ajaran agama.

Berbeda dengan masyarakat awam, mereka percaya begitu saja pada tradisi tanpa mempertanyakannya sehingga dalam hati mereka tetap tumbuh sebuah keyakinan bahwa tradisi maupun ajaran agama adalah sebuah kebenaran yang patut dipatuhi dan dilaksanakan. Dalam hal ini berlaku juga terhadap keyakinan terhadap pemujaan kepada leluhur bahwa persembahan kepada leluhur itu penting terlepas dari kemana dan dimana keberadaan leluhur; apakah di neraka, di surga, ataukah sudah reinkarnasi.

Ada penjelasan menarik dalam ringkasan kitab Siva Purana, terdapat sebuah pertanyaan serupa dengan pertanyaan di atas yang ditanyakan para Rsi kepada Suta Muni pada tema pengetahuan suci tentang persembahan kepada leluhur (oblasi) . Ringkasannya sebagai berikut;

Sementara Muni menjawab pertanyaan mengenai arti oblasi pada leluhur, Suta Muni berkata:
Oblasi ini harus dipersembahkan seperti yang digambarkan dalam Kalpa (prosedur upacara).

Dimasa lalu ketika Shantanu meninggal, Bhisma menghaturkan persembahan (oblasi) untuk mengenangnya. Ia menyimpan bola dari nasi pada sebuah tempat. Pada saat itu, tangan Shantanu muncul dari tanah dan menerima persembahan itu. Bhisma menangis atas kejadian itu, ia menaruh bola nasi itu pada sebuah tempat tanpa menghaturkannya pada ayahnya. Shantanu sangat bahagia karena putranya mengikuti prosedur upacara yang benar. Kemudian Shantanu memberi putranya anugerah bahwa ia akan mati apabila ia menginginkannya.

Jadi upacara oblasi pada orang yang meninggal harus diberikan sesuai dengan prosedur yang tertulis dalam Kalpa (Kalpokta vidhi).

Kelompok leluhur tujuh berada di surga. Dari ketujuh itu, empat memiliki wujud dan yang lainnya tanpa wujud.

Akan lebih baik jika kita menggunakan alat-alat persembahan dari perak jika berhubungan dengan orang yang mati. Karenanya keturunan bisa berlanjut. Karena upacara ini semuanya akan senang bahkan tumbuhan juga akan subur. Itulah mengapa manusia harus melanjutkan melakukan upacara ini.

Prosedur dalam upacara bagi mereka yang telah meninggal: beberapa penjelasan

Setelah mendengarkan Suta Muni para rsi bertanya pada mereka lagi.

Manusia pergi ke surga atau ketempat lain sesuai dengan perbuatannya sendiri. Ia juga bisa terlahir kembali dan lagi. Apabila begitu bagaimana upacara atau hasil pahala dari upacara ini bisa sampai pada mereka?

Suta Muni tersenyum dan berkata bahwa mereka sangat bingung. Bagi yang masih hidup disini para lelulur yang telah mendahului sulit untuk diketahui. Itulah mengapa pada saat upacara, persembahan harus dilakukan dengan lima cara.

Agnikarma, melalui inilah apapun yang dihaturkan dalam upacara mencapai loka yang lebih tinggi.
Jika leluhur berada di dunia sana (yama loka), haturkanlah sedikit biji wijen.
Jika mereka berada di neraka atau ditempat hukuman, nasi yang dimasak dihaturkan pada mereka.
Jika mereka berada di surga, annadana (sedekah makanan, nasi yang dimasak) adalah hal yang tepat.
Jika mereka berada di dunia manusia (sudah reinkarnasi), uang yang diberikan sebagai amal (dakshina) akan membuat mereka berkenan.

Walaupun kita tidak mengetahui dimana mereka, kita harus mempersembahkan persembahan ini. Para nenek moyang memiliki kemampuan untuk memberikan anugerah. Walaupun mereka mungkin mengalami penderitaan di dunia sana, namun mereka masih bisa memberikan kita berkah. Kita harus membuat mereka berkenan dengan persembahan kita. Kemudian Suta Muni memberitahu mereka tentang cerita Saptavyadha (tujuh vajadha).

[Nb; dalam setiap upacara persembahan wajib hadirnya api/dupa yang dapat menghantarkan persembahan pada yang dipuja yang berada di berbagai loka atau dunia lain].

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts