e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Uji Coba Makan Daging Manusia

Saya mendapati kakek sudah meninggal. Lalu saya disuruh memesan banten (sesajen) kematian oleh sepupu saya, bli jero Kembar bersama istrinya. Saya pun bawa motor Byson berjalan naik dekat rumah bli Jero Kembar. Jalannya jalan setapak dengan tikungan tajam. Motor tergelincir, lalu saya terjatuh.

Tak diceritakan dimana memesan sesajen kematian. Saya datang ke rumah kakek bersama adik saya, kakak, ibu, dan bapak. Kami lalu mengurusi mayat kakek, mulai dari membuatkan keranda mayat disertai bale-balenya (rumah hiasan jenazah), yang diletakan di sebelah selatan rumah agak ke timur. Mayat kakek dibungkus dengan kain putih, lalu diikat dengan tali rapia oleh bapakku bersama saya. Sedangkan kakak saya sibuk mengikat bambu yang mau dipakai menggotong jenazah. Pada plafon bale-balenya diisi kain kasa putih-kuning.

Tak lama kemudian datang kerabat, namanya Jero Putu Artawan, dipangil guru Putu. Katanya tidak bisa membantu mengantar jenazah karena hendak 'ngayah' menari di pura. Lalu kerabat itu pergi. Sedangkan kami tetap sibuk mengurusi mayat kakek. Entah kenapa, beberapa kali ikatan tali mayatnya terlepas yang saya ikatkan, hingga dimarahi bapak saya. Gara-gara sering lepas, saya melihat ada daging kakek terpisah, sebesar ibu jari kaki. Bentuknya menyerupai daging ayam digoreng. Lalu saya iseng-iseng mengambilnya dan ditempatkan di piring.

Kami sedang menunggu pesanan sesajen kematian yang belum datang sehingga belum bisa menggotong jenazah kakek ke kuburan. Beberapa saat kemudian, datang guru Supais. Ia juga sibuk membantu kami. Entah apa yang ada dalam benakku, saya mengambil daging kakek yang terpisah tadi. Lalu digigit dengan gigi tanpa menyentuh lidah. Saya melakukan hal itu di tenggara rumah kakek. Agak jauh dari mayat kakek.

'Ngapain kamu bermain gituan?' Tanya guru Supais.
'Uji coba, ingin tahu rasanya' jawabku. Ibuku juga sempat melirikku dengan mimik marah. Gara-gara sambil berbicara itulah daging mayat kakek menyentuh lidah. Duhh! rasanya jelek sekali dan bau busuk. Akibatnya saya mual-mual, hendak memuntahkan semua isi perut namun tak mau keluar.

Akhirnya saya setengah sadar dari mimpi, lalu dari lubuk hati terdengar sabda, 'Ala ika.' (Buruklah itu).

Setelah sadar seutuhnya, kaget juga mimpi mencoba gigit daging mayat kakek sendiri. Terbangun jam tiga pagi. Ternyata mimpi seperti itu sebagai pertanda mimpi buruk, ipian ala. Padahal menurut primbon bila mimpi melihat mayat pertanda akan datangnya keberuntungan. Demikian pula memimpikan seseorang meninggal sebagai pertanda bahwa orang yang dimimpikan akan panjang umur. Setelah saya renungkan, yang menjadikan mimpi tersebut di atas pertanda buruk yaitu menggigit daging mayat.

Oleh karena dikatakan mimpi buruk, lalu saya gali dengan tenung tanya lara. Ternyata benar itu pertanda buruk. Mimpi itu jatuh pada Redite Umanis nuju Paniron. Redite ngaran Tembok, Rented (lelet). Umanis ngaran Umah (rumah), Uma (sawah). Paniron ngaran Sarwa Hidup. Uripnya 5+5+8= 18, dibagi 4= 4, sisa 2, artinya Kala. Arahnya Timur (redite dan umanis) agak di tenggara (paniron). Bila digabungkan susunan kata di atas menjadi 'papas Kala di umahe di danginne agak kelod' (Diserang Kala/Bhuta Kala di rumah, di sebelah timur agak ke selatan).

Lalu muncul pertanyaan, siapa yang 'papas kala', kakek ataukah saya? Setelah saya renungkan berdasarkan kronologi mimpinya, kakek sayalah yang papas kala. Hal itu dimaknai dari kakek meninggal lalu dagingnya saya gigit. Untungnya sesajen kematian itu belum datang, sehingga kemungkinan hal buruk yang terjadi tidaklah parah, bahkan tidak akan terjadi apa-apa mengingat hadirnya guru Supais dan guru Putu. Kedua orang ini dalam kenyataan menjadi pemangku (pinandita/pendeta) dewa Kembar. Hal ini melambangkan bahwa kakek diselamatkan oleh Dewa Kembar yang dipuja keluarga kami.

Berbeda dengan mimpi kemarinnya yang langsung terjadi karena mimpinya saat matahari hendak terbit, dan tanpa ada kehadiran sosok orang yang menjadikan tapakan dewa. Mimpinya sebagai berikut;

Datang dari rumah nenek diikuti oleh seorang gadis yang tidak dikenal namanya namun akrab seperti seorang kekasih. Dia mencintai saya tetapi saya tidak mencintainya. Dalam perjalanan menuju rumah saya, gadis itu saya cuekin. Gara-gara itu dia menangis.

Entah apa yang terjadi, gadis itu tidak kelihatan lagi. Setelah dekat rumah, saya kencing di tepi jalan. Entah apa sebabnya burungku dalam sangkar ngaceng. Jadi kelihatan besar dan keras (maaf bukan bermaksud porno). Lalu saya pegang.

Saat tersadar dari mimpi, dari dalam hati terdengar suara, 'Celaka'. Ternyata mimpi memegang kemaluan lelaki itu pertanda buruk yaitu pertanda datangnya suatu petaka atau celaka. Hal itu karena dalam bahasa Bali, burung lelaki itu disebut Celak, sehingga diartikan celaka. Saya hitung dengan tanya lara, ternyata hasilnya sisa 2, yang artinya Kala.

Tak lama kemudian saya mendapat kabar nenek sakit mencret (mamesuin) hingga lima kali menjelang pagi. Lalu dilarikan ke klinik. Dan bersyukur langsung diijinkan balik. Setelah pulang dari klinik, nenek cerita bahwa beliau mengira dirinya sudah mau meninggal gara-gara sakitnya tak ketulungan. Untunglah segera dilarikan ke dokter.

Nb; motor saya dua kali berturut-turut ikut terbawa ke alam mimpi. Yang terjadi dalam kenyataan, beberapa hari terakhir ini motor saya rusak silih berganti. Awalnya kuncinya patah, diikuti besi kecil di standarnya juga patah. Kemudian skringnya hangus. Dan terakhir bannya meledak. Entah kebetulan saja atau bagaimana. Seperti ada hal yang janggal dengan motor saya.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts