e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Menyenggol Payudara Gadis Kecil

Sibuk bekerja dengan bapak saya, biasa dipanggil Guru. Tiba-tiba datanglah mbok Viki (istrinya bli Komang Budiana) bersama Diani, teman sekolah waktu SD. Saya dipanggil, ada kepentingan. Lalu jalan sambil bincang-bincang. Mbok Viki mengaku jadi guru keperawatan mengajar di sekolah dasar.

Lanjut berjalan kaki ke arah timur laut, saya berjalan di belakangnya. Tak sengaja melihat mbok Viki memakai dua celana. Yang diluar terlihat robek, yang di dalam celana hijau.

'Lebih baik jadi guru dibandingkan mbok bekerja di rumah sakit. Soalnya senang jadi guru. Gara-gara itu bli Komang Budiana sering diajak bertengkar bersama mbok.' Katanya lagi. Mbok Viki saya tawari guna-guna yang keras dengan srana rokok. Akan tetapi tidak jadi diberikan. Merasa itu terlalu keras.

'Kalau mbok merasa terlalu dikalahkan bli Komang Budiana, guna-guna alami dipakai. Diberi nasi yang telah dimakan' demikian aku menyuruhnya.

Pembicaraan itu hampir ada yang mendengar, keluarganya Diani: perempuan. Agar tidak diketahui saya yang menyuruh demikian, berhenti sejenak agar tak dilihat. Lalu dipanggil Mbok Viki sama Diani. Diani melambaikan tangannya memanggil saya untuk lari ke arahnya di tempat dia bersembunyi, agar tidak diketahui keluarga Diani itu.Bersambung.

Entah bagaimana ceritanya. Tiba-tiba sudah berada di barat laut pura Kawitan Celagi bersama teman saya, Komang Budiana. Ketika hendak berangkat pulang, bli komang Budiana bertanya mau milih jalan kemana, 'Mau pilih jalur mana, ke barat (ngauhang) ataukah ke atas (ngamenekang)?' Saya teringat saat sembahyang waktu ini tidak melalui kedua jalur tersebut, melainkan ke bawah/selatan (nganunang). Akhirnya saya pilih jalan ke atas agar lebih dekat, bli Komang Budiana juga mengikuti. Apalagi dari atas terlihat ada orang ramai yang hendak sembahyang, mungkin akan sembahyang ke pura Kawitan Celagi.

Yang membuat saya bersemangat, terlihat ada beberapa gadis sedang mekar diantara mereka. Begitu berpapasan, saya melihat seorang gadis kecil yang baru tumbuh payudara, cantik. Saya pura-pura mepet karena jalan sempit, cari kesempatan dalam kesempitan. Lalu saya senggol payudaranya, tanganku terasa hangat menyentuh payudaranya. Berdebarlah jantungku, takut gadis kecil itu marah. Bersyukur hanya dilirik.

Setelah orang-orang itu berlalu, lagi sebentarnya salah satu dari mereka, laki-laki, datang kembali membawa kober (bendera kecil bergambar binatang suci). Katanya dia mau memilih sasenengan bhatara Kawitan. Bendera itu saya rebut, sayalah yang akan membantu memilih sasenengan bhatara Kawitan (kesukaan bhatara kawitan). Satu per satu saya perhatikan gadis-gadis yang lewat, tetapi tak ada yang sreg di dalam hati. Saya menduga masih ada banyak gadis dari atas yang hendak lewat, namun tak diijinkan ole bli komang budiana. 'Kembalikan saja bendera itu. Kalau tidak ketemu gadis pilihan kamu, nanti kita bisa repot mengembalikan ke rumah orang itu di Telaga (nama suatu daerah).' Ujarnya menasehati. Saya mengembalikan kober tersebut, dan lelaki itu pun pergi

Entah darimana dapatnya, tiba-tiba bli komang Budiana membawa pakan Sapi. Sedangkan saya tidak membawa apa-apa. Saya hanya sebagai pencari jalan yang hendak dilalui karena sudah bertahun-tahun tak pernah melewati jalan setapak di perbukitan ini. Tiba-tiba saya bingung memilih jalan karena jalannya bercabang. Dan saya asal jalan saja. Merasa kasihan sama bli komang terlalu jauh menjunjung pakan sapi. Saya berencana mau menukar pakan sapi tersebut dengan nasi meski perut kami sudah kenyang, supaya tidak terbuang begitu saja. Tamat.

Sedikit heran siang hari mimpi dua kali sekaligus dalam sekali tidur, jeda mimpi itu gara-gara adik saya mematikan televisi. Sebelum tidur saya merasa ngantuk berat saat menonton TV di sofa, jadi televisinya yang menonton saya. Sebelum benar-benar masuk ke alam tidur, saat hilang kesadaran, sepintas saya melihat ada cewek tidur di samping saya. Lengan saya dijadikan bantal, samar-samar cewek itu seperti orang yang saya sayangi, namun dia cuek sama saya. Begitu tersadar, leher dan kepala mendapat kejutan. Hampir jatuh dari sofa walau getarannya hanya sedikit. Hingga akhirnya berlanjut ke alam tidur dan akhirnya mimpi.

Hari mimpinya Sukra Pahing nuju Tungleh. Sukra ngaran Sesuunan. Pahing ngaran paon, patok. Tungleh ngaran Tued, Sarwa mati. Jumblah uripnya 6+9+7=22:4=5. Sisa 2, artinya Kala. Bila dihubungkan jadinya Kalan sesuunan (kemarahan dewata).

Ada apakah gerangan, kenapa saya atau keluarga saya dimarahi dewa? Hingga sore hari belum juga paham arti mimpinya, baru samar-samar bisa mengartikan bahasa sandinya dengan menghubung-hubungkan kata yang bisa disambung menjadi sebuah kalimat yang memiliki arti. Bila mimpi tersebut dipahami berdasarkan kronologinya, mimpi tersebut malah menggambarkan konflik keluarga antara mbok Viki dengan bli Komang Budiana, dimana mereka sering berantem gara-gara mbok Viki menjadi guru keperawatan di sekolah dasar (sampai saat ini saya belum pernah dengar ada guru keperawatan di sekolah dasar, kecuali dalam mimpi ini). Gara-gara sering berantem, mbok Viki bermaksud mengguna-guna bli Komang Budiana. Entah bagaimana maksud alam gaib, bisa-bisanya dibuatkan cerita tentang konflik keluarga teman saya.

Sekedar untuk diketahui, memang benar ada guna-guna alami untuk mencegah agar tidak terlalu dikalahkan oleh pasangan (suami atau istri). Bukan bermaksud untuk menaklukannya atau menguasainya, tetapi guna mencegah agar tidak diperlakukan sewenang-wenang. Caranya cukup sederhana: berilah pasangan kita makanan yang telah kita makan terlebih dulu, tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Efek sampingnya bila seseorang sering memberikan pasangannya makanan sisa maka pasangannya tidak akan berwibawa di mata masyarakat. Oleh karena itulah dalam tradisi kita dilarang makan makanan sisa orang lain, kecuali keluarga kita sendiri. Misalnya anak makan nasi sisa orang tua, adik makan nasi sisa kakaknya, istri makan nasi sisa suaminya. Hindari bila keadaannya terbalik.

Mimpi itu, malam harinya saya tanyakan ke bapak saya. Lalu beliau mencoba menerawangnya. Sabda pun turun. 'Kamu pernah menyangkut-pautkan Wi kepada Bhatara Hyang Guru di Kamulan. Betul begitu?' Tanya bapak saya.
'Iya bener.. waktu ini saya ngomel-ngomel kepada Dewa Hyang dan Sesuunan. Saya bilang rugi punya dewa Hyang dan Sesuunan, cewek satu orang bisa mengecewakan saya bertahun-tahun.'
'Itu dah sekarang pikirkan sendiri. Hanya itu saja sabda dari alam gaib' ujar bapakku. Padahal bapak saya tidak tahu saya pernah marah kepada dewa Hyang dan Sesuunan di Kamulan. Seperti tulisan sebelumnya yang pernah saya update di facebook, judulnya 'Ditinggal Dewa?' Dimana saya menyangkut-pautkan cewek yang saya sayangi kepada dewa Hyang dan Sesuunan. Nama gadis itu Widiani, dipanggil Wi.

Sampai disitu saya sudah mulai memahami arah mimpinya. Berulangkali saya hubungkan bahasa sandi mimpi itu menjadi sebuah kalimat yang bisa dipahami artinya. Setelah beberapa hari baru saya bisa benar-benar menterjemahkan mimpi tersebut. Mimpi di atas akan diulas menjadi dua bagian karena ada perbedaan maksud yang hendak disampaikan, dan mimpi itu juga berbeda arah penafsirannya, bagian awal menggunakan bahasa sandi, yang berikutnya menggunakan bahasa isyarat. Mimpi bagian awal, bila ditulis ke dalam bahasa lokal menjadi sebagai berikut:

Sibuk megae ajak guru, pelan teka Mbok Viki (kurenan Bli Komang Budi ana ne) ajaka Diani. Kaukinia tiange, ada kepentingan. Nutur sambil mejalan. Mbok Viki ngaku dadi guru keperawatan ngajahin di sekolah dasar.

Lanjut mejalan batis ngaja nganginang, tiang durian mejalan. Sing sengaja ningalin mbok Viki mecelana dadua; ane di sisi celanane ngenah uwek, di tengahne mecelana warna gadang.

'Adian dadi guru ketimbang mbok megae di rumah sakit. Nak demen dadi guru. Ulian to bli komang budianane sesai magerengan ajak mbok' tuturne. Mbok Viki nagih baang ngidih guna-guna ane keras mesrana roko. Kola sing baang. Bes keras asen to.

'Amen bes sanget asen kalahanga mboke ken bli komang budiana, guna-guna alami anggen. Baang nasi teda' keto munyin tiange.

Obrolan to hampir ada mireng, keluargan dianine, anak lua. Apang sing tawanga tiang ngorahin keto, ngoyong akejep. Kaukinia teken mbok Viki ajaka Diani, ketepia lima orahina melaib ke tongos iani meilidan. Apang sing tepuka teken keluargan dianine. Bersambung.

Setelah dihubung-hubungkan bahasa sandi tersebut menjadi sebagai berikut:
Guru teka ngajak Vi-diani (Widiani: Viki dan Diani). Ada kepentingan. Wi ada di guru lakar dirawat, ajahin masolah.

Lanjut jalanang keinginane, tapi durian jalanang. Dapena Wi ngenah cuwek di sisi, di tengahne nak sayang.

Adian Wi ada di guru ketimbang (kamu) ngae wi sakit. Ulian sesai magerengan ajak Wi, ento ngeranaang dadi demen. Wi nagih baang (kamu) guna-guna ane keras. Sing baang! Bes keras to. Lamen bes sanget asen kalahanga ulian solah Wine, guna-guna alami anggen. Yen dadi orahin, da masi keto. Bisa tawanga ken keluargan Widiani ane luh. Adeng-adeng mejalan. Kejar Widianine, Ia ngajakin mailidan. Apang sing tawanga ken keluargani.

Terjemahan bebasnya;
Guru di alam gaib datang mengajak Widiani, ada kepentingan. Wi bersama guru, mau dijaga, mau diajari berperilaku.

Lanjut jalankan keinginannya, akan tetapi belakangan dijalankan. Biarpun Wi terlihat cuek di luarnya, sebenarnya dalam hati dia sayang. Lebih baik Wi bersama guru, dibandingkan kamu menyakitinya. Oleh karena sering berantem dengan Wi, itu yang akan membuat saling mencintai. Kamu hendak mengguna-guna Wi, guna-guna yang keras. Janganlah lakukan itu! Terlalu keras. Apabila merasa terlalu dikecewakan dengan tindakan Wi, guna-guna alami pakai. Kalau mau mengikuti (perintah-Ku), itu pun jangan. Nanti bisa diketahui keluarganya yang perempuan. Hati-hati bertindak! Kejar Widianinya, dia bermaksud mengajakmu (saling mencintai) bersembunyi, agar tidak diketahui keluarganya.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa nyerempet ke guna-guna? Hal ini tentu harus ditelusuri apa yang pernah saya lakukan atau yang direncanakan. Waktu ini saya sempat berencana ingin menghancurkan hubungan dia dengan cowoknya, gara-gara saya dibilang bangsat di salah satu komentarnya di facebook saya, namun komentarnya sudah dihapus dan dia main blokir facebook. Ceritanya saya berebut cewek. Hal itu sebenarnya hal biasa dalam kehidupan lelaki. Waktu saya masih sedang suka-sukanya mencari pacar, pacar orang dipacari. Bahkan dulu pernah ngapel bersamaan dengan cowok untuk satu tujuan, satu orang gadis. Akhirnya saya berhasil memiliki gadis itu. Sedangkan pada kasus sekarang agak menyakitkan. Sudah empat tahun lamanya saya mencintai dia, namun selalu diabaikan, bahkan dia memilih cowok lain.

Terkait dengan kata-kata cowoknya, sebenarnya saya tidak marah. Akan tetapi gara-gara dikompori teman saya, saya jadi merasa agak emosi. 'Kalau saya jadi kamu, dalam waktu 3 hari saya buat mereka saling benci, bahkan bisa membuat dia tidak mendapat pasangan seumur hidupnya. Itu pekerjaan kecil. Kamu itu lemah. Kalau saya dilecehkan seperti itu saya buat dia gila. Bahkan bisa memasukan serabut kelapa ke dalam perutnya' ujarnya berapi-api.

Bapak saya sebenarnya banyak pula menyimpan ilmu hitam sejenis itu; ilmu pemisah cinta, moro, panestian, memasukan jarum ke tubuh musuh, dsb. Tetapi ilmu seperti itu tak pernah terpakai. Kata bapak saya, ilmu hitam itu hanya untuk diketahui. Dibayar berjuta-juta pun tak boleh dipakai karena sangatlah besar dosa yang akan ditanggung bila digunakan untuk menyakiti orang baik. Sama halnya dengan ilmu tenaga dalam dan beladiri yang kita pelajari, tak pernah dipakai bertarung, kecuali ikut bertanding olah raga.

Hal yang mengusik pikiran, menarik untuk dicermati tentang ilmu hitam yaitu bagaimana proses benda-benda padat bisa masuk ke dalam tubuh seseorang. Secara logika bagaimana mungkin benda-benda itu bisa masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa dirasakan, tanpa melukai tubuh bagian luar, tanpa diketahui. Saya pernah baca berita kasus dalam tubuh seseorang tiba-tiba berisi banyak paku. Ada pula diperutnya tiba-tiba berisi serabut kelapa. Aneh bukan?

Berdasarkan hipotesis saya, benda-benda itu masuk ke dalam tubuh seseorang setelah benda itu mengalami perubahan wujud dari benda padat menjadi energi. Setelah berada di dalam tubuh seseorang benda itu kembali ke bentuk semula. Hal tersebut bisa dijelaskan berdasarkan ajaran agama dan sains modern. Menurut ajaran Hindu, benda-benda yang tampak nyata sebenarnya hanyalah maya (ilusi), demikian pula keberadaan kita. Yang benar-benar ada dan abadi adalah yang tak nyata yaitu roh atau energi dari benda-benda ataupun mahkluk hidup. Menurut fisika quantum, ketika suatu benda dihancurkan hingga titik terakhir, yang tersisa hanyalah energi. Demikian pula, kemungkinan mantra itu bekerja mengubah benda itu menjadi energi. Hal ini juga ada kaitannya dengan hukum kekekalan energi.

Kembali ke tema, saya sempat berpikir untuk menghancurkan hubungan mereka, tetapi setelah direnungkan berulangkali, saya urungkan niatnya. Ada banyak pertimbangan, mulai dari rasa hormat pada kedua keluarga orang itu. Selain itu saya bukan tipe orang yang bersaing dengan cara curang. Begitu juga soal mencari cewek, lebih suka yang alami, apalagi ingin menjadikannya seorang istri. Karena bila menggunakan guna-guna mencari pasangan hidup ada beberapa efek sampingnya, seperti sulit memiliki keturunan, pasangan yang didapat merasa tidak cocok di kemudian hari, mudah bercerai, dsb.

Kalaupun menggunakan guna-guna, lebih baik memakai guna-guna alami; mantra karangan sendiri yang saya sebut sebagai sugesti. Tetapi menggunakan rumus mistik, sehingga kata-kata yang kita buat menjadi mujarab. Ini contoh mantra buatan saya;'Mantra Ih, nyai .... (sebutkan nama orangnya). Ingatlah aku 3x. Teka lengleng bungeng hatimu ketika mengingatku, apan aku sekadi sang arjuna. Lah poma, poma, poma.'

Selain itu, saya juga suka menggunakan bantuan alam yaitu suara Kerug nganggur (petir kecil) yang suaranya agak memanjang, yang berbunyi pada saat langit malam terang benderang. Caranya sederhana: Ketika kita mendengar suara kerug di malam hari padahal bintang-bintang bisa terlihat atau langit terang. Lalu, pusatkanlah pikiran kita pada Hyang Kuasa, memohon ijin kepada-Nya. Lalu mintalah bantuan kepada Kerug agar perasaan kita disampaikan kepada orang yang dituju, sebutkan namanya, pikirkan wajahnya, ingat tingkah laku dia yang sering ditunjukan kepada kita. Bila ingin membuat dia menangis, pikirkan dia terlihat meneteskan air mata. Ketika kita mengingatnya, dia akan mengingat kita. Bila kita sedih, kangen, rindu maka dia akan ikut merasakannya. Demikian sebaliknya. Walaupun dia ada di seberang lautan, bahkan di luar negeri, dia akan teringat dengan kita pada saat kita mengingatnya. Bila dia sedang tidur maka dia akan memimpikan kita. Hal itu kita lakukan di tempat tidur yang sepi agar konsentrasi kita tidak terganggu.

Cara-cara alami itulah yang suka saya pakai untuk menggoda pujaan hati. Walau terlihat bermusuh-musuhan tetapi sebenarnya dalam hati ada perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bila rindu seringkali sampai menangis berderai air mata. Terkadang bila mengingat tingkah lakunya sering membuat tertawa terkekeh-kekeh, ataupun senyum-senyum sendiri. Intinya selalu meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan. Terlebih lagi permusuhan itu terjadi sudah selama bertahun-tahun.

Satu lagi guna-guna alami yang suka saya pakai adalah dengan memanggil saudara empat (kanda pat catur) agar menjemput dia datang menemui kita, tujuannya agar dimimpikan. Doanya sebagai berikut:
Mantra Ih Anggapati, Prajapati, Banaspati, Banaspati raja. Bli nonden nyai ngalih. ..... (Sebutkan nama orangnya). Gubeg, besbes. Eda baanga pules, ajak ngalih bli. Lah poma, poma, poma.

Doa tersebut kudu dihidupkan, bila tidak dihidupkan maka tidak akan mujarab. Cara menghidupkannya dengan menambahkan mantra panugrahan, pengurip mantra, pemandi swara, pasupati mantra dan pengater mantra.

Cara-cara di atas tidak memiliki efek samping, pengaruhnya juga tak lama. Hal itu bagus digunakan sehabis berantem dengan orang yang kita sayangi, agar dia berpikir ulang dengan sikap dia yang telah ditunjukan ke kita, atau setidaknya dia akan merasa bersalah dengan sikapnya sendiri.

Barangkali gara-gara ulah saya itu makanya saya dimarahi dewa dan diberi peringatan. Selain akibat saya pernah ngomel-ngomel kepada dewa Hyang dan sesuunan (dewata). Pujaan hati malah akan dijaga guru di alam gaib, dan hendak diajari bertingkah laku.

Bila mimpi bagian awal menggambarkan perlakuan saya terhadap dia, bagian akhir menggambarkan tentang apa yang harus saya lakukan. Bagian ini bukanlah bahasa sandi, melainkan bahasa isyarat, sehingga penafsirannya berdasarkan kronologi peristiwa yang terjadi dalam mimpi. Mari kita simak kronologi satu per satu.

Merasa berada di dekat pura Celagi, hal ini pertanda bahwa mimpi ini ada kaitannya dengan Bhatara kawitan saya, yaitu Pasek Celagi, putra Mpu Kamareka, yang diturunkan dari Mpu Smeru. Bhatara Kawitan memberikan tiga pilihan jalan menemukan jodoh; jalan ke bawah (nganunang), di tengah-tengah (ke barat, perjalanan ke arah yang datar), dan ke atas (ngamenekang). Dalam kenyataan, bila saya hendak pulang dari pura Celagi sebenarnya tidak ada jalan ke arah barat dan ke atas, yang ada itu arah ke kaja kauh (barat laut) dan ke bawah. Bentuk tanahnya pun aslinya tidak ada seperti yang ada dalam mimpi, sehingga penggambaran dalam mimpi itu murni hanya analogi tiga jalan menemukan jodoh. Pertama, menemukan jodoh dengan jalan ke bawah; dengan cara-cara tak sehat, seperti menggunakan guna-guna, menghamili anak orang agar mau diajak menikah, merayu dengan berbagai tipuan, dan lain sebagainya. Kedua, dengan jalan datar; mencari cewek dengan cara sehat, berjuang mencari calon pasangan hidup dengan usaha yang keras. Ketiga, mencari ke atas; menemukan jodoh dengan mendekatkan diri pada Dewa, Bhatara kawitan, dan leluhur. Oleh karena itulah dalam mimpi saya melihat ada orang yang hendak sembahyang datangnya dari atas. Saya diberikan pilihan dengan cara yang terakhir. Dalam mimpi saya menganggap jalan ini paling dekat menuju ke rumah.

Perjalanan saya diikuti bli komang Budiana, hal ini menggambarkan bahwa dalam mencari jodoh hendaklah didasari atas perilaku, budi ana. Pengertian budi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah alat batin yang merupakan paduan antara akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Budi juga diartikan watak, ahklak. Sedangkan kata 'ana' berasal dari bahasa jawa kuno yang artinya ada. Dengan demikian bahwa dalam memilih jodoh haruslah didasari perilaku yang baik disertai bhakti kepada dewa, bhatara kawitan dan leluhur. Dengan cara itu maka dewa akan membawakan jodoh sebagaimana kwalitas kita, jodoh yang pantas sesuai karma kita.

Peristiwa menyenggol payudara gadis kecil dalam mimpi, ini dimaksudkan untuk menyindir saya bahwa saya masih belum layak menemukan jodoh karena sifat kekanak-kanakan. Sifat ini sebenarnya sifat bawaan saya. Hal ini bisa terlihat dari perbintangan, dikatakan bahwa kelahiran saya memiliki sifat negatif kekanak-kanakan. Tanda ini juga bisa dilihat dari ciri-ciri bentuk jari kelingking kaki saya, dimana bentuknya imut, kecil, hanya setengah dari jari manis pada kaki. Meski sudah dewasa, saya suka menggoda gadis kecil, gadis yang baru mekar. Sering merasa heran dengan sifat diri sendiri, sudah dewasa tetapi masih saja suka menggodain gadis kecil, terutama cewek SMP.

Selain itu, menyenggol payudara gadis kecil sebagai isyarat bahwa wanita yang kelak akan menjadi istri saya sudah sempat membuat jantung saya berdebar-debar, artinya wanita itu sudah dikenal, sempat mencintainya namun hanya dilirik saja, tidak dihiraukan.

Orang yang saya sayangi pun pernah mengatai-ngatai saya lebih parah dari anak TK. Katanya, rugi sarjana, rugi sekolah tinggi-tinggi tetapi perilaku lebih buruk dari anak TK. Tega benar dia. Tetapi saya mengiyakannya, karena memang sadar dengan kekurangan diri sendiri. Saya bilang ke dia, meski saya bersifat kekanak-kanakan yang penting disayang keluarga, baik kakek-nenek, maupun di keluarga inti. Lalu saya balik menyindir dia. 'Sebenarnya yang bersifat seperti anak-anak itu kamu atakah bli? Kamu tahu, butuh sikap dewasa untuk bisa tidak marah bila dicaci maki, dihina. Sedangkan kamu, seperti orang tak pernah sekolah selalu berkata-kata kotor. Kalau bukan karena bli terlalu sayang sama kamu, sudah dulu kamu tendang dari kehidupanku. Cewek lain berani bicara kasar, hanya sebelah telinga bli mendengarnya, langsung illfeel.' Semenjak itu dia tak pernah lagi berani berkata-kata kasar pada saya. Dia lebih memilih cuek.

Kembali ke mimpi, datanglah laki-laki membawa kober yang hendak memilih gadis yang akan dijadikan sasenengan bhatara kawitan. Hal ini menggambarkan bahwa bhatara kawitan akan memilihkan saya jodoh. Waktu saya sembahyang di pura Celagi waktu ini memang sempat dalam hati ingin dimudahkan dalam hal jodoh, namun tak sampai diutarakan pada saat puja, malu pada beliau, terlalu banyak permintaan. Yang terjadi waktu itu saya merenungi kenapa saya mencintai gadis bertahun-tahun namun gadis itu tak mencintai saya. Namun ternyata beliau menjawab kegundahan hati saya dengan mimpi ini, akan dipertemukan jodoh atas kehendak-Nya: Sasenengan Bhatara Kawitan. Sasenengan bhatara artinya kesukaan bhatara. Siapa yang disukai bhatara Kawitan itulah yang akan jadi jodoh saya. Itu pun kalau mau. Memilih sendiri pun tidak apa-apa, tetapi akan ada resiko yang justru membuat kerepotan. Itulah sebabnya dalam mimpi saya merebut kober namun tak ada cewek yang sreg dalam hati saya, selalu berharap menemukan yang lebih baik, namun tak kunjung datang. Lalu kober itu saya kembalikan. Ini merupakan sebuah pilihan bahwasanya saya hendaknya memberikan kuasa kepada Bhatara Kawitan dalam menemukan jodoh. Dengan kata lain memasrahkannya pada beliau. Kalau saya pilih sendiri tak pernah puas dengan pilihan karena terlalu pilih-pilih.

Bagian akhir cerita mimpi, Bli komang Budiana membawa pakan sapi melambangkan bahwa saya hendaknya membuat suatu ritual agar tidak terhambat dalam menemukan jodoh. Pakan sapi yang dimaksud dalam mimpi yaitu sarana upakara, alat-alat upacara. Sapi dalam bahasa lokal disebut Sampi. Sampi ngaran sampian, sampian ngaran banten atau upakara. Hal ini sudah berulang kali saya singgung berdasarkan petunjuk mimpi namun belum terlaksana. Hal-hal yang beginian kudu menunggu tindakan orang tua saya, tidak boleh saya sendiri yang membuatnya karena dalam keluarga status saya masih anak, di bawah perlindungan atau pengampuan orang tua karena belum menikah.


Mimpi di atas merupaan jawaban mimpi sehari sebelumnya namun bahasa sandinya membingungkan, baru samar-samar dapat dipecahkan. Mimpinya sebagai berikut:

Nenek Balian di bubung menitipkan jajan bantal disuruh menjualkannya. Saya bawa titipannya, lanjut berjalan. Tak disadari ternyata jajan bantal itu jatuh berceceran di jalan. Saya lihat wadahnya, tinggallah sedikit jajan tersebut, dan lagi ada yang robek kulitnya. 'Rugi dah sekarang' demikian perasaan saya dalam hati. Di samping jajan bantal itu ternyata ada ketupat plastik (ketupat dibuat dengan pembungkus plastik). Saat menoleh ke jalan, tiba-tiba melihat gadis kecil, cucunya wa Wir. Lalu saya teringat bahwa jajan bantalnya disuruh menaruh di warung wa wirnya.

Lalu tersadar dari mimpi. Dalam hati muncul pertanyaan, apanya akan batal ya? setelah digali lebih jauh ternyata malah agar tidak batal. Mimpi tersebut merupakan bahasa sandi karena susunan kalimatnya bila digabungkan akan membentuk pengertian baru. Sayangnya bahasa sandinya baru samar-samar terkodifikasi. Meski demikian saya coba gali dengan tenung tanya lara. Hasilnya sisa 4, yang artinya sesuunan (dewata). Arahnya tenggara (kelod kangin) dari rumah. Terhitung dari rumah saya maka pada arah itu adalah pura Kawitan Pasek Celagi. Saya menduga petunjuk mimpi tersebut datang dari Bhatara Kawitan meski pura tersebut sekira 8 Km dari rumah saya. Hal itu menimbulkan perasaan ragu. Akan tetapi keraguan itu dijawab dengan mimpi berikutnya; mimpi di atas.

Oleh karena mimpi tersebut bahasa sandi, tentulah mimpi itu kudu dibawa ke dalam bahasa sehari-hari, bahasa ibu. Sebab bahasa mimpi selalu mengikuti bahasa sehari-hari kita di rumah. Mimpi tersebut bila diterjemahkan ke dalam bahasa lokal sebagai berikut:

Dadong Balian di bubunge nitip bantal orahinia ngadepaang. Lanjut mejalan aba titipane. Sing tawang bantale ulung mecapcap di jalane. Tingalin wadahne, nu sanga bin bedik bantale, buina ngenah ada uwek kulitne. 'Rugi jani ba ne' keto merasa di kenehe. Di samping bantale pelan tingalin misi tipat plastik. Saat makipekan ke jalan saget ningalin cucun wa wire. Inget teken bantale orahinia ngejang di wa wire.

Kalau tak salah saya menterjemahkan bahasa sandi tersebut sebagai berikit:
Da ba buung, ia ba arepang. Ada titipan (pesan dari bhatara). Sing baang batal, luung kocap pejalane. Diapin rasaang bin bedik (sayange), buin ia ngenah cuwek di kulit, da merasa rugi keto di kenehe. Bin pidan bisa misi (kenehe), pasti bakat (?) Da kaget ningalin kelucuan Wine. Inget teken ibana ba bajang Wine.

Terjemahan bebasnya;
Janganlah tidak jadi, dia sudah yang harus kamu harapkan. Ada pesan (dari-Ku). Tidak ijinkan batal. Akan baik perjalanannya (cintamu kelak). Walau tersisa sedikit (rasa sayangmu), dan lagi dia terlihat cuwek di kulit (di luar). Janganlah merasa rugi seperti itu dalam hati. Suatu ketika tercapai (keinginanmu). Pasti berhasil (?). Tak perlu heran melihat kelucuan Winya. (Sekarang) Wi sudah sadar dengan dirinya telah dewasa.

Pertanyaannya kemudian, kenapa mimpi seperti itu? Hal tersebut tak terlepas daripada apa yang telah terjadi, terutama kegundahan hati menjelang tidur. Waktu itu saya merasa bimbang dengan perasaan saya sama dia, dia yang saya sayangi bertahun-tahun namun diabaikan. Dia biasa dipanggil Wi. Di satu sisi perasaan mulai berkurang, di sisi lain ada perasaan tak rela untuk memilih gadis lain. Rasa sayang jauh berkurang itu pun terjadi tiba-tiba, terjadi sehari setelah marah-marah kepada leluhur dan dewata.

Sebelum tidur saya memohon kepada dewa agar berkenan memberi petunjuk atas kegelisahan hati yang sedang dialami. 'Kalaulah dia bukan jodoh saya, kenapa dewa membiarkan perasaanku terikat dengannya. Sungguh aku tak mengerti dengan semua ini. Aku bingung, bimbang, dengan apa yang aku alami'. Meski kedengarannya sering lucu doa saya, anehnya sering mendapat jawaban melalui petunjuk mimpi. Doa kita meski seperti gaya bahasa anak-anak asalkan diungkapkan dengan kejujuran, ketulusan, dan dengan perasaan yang dalam, dewa pasti mendengarkan-Nya. Apalagi tanpa sadar kita sampai meneteskan air mata saking dalamnya doa kita, disertai kerinduan pada beliau, menjadikan beliau sebagai sandaran dan tempat curhat paling indah.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts