e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Membaca Pikiran Orang Lain dengan Melihat Wajahnya

  Membaca Pikiran Orang Lain dengan Melihat Wajahnya

Bingung mau buat status apa, terasa tak ada yang menarik untuk diupdate. Gara-gara kehilangan rasa sayang pada dia, pikiran jadi macet. Tapi apa hubungannya ya? ini sebuah kebiasaan gue, kalau merasa kesepian, tanpa hadirnya cinta, bumi ini terasa tak berputar, ide tak berkembang, layu, bahkan mati. Gue sudah benar-benar gak sayang sama dia, tapi belum juga menemukan penggantinya. Duuuhhh.. jadi galau plus+plus.

Tapi iseng-iseng buka kitab Tirukural (masih jarang orang Hindu yang tahu), kitab ini kitab orang Hindu, India selatan. Gue coba membukanya, tapi isinya sederhana, namun sulit untuk dipraktekan. Memang secara keseluruhan, petunjuk kitab suci memang sederhana, tapi untuk mempraktekannya amatlah sulit, apalagi pada jaman Kali.

Halaman demi halaman terbaca, sampailah pada “Pengetahuan Tentang Pikiran Melalui Petunjuk Wajah”.

Membaca isinya, gue jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Ketemu temen cewek di bengkel, gue malu banget memperbaiki motor renteg. Entah kenapa gue tumben merasa minder seperti itu. Rasanya wajah gue seperti terbakar api, keringat pun mengalir. Sedih dan malu bercampur aduk. Ckckckck..

Tapi mencoba menghapus rasa minder dengan merenungkan kenyataan hidup, biarpun pahit sekarang, mungkin akan datang akan manis. Untuk sembuh memang harus minum obat yang rasanya pahit. Besi yang belum terbentuk memang harus ditempa agar menjadi barang yang bermanfaat. Demikianlah pula kehidupan, harus dijalani meski dalam penderitaan. Tapi kalau nonton Mahabharata, penderitaan kita belum seberapa dibandingkan penderitaan Pandawa ketika dibuang ke hutan selama 13 tahun. Gak kebayang bagaimana sulitnya hidup di hutan selama puluhan tahun? ya kan?

Kata temen gue, secara prinsip, katanya gue memiliki prinsip yang bisa dikata matang soal menghadapi kehidupan. Namun biar bagaimanapun sebagai manusia, rasa malu, rasa minder itu kadang menyerang diriku.

Tapi kadang gue berpikir, masa bodo dengan mereka. Tak peduli dengan penilaian cewek-cewek terhadapku. Lebih baik berpenampilan sederhana, apa adanya, tidak dilebih-lebihkan, tidak dikurang-kurangi daripada berpenampilan parlente seperti konglomerat, tetapi aslinya sekarat, bahkan sampai jual tanah untuk beli sesuatu, misalnya beli mobil. Gengsi gede-gedean.. Huuuhhh.. mengelus dada.

Ketahuilah, gengsi tak akan membuat hidup bergengsi.

Yang lebih parah lagi, gengsi gede-gedean untuk mengaet hati wanita, untuk mencari pacar, bahkan untuk mencari istri.

Waduuhh.. kalau menurut gue, itu gila banget. Mau cari istri tapi pamer harta, ujung-ujungnya yang dicintai bukan dirinya, tapi hartanya. Gue sering melihat fenomena ini, cukup menggelikan. (cowok-cowok harus mikir baik-baik soal ini). Agar tidak sampai ’ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang’, kan sakit tuh. Sakitnya dimana? Sakitnya tuh disini, di dalam hatiku.

Ketika sudah menikah, wanita akan berkata (lagunya Dek Ulik), ‘To nguda melenan pesan, di suba ne raga mekurenan’ yang artinya “kenapa berbeda sekali ketika kita sudah berkeluarga”.. atau dengan kata sederhana wanita sering mengeluh ‘Tak seindah yang aku bayangkan’. Huhhh.. capek deh. makanya berpikir yang realistislah. Dan jangan suka buang muka sama cowok miskin, sebaliknya memuja cowok kaya, padahal milik orang tuanya. Kalau setara sih masih mendingan.

Oleh karena itulah gue nyaman tampil apa adanya, karena orang yang sayang padaku bukan melihat hartaku, tapi hatiku.

wuaahhh.. judulnya kok gak nyambung ya? ya sudah.. daripada mengeluh nikmati sajalah. Baca dengan hati yang tenang, pasti akan mengerti maksudnya. Atau paling tidak diulangi, jangan hanya baca sekali. Hanya beberapa sloka saja, sebagai berikut:

Semua orang memiliki bentuk yang sama, tapi memiliki tempat khusus karena mampu membaca pikiran tanpa kata-kata. (Tirukural 2.704)

Mata adalah anggota tubuh terbaik, tapi apa gunanya kalau mata tersebut tidak mampu membaca pikiran orang lain melalui ungkapan wajahnya? (Tirukural 2.705)

Cermin menunjukkan gambaran benda-benda didekatnya, tapi meskipun demikian wajahnya menunjukan emosi yang bergejolak dalam pikirannya. (Tirukural 2.706)

Adakah sesuatu yang lebih halus dan lebih peka dari pada wajah? ini akan menunjukan hal yang baik dan buruk. (Tirukural 2.707)

Berdiri dan hadapi dia, ini sudah cukup untuk membaca apa yang sedang dipikirkan. (Tirukural 2.708)

Mata menunjukan sikap bersahabat atau bermusuhan bagi orang bijak yang mampu membaca perubahan suasana hati hanya dari tampak luarnya saja. (Tirukural 2.709)

Tongkat jujur bagi otak yang pintar tidak lain daripada mata yang membeberkan rahasia yang sedang tersembunyi. (Tirukural 2.710)

Uraian dari kitab di atas juga ditemukan di dalam lontar Slokantara, kitab Canakya Niti Sastra, lontar Nitisastra (kalau gak salah gue inget sih). Yang pada intinya mengajarkan untuk melihat kejujuran seseorang melalui matanya, lebih luas melalui wajahnya. Seperti yang sering kita dengar: mulut boleh berbohong, tapi matamu?


 Ini Daftar 6 Orang Musuh Bebuyutanku

Sebelum menyimak daftar musuhku, baca dulu kutipan kitab suci upanisad berikut: सत्यमेव जयते नानृतं: satyam eva jayate nānṛtaṁ: Kebenaran (kebajikan) pasti menang, bukan ketidakbenaran (kebatilan). [Mundaka Upanishad 3.1.6].

Kami sekeluarga mengucapkan selamat menyambut hari raya Galungan (17/12) bagi umat Hindu yang merayakan. Sambut hari kemenangan dengan suka cita.

Tapi sayang, sebenarnya kita tak pernah mampu mengalahkan musuh yang amat dahsyat. Sudah berulang kali dihantam, dicekik, dipukul mundur, namun musuh yang enam ini tak terkalahkan.

Ini dia daftar musuhku:

Yang paling sakti, dan sangat dahsyat namanya Kama. Aku paling sering cakar-cakaran dengan musuh yang satu ini, sesuai namanya dialah Kama atau hawa nafsu, terutama nafsu seks. Sudah pernah aku bakar ini musuh, tetapi sebaliknya aku yang dibakar, hampir setiap hari mendatangi hidupku. Bahkan aku sempoyongan melawannya.

Yang kedua, namanya Lobha. Dia selalu hadir dalam hidupku, selalu menginginkan sesuatu yang bersifat keduniawian. Sesuai namanya Lobha, dialah si rakus yang selalu hadir menggilas kehidupanku. Meski tak punya uang, selalu saja menginginkan ini itu. Pusing menghadapi musuh ini.

Ketiga, si Krodha, sesuai namanya dia ini si pemarah. Kalau musuh yang ini masih mendingan, jarang mampir dalam hidupku. Soalnya aku gilas dengan ajaran sang Budha, belia mengajarkan 'Orang yang marah tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, oleh karena itu hendaklah menghindari kemarahan itu'

Keempat, si Moha, sesuai namanya dia sering membuat diriku kacau balau. Dia lah si bingung yang sering mengobrak abrik hidupku. Gara-gara si loba, akibatnya aku sering bingung.

Kelima, si Mada. Mada ini membuat orang selalu berlebihan, lebay. Sesuai namanya Mada artinya mabuk. Mabuk bukan hanya karena minuman keras, tetapi mabuk artinya menikmati sesuatu berlebihan.

Yang terakhir, si Matsarya, musuh ini sering datang menyelinap dalam kehidupanku, shingga sering iri hati. Karena si Matsarya, si iri hati, kadang membuat SENANG MELIHAT ORANG SEDIH, DAN SEDIH MELIHAT ORANG BAHAGIA. Huahahaha..

Duuh.. kenapa ya kita merayakan hari Galungan atau hari kemenangan tetapi kita tak pernah menang melawan musuh yang hanya enam ekor, selalu ng-ekor dalam diri.


 Pengaruh Budaya Sunda di Bali

“Yen gumanti bajang, tan bina ya pucuk nedeng kembang, disuba ia layu, tan ada ngerunguang ngemasin makutang. Becik melaksana, da gumanti dadi kembang bintang, mentik di rurunge makejang mangempok raris kaentungang. (Reff): Ento i bungan sandat, selayu layu layune miik. Ento ia nyandang tulad, sahuripe melaksana becik. Para truna-truni mangda saling asah asih asuh. Manyama beraya, ento kukuhin rahayu kapanggih”.

Sepulang dari kantor bupati Badung, bawa berkas ke kantor wali kota Denpasar. Di lantai dua, terdengar lantunan lagu pop Bali ‘Bungan Sandat’, ciptaan (alm) A.A Made Cakra. Meski lagu ini sudah lama diciptakan, akan tetapi masih tetap eksis sampai sekarang. Selain sarat dengan pesan bijak, tembangnya juga manis. Lagu pop di atas, terjemahan bebasnya sebagai berikut:

“Bila masih muda, tiada berbedalah dengan kuncup yang sedang mekar, setelah ia layu, tak ada yang peduli, celakanya dibuang pula. Berbuat bajiklah selalu, janganlah terlalu menjadi bunga bintang, tumbuh di jalan, semua memetiknya, lalu dilemparkan. (Reff): (Lihatlah) itu bunga Sandat, layu mengering tetap harum semerbak. Itulah hendaknya ditiru, sepanjang ayat berbuat bajik. (Wahai..) pemuda-pemudi! hendaknyalah saling menghormati, saling menyayangi, saling menolong. Hidup bermasyarakat itu hendaknya diperkokoh, (semoga) memperoleh keselamatan”.

Nyanyian di atas, terutama pada bagian kalimat ‘Asah, Asih, Asuh’ seakan filosofi ini murni hanya ada di Bali. Akan tetapi sebenarnya filosofi ini juga ditemukan di tanah Pasundan, dalam bahasa Sunda disebut “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”. Dalam kamusbesar(dot)com, ‘asah, asih, asuh’ diterjemahkan sebagai ‘membina, mencintai, mendidik’. Menurut saya, terjemahan itu terlalu baku. Interpretasi saya terhadap ketiga kata itu agak berbeda. Asah artinya sama rata, berkedudukan yang sama, dengan kata lain saling menghormati. Asih, yaitu cinta kasih, saling menyayangi. Dan asuh artinya menjaga, membantu, membina, dengan kata lain saling tolong menolong.

Sebenarnya budaya mana yang mempengaruhi, apakah budaya Bali dipengaruhi budaya Sunda ataukah sebaliknya? menurut hemat saya, budaya Bali-lah dipengaruhi budaya Sunda. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya kidung Sundayana di Bali. Hal lain yang memperkuat bahwa budaya Bali dipengaruhi budaya Sunda, kita bisa melihatnya dari kosa kata bahasa Bali. Misalnya; gedang (pepaya), biang (ibu), adeg/ngadeg (berdiri), adi (adik), raka-rai (kakak-adik), alit (kecil), alon (perlahan/hati-hati), ngandika (berkata), anyar (baru), awak (badan), dan lain sebagainya. Kata-kata tersebut memiliki makna yang sama dalam bahasa Sunda maupun bahasa Bali.

Hal yang menarik lagi, konon katanya bahwa sesajen atau upakara di sunda atau di daerah Banten disebut ‘Bali’, sedangkan di Bali disebut ‘Banten’.

Itulah sekelumit kesamaan Bali dan Sunda. Kalau kita mau mempelajari budaya Sunda dan budaya Bali, sebenarnya banyak memiliki kesamaan.

Muslim Bertanya, Hindu Menjawab:

Naga Bonar Menulis:
Mau tanya ini sama hinduer hinduer disini.
Drupadi itu adalah istri nya rame rame dari pandawa lima kan? Artinya 5 kontol dari kakak beradik arjuna cs ini menggilir drupadi tak henti henti. Sudah itu dijadikan sebagai taruhan judi hingga akhirnya drupadi bagaikan pelacur di meja judi.

Siapa yang salah? Apakah ini sifat pandawa 5 nya krisna yg mempunyai gundik 144 ribu itu? Wanita tak ubah nya dijadikan sapi perah bahkan lebih parah. Jika sapi dianggap mahluk zuci wanita dianggap barang perjudian. Bukan kah itu sifat sifat bejat?

Siapa yang menolong ketika Drupadi menjerit mencoba melepaskan diri ketika rambutnya dijambak oleh Dursasana dan tubuhnya diseret menuju balairung perjudian ? Tidak ada! semua yang ada di sana mendengar jeritannya, tapi tidak ada satu pun yang berusaha menghentikkannya. Yudhistira, bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa semua yang kalah dalam perjudian itu diam membisu, tanda setuju menjadikan pelacur sebagai pelacur hina. Ya drupadi sudah dijadikan pelacur sejak di gilir berlima lalu dijadikan pelacur hina lagi di meja judi.
SEBEJAT ITUKAH KRISNA DAN PANDAWA CS ?

Jawaban:
Hehehe.. saya tertawa membaca status anda, padahal semua pernyataan anda hampir semua sudah dijawab pada film Mahabharata. Jangan pura-pura dungu lah.. Saya ingatkan lagi sedikit. Sesuai teks terjemahan Mahabharata Adi Parva bahwa pernikahan mereka bermula dari permohonan Drupadi pada kelahiran terdahulu, dia bertapa kepada Mahadewa agar dia dianugerahi memiliki suami yang memiliki kemampuan segalanya, dengan kata lain Drupadi menginginkan suami yang sakti, bijaksana, tampan, cerdas, kuat. (permohonan itu dilakukan berulang kali sebanyak lima kali).

Tuhan yang maha besar atau Mahadewa mengabulkannya, dan dia dianugerahi akan memiliki lima suami. (hukum langit telah menentukan bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang memiliki segalanya, tidak ada manusia yang sempurna).

Cara melakukan hubungan suami istri pun tidak boleh bersama-sama (misalnya digilir). Mereka setiap tahun bergantian, satu tahun menjadi istrinya Yudistira, satu tahun menjadi istrinya Arjuna (tetapi selama dengan arjuna, Drupadi tak pernah diajak berhubungan intim, karena waktu itu Arjuna bertapa setahun, dan kemudian menikah dengan Subadra). Saat dengan Bhima, Bhima tak memperlakukan Drupadi sebagai istrinya karena Bhima sudah menikah. Sahadewa dan Nakula hanya mengakui sebagai istrinya tetapi tak pernah berhubungan intim. Oleh karena itu, kisah Mahabharata versi Nusantara, Drupadi tidak dinikahi oleh lima bersaudara, melainkan hanya dinikahi yudistira, bahasa sederhananya, Drupadi diserahkan menjadi milik Yudistira, saudaranya hanya mengakui sebagai istri tetapi tidak mengajak berhubungan intim.
---
Drupadi tidak ada yang menolong? apakah anda tutup mata saat menontonnya. Ketika Drupadi diseret, mereka memang tak ditolong panca pandawa karena Panca pandawa telah menjadi pelayan (budak) dari Duryodana, sehingga Panca Pandawa tidak diberi hak menolong Drupadi.Ketika Drupadi ditelanjangi, drupadi ditolong Tuhan yang maha pengasih dalam penjelmaannya sebagai Shri Krisna. Shri krisna menolong Drupadi yang sedang ditelanjangi dengan memanjangkan kain sari Drupadi.

Apa akibatnya ketika drupadi ditelantarkan seperti itu di hadapan sidang? alam menelanjangi semua yang ada di istana, ditelanjangi oleh kekuatan gaib.
---
Saya bantah lagi pernyataan anda tentang Sri Krisna yang memiliki ribuan Istri. Menurut aturan tradisi di india saat itu, bahwa siapa yang menaklukan seorang raja, maka yang menjadi milik raja yang ditaklukan, diberi perlindungan oleh raja yang menaklukan, dengan kata lain, istri dari raksasa yang banyaknya ribuan, maka secara hukum shri krsinha wajib melindungi istri-istri dari raja raksasa yang telah binasa.

Anda sudah melihat kebenaran dari cerita ini? jangan-jangan anda sudah mengetahuinya tetapi anda ingin membodohi yang bodoh. Sayangnya jaman sekarang masyarakat sudah cerdas, mereka tidak bisa dibodohi oleh orang semacam anda.



Laksana Memasak Batu

Sedang asik nyetir di atas tol laut Bali, aku terusik dengan sebuah lagu pop Bali. Liriknya sendu mendayu, berkisah tentang kehidupan guru honorer yang tampak parlente, akan tetapi penghasilannya tak cukup untuk makan.

Sang penyanyi memberi perumpamaan ‘Buka Nglalab Batu’, kurang lebih artinya bagaikan memasak batu, meski sudah dimasak sampai gosong tetapi tak ada perubahan.

Kenyataan hidup seperti itu lah yang banyak terjadi pada jaman sekarang, terutama dalam masyarakat menengah ke bawah, masyarakat miskin. Meski sudah berusaha sekolah lebih tinggi, bekerja banting tulang, nyatanya kehidupan tak pernah berubah, bahkan kecendrungan semakin miskin, miskin harta miskin moral. Sedangkan masyarakat yang tergolong kaya semakin kaya.

Teruntuk orang miskin, lebih jauh diberikan perumpamaan ‘Gali lubang, tutup lubang’. Ironi yang tak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan masyarakat.
Ikut merasakan!

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts