e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Leluhurku Akan Rapat?

Kemarin sekira setengah delapan saya datang ke rumah nenek yang sedang sakit. Sampai disana saya dapati nenek sakitnya cukup parah, sesak nafas. Tumben anak cucunya cuma ada dua disana, makanya saya mau tidur di rumah nenek.

Merasa kasihan, lalu saya lakukan penyapuan pada seluruh tubuhnya (pengambilan energi prana negatif) sambil mendengarkan cerita nenek. Katanya, kemarin malamnya beliau didatangi semua kerabat yang telah tiada, mulai dari ayahnya (kompyang saya), saudaranya, dan kerabat lainnya. Tak hanya dalam mimpi tapi sempat merasa duduk di dekatnya, bahkan ada yang menyentuh perut nenek, namun begitu dilirik mereka menghilang.

Kemudian saya berikan sedikit energi prana karena sudah tua, dan awignam astu sesak nafasnya mulai mereda dan nenek sepertinya sudah mau tidur.

Tak lama kemudian datang beberapa kerabat sekitar jam setengah sepuluh, dan jam sepuluh malam kami sudah mau tidur. Lalu saya tidur di samping kakek. Saya pun hilang kesadaran, tidur.

Entah dimana lokasinya, tiba-tiba saya berada di sebuah rumah bertingkat dua lantai. Di lantai satu saya melihat beberapa kerabat, katanya sedang menunggu orang sakit. Sedangkan di lantai dua ada si pemilik rumah, saya ingin mencari pemilik rumah. Saat saya mau naik, ternyata tangganya tak ada, setelah ditanya ternyata tangganya canggih, bisa buka tutup sendiri dan bisa muncul hilang.
 
Begitu saya mau naik, tangga pun muncul. Namun tiba-tiba mau dikeroyok dua orang cebol botak (gundul). Mereka hendak membunuh saya, namun serangan dapat dihindari dan saya berhasil menghantam batok kepalanya dengan kepalan tangan. Kedua orang cebol itu pun mulai kewalahan namun tak kalah. Saya merasa mereka bukan manusia biasa, melainkan siluman. Lalu saya bergegas mencari sarana penolaknya, yaitu bumbu dapur seperti cabai rawit, bawang merah, dan disembur garam. Bawang dan cabainya ditusuk seperti menusuk sate. Sarana itu saya gunakan sebagai senjata. Mereka pun lari tunggang-langgang, dan saya menapakan kaki di tepi jurang di sebuah hutan dan mengejar siluman itu.

Belum berhasil memburu siluman, saya pun dibangunkan jam setengah satu malam karena sakit nenek kambuh. Nafas nenek tersengal-sengal, hampir menghembuskan nafas terakhir, bahkan nenek sudah sempat tidak tahu dirinya berada dimana (ciri-ciri ajal sudah dekat). Nenek bilang bahwa sakitnya ini akan dibawa mati dan ajalnya sudah dekat. Meski begitu, saya sudah tak berani lagi mengobati nenek, takut nyawa jadi taruhan.

Saya bercerita tentang mimpi yang dialami, ternyata omku yang merupakan seorang pemangku juga sering didatangi dua anak-anak itu. Setelah bapakku datang dari rumah, beliau juga bercerita tadinya sempat ditindih anak-anak itu.

Tiba-tiba om saya trans, beliau mengamuk, katanya melihat anak-anak itu mau mengganggu nenek. Anak-anak itu pun ditendang dan dipukul meski yang ditendang tembok rumahnya hingga hampir jebol. Dengan demikian bahwa yang hadir dalam mimpi saya itu memang benar-benar ada.

Lalu, nenek diobati bapakku dengan disembur kencur pada pergelangan kaki, disembur garam pada telapak kaki. Sebagai penangkal 'Buta Kala' diberi bawang merah yang telah ditumbuk tiga kali di tempat menumbuk bumbu. Cara menggunakannya dioleskan berbentuk tapak dara (tanda +) pada dahi, ulu hati, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kaki.

Pengobatan tidak menggunakan mantra hanya menggunakan tetempuran karena menurut penglihatan mata batin bapakku, nenek sudah mau diajak ke alam sana sama kompyang (ayah nenek). Tak lama kemudian nenek baikan, namun sakitnya berganti menjadi mencret. Lalu diberi obat medis dan dilarikan ke klinik jam 4 pagi.

Di klinik ada kejadian aneh yang saya rasakan. Tiba-tiba saya mengantuk mendadak saat duduk di ruang tunggu, dan tertidur sejenak, lalu tersadar dengan kejutan pada tubuh. Saya sudah merasa bahwa didekati mahkluk gaib, soalnya sudah beberapa kali mengalami hal seperti itu. Berselang kurang dari semenit, saya hilang kesadaran. Tiba-tiba dari tempat nenek dirawat saya mendengar sabda, 'buin mani Dewa Hyange cang rapat.' (Besok leluhurnya akan rapat).
.Saya pun tersadar total, lalu bercerita pada sepupu bahwa kemungkinan nenek tidak akan meninggal hari ini, baru besok mau dirapatkan oleh para leluhur. Saya pun pergi dan tidur di pickup, soalnya sudah yakin nenek tidak akan meninggal hari ini.

Saya merenungkan sabda itu, apakah nenek akan meninggal setelah hari esok ataukah akan ditunda dalam waktu lama?

Saya teringat bahwa lagi tiga hari akan odalan di 'pura' pasimpangan Dewa Hyang (leluhur). Jika nenek meninggal sebelum odalan maka cukup repot karena keluarga kami akan cuntaka (berkabung), sedangkan pemangku dewa hyangnya adalah omku. Mungkin alasan itulah mengapa leluhurku mau rapat, mungkin mau menentukan kapan mau mengajak nenek ke alam sana. Mungkin nenek akan diambil setelah odalan selesai.

Diupdate  12 November 2016 pukul 21:10

NB;
Ibuku juga mimpi mendengar sabda bahwa batas usia kakek hanya sampai besok (13 November). Gara-gara itu nenek dan kakek dibuatkan ritual penunda kematian; nebusin di pura dalem prajapati, banten atma teka, sesayut panyegjeg tuuh, pemahayu urip. 

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts