e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Gara-Gara Mimpi Aku Menangis

Tumben tadi pagi aku menangis setelah terbangun dari mimpi, bisa dibilang ini untuk pertama kalinya mengalami menangis gara-gara mimpi. Mimpinya tidak sedih sebenarnya, hanya saja setelah direnungkan jadinya aku terbawa perasaan.

Berawal kemarin pagi aku mimpi agak seram. Dalam mimpi itu aku pergi ke suatu tempat, seperti kantin sekolah. Lalu aku balik mau ke rumah bawa motor. Di jalan yang agak menurun, jalan sempit, aku diseruduk cewek dari belakang hingga motor terjatuh ke bawah sengkedan: 'beten pangkedan'. Telapak kakiku terasa sakit, setelah dilihat ternyata tak berdarah, namun membengkak bernanah. Lalu aku tekan, nanah itu keluar berwarna seperti merah jambu. Banyak sekali, lebih dari satu liter.

Cewek yang menabrakku dari belakang itu Jro Dwip* Ay*. Dia ingin mencarikanku pertolongan. Katanya akan menelpon Wid* An*, cewek yang pernah aku sayangi. Namun tak berapa lama, datanglah nyoman Dwipa, adiknya Wid* An*, akan menolongku. Aku pun terbangun. Telapak kaki masih terasa sakit sebentar.

Setelah terbangun, aku mencoba memaknai mimpi itu dengan tenung 'Tanya Lara' yang baru diajarkan bapakku beberapau waktu lalu gara-gara sering mimpi menjadi pertanda kejadian di masa depan (belum begitu paham cara mencarinya sehingga belum berani menuliskannya di facebook). Dari hasil hitung-hitungan
menggunakan urip, hari kemarin urip tri pramana (sad wara, panca wara dan sapta wara) jumblahnya 18. Jumblah itu dibagi 4. Hasilnya 4 sisa 2. Bila sisa 2 itu artinya mimpi itu akibat kala (1. Dewa, dewa alit, 2. Kala, 3. Manusa, 4. Dewa atau dewa agung). Kala ini bisa berarti kemarahan, bisa juga bhuta kala.

Kemarin Sadwaranya nuju Aryang dan bertepatan dengan hari sakral umat Hindu yaitu Tilem. Kata bapakku, Bila mimpi nuju Aryang berarti itu datang dari dewa Hyang. Itu artinya mimpi terluka seperti itu akibat kemarahan dewa Hyang atau leluhur.

Setelah mencoba mengulas sedikit seperti itu, aku jadi bingung, apa salahku, kenapa aku lagi disalahkan dewa Hyang. Apa dosaku? Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul dalam lubuk hati, tanpa menemukan jawaban.

Tadi pagi dini hari aku lagi mimpi, bertepatan dengan sugian Bali dan kajeng Kliwon Nyitan. Dalam mimpi itu aku dan kakakku merambas rerumputan meranggas di rumah kunoku yang telah dilebur. Rumah itu terlihat sudah tinggal kerangkanya saja. Tiba-tiba turun hujan lebat. Aku melihat anjing berteduh dekat tembok dan mengusir anjing itu tetapi tak mau pergi.

Aku pun berteduh ke gudang bawang merah sebelahnya yang sudah reot, bertingkat, terbuat dari bambu. Tiba-tiba ada beberapa remaja datang, mereka kehujanan, bikin suasana riuh gaduh. Aku menganggap dan merasa orang itu keluargaku, tetapi wajah tak jelas. Di gudang reot itu ada ayam, tapi ayamnya pintar. Ditaruh pada tingkatan pertama, dia gak mau. Aku pindahkan ke atas baru dia mau diam.

Tak lama berselang, di gudang itu aku menemukan buah pisang yang cukup banyak, tetapi sudah rusak. Aku mulai sadar dari mimpi, tetapi belum sadar seutuhnya: setengah sadar. Aku inget kalau aku sedang tidur di kos dan barusan mimpi. 'Apa ya maksudnya aku mimpi seperti itu? Aneh!' Hati menggugat, padahal belum terbangun, masih dalam suasana tidur. Tiba-tiba suasana berubah menjadi gelap meski mata belum terbuka namun aku merasakan terjadi perubahan suasana menjadi gelap. Dalam hitungan detik, datang remaja laki-laki seperti masuk ke dada. Dia pun berkata, 'Sing ingetang ke tiange? Gaenang tiange banten nebusin, salaran, pejati. (Apakah tidak ingat sama aku? Buatkan aku ritual banten nebusin, salaran, pejati'.

Setelah mendengar kata-kata itu, aku pun sadar seutuhnya. Melihat jam baru pukul 3 kurang 15 menit.
Aku langsung inget kalau aku punya saudara lagi empat dari dua ibu, satu cewek, sudah meninggal: satu keguguran, yang lainnya sudah lahir tetapi meninggal masih bayi. Dari empat itu, 3 lebih dewasa dariku, satu lagi lahir belakangan dariku. Sepertinya yang berbicara padaku itu adalah adikku. Karena dia bilang tiang, bukan bli.

Aku merasa sedih dibuatnya, seakan mereka ada di dekatku. Aku inget kalau mereka belum diupacarai waktu ini, padahal seharusnya barengan dibuatkan upacara seperti dibuatkan untukku dan keluargaku yang lainnya karena waktu ini keluargaku membuat sanggah kamulan. Dan seharusnya mereka yang sudah menjadi dewa Hyang Alit juga harus dibuatkan upacara seperti yang lainnya. Namun entah kenapa keluarga kami melupakan mereka.

Sehingga sekarang mereka luntang-lantung di alam sana, mereka kehujanan, tidak ada tempat berteduh bagi mereka karena rumah kuno sudah dilebur, terutama pelanggatan, tempat stana para arwah orang yang telah tiada, yang seharusnya sudah di stanakan di Kamulan baru itu. Apalagi Rabu depan akan hari raya galungan, dimana tradisi di Songan, galungan merupakan hari pemujaan leluhur dan orang yang telah meninggal.

Air mataku tumpah memikirkan hal itu. Kasihan saudara-saudaraku kesasar di alam sana. Dalam hati aku berjanji pada mereka akan menyampaikan permintaannya pada bapakku, "Nah, bli akan sampaikan sama Guru. Maafkan bli sudah melupakan kalian"

Aku pun pulang kampung dan menyampaikannya pada keluarga. Keluargaku kaget dan berjanji akan membuatkannya namun ditunda.

Beberapa waktu lalu sebenarnya sudah sempat terjadi beberapa kali terjadi keanehan. Seperti misalnya ibuku melihat aku berdiri di luar rumah, padahal aku ada di dalam rumah sedang nonton TV. Sampai ibuku kaget.

*Catatan hari jumat terupdate hari sabtu via Hp. Ditulis 3 September 2016

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts