e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

JALAN PENGABDIAN


BAB 12
JALAN PENGABDIAN

Jai: Haruskah kita berdoa atau bermeditasi setiap hari, nek, atau hanya pada hari Minggu, atau hari tertentu?
Nenek: Anak-anak harus melakukan beberapa bentuk pemujaan, doa, atau meditasi setiap hari. Kebiasaan yang baik harus dibentuk lebih awal.

Jai: Nenek bilang bahwa Tuhan tidak berwujud dan juga berwujud. Apakah aku harus memuja Tuhan dalam wujud Rāma, Krishna, Shiva, Durgā atau haruskah aku menyembah Tuhan yang tak berwujud?

Nenek: Arjuna menanyakan kepada Krishna pertanyaan yang sama dalam Gita. (Gita 12.01) Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa pemujaan Tuhan dengan wujud dengan kepercayaan, lebih mudah dan lebih baik bagi kebanyakan orang, terutama bagi pemula. Tapi pemuja sejati memiliki kepercayaan dalam segala sesuatu: Tuhan yang tak berwujud dan Tuhan yang berwujud seperti Rāma, Krishna, Hanumāna, Shiva, dan Ibu Ilahi Kali, Durgā.

Jai: Bagaimana caraku menyembah, nek?

Nenek: Pergi ke ruang Poojā, altar atau ruang meditasi sebelum berangkat ke sekolah dan berdoalah. Duduk tegak, tutup mata, ambil napas lambat dan dalam beberapa kali, ingat IshtaDeva-mu dan mintalah berkat-Nya. Fokuskan pikiranmu pada IshtaDeva-mu dengan mata tertutup. Ini disebut meditasi. Engkau bisa juga mengulang mantra seperti 'OM' atau ”Rām, Rām, Rām, Rām, Rām’ dalam hati, beberapa kali. 
Jai: Ketika aku mulai bermeditasi, aku tidak bisa memusatkan pikiranku, nek. Pikiranku mulai pergi ke mana-mana. Apa yang harus aku lakukan?

Nenek: Jangan khawatir, bahkan ini terjadi pada orang dewasa. Cobalah untuk berkonsentrasi atau fokus lagi dan lagi. Dengan latihan, engkau akan dapat memusatkan pikiranmu dengan baik, tidak hanya pada Tuhan, tetapi juga pada bahan pelajaran. Ini akan membantumu mendapatkan nilai bagus. Engkau juga dapat berdoa kepada Tuhan dan mempersembahkan buah-buahan, bunga kepada IshtaDeva-mu dengan kasih dan tulus. Juga, ingat Tuhan pemberi ilmu pengetahuan, seperti Ganesha, Hanumāna atau Ibu Sarasvati sebelum memulai pelajaranmu. Jangan egois. Bekerja keraslah. Terima hasil pekerjaanmu tanpa menjadi marah dengan hasil yang buruk. Cobalah untuk belajar dari kegagalanmu. Jangan pernah menyerah dan perbaiki dirimu sendiri.

Jai: Itukah semua yang harus aku lakukan, nek? Apakah Krishna mengatakan hal lain?

Nenek: Engkau juga harus mengembangkan kebiasaan yang baik seperti mematuhi orang tuamu, membantu orang lain yang membutuhkan, tidak menyakiti siapa pun, bersikap ramah terhadap semua orang, meminta maaf jika engkau menyakiti siapa pun, menjaga pikiranmu agar tetap tenang, bersyukur kepada mereka yang telah membantumu dan mengucapkan terima kasih. Tuhan mengasihi dan membantu orang-orang yang bertindak dengan cara ini. Orang-orang seperti ini disebut Bhakta. (Gita 12,13-19).  Jika engkau tidak memiliki salah satu kebiasaan baik ini, berusaha keraslah untuk mengembangkannya. (Gita 12,20)

Jai: Apakah mungkin bagi seorang anak untuk menjadi seorang Bhakta?

Nenek: Nenek sudah ceritakan kisah Dhruva. Sekarang nenek akan menceritakan kisah tentang anak lain, seorang Bhakta. Namanya Prahlāda.


15. Bhakta Prahlāda

Hiranyakasipu adalah raja raksasa. Dia melakukan praktek spiritual dengan sangat keras, dan Deva Brahmā memberinya anugrah bahwa ia tidak dapat dibunuh oleh manusia atau binatang. Anugrah ini membuatnya sombong, dan dia menteror ke tiga dunia, mengatakan bahwa tidak ada Tuhan lain selain dirinya dan semua orang harus menyembah-Nya.

Dia punya seorang putra bernama Prahlāda, seorang anak religius yang selalu menyembah Tuhan Vishnu. Ini membuat ayahnya sangat marah, ia ingin menghilangkan pemikiran Vishnu dari pikiran anaknya, sehingga ia menyerahkan anaknya kepada seorang guru yang sangat keras untuk melatih dia untuk hanya menyembah Hiranyakasipu sebagai Tuhan dan bukan menyembah Vishnu.

Prahlāda tidak hanya menolak untuk mendengarkan sang guru, tetapi mulai mengajar siswa lain untuk menyembah Vishnu. Gurunya sangat marah dan melaporkan kepada Raja.

Sang Raja berlari ke kamar anaknya, dan berteriak, "Aku mendengar kau telah menyembah Vishnu!"

Dengan gemetar, Prahlāda berkata pelan, "Ya ayah."

"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan melakukannya lagi!" kata raja.

"Aku tidak bisa menjanjikan itu ayah" Prahlāda langsung menjawab.

"Kalau begitu aku akan membunuhmu," teriak Raja.

"Tidak bisa, kecuali diinginkan DevaVishnu," jawab si anak.

Sang Raja mencoba semua kekuatannya untuk merubah pikiran Prahlāda, tapi tak satupun berhasil.

Ia kemudian memerintahkan para pengawal untuk melemparkan Prahlāda ke laut, berharap agar Prahlāda takut dan berjanji untuk tidak lagi menyembah Vishnu. Tapi Prahlāda tetap setia pada Vishnu dan terus berdoa kepada-Nya dalam hatinya dengan cinta dan kesetiaan. Penjaga mengikatnya ke sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam laut. Atas rahmat Tuhan, batu itu terjatuh dan Prahlāda mengapung kepermukaan air dan terdampar di pantai dengan selamat. Dia terkejut melihat Vishnu di pantai.
Vishnu tersenyum padanya dan berkata, "Mintalah padaku apa saja yang engkau inginkan."

Prahlāda menjawab, "Aku tidak ingin kerajaan, kekayaan, surga, atau umur panjang. Aku hanya ingin kekuatan untuk selalu mencintai-Mu dan tidak pernah mengubah pikiranku menjauh dari-Mu."

Vishnu mengabulkan keinginan Prahlāda.

Ketika Prahlāda kembali ke istana ayahnya, raja tertegun melihatnya masih hidup.

"Siapa yang mengeluarkanmu dari laut?" raja bertanya.

"Deva Vishnu," kata si anak, polos.

"Jangan sebut nama itu dihadapanku," teriak ayahnya. "Di mana Deva Vishnu-mu? Tunjukkan dia padaku," ia menantang.

"Dia di mana-mana," jawab si anak.

"Bahkan dalam pilar ini?" Tanya Raja."

"Ya, bahkan di pilar ini!" Jawab Prahlāda yakin.
"Kalau begitu suruh dia muncul di depanku dalam bentuk apapun yang ia inginkan," seru Hiranyakasipu dan memecahkan pilar itu dengan senjata besinya.

Tiba-tiba melompat keluar dari dalam pilar satu mahluk bernama Narasinga, yang setengah manusia dan setengah singa. Hiranyakasipu, berdiri tak berdaya di hadapannya. Takut, ia berteriak minta tolong, tetapi tidak ada yang datang menolongnya.

Narasinga mengangkat Hiranyakasipu dan meletakkannya di pangkuannya, di mana tubuhnya dirobek-robek. hingga menemui ajalnya.

Tuhan memberkati Prahlāda karena kepercayaannya yang mendalam. Setelah kematian Hiranyakasipu, para raksasa itu hancur, dan Deva mengambil alih dunia sekali lagi dari raksasa. Sampai hari ini, nama Prahlāda dimasukkan diantara pemuja besar.

Bab 12 Ringkasan: Jalan kesetiaan pada Tuhan sangat mudah dilatih. Jalan ini terdiri dari pemujaan pada para Deva setiap hari, mempersembahkan buah-buahan dan bunga, menyanyikan lagu pujian (Bhajan) untuk memuji kemuliaan Tuhan, dan mengembangkan kebiasaan baik tertentu.


0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts