e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Valentine Kelabu

‘Pernahkah kau coba menerka apa yang tersembunyi di sudut hati. Derita di mata, derita dalam jiwa. Kenapa tak engkau pedulikan’

Lantunan lagu ‘Sebening Embun’ dari Ebiet G Ade merasuk dalam lubang telinga, mengingatkan akan hari-hari yang telah berlalu dimana aku bisa melihat kehadiranmu yang tak mungkin dapat terulang kembali. Semua tinggal kenangan, hanya bayang-bayang senyum manismu dalam pikiranku yang menemani .

Kini, hanya kesepian dan kesendirian menemani hari-hariku, begitupun malam ini langit seakan diam membisu tak mau menyapaku yang terhanyut melamunkan dirimu yang manis senyumnya, aku rindu kehadiranmu meski hanya dalam mimpi.

Berat sebenarnya aku memutuskan hubungan kerja, dimana aku harus berhenti bekerja di tempat usaha keluargamu. Apa boleh dikata aku sudah memutuskan itu, seperti smsku sehari sebelum berhenti bekerja;

‘Tomorrow, last day I can look your sweet face. Tak akan ada lagi hadirmu dalam hidupku. Yang tersisa hanya bayangan dalam kenangan. I’m sad. Akhir di awal.’

Empat belas februari hari terakhir aku bekerja, aku ingin memandang wajah indahmu walau hanya sekejap. Tuhanpun mengabulkan keinginanku itu. Saat aku berbicara dengan papamu mungkin kau dengar disitu ada aku. Entah kamu sengaja memperlihat diri, aku tertegun sejenak memandangmu turun tangga dari lantai dua rumahmu yang megah itu.

Aku tak mengerti, setelah melihatmu rasa bahagia dan sedih menyelimuti hati. Kau tahu, saat aku dalam perjalanan ke Hotel the Legian, tak terasa air mata membasuh pipi, air mataku berlinang. Sejujurnya, aku tak rela pergi tanpa pernah memilikimu.

Sudah hampir dua tahun aku bekerja disana tak pernah merasa tak nyaman dengan pekerjaan itu, aku selalu merasa bahagia bekerja, semua itu karena ada hadirmu di mataku, hari-hariku bernyanyi dan bersenandung ria hanya untuk kamu, bukan untuk siapa-siapa.

Aku ingin kau tahu aku menyimpan rasa padamu walau tak pernah berani mengatakannya padamu. Ah, aku memang lelaki pengecut. Tapi aku sadar siapa aku dan siapa kamu. Perbedaan yang membuatku tak berani mengatakan apa yang tersimpan dalam relung hatiku. Lagu Ebiet G Ade tepat menggambarkan rasa yang aku pendam, ‘Pernahkah kau coba menerka apa yang tersembunyi di sudut hati. Derita di mata, derita dalam jiwa. Kenapa tak engkau pedulikan’.

Bulir-bulir air mata yang mengalir membasuh pipi menggambarkan bagaimana suasana hatiku yang sesungguhnya tanpa bisa aku sembunyikan. Kesedihan yang tersimpan dalam lubuk hati terlihat bagaimana penderitaan yang terlihat di mataku.

Aku teringat bagaimana awal aku berjumpa denganmu, begitu pun aku teringat kasih sayang keluargamu padaku, terutama ibu. Seakan aku dianggap seperti keluarga sendiri, bahkan ibu pernah memanggilku ‘manis’, kasih sayang ibumu tak bisa aku balas. Sering dikasih uang tambahan, bahkan beberapa kali diberi baju. Walau sering aku telat kerja, bahkan menjadi kebiasaan datang terlambat, ibu tak pernah marah.

Kini semua telah berakhir, aku pergi tanpa pernah memilikimu. Empat belas februari sebagai hari terakhirku melihatmu. Besar harapku suatu saat bisa melihatmu lagi.

Kau juga harus tahu, kaulah gadis yang paling mudah muncul dalam pikiranku, bahkan anehnya kau hadir dalam mimpiku sudah empat kali dalam setahun. Tak pernah aku memimpikan seorang gadis sesering itu. Aku menafsirkan hal ini sebagai pertanda kau juga menginginkanku tetapi pikiranmu mencoba menolaknya dengan logika hanya karena aku berasal dari keluarga pas-pasan. Aku pun merasakan itu, sebenarnya hatiku menginginkanmu namun pikiranku menolakmu karena kita berbeda status. Aku mencoba menepis angan-anganku dan mengubur rasa sayang yang aku miliki. Sedih tahuu.. !

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts