e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mengambil Energi Alam Semesta Saat Sembahyang

Kalau kita perhatikan cara sembahyang generasi muda saat ini cenderung hanya eforia semata, dimana kedatangan anak muda ke tempat suci seperti pura lebih didominasi oleh keinginan untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya; rindu kepada teman bukan rindu kepada Tuhan. Bahkan beberapa anak muda menentang perintah orang tuanya dengan mengatasnamakan sembahyang ke pura, terutama saat purnama-tilem. Keadaan yang demikian salah kaprah alias keliru besar.

Menurut kitab Siva Purana, Tuhan bagi seorang anak adalah di rumah, bukan di tempat lain. Artinya, dengan berbhakti kepada orang tua maka seorang anak akan mendapat karunia Tuhan. Restu Tuhan pasti akan terbuka bilamana seorang anak hormat pada ayah-ibunya.

Meski bagi seorang anak orang tua adalah manifestasi Tuhan di bumi, akan tetapi adakalanya kita sebagai anak juga perlu sembahyang di tempat suci. Idealnya, sembahyang ke pura di bawah perlindungan orang tua, dengan kata lain kita sembahyang di pura diajak orang tua, bukan sendiri-sendiri datang ke pura bersama teman-teman.

Pada saat kita sembahyang bersama di pura, kita pun dihadapan pada hal-hal yang kurang etis walaupun tidak dilarang, dimana seringkali kita menyaksikan mereka yang sembahyang ngerumpi dengan teman di sebelahnya ketika Pemangku atau pinandita sedang melakukan puja stawa.

Sebenarnya ada hal sederhana yang perlu kita lakukan pada saat seperti itu yaitu menarik energi alam semesta dengan pranayama; olah pernafasan. Cara melakukannya cukup sederhana. Mulailah duduk tenang, baik bersila maupun bersimpuh bagi wanita, lalu sucikan tempat duduk. Leher hingga punggung dalam posisi tegak lurus, hal ini akan memudahkan mengalirnya energi prana dalam tubuh.

Setelah posisi duduk merasa nyaman, tangan bisa diletakan di atas lutut, telapak tangan menghadap ke atas. Lalu, pusatkan pikiran pada telapak tangan, fokus pada pada bagian tengah, sambil menikmati keluar masuknya nafas. Disitu tangan akan menjadi terasa hangat akibat cakra tangan mulai aktif. Jika mengalami kesulitan, terlebih dulu sentuh bagian tengah telapak tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan, dan sebaliknya telapak tangan kanan disentuh dengan ibu jari tangan kiri. Seperti memberi cap jempol.

Bila telapak tangan sudah merasa hangat, pejamkan mata setengah terbuka dengan memandang ujung hidung. Perhatian pikiran beralih pada aliran nafas; tarik nafas melalui hidung secara perlahan sambil mengucapkan mantra gayatri dalam pikiran atau secara mental; tidak bersuara, tidak pula berisik. Setelah mantra gayatri berakhir, tahan nafas juga sambil mengucapkan Gayatri mantra dalam pikiran, lalu keluarkan nafas melalui hidung secara perlahan juga diikuti gayatri mantra dalam pikiran. Ulangi hal ini beberapa kali, misalnya 3 x, 9x, dsb.

Akan tetapi ada rahasia khusus agar energi alam semesta bisa diserap. Pertama, ketika kita sedang melakukan pranayama seperti di atas, lidah menyentuh langit-langit mulut. Kedua, setelah mengeluarkan nafas, hentikan nafas sejenak, sambil mengucapkan mantra ‘Om, om, om’ dalam pikiran. Lalu lanjutkan tarik nafas.

Jadi, proses pranayama menjadi tarik nafas secara perlahan - tahan nafas - keluarkan nafas secara perlahan - hentikan nafas sejenak. Lalu ulangi. Pranayama atau olah nafas ini bisa juga dilakukan tanpa disertai mantra dan melakukannya semampunya. Tidak terikat oleh aturan ini itu, yang terpenting bisa menjadikan nafas kita berirama keluar masuknya. Dengan cara demikian maka cakra-cakra yang ada dalam tubuh akan aktif dan membuat kita merasa damai dan tentunya sehat. Hal itu terjadi karena pada saat pranayama terjadi pelepasan energy analitik atau energi negatif yang mengakumulasi akibat pikiran ucapan dan tindakan yang menimbulkan emosi negatif bagi diri dan orang lain, baik yang disengaja maupun tak disengaja, yang disadari maupun tidak. Dengan kata lain energi negatif dilepaskan semuanya dalam olah tarikan dan hembuskan nafas. Dalam pandangan medis, hal ini sangat baik terhadap kesehatan jantung sehingga membuat seseorang lebih sehat dan tidak mudah sakit.

Menurut ajaran Hindu, pranayama sebelum sembahyang sangat penting dilakukan, dinyatakan apabila sembahyang atau meditasi tanpa melakukan pranayama dianggap melakukan hal sia-sia. Menurut hemat saya, hal itu terjadi karena prana merupakan sumber energi bagi tubuh halus seseorang, tubuh yang tak terlihat. Bisa diumpamakan; prana merupakan makanan bagi tubuh halus. Tubuh halus ini terdiri dari lima unsur. Uraian akan hal ini dapat kita temukan dalam kitab Mahabharata. Seperti sepenggal kutipan berikut;
DIA lah yang menjadi sumber alam semesta yang teratur ini, dan alam semesta yang maha luas ini terletak di dalamnya. Kelompok prana yang bersifat menghidupkan itu, bersumber dari sana pula. Adapun kelompok prana (hawa murni) itu, terdiri dari prana, apana, samana, wyana, dan udana. Kesemuanya itu bersumber dari Brahman dan mengalir kembali ke dalam Brahman yang berpusat di satu titik, perpotongan kedua alis mata danhidung. Ia berada di tengah. Prana dan apana bergerak di antara sama dan wyana. Pada Jiwa dan Roh yang sedang tidur, kelompok samana dan wyana itu terserap ke dalam. Di antara apana dan prana, terdapatlah udana yang menyelusup dan menembus semuanya. Prana dan apana terus berfungsi meskipun orang itu sedang tidur. Udana, adalah yang mengatur gerak pernafasan. Disebut Udana, karena gerakannya itu dapat mengatur gerak aliran kelompok prana yang lain. (Mahabharata, Aswa Medha Parwa, hal 53).

Akibat keberadaan kelompok prana itulah menyebabkan tubuh fisik kita menjadi hidup, jika itu hilang maka tubuh ini menjadi mayat dan roh berpisah dengan tubuh. Oleh sebab itu, pranayama menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita terutama saat sembahyang, terlebih lagi meditasi. Dengan cara itu maka kita akan mudah terhubung dengan Yang Kuasa.

Setelah kita usai pranayama, maka kita lanjutkan sembahyang sebagaimana mestinya. Akan tetapi masih ada hal-hal penting yang perlu kita lakukan ketika sembahyang, terutama saat kramaning sembah. Pada saat selesai mengangkat tangan ketika melakukan panca sembah, selalu letakan cakupan tangan ke ulu hati. Maksudnya seperti ini; misalnya kramaning sembah pertama dengan ‘Nyumbah puyung’, setelah selesai, turunkan cakupan tangan sampai ulu hati, baru dibuka, kemudian mengambil bunga. Lanjutkan, kramaning sembah kedua. Setelas selesai sembah kedua, juga lakukan hal yang sama, dimana cakupan tangan diturunkan ke hulu hati, baru tangan dibuka. Demikian seterusnya hingga kramaning sembahberakhir. Tujuannya agar energi Tuhan yang kita terima saat melakukan kramananing sembah masuk ke dalam tubuh.

Pada sembah yang terakhir, sebelum membuka cakupan telapak tangan di hulu hati, kedua tangan digosok-gosokan; kedua telapak tangan bergesekan. Kemudian buka kedua telapak tangan dan usapkan di wajah. Dengan cara demikian maka energi alam semesta masuk ke dalam diri kita dengan baik, dan efeknya bisa kita rasakan saat itu juga, dimana hati menjadi terasa damai dan tentram.

Hal tersebut juga baik dilakukan saat sembahyang di kamar pribadi maupun di tempat lain yang baik dijadikan tempat menenangkan diri, seperti di bawah pohon yang rindang, di tepi pantai, di puncak perbukitan, dan lain sebagainya.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts