e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

KESETARAAN GENDER

Kesetaraan gender dan kerja perempuan dalam Manawa Dharmasastra;
Maharsi Manu mengetengahkan konsep Ardanareswari : dalam rangka penciptaan alam ini tuhan Yang Maha Esa membagi diri-Nya menjadi dua bagian sebagia pasanagan yang beroposisi (ardanareswari), satu bagian sebagai mlaki-laki dan satu bagian lagi sebagai perempuan . dari pertemuan-Nya yang telah menjadi berpasangan ini lahirlah berbagai jenis makluk yang serba berpasangan. (maskulin dan feminim)
Secara teologis Hindu tidak ada alasan yang membenarkan diskriminasi dimana perempuan berkedudukan lebih rendah daripada laki-laki, karena laki-laki dan peremuan bersumber dari satu sumber , yaitu TYME , perbedaan yg terjadi hanyalah dalam peranan atau kerjanya, (purusa dan prakerti; asa roh dan asa materi)
Atas dasar kesetaraan gender tersebut , Manawa Dharmasastra dengan tegas memuliakan posisi perempuan sebagai berikut:
Perempuan harus disayangi oleh ayahnya, kakaknya, suaminya, dan iparnya yg menghendaki kesejahtraan diri. (MDs, II:55)
Dimana perempuan dihormati disana para dewa merasa senang, akan tetapi dimana perempuan tidak dihormati disana tidak ada upacara suci yang berpahala. (MDs, III:56)
Dimana perempuan hidup sedih, keluarga itu akan cepat mengalami kehancuran, sebaliknya, dimana perempuan tidak hidup menderita, keluarga itu akan hidup bahagia. (MDs, III: 57)
Oleh karena itu diamantakan bahwa bagi orang yang menginginkan hidup bahagia wajib menghormati perempuan antara lain dengan cara ; pada hari raya memberinya hadiah perhiasan, pakaian, dan makanan.(MDs, II:59) Dinyatakan pula, bahwa dimana perempuan selalu tampil dengan wajah berseri, maka seluruh keluarga tiu akan kelihatan bercahaya, demikian sebaliknya. ( MDs, II:61-62)
Atas dasar pandangan teologis tersebut maka untuk merealisasikan konsep ideal tersebut dan untuk memelihara keharmonisan keluarga, bhagawan Manu mengamanatkan:
Pada keluarga dimana suami hidup berahagia dengan istri, demikian pula sang istri hidup bahagia dengan suaminya, kebahagian mereka pasti kekal. (MDs, II:60)
Jadi, kebahagian suatu rumah tangga ditetntukan pertama-tama oleh hubungan yg harmonis, saling setia suami dan istri. Pasal tersebut secara implisit menyarankan sistem perkawinan Monogami, tuhan telah memberi contoh, bahwa ia hanya menjadikan dirinya dua azas yg abadi yaitu sebagai pasangan suami istri (Brahma-saraswati, Wisnu – Laksmi, Siwa-Uma).
Perempuan hendaknya berwajah cerah, pandai mngatur rumah tangga,cermat dalam kebersihan rumah tangga, hemat dan pandai mengatur biaya rumah tangga.( MDs, V:150 )
Pasal tersebut mengisyaratkan makna bahwa kewajiban perempuan juga ditentukan oleh guna dan karmanya, karakternya yg poitensial baik dan bakat kerjany ; gemar berhias, cermat dalam kebersihan, terampil mengatur urusan rumah tangga, dan hemat dalam persoalan keuangan.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts