e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

WEDA ITU APA?


GURU.. WEDA ITU APA?

Om avignam astu
Atas rahmat Hyang Widhi, Semoga tiada rintangan

Apa itu Weda?

Secara etimologi, kata Weda berakar dari kata vid, yang dalam bahasa Sanskerta berarti "mengetahui", dalam rumpun bahasa Indo-Eropa berakar dari kata weid, yang berarti "melihat" atau "mengetahui". weid juga merupakan akar kata dari wit dalam Bahasa Inggris, sebagaimana kata vision dalam bahasa Latin

Veda digolongkan atas :

ü      Veda Sruti              Sruti berasal kata “SRU” yg berarti mendengar, jadi  Veda Sruti adalah  wahyu suci yang didengarkan oleh Para Maha Resi pada saat semadi.

ü      Veda Smerti           Smerti berasal dari kata “SMR” artinya ingat,jadi Veda Smerti adalah ajaran-ajaran suci yang patut dan dapat diingat selalu, Para Maha Resi menyampaikan ajaran – ajaran Weda Sruti dalam bentuk sutra (rumus- rumus) yang mudah diingat.

Bagaimana hubungan keduanya?
Smrti selalu merupakan bayangan dari Sruti, Smrti merupakan bentuk ulang dari Sruti, Smrti tidak boleh bertentangan dengan Sruti, bila terjadi demikian maka otoritas kebenaran kembali pada Sruti. Analogi:UU,PP,Perpu dll tidak boleh bertentangan dengan UUD.

Sruti
Sruti merupakan Wahyu dari Tuhan sumber Hukum tertinggi Hindu dan otoritas kebenaran, yang terdiri atas :
1. Rg veda :
Regweda terdiri atas 1.028 himne (atau 1.017 jika tidak ikut menghitung himne-himne valakhīlya 8.49–8.59) dalam bahasa Sansekerta Weda. Banyak himne daripadanya dimaksudkan untuk berbagai ritus kurban. Kumpulan panjang ini biasanya dipersembahkan sebagai pujaan kepada Dewata. Regweda dibagi menjadi 10 kitab yang dikenal dengan nama Mandala. Setiap mandala terdiri atas beberapa syair pujaan atau himne yang disebut sūkta (merupakan kata majemuk su+ukta dan secara harafiah artinya "resitasi indah") atau eulogi. Pada gilirannya setiap bait terdiri atas apa yang disebut dengan istilah c, jamak cas. Mandala-mandala ini tidaklah sama panjangnya atau sama usianya: "kitab-kitab keluarga", mandala 2-7 dianggap bagian tertua Regweda, dan merupakan kitab-kitab terpendek. Ditilik dari panjangnya, bagian-bagian ini jumlahnya sekitar 38% dari teks secara keseluruhan.RW 8 dan RW 9, kemungkinan memuat himne-himne yang usianya berbeda-beda dan jumlahnya sekitar 15% dan 9%. Dan akhirnya, RW 1 dan RW 10, kedua-duanya merupakan yang terpanjang dan termuda dan membentuk sekitar 37% dari teks secara keseluruhan..


2. Yajurveda:
Yajur berasal dari akar kata yajus "pengorbanan", veda "pengetahuan yang Memuat sastra suci yang terfokus pada ritual dan korban suci.


3. Samaveda:
sāmaveda, berakar dari kata sāman "irama" + veda "pengetahuan") tidak lain adalah himpunan mantra-mantra yang diberi tanda nada untuk berbagai irama. Samaveda merupakan "Nyanyian  Suci Veda” . Samaveda memuat 1875 mantram, dan dimana 1800 mantram merupakan pengulangan daripada Rgveda dan 75 mantram yang lain memang disusun dan dimuat dalam sastra ini.

4. Atharvaveda:
atharvavéda, berakar dari kata atharvān, nama seorang Maharsi, dan veda berarti "pengetahuan"). Terdapat 9 śākhā (resensi) tentang Atharvaveda, yaitu: Paippalāda, Dānta, Pradānta, Snāta, Snauta, Brahmadāvala, Śaunaka, Devadarśani, dan Caranavidyā. Namun śākhā yang masih bertahan hingga kini adalah Śaunakiya dan Paippalāda.

Yang masing-masing dikelompokkan atas atau mengandung :
a. Samhita (himpunan mantra2) : yang mengandung mantra upasana ( doa kebaktian, pemujaan, ucapan syukur, mantra2 upacara kurban) ajaran filsafat, tata susila, pendidikan dan lain lain, yang terdiri atas empat jenis yaitu :
\     Rgveda Samhita : Pengetahuan suci yang berhubungan dengan pemujaan
\     Yajurveda Samhita : Pengetahuan suci tentang upacara korban
\     Samaveda Samhita: Pengetahuan suci tentang irama
\     Atharvaveda Samhita: pengetahuan suci yang bermanfaat bagi kehidupan di dunia ini


Tiap-tiap Veda Samhita ini mempunyai kitab-kitab Brahmana ,Aranyaka dan Upanisad
misalnya :

Z     Aitareya Brahmana merupakan kitab Brahmana dari Rgveda,
Z     sathapata Brahmana merupakan Brahmana dari Yajurveda,
Z     Chandyoga Upanisad merupakan Upanisad dari Samaveda dst.

b. Brahmana : uraian panjang tetang ketuhanan/teologi, teristimewa observasi tentang jalannya upacara korban dan prosedur dari upacara kurban. Bisa dikatakan Brahmana adalah ilmu tentang upacara

c. Aranyaka : berisi tentang penjelasan tentang philosofis /arti dan makna upacara
d. Upanisad : merupakan kesimpulan dari kitab-kitab Aranyaka,karena itu upanisad disebut Vedanta, Vedanta tidak hanya berarti akhir dari Veda tetapi uga merupakan puncak tertinggi dari dari ajaran Veda. Secara formal disebutkan ada 108 Upanisad namun hanya 12 yg dikatakan penting.
Kitab-kitab Upanisad memberikan wejangan tentang rahasia teringgi terhadap umat manusia, kitab-kitab  ini merupakan intisari dari kitab-kitab Veda
Smerti
Dalam memahami Veda dan kitab-kitab yang terkait dgn Veda kita mengenal istilah Veda dan susastra Veda, susatra Veda adalah kitab2 bukan wahyu Tuhan atau kitab2 yang tergolong kitab-kitab smrti.
Dalam pengertian sempit kitab-kitab  yg dimaksud susastra Veda adalah kitab-kitab Vedanga dan Upaveda. Dalam pengertian luas Vedangga meliputi pula kitab Dharmasastra, Itihasa, Purana, Agama/ Tantra dan Darsana.
1. Vedanga adalah kitab2 berisi petunjuk2 tertentu untuk mendalami Veda, yg terdiri atas
 
ü      Siksa                : ilmu Phonetika Veda
ü      Vyakarana        : ilmu tata bahasa
ü      Nirukta : ilmu etimologi
ü      Chanda            : ilmu irama
ü      Jyotisa : ilmu astronomi dan astrologi
ü      Kalpa               : ilmu tentang upacara korban
2. Upaveda adalah kitab-kita yang menunjang pemahaman Veda.Masing-masing kitab Catur Veda memiliki kitab upaveda
1. RgVeda        ; Ayurveda : ilmu tentang kesehatan
2. Yajurveda    ; Dhanurveda : ilmu perang
3. Samaveda    ; Gandharvaveda : ilmu pengetahuan samagana ( melagukan mantra Samaveda ) dan seni musik pada umumnya.
4. Artharvaveda ; Arthaveda : ilmu tentang pemerintahan, ekonomi, pertanian, ilmu social

3 Dharmasastra
Secara garis besar merupakan Dharmasastra merupakan hasil karya manusia yang berisi penjelasan dan penerapan dari kitab – kitab sruti namun isi nya Tidak boleh bertentangan dengan sruti. Kelompok Dharmasastra
a. Manawadharmasastra
b. Yajnavalkyasmrti
c. Samkhalikhitasmrti
d. Parasarasmrti

4. Itihãsa
Ramayana dan Mahabharata.
Ramayana Terdri dari 7 kanda
Maha Bharata terdiri dari 18 Parwa.

5. Purãna
Ada 18 Mahapurana dan 18 Upapurana
Purana (Mahapurana )terdiri atas lima topik Utama ( Panca Laksana )
1. Tentang Penciptaan semesta ( pratisarga, sarga dan Pralaya),
2.Geografi
3. kisah kisah Para Dewa dan berbagai kisah lainnya
4.Manvantara (waktu, jaman yuga dan Manu )
5.Silsilah (Suryawamsa dan Chandrawamsa)

6. Darshana
Ilmu ke-filsafat-an dalam Ajaran Hindu tertuang dalam apa yang disebut 'Dharsana'.
Dharsana, sebagai ilmu sekaligus seni olah-pikir, Dharsana bukanlah sembarang ilmu yang dapat dipelajari dengan mudah. Ada 6 aliran filsafat (sad dharsana) yang terkait langsung dengan keberadaan Hinduisme, yaitu: Samkhya, Yoga, Mimamsa, Vaisiseka, Nyaya dan Vedanta
Ada juga Dharsana yang  bersifat atheis (menolak otoritas ketuhanan veda) yaitu Carvaka (aliran filsafat materialisme), Jaina (aliran filsafat atheis) dan Budha.
7. Agama
Kitab kitab agama secara garis besar dikelompok atas:
1. Vaishnawa
2. Saiwa
3. Sakta

Bhagavad Gita
Lalu bagaimana dengan Bhagavad Gita
Ada baiknya kita simak pandangan Swami Sivananda tentang kedudukan Bhagavad Gita
Kitab kitab Upanisad adalah sari susu Veda, Bhagavad Gita adalah intisari dari kitab-kitab Upanisad, dengan kalimat yang lain, di lukiskan
Kitab-kitab Upanisad adalah lembu-lembu, Bhagavad Gita adalah susu, Shri Khrisna adalah gembala yang memerah susu tersebut, Arjuna adalah anak lembu yang menyusu, sedangkan kita bila ingin bijak minumlah susu Gita itu.
Bhagavad Gita adalah sruti dan juga Smrti.

Bagaimana dengan yang ada di Indonesia,Bali kususnya?
Veda memperkaya budaya dimana Ia berkembang, pada jaman dulu Veda diterjemahkan ke dalam bahasa jawa kuno,disadur dan ditafsir ulang oleh leluhur (yang kemudian disebut Lontar karena ditulis di daun lontar pada jaman dulu) . inilah yang membuat Hindu Indonesia bebeda dengan India tetapi filosofisnya tetap mengacu pada Veda.
Inilah bagian lontar-lontar tersebut:
Lontar-lontar Tattwa
Lontar-lontar ini memuat ajaran Ketuhanan, disamping itu juga memuat ajaran tentang penciptaan alam semesta, ajaran pelepasan (moksa) dan sebagainya.sebagian besar lontar-lontar tattwa ini bersifat siwaistik (sivaisme) dan beberapa diantaranya telah dikaji secara kritis oleh beberapa sarjana.
Lontar-lontar jenis ini antara lain :
a.       Bhuwana kosa
b.      Ganapati tattwa
c.       Jnana sidhanta
d.      Bhuana Sangksepa
e.       Sanghyang Mahajnana
f.        Tattwa Jnana
g.       Wrhaspati tattwa
h.       Siwagama
i.         Suwatattwa purana
j.        Gong Besi
k.      Purwabhumi Kamulan

Lontar-lontar ethika
Lontar-lontar jenis ini berisi ajaran tentang ethika,kebijakan tuntunan untuk menjadi orang sadhu yaitu orang arif dan bjaksana,berbudi luhur,berpribadi mulia dan berhati suci.
Yang termasuk Lontar ini antara lain:
a.       Sarassamuscaya
b.      Slokantara
c.       Siwasasana
d.      Agastyaparwa
e.       Wratisasana
f.        Silakrama
g.       Pancasiksa
h.       Putra sasana
Lontar-lontar Yajna
Lontar-lontar ini banyak sekali jenisnya. Umumnya,lontar-lontar ini berisi petunjuk-petunjuk umum pelaksanaan Yajna, baik mengenai Banten (upakara) atau sesajennya,perlengkapanya dll.
Beberapa lontar jenis ini antara lain:
a.       Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Dewa Yajna (deva;sinar suci tuhan):
1.      Dewa tattwa
2.      Sundarigama
3.      Wrhaspati Kalpa
4.      Catur wedhya

b.      Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Pitra yajna (pitra;leluhur):
1.      Yama purana tattwa
2.      Yama tattwa
3.      Empu Lutuk Aben
4.      Kramaning atiwa-atiwa
5.      Indik maligya
6.      Putru pasaji
7.      Bacakan Banten Pati Urip

c.       Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Rsi Yajna (Rsi;orang-orang suci) :
1.      Kramaning Madiksa
2.      Yajna samkara

d.      Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Manusa Yajna (manusa; manusia)
1.      Dharma Kahuripan
2.      Eka pratama
3.      Bacakan Banten Pati Urip
4.      Janma Prawerti
5.      Puja Kala Pati
6.      Puja Kalib

e.       Lontar-lontar petunjuk tentang pelaksanaan Bhuta Yajna (Bhuta ; Roh-roh gaib):
1.      Ekadasa rudra
2.      Panca walikrama
3.      Indik Caru
4.      Bhama Kertih
5.      Lebur Sangsa
6.      Pratingkahing Caru

Lontar-lontar yang erat hubunganya dengan pelaksanaan Yajna adalah Lontar-lontar Wariga, antara lain:
1.      Wariga
2.      Purwa Wariga
3.      Wariga Gemet
4.      Wariga Krimping
5.      Wariga Pararasian
6.      Wariga Palalawangan
7.      Wariga Catur Wina Sari
Lontar-lontar Puja :
a.       Weda Parikrama
b.      Surya Sewana
c.       Argha Patra
d.      Puja Ksatrya
e.       Puja Mamukur
f.        Kajang Pitra Puja
g.       Kusuma Dewa

Jadi pemeluk Sanatana Dharma (hindu) susah-susah gampang dan gampang-gampang susah, kalo mencari rumitnya ya super rumit, kalo mencari gampangnya ya sederhana. Ajaran Weda tidak memaksakan umatnya untuk begini begitu tetapi atas dasar kesadaran sesuai petunjuk kitab suci.
Kenapa saya mengatakan “susah-susah gampang dan gampang-gampang susah, kalo mencari rumitnya ya super rumit, kalo mencari gampangnya ya sederhana”?
Hal ini mengacu pada Catur Marga(catur yoga) yaitu :



1.      Karma Yoga, yoga yang dilakukan melalui kehidupan tanpa pamrih. Para praktisinya tidak pernah mengeluh menghadapi persoalan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma, maka harus diterima dan dihadapi. Konsep ini banyak disalah-pahami sebagai konsep hidup pasip, padahal konsep ini justru membawa manusia menjadi aktip dalam menghadapi kehidupan. Karma Yoga mengajarkan pada manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan melarikan diri dari persoalan.
Bila anda praktisi Karma Yoga, maka persoalan apapun yang terjadi harus anda terima, tidak melarikan diri. Melarikan diri bukan solusi, tapi justru menimbun persoalan dan membuat persoalan baru. Persoalan tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah penundaan dan penumpukan. Untuk menyelesaikannya, mau - tidak mau, suka-terpaksa, semua harus dihadapi. Entah kapan, yang jelas semua persoalan perlu penyelesaian. Banyak penderita stress, bahkan yang bunuh diri, dikarenakan tidak mau menerima suatu persoalan sebagai kenyataan dan menyelesaikannya, kemudian melarikan diri tanpa mau menghadapi dan menyelesaikannya.
2.      Bakti Yoga, yoga yang dilakukan dengan berbakti kepada Tuhan, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi Bakti Yoga (Bakta) bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua mahluk ciptaan-NYA. Mencintai ciptaan-NYA merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta. Cinta seorang Bakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci yang miskin - yang kaya, yang indah - yang buruk, yang pintar - yang bodoh, yang beriman - yang kafir. Semuanya dicintai, bahkan binatang, tumbuhan, dan batu-batuan pun tidak luput dari kecintaan seorang praktisi Bakti.

3.      Jnana Yoga, yoga yang dilakukan dengan jalan pengetahuan. Praktisi yoga ini adalah para intelektual, dengan cara mengkikis kebodohan manusia. Dengan terkikisnya kebodohan, maka manusia semakin pandai. Semakin pandai manusia, terhapuslah kemiskinan, ketidak-adilan, dan kesewenangan. Dengan demikian semakin damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya. Itulah tugas para praktisi Jnana Yoga.

4.      Raja Yoga, yoga yang dilakukan dengan cara mempraktekkan secara langsung tata cara pengedalian pikiran dan kesadaran indra-indra manusia. Raja Yoga memuat berbagai disiplin fisik dan pikiran, semua dilakukan dalam rangka menuju kepenyatuan seorang hamba dengan Tuhan(moksa). Hasil dari semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.). Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Bagi praktisi yoga, yang penting adalah pelaksanaannya.
Perkembangan kemudian, hanya Raja Yoga lah yang dikenal sebagai Yoga. Bagi praktisi Raja Yoga, praktek Hatha, Japa, Mantra, Kundalini, dsb. bukanlah sesuatu yang terpisah. Sebagaimana praktek Sholat, tidak pernah memisahkan antara “bacaan” (doa-doa) dengan “gerakan-gerakannya”, semuanya sakral. Seorang praktisi Yoga yang sempurna, juga melakukan praktek Bhakti yoga, Karma yoga, dan Jnana yoga. Sebagaimana seorang yang taat beragama, tidak hanya melakukan ritual peribadatan pada Tuhan saja, tapi juga melakukan semua aturan moralitas dan hukum yang telah digariskan.

Semoga pikiran yang baik dating dari segala penjuru

Om Shanti, Shanti, Shanti Om
Atas rahmat Hyang Widhi semoga damai di hati, damai di dunia , damai di akhirat

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts