Pulang kerja, saya mengalami hal yang cukup membuat wajah
memerah, rasanya panas. Di jalan tiba-tiba motor tuaku mogok, ternyata
bensin habis hingga kosong melompong. Sialnya, saya digerogoti sakit
kanker; kantong kering. Bener-bener gak bawa uang, soalnya uang ada di
rumah sewa alias indekos.
Untungnya, ada ibu-ibu
penjual bensin eceran deket dari sana, ibu itu juga punya warung makan
sederhana. Diam sejenak, berpikir bagaimana bilangnya biar diberikan
ngebon bensin dulu. Hati nurani menasehati untuk berterus terang dan
menyampaikannya terlebih
dulu daripada isi bensin terlebih dulu lalu pura-pura lupa bawa uang.
Bersyukur, penjual bensinnya polos sekali, ibu itu bilang tidak apa-apa,
isi saja. Dari caranya berbicara rasanya tidak dibayar pun tak apa-apa.
Setelah isi bensin, langsung tancap gas ke rumah sewa, dan bergegas
balik bayar bon. Saat sampai mau bayar, ibu itu berkata ’kok datang
lagi? dibawa aja, gak apa-apa kok’, baik banget ibu ini ya; gue banget,
bukannya gimana, di warung ibuku terkadang ada juga berbelanja lupa bawa
uang. Kalau aku sih suruh bawa saja, tak usah dibayar, kalau kemudian
datang untuk membayarnya terkadang malah merasa tak enak, dikiranya
tidak iklas memberikannya. [Belajar menumbuhkan jiwa sosial karena
disitu kadang bisa menemukan kebahagiaan jika bisa memberikan seseorang
sesuatu meski hal kecil].
Dalam hati kecilku, aku diperintah
untuk membalas kebaikan ibu itu, dan aku lakukan apa yang diperintah
hati nurani. Tak perlulah ceritakan apa yang saya lakukan. Tetapi saya
akan berbagi bagaimana cara membalas kebaikan seseorang dengan cara
sederhana dan mudah diterapkan.
Sebagai mahkluk sosial
kita tak bisa lepas dari peran orang lain, pasti kita pernah ditolong
orang lain. Meski karakter individualistik
sedang menggerogoti masyarakat dunia namun sebagai orang timur yang
memiliki tradisi luhur tolong menolong, perlu kiranya kitalestarikan dan
budayakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Coba kita tengok ke
belakang, misalnya sebulan yang telah berlalu, pernah tidak kita
ditolong seseorang? jika pernah, sudahkah membalas kebaikannya?
Pertanyaan sederhana, terlihat sepele, akan tetapi terkadang kita merasa
tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan seseorang sehingga
adakalanya kita menjadi lupa kebaikan seseorang.
Kalau
direnungkan, ternyata membalas kebaikan orang lain yang pernah menolong
kita itu sebenarnya sederhana sekali. Ada beberapa hal yang perlu kita
lakukan, bisa pilih salah satunya.
Mendoakannya
Hal
paling sederhana yang bisa lakukan ketika ditolong seseorang adalah
mendoakan orang yang menolong kita, mendoakan keluarganya agar
dimudahkan rejekinya, agar anak-anaknya bisa hidup ceria. Bawalah orang
itu ke dalam doa kita saat sembahyang, lebih bagus lagi setelah kita
meditasi ataupun berjapa.
Doa yang datang dari lubuk hati
maka alam akan bergerak untuk mewujudkannya, kekuatan dewa menyertainya.
Terlebih lagi bila kita sampai menitikan air mata mendoakan seseorang,
besar kemungkinannya doa seperti itu terkabul. Perlu diketahui, doa yang
ditunjukan untuk orang lain lebih mujarab daripada doa untuk diri
sendiri. Tidak mengherankan terkadang seseorang mengalami hal ajaib
setelah pernah menolong oang lain dengan iklas, ada saja rejeki yang
datang tiba-tiba.
Membalas dengan Perbuatan Lain
Perbuatan baik seseorang tak harus dibalas dengan perbuatan yang sama,
diberi bunga tak harus dibalas dengan memberi bunga. Kita bisa
membalasnya dengan perbuatan lain. Jika kita berpikir membalasnya dengan
perbuatan yang sama, itu sulit terlaksana. Bahkan hampir mustahil
terjadi.
Misalnya, seseorang yang pernah menolong kita saat
kecelakaan, rasanya tak mungkin kita membalasnya dengan menolongnya saat
orang bersangkutan mengalami kecelakaan. Memang tidak bisa dipungkiri
hal itu bisa terjadi, akan tetapi kejadian seperti itu sangat jarang
sekali, langka. Lebih baik menolongnya dengan perbuatan lain.
Balas pada Orang yang Bukan si Penolong
Pernah ditolong seseorang tidak mesti dengan menolong orang
bersangkutan. Kita bisa membalasnya pada orang lain yang bukan orang
yang pernah menolong kita. Akan hal ini kita bisa mengambil hikmah dari
ajaran Lontar Sarasamuccaya 41 yang berbunyi;
Apa pun yang
ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan pebuatan yang tidak
menyenangkan bagi dirimu, apapun yang menimbulkan duka dan sakit hati
bagi dirimu; janganlah hendaknya yang menimbulkan keadaan seperti itu
engkau lakukan pada orang lain. Perbuatan apapun yang tidak engkau sukai
menimpa dirimu, janganlah perbuatan seperti itu engkau timpakan kepada
orang lain.
Demikian sebaliknya, apa yang ingin diperlakukan
terhadap kita oleh orang lain, hal itu pula kita lakukan pada orang
lain. Bila ingin dihormati, hormati orang lain, jika ingin ditolong saat
susah, maka senang menolong orang lain yang sedang kesusahan. Dengan
cara itu, saat kita membutuhkan bantuan orang lain pasti ada saja yang
datang membantu kita.
Namun hal yang penting kita
perhatikan saat menolong seseorang adalah hati yang iklas, dengan kata
lain menolong seseorang rahasianya terletak pada ketulusan hati.
Perbuatan seperti itu sama dengan menyandingkannya
dengan Tuhan, sehingga pahalanya berlipat bahkan tanpa batas sehingga
kita mudah mendapatkan kedamaian hati; bisa bahagia meski tak kaya, hati
terasa indah mesti banyak masalah. Sebaliknya, apabila menolong
mengharapkan imbalan atau pahala justru mendapatkan petaka.Merta Mupu03.44.00AdminBandung Indonesia
Pulang kerja, saya mengalami hal yang cukup membuat wajah
memerah, rasanya panas. Di jalan tiba-tiba motor tuaku mogok, ternyata
bensin habis hingga kosong melompong. Sialnya, saya digerogoti sakit
kanker; kantong kering. Bener-bener gak bawa uang, soalnya uang ada di
rumah sewa alias indekos.
Untungnya, ada ibu-ibu
penjual bensin eceran deket dari sana, ibu itu juga punya warung makan
sederhana. Diam sejenak, berpikir bagaimana bilangnya biar diberikan
ngebon bensin dulu. Hati nurani menasehati untuk berterus terang dan
menyampaikannya terlebih
dulu daripada isi bensin terlebih dulu lalu pura-pura lupa bawa uang.
Bersyukur, penjual bensinnya polos sekali, ibu itu bilang tidak apa-apa,
isi saja. Dari caranya berbicara rasanya tidak dibayar pun tak apa-apa.
Setelah isi bensin, langsung tancap gas ke rumah sewa, dan bergegas
balik bayar bon. Saat sampai mau bayar, ibu itu berkata ’kok datang
lagi? dibawa aja, gak apa-apa kok’, baik banget ibu ini ya; gue banget,
bukannya gimana, di warung ibuku terkadang ada juga berbelanja lupa bawa
uang. Kalau aku sih suruh bawa saja, tak usah dibayar, kalau kemudian
datang untuk membayarnya terkadang malah merasa tak enak, dikiranya
tidak iklas memberikannya. [Belajar menumbuhkan jiwa sosial karena
disitu kadang bisa menemukan kebahagiaan jika bisa memberikan seseorang
sesuatu meski hal kecil].
Dalam hati kecilku, aku diperintah
untuk membalas kebaikan ibu itu, dan aku lakukan apa yang diperintah
hati nurani. Tak perlulah ceritakan apa yang saya lakukan. Tetapi saya
akan berbagi bagaimana cara membalas kebaikan seseorang dengan cara
sederhana dan mudah diterapkan.
Sebagai mahkluk sosial
kita tak bisa lepas dari peran orang lain, pasti kita pernah ditolong
orang lain. Meski karakter individualistik
sedang menggerogoti masyarakat dunia namun sebagai orang timur yang
memiliki tradisi luhur tolong menolong, perlu kiranya kitalestarikan dan
budayakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Coba kita tengok ke
belakang, misalnya sebulan yang telah berlalu, pernah tidak kita
ditolong seseorang? jika pernah, sudahkah membalas kebaikannya?
Pertanyaan sederhana, terlihat sepele, akan tetapi terkadang kita merasa
tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan seseorang sehingga
adakalanya kita menjadi lupa kebaikan seseorang.
Kalau
direnungkan, ternyata membalas kebaikan orang lain yang pernah menolong
kita itu sebenarnya sederhana sekali. Ada beberapa hal yang perlu kita
lakukan, bisa pilih salah satunya.
Mendoakannya
Hal
paling sederhana yang bisa lakukan ketika ditolong seseorang adalah
mendoakan orang yang menolong kita, mendoakan keluarganya agar
dimudahkan rejekinya, agar anak-anaknya bisa hidup ceria. Bawalah orang
itu ke dalam doa kita saat sembahyang, lebih bagus lagi setelah kita
meditasi ataupun berjapa.
Doa yang datang dari lubuk hati
maka alam akan bergerak untuk mewujudkannya, kekuatan dewa menyertainya.
Terlebih lagi bila kita sampai menitikan air mata mendoakan seseorang,
besar kemungkinannya doa seperti itu terkabul. Perlu diketahui, doa yang
ditunjukan untuk orang lain lebih mujarab daripada doa untuk diri
sendiri. Tidak mengherankan terkadang seseorang mengalami hal ajaib
setelah pernah menolong oang lain dengan iklas, ada saja rejeki yang
datang tiba-tiba.
Membalas dengan Perbuatan Lain
Perbuatan baik seseorang tak harus dibalas dengan perbuatan yang sama,
diberi bunga tak harus dibalas dengan memberi bunga. Kita bisa
membalasnya dengan perbuatan lain. Jika kita berpikir membalasnya dengan
perbuatan yang sama, itu sulit terlaksana. Bahkan hampir mustahil
terjadi.
Misalnya, seseorang yang pernah menolong kita saat
kecelakaan, rasanya tak mungkin kita membalasnya dengan menolongnya saat
orang bersangkutan mengalami kecelakaan. Memang tidak bisa dipungkiri
hal itu bisa terjadi, akan tetapi kejadian seperti itu sangat jarang
sekali, langka. Lebih baik menolongnya dengan perbuatan lain.
Balas pada Orang yang Bukan si Penolong
Pernah ditolong seseorang tidak mesti dengan menolong orang
bersangkutan. Kita bisa membalasnya pada orang lain yang bukan orang
yang pernah menolong kita. Akan hal ini kita bisa mengambil hikmah dari
ajaran Lontar Sarasamuccaya 41 yang berbunyi;
Apa pun yang
ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan pebuatan yang tidak
menyenangkan bagi dirimu, apapun yang menimbulkan duka dan sakit hati
bagi dirimu; janganlah hendaknya yang menimbulkan keadaan seperti itu
engkau lakukan pada orang lain. Perbuatan apapun yang tidak engkau sukai
menimpa dirimu, janganlah perbuatan seperti itu engkau timpakan kepada
orang lain.
Demikian sebaliknya, apa yang ingin diperlakukan
terhadap kita oleh orang lain, hal itu pula kita lakukan pada orang
lain. Bila ingin dihormati, hormati orang lain, jika ingin ditolong saat
susah, maka senang menolong orang lain yang sedang kesusahan. Dengan
cara itu, saat kita membutuhkan bantuan orang lain pasti ada saja yang
datang membantu kita.
Namun hal yang penting kita
perhatikan saat menolong seseorang adalah hati yang iklas, dengan kata
lain menolong seseorang rahasianya terletak pada ketulusan hati.
Perbuatan seperti itu sama dengan menyandingkannya
dengan Tuhan, sehingga pahalanya berlipat bahkan tanpa batas sehingga
kita mudah mendapatkan kedamaian hati; bisa bahagia meski tak kaya, hati
terasa indah mesti banyak masalah. Sebaliknya, apabila menolong
mengharapkan imbalan atau pahala justru mendapatkan petaka.
BERSEDEKAH DALAM PERSEFEKTIF HINDU
Om Aviganam ya Namah Sidhyam
Wahai para dermawan yang bijaksana, persembahkanlah dana puniyamu (bersedekahlah) kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat, selain itu jangan. Air laut yang sampai pada permukaan awan menjadi manis, sesampai di bumi memberikan hidup kepada mahkluk-mahkluk yang bergerak (manusia,binatang, dll) dan kepada mahkluk-mahkluk yamg tidak bergerak (rerumputan,tumbuhan,dll) dan akhirnya kembali lagi ke lautan dengan jumlah puluhan juta kali. (CNs.VIII.4)
Seloka diatas menjelaskan bahwa pahala dari persedekahan adalah berlipat-lipat, namun seseorang dalam bekerja, memberikan pertolongan, bersedekah dll. dilarang mengharapkan imbalan (pahala), kita laksanakan sebagai kewajiban. Silakan simak seloka Bhagawad Gita dibawah ini:
Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan. (Bhagavad-gita 17.20)
Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu.( Bhagavad-gita 17.21)
Sumbangan-sumbangan yang diberikan di tempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan. (Bhagavad-gita 17.22)
Membaca seloka atau ayat Veda diatas, apa yang terbayang dalam pikiran anda? Takjubkah atau bagaimana? Silakan anda jawab didalam hati. Didalam kitab Undang-Undang Manawa Dharmasastra juga disebutkan hal yang serupa mengenai pahala sebagai berikut “bekerja hanya karena ingin mendapatkan pahala adalah perbuatan yang tidak terpuji, akan tetapi bekerja tanpa keinginan tidak dapat ditemukan di dunia ini. Veda serta pengamalanya sendiri didasari oleh keinginan akan pahala” (MDs.II.2)
Selanjutnya mari kita simak seloka Sarasassamucaya yang membahas perihal Dana Puniya (sedekah), namun yang tidak begitu penting selokanya disini tidak di tulis.
Bila orang berbuat kebajikan dengan memberi hadiah-hadiah, suka memberi pelajaran dan nasehat-nasehat walopun kepada orang miskin sehingga dapat menghibur hatinya, maka orang yang demikian akan selamatlah anak cucu dan keturunanya serta akan terkenalah kebaikan budinya . (SS.172)
Lain daripada itu, jika ada orang yang memberi pertolongan walaupun pada mereka yang terus menerus ingin mencelakakan dirinya tetapi suatu saat ditimpa duka cita dan datang meminta pertolongan padanya, maka orang yang demikian perbuatanya adalah manusia utama namanya, benar-benar orang budiman yang paling mulia. (SS.173)
Mampukah anda melakukan hal demikian, Walaupun seseorang selalu berniat jahat kepada kita? Jangan tanya mampu atau tidaknya , petunjuk veda sudah anda baca , tinggal melaksanakanya saja.
Pahala persedekahan (dana punia) bukan diterima oleh bapa ibu, akan tetapi orang yang bersedekah itu sendirilah yang mendapat pahalanya dana punia. (SS.175)
Adapun yang disebut persedekahan (dana punia) oleh orang bijaksana ialah sifat tidak dengki dan teguh iman dalam berbuat kebajikan, sebab jika itu dipegang teguh,akan selalu mendapat selamat yaitu sama pahalanya dengan melakukan upacara korban. (SS.176)
Adapun pahala dari upacara korban ialah kelak akan mengecap segala keindahan dan kenikmatan di alam sana. Adapun pahala orang yang suka menolong orang tua adalah kebijaksanaan tinggi, pahala orang ahimsa (tidak membunuh-bunuh,tidak menyakiti,kasih sayang terhadap semua makluk) ialah panjang usia, demikian kata orang bijaksana. (SS.177)
Bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada berdana punia (bersedekah), umumnya , orang sangat sayang akan harta kekayaan karena mendapatkanya dengan susah payah.( SS.178)
Jaman sekarang hal inilah yang sering terjadi, untuk memberikan sesuatu kepada peminta-minta , pengamen dll, kita berpikir panjang untuk memberikan uang kita karena kita ketahui cara mendapatkanya susah, sedangkan si pengamen tinggal meminta. buanglah pikiran-pikiran seperti itu,
Sekarang dengarkanlah perihal orang yang tinggi ilmu kebijaksanaanya, yaitu bahwa ia tidak sayang untuk mengorbankan harta benda, kekayaanya, walau nyawa sekalipun, apabila untuk kepentingan umum. Sebab ia sadar akan kekalan jiva dan ketidak kekakalan benda, keadaan lahiriah ini. Oleh karena itu ia rela mati demi untuk kepentingan umum. (SS.181)
Jiva yang ada didalam diri kita adalah kekal, jiva adalah percikan tuhan, “Brahman atman akyam” Tuhan dan atman (jiva) adalah kekal atau Tuhan dan jiva adalah hampir sama, yang membedakan adalah Jiva terikat oleh Karma. Pada saat mati hanya badan kasar yang mati sedangkan atman (jiva) tetap kekal , orang yang mengetahui hal ini maka ia tidak takut untuk mati mebela kebenaran dan berbuat demi kepentingan umum dan bella Negara.
Oleh karena itu yang harus diperbuat ialah jangan kikir dalam memberi dana puniya, buatlah usaha untuk amal, pergunakanlah kekayaan untuk meningkatkan kesejahteraan. Karena sesungguhnya, kewibawaan itu akan tidak berhenti menyertai kita apabila karma phala Yang menyebabkanya itu belum habis. (SS.182)
Begini nasehatku : kegunaan mempelajari pustaka suci veda ialah agar dapat memuja HYang Widhi Wasa dalam manifestasi Sanghyang Sivaagni, juga agar tahu mantra-mantra, tatacara pelaksanaan upacara korban dan upakara –uapakara lain dalam kehidupan (Widhi Wudhana) gunanya mengumpulkan harta kekayaan ialah untuk dinikmati dan disedekahkan. Gunanya wanita untuk diperistri dan melanjutkan keturunan. Manfaatnya kepandaian ialah untuk kebaikanya Sila dan Acara. Sila Artinya kepribadian dan budi pekerti, Acara artinya tingkah laku sehari-hari, sesuai dengan ajaran-ajaran agama. (SS.183)
Apalah gunanya harta kekayaan jika tidak disedekahkan dan tidak dinikmati, demikian juga kesaktian tidak akan ada gunanya jika tidak dipakai mengalahkan musuh, begitu pula ilmu pengetahuan tidak akan berguna jika tidak dipakai suluh untuk kesempurnaan terlaksananya tugas kewajiban. Demikian pula pengetahuan kebatinan tidak ada faedahnya jika tidak dipakai mengalahkan panca indra dan untuk menguasai sifat rajah(kebodohan) dan tamah(kegelapan). (SS.184)
Orang yang harta kekayaanya mengalir keluar masuk pembendaharaanya tetapi tidak dipergunakan untuk berdana puniya, ia adalah tidak lain dari orang mati, bedanya dengan mayat hanyalah ia masih bernafas, ia tidak bedanya dengan pompa apinya tukang emas. (SS.185)
Ada yang dinamai abhaya-dana ( pemberian perlindungan) yang nilainya lebih mulia dari segala pemberian , umpamanya pemberian sebidang tanah sekalipun, abhaya artinya tidak takut, dana artinya pemberian, ketidaktakutan itulah yang diberi pada setiap makhluk artinya ialah tidak menyebabkan takutnya mahkluk apapun juga , orang yang demikian perbuatanya tidak akan pernah mendapatkan bahaya di dunia ini semua mahluk menjadi cinta kasih dan hormat serta bhakti kepadanya sampai dikelak kemudian hari. (SS.186)
Didalam Lontar (kitab) slokantara disebutkan bahwa Ahimsa atau cinta kasih adalah kebenaran tertinggi
Bagaimana cara bersedekah?
Kapan waktu yang baik untuk bersedekah?
Apa saja yang patu disedkahkan?
Sekarang perhatikan dengan baik sloka yang selanjutnya.
Hal – hal yang tersebut dibawah ini memperbesar pahala dari suatu pemberian yaitu: Desa, Kala, Agama, Ksetra, Druwya, Datta, Manah.
Desa artinya pembagian tanah; Tanah yang subur dan sucilah yang patut di sedekahkan.
Kala artinya waktu yang baik berbuat sedekah antara lain waktu utarayan yaitu saat-saat matahari berkisar ke utara.
Agama yaitu pemberian ajaran pustaka suci yang menerangkan dengan mendalam perihal keagamaan.
Ksetra, yang dimaksud ksetra atau obyek ialah orang yang diberi sedekah itu antara lain orang yang berkelakuan baik dan orang yang memang tepat untuk diberi sedekah.
Druwya yakni barang yang disedekahkan haruslah baik.
Datta ialah orang yang memberi sedekah atau yang melakukan upacara korban hendaknya orang yang tepat untuk itu.
Manah artinya pikiran si pemberi sedekah itu haruslah tulus iklas.
Inilah yang menyebabkan pahala persedekahan yang lebih besar yaitu mendapatkan keselamatan. (SS.187)
Mengenai Kala (waktu) persedekahan Pada seloka SS.189 disebutkan juga Daksinayana (saat matahari berkisar ke selatan), Sadhamukha dan sitimukha(gerhana bulan dan gerhana matahari), serta ketika matahari berada di khatulistiwa. Bersedekah pada waktu – waktu tersebut amat besarlah pahalanya
Pemberian sedekah tidak tergantung dari jumlah sedekah melainkan bagaimana manfaat dan faedah sedekah itu terhadap si penerima dan juga dengan cara bagaimana sedekah itu diperoleh. Bukanlah jumlah yang banyak atau sedikit pemberian itu menghasilkan banyak sedikitnya pahala, tetapi tujuan utama pemberian itu yang penting dan juga halal atau haramnya cara memperoleh. hal ini disebutkan pada seloka Sarasamuscaya 190
Dan lagi orang yang memberi nasi pada waktu orang kelaparan dibandingka dengan pemberian emas pada waktu orang makmur, adalah sama nilainya. Kedua dermawan itu akan sama-sama menikmati kebahagian sorga kelak. (SS.188)
Janganlah berdana-puniya pada orang jahat, jangan suka mengagul-ngagulkan kegunaan atau jasa diri sendir, jangan menerima dana puniya yang diperoleh dengan jalan yang tidak patut dan jangan pula meminta tolong kepada orang jahat. (SS.191)
Adapun yang harus diberikan dana puniya ialah orang yang berkelakuan baik, orang miskin, orang yang tak dapat mencari makan, orang yang betul – betul memerlukan bantuan. Pemberian dana puniya (pertolongan) pada orang demikian akan besarlah pahalanya. (SS.193)
Yang harus diingat dan diperhatikan oleh para dermawan ialah jangan sekali-sekali mengharapkan pujian dan juga memberikan dana-puniya jangan berdasarkan karena takut, jangan mengharap supaya dapat balasan, dan jangan memberikan kepada orang yang ahklaqnya rendah. Itu yang patut diingat oleh seorang dermawan. Memberi sedekah adalah sudah merupakan kewajiban, tetapi bukanlah sedekah namanya jika diberikan dengan mengharapkan balasan (pahala). (SS.194)
Perhatikan juga seloka Bhagawad Gita sebagai berikut :
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material. (Bhagavad-gita 17.25)
Apa bila ayah bunda yang meminta, biar nyawa sekalipun yang diminta , berikanlah kepadanya, sebab merekalah yang mengadakan kamu. (SS.195)
Baca berulang –ulang sloka diatas (SS.195), jaman sekarang terutama generasi muda banyak yang sudah berani menentang permintaan orang tua. Sadarilah bahwa kita sangat berhutang kepada orang tua. Renungkan pula sloka dibawah ini
Bahwa amat besarlah kesakitan yang dirasakan oleh seorang ibu ketika melahirkan kita. Sekarang kita berhutang segala-galanya kepadanya yang tak akan terbalaskan sampai seratus tahun (seumur hidup). (SS.196)
Ya, anaku ri Janamejaya, orang yang miskinlah yang anaku hares beri dana puniya. Jangan bersedekah kepada orang kaya, memang seyogyanya kepada orang sakitlah obat itu hares diberikan , karena untuk orang yang sehat, obat itu tidak ada gunanya. (SS.197)
Apa bila ada orang melarat tetapi tidak meminta bantuan usahakan agar ia dapat pertolongan sebab memperhatikan kesejahetraan umum tanpa pamrih bagi diri sendiri adalah puncaknya kebaikan, itulah yang didapati dalam memberikan sedekah kepada orang yang memerlukan, tanpa menunggu untuk dimintai. (SS.198)
Dan lagi jangan sekali-sekali marah kepada orang yang meminta sedekah. Janganlah diusir, walaupun ia orang hina atau meski anjing sekalipun, karena sesungguhnya tidak akan sia-sialah pemberian dana-puniya terhadap mereka .(SS.199)
Dan lagi siapakah yang akan demikian gegabah mencela orang yang meminta sedekah, orang yang meminta-minta setiap hari dan orang meminta dengan sangat? Karena bukanlah mereka itu dapat diumpamakan sebagai guru yang mengajar kita untuk berbuat kebajikan? Atau sebagaia matahari yang setiap hari terbit menghilangkan gegelapan hati kita? Atau sebagai orang pembersih kaca yang tak hentinya menggosok menghilangkan kotor-kotoran dalam hati kita? Demikianlah orang yang meminta-minta itu sesungguhnya. (SS.200)
Sebenarnya tidak dosa yang lebih besar daripada hal-hal sebagai berikut yaitu orang yang menjawab dengan “ Nasti” dan orang yang mengatakan “ Dehi” .
“ Dehi” : ‘Berikan padaku’ demikian kata orang yang ingin mendapatkan apa yang diminta,
“Nasti” : ‘tidak ada’ demikian sahut orang kikir yang dimintai itu. Kedua hal yang merupakan puncaknya dosa.baikpun yang berkata “Dehi” maupun yang menjawab dengan perkataan “Nasti” keduanya itu berdosa secara timbal balik. Tegasnya , kedua belah pihak sama-sama berbuat dosa (SS.201)
Bagaimana cara sopan santun dalam meminta sedekah?
Untuk menghilangkan dosa dalam meminta-minta , si peminta-minta itu hendaknya meberi nasehat dengan berkata : “tidak baik orang bersifat kikir, usahakanlah memberikan sedekah, lihatlah akibatna orang tidak mau memberikan sedekah pada waktu hidup dahulu. Ia sekarang menjadi sebagai saya maukah tuan sebagai saya sekarang ini? Oleh karena itu buatlah persedekahan”. Demikian bayanganya yang diberikan sehingga sebenarnya tidak hanya meminta tetapi juga memberikan nasehat , itu menyebabkan perbuata menjadi suci (SS.202)
Perlu digaris bawahi, Walaupun dikatakan cara demikian dapat menyebabkan si peminta-minta menjadi suci, hendaklah jangan mencoba meminta-minta, karena hal demikian menyebabkan kita menjadi malas-malasan.
Tambahan pula, biarpun ada ataupun tidak ada pahalanya, berikanlah dana-puniya sebagaimana mestinya dan seberapa dapatnya. Demikian pulalah halnya di hadapan Hyang Widhi Wasa. Pemberian dana-puniya atau persembahan itu pastilah berpahala. Itulah yang diperbuat pertama-tama. (SS.203)
Bahwa dana puniya berwujud emas, sapi dan sawah ladang itu amat suci. Suci maksudnya dapat menghilangkan malapetaka dan menghantarkan manusia ke sorga loka. (SS.204)
Singkatnya, adapun yang patut disedekahkan ialah emas, perak, nutiara, perhiasan, sawah, ladang dan segala yang berharga itulah berikan. (SS.205)
Apabila dupa harum, boreh wangi, kain-kain halus, karangan bunga, dan lain-lain yang disedekahkan, orang-orang yang mensedekahkan itu akan menjelma kelak akan menjadi orang cantik, sehat walafiat dan berbudi pekerti yang baik. (SS.207)
Anda yang tidak meyakini adanya Kelahiran Berulang-ulang (reinkarnasi)mungkin akan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil, jika anda merenungkan sloka diatas mungkin pola pikir anda akan berubah. Itulah atas jawaban mengapa seseorag bisa lahir kaya, cakep, berwibawa, disegani begitu sebaliknya lahir berwajah buruk , hidup miskin dll. Tuhan itu maha adil dengan aturan yang beliau buat bahwa apa yang kita lakukan akan menghasilkan akibat yaitu dengan peraturan “hukum karma pahala” atau sebab dan reaksi
Adapun memberikan sedekah yang gampang mendapatkanya sebagai umpama: minyak, air,obor, pahalanya ialah akan hidup senang dengan seluruh keluarganya di akhirat. (SS.208)
Orang yang menyedekahkan pelita, pahalanya kemudian ialah bahwa matanya bersinar nyalang, rupawan, lampai, halus, jernih, berseri mukanya. Jika obor (lampu) yang di sedekahkan akan menjelma menjadi orang rupawan, berwibawa dan bergemilang cahaya mukanya kelak. (SS.210)
Pahalanya menghaturkan dana puniya (sedekah) pada seorang pendeta, kelak sampai Indralokadipuja dan dihormati oleh bidadara-bidadari. (SS.211)
Kalau terompah atau sandal sepatu yang disedekahkan, ia akan selamat tak kurang apa-apa, berpahala sorga kelak, disayangi oleh para dewa. (SS.212)
Bagaimana semestinya sikap kita dalam bersedekah?
Biarpun sedekahnya banyak tak ada taranya walaupun semua kepunyaanya di sedekahkan, tetapi jika memberikanya itu denga pikiran keruh dan tidak dengan tulus ihklas, tidaklah berguna sedekah itu. Singkatnya, kerelaan hatilah yang menentukan pahalanya dari persedekahan itu. (SS.213)
Apa bila seseorang ingin tidak kekurangan suatu apa di akhirat kelak maka ia hendaknya memberikan sedekah kepada orang gunawan(miskin) segala sesuatu (apa-apa yg miliki) yang ia sendiri sangat cintai dan sukai. (SS.214)
Apa yang tidak patut kita lakukan saat bersedekah?
Apa bila persedekahan itu diberikan dengan penghinaan dan kemarahan, dengan tidak tulus ikhlas serta tidak percaya akan adanya hukum karma phala, maka pemberian itu adalah sedekah yang hina dan amat rendah pulalah pahalanya kelak. Demikian kata orang pandai-pandai. (SS.216)
Segala perbuatan, baikpun memuja ataukah member sedekah, bertapa atau berbuat amal tetapi tidak disertai ketulusan hati, segala perbuatan itu dianggap hina dan tidak ada gunanya pada kehidupan ini ataupun pada penjelmaan yang akan datang. (SS.217)
Dibawah ini petunjuk bagi para pemula terutama generasi muda, cara mudah untuk memulai belajar bersedekah:
Bagi orang yang baru mulai belajar melakukan dana puniya, mulailah dengan memeberikan barang-barang yang tidak berharga mahal semacam pucuk kayu, kecambah, umbi-umbian dan banyak lagi sebangsa ini yang gampang diperoleh. Kalau telah ikhlas memberikan yang tersebut diatas (dan sebangsanya) tanpa sedikitpun ada rasa saying memberikanya, itulah permulaan dari kebiasaan baik yang akhirnya akan rela memberikan apapun juga walau sampai darah dan daging sekalipun (SS.218)
Orang yang memerintahkan saja , menyuruh kepada orang lain bersedekah (sedangkan ia sendiri tidak) banyak atau sedikit, orang demikian perbuatanya tidak akan bisa mencapai maksudnya kelak, tidak berpahala segala tujuan dan angan-anganya, sebagai halnya orang mandul yang tak berhasil segala yang dibuatnya. (SS.219)
Menyimak sloka diatas penulis jadi merasa malu…..
Ada yang berkata begini : “Ya Hyang Widhi , saya akan berbuat kebajikan , saya akan berbuat segala apa yang diaanggap baik” tetapi nyatanya ia tidak sungguh-sungguh melakukanya, maka hilang;ah “Ista” Dan “Purta”-nya. (SS.220)
Pemujaan kepada hyang Eka-agni, pada Hyang Tri-agni dan sedekah yang diberikan pada waktu upacara korban (pen-dana-an). Itulah “Ista” namanya. (SS.221)
Pemberian yang berbentuk waduk-waduk, sumur-sumur, telaga-telaga yang mengalir, kahyangan-kahyangan tempat memuja, penginapan-penginapan, tetamanan, balai peristirahatan, tempat berteduh di sepanjang jalan dan sebagainya termasuk dpur umum; inilah “Purta” namanya. (SS.222)
Adapun orang yang tanpa menghiraukan bahwa dirinya sendiri lapar, tetapi memberikan nasi bekalnya kepada kelana yang tidak dikenalnyayang dijumpai di perjalanan dan kepayahan, besarlah pahala kebaikan yang akan diterimanya kelak. (SS.225)
Apabila ada orang yang antara lain berbuat kebajikan dengan memberikan nafkah kepada orang yang kelaparan, miskin, rendah hati, dan yang tidak tahu dimana ia bisa mencari makan untuk menghilangkan laparnya maka orang yang berbuat kebajikan demikian tidak ada bandingnya di dunia ini dan pun di dunia sana. (SS.226)
Sebab sedekah yang berupa makanan pasti membuat senang baikpun bagi pemberi apa lagi yang diberi, demikianlah kenyataan akibat dari pemberian yang menyenangkan. (SS.227)
Yang harus diberikan kepada orang yang menderita, ditimpa kesusahan, ialah bantuan pertolongan. Kepada orang yang kepayahan dating padamu untuk beristirahat berikanlah tikar dan bale-bale, kepada orang yang haus airlah sedekahnya dan kepada orang yang lapar berikanlah makanan. (SS.228)
Dan lagi pandangan yang ramah , hati yang tulus ikhlas, kata-kata yang mengembirakan serta penyambutan yang sopan santun , semua ini hendaknya dilakukan untuk menyertai pemberian sedekah sebagai mana mestinya. (SS.229)
Sebagai pembanding Kitab sarassamuscaya mari kita simak juga isi kitab Canakya Niti Sastra yang membahas perihal Dana-puniya (sedekah)sebagai berikut:
Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan, kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkanya baik-baik. (CNs.V.11)
Pelajaran veda tanpa korban suci agni hotra (atau yadjna yang lainya) adalah sia-sia belaka. Korban suci tanpa disertai dana puniya tidaklah sempurna, tanpa disertai rasa bhakti semua ini tidaklah berhasil, oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan. (CNs. VII)
Sifat-sifat yang baik adalah hiasan dari wajah, keluarga diharumkan pleh tingkah laku yang baik dan benar, ilmu pengetahuan dicemerlangkan oleh keberhasilan, dan hiasan dari kekayaan adalah dengan mendana-puniyakan. (CNs.VIII.15)
Keindahan wajah, tanpa sifat-sifat yang baik tidak ada artinya, tingkah laku yang jahat menyebabkan keluarga hancur, tanpa kesuksesan ilmu pengetahuan menjadi sia-sia, kekayaan tidak ada gunanya dan akan mengalami kemusnahan kalau tidak dinikmati dengan cara mendana-puniyakan. (CNs.VII.16)
Orang baik-baik hendaknya senantiasa menyumbangkan makanan dan hartanya (kekayaan), semua itu jangan dikumpulkan,. Lihatlah, bahwa kemasyuran raja Karna, Maharaja Bali, dan Vikramaditya masih tetap dipuji-pujki hingga sekarang. Bahkan san lebah berpikir “oh , sialan,madu kita, yang sejak begitu lama kita kumpulkan, menahan diri untuk tidak dinikmatinya, tetapi sekarang dalam sekejap telah diambil pleh manusia”. Demikianlah keluh kesah sang lebah sambil menghentakan kakinya ke tanah. (CNs.XI.18)
Untuk kitab Bhagawad Gita yang membahas bersedekah diambil Cuma sedikit, silakan untuk disimak
Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana. (Bhagawad Gita. 18.5)
Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.
Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk kitab suci, tanpa membagikan prasadam [makanan rohani], tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan. (Bhagavad-gita 17.13)
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.( Bhagavad-gita 17.25)
Apa pun yang dilakukan sebagai korban suci, kedermawanan maupun pertapaan tanpa keyakinan terhadap Yang Mahakuasa tidak bersifat kekal, wahai putera prtha. Kegiatan itu disebut ‘asat’ dan tidak berguna dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.( Bhagavad-gita 17.28)
Sumber :
·Kitab Sarassamuscaya (terbitan upada sastra,1991) merupakan Veda Smerti yang isinya dikumpulkan oleh Bhagavan Wararuci dari sari-sari wiracarita (epik) Mahabharata susunan ‘Bhagavan Byasa’ yang di uraikan oleh Bhagavan Waisampayana di hadapan Maharaja Janamejaya (cucu Arjuna), Wararuci termasuk salah seorang dari sembilan pujangga mutiara di istana raja Wikramaditya. Pustaka suci Sarasasmuschaya (SS) ini tertulis dalam dua bahasa yaitu: bahasa Sansekerta dan bahasa Kawi (Jawa kuno) , bahasa Kawinya adalah tafsiran dan perluasan seloka-seloka (ayat) yang berbahasa Sansekerta dengan arti dan maksud yang tepat. Namun dalam pembahasan disini hanya terjemahan bahasa indonesianya saja yang ditulis, begitu juga dengan Seloka Bhagawad Gita dan Canakya Niti Sastra
·Canakya Niti Sastra( CNs), kitab ini tergolong Veda Smerti yang ditulis oleh Rsi Canakya, juga terkenal dengan nama lain yaitu “Visnu Gupta” dan “Kautilya”. Brahmana hebat ini adalah Penghancur Raja Nanda sedinasti.
·Bhagawad Gita merupakan Wejangan Sri Kresna kepada Arjuna pada saat Perang Mahabharata, yang merupakan Inti sari Veda Sruti dan Smerti
Sebagai penutup, silakan renungkan seloka Canakya Niti Sastra sebagai berikut:
Meremehkan kebijksanaan ajaran Veda, menghina tingkah laku / kegiatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran sastra (veda), menjelekan orang yang selalu berkata-kata lembut bijaksana, tidak lain lagi inilah yang menyebabkan kekalutan dunia. (CNs.V.10)
Om shanti, Shanti, Shanti Om
Semoga semua makluk berbahagia dan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru
I Ketut Merta Mupu,SH.05.20.00AdminBandung Indonesia
Wahai para dermawan yang bijaksana, persembahkanlah dana puniyamu (bersedekahlah) kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat, selain itu jangan. Air laut yang sampai pada permukaan awan menjadi manis, sesampai di bumi memberikan hidup kepada mahkluk-mahkluk yang bergerak (manusia,binatang, dll) dan kepada mahkluk-mahkluk yamg tidak bergerak (rerumputan,tumbuhan,dll) dan akhirnya kembali lagi ke lautan dengan jumlah puluhan juta kali. (CNs.VIII.4)
Seloka diatas menjelaskan bahwa pahala dari persedekahan adalah berlipat-lipat, namun seseorang dalam bekerja, memberikan pertolongan, bersedekah dll. dilarang mengharapkan imbalan (pahala), kita laksanakan sebagai kewajiban. Silakan simak seloka Bhagawad Gita dibawah ini:
Kedermawanan yang diberikan karena kewajiban, tanpa mengharapkan pamrih, pada waktu dan tempat yang tepat, kepada orang yang patut menerimanya dianggap bersifat kebaikan. (Bhagavad-gita 17.20)
Tetapi sumbangan yang diberikan dengan mengharapkan pamrih, atau dengan keinginan untuk memperoleh hasil atau pahala, atau dengan rasa kesal, dikatakan sebagai kedermawanan dalam sifat nafsu.( Bhagavad-gita 17.21)
Sumbangan-sumbangan yang diberikan di tempat yang tidak suci, pada waktu yang tidak suci, kepada orang yang tidak patut menerimanya, atau tanpa perhatian dan rasa hormat yang benar dikatakan sebagai sumbangan dalam sifat kebodohan. (Bhagavad-gita 17.22)
Membaca seloka atau ayat Veda diatas, apa yang terbayang dalam pikiran anda? Takjubkah atau bagaimana? Silakan anda jawab didalam hati. Didalam kitab Undang-Undang Manawa Dharmasastra juga disebutkan hal yang serupa mengenai pahala sebagai berikut “bekerja hanya karena ingin mendapatkan pahala adalah perbuatan yang tidak terpuji, akan tetapi bekerja tanpa keinginan tidak dapat ditemukan di dunia ini. Veda serta pengamalanya sendiri didasari oleh keinginan akan pahala” (MDs.II.2)
Selanjutnya mari kita simak seloka Sarasassamucaya yang membahas perihal Dana Puniya (sedekah), namun yang tidak begitu penting selokanya disini tidak di tulis.
Bila orang berbuat kebajikan dengan memberi hadiah-hadiah, suka memberi pelajaran dan nasehat-nasehat walopun kepada orang miskin sehingga dapat menghibur hatinya, maka orang yang demikian akan selamatlah anak cucu dan keturunanya serta akan terkenalah kebaikan budinya . (SS.172)
Lain daripada itu, jika ada orang yang memberi pertolongan walaupun pada mereka yang terus menerus ingin mencelakakan dirinya tetapi suatu saat ditimpa duka cita dan datang meminta pertolongan padanya, maka orang yang demikian perbuatanya adalah manusia utama namanya, benar-benar orang budiman yang paling mulia. (SS.173)
Mampukah anda melakukan hal demikian, Walaupun seseorang selalu berniat jahat kepada kita? Jangan tanya mampu atau tidaknya , petunjuk veda sudah anda baca , tinggal melaksanakanya saja.
Pahala persedekahan (dana punia) bukan diterima oleh bapa ibu, akan tetapi orang yang bersedekah itu sendirilah yang mendapat pahalanya dana punia. (SS.175)
Adapun yang disebut persedekahan (dana punia) oleh orang bijaksana ialah sifat tidak dengki dan teguh iman dalam berbuat kebajikan, sebab jika itu dipegang teguh,akan selalu mendapat selamat yaitu sama pahalanya dengan melakukan upacara korban. (SS.176)
Adapun pahala dari upacara korban ialah kelak akan mengecap segala keindahan dan kenikmatan di alam sana. Adapun pahala orang yang suka menolong orang tua adalah kebijaksanaan tinggi, pahala orang ahimsa (tidak membunuh-bunuh,tidak menyakiti,kasih sayang terhadap semua makluk) ialah panjang usia, demikian kata orang bijaksana. (SS.177)
Bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada berdana punia (bersedekah), umumnya , orang sangat sayang akan harta kekayaan karena mendapatkanya dengan susah payah.( SS.178)
Jaman sekarang hal inilah yang sering terjadi, untuk memberikan sesuatu kepada peminta-minta , pengamen dll, kita berpikir panjang untuk memberikan uang kita karena kita ketahui cara mendapatkanya susah, sedangkan si pengamen tinggal meminta. buanglah pikiran-pikiran seperti itu,
Sekarang dengarkanlah perihal orang yang tinggi ilmu kebijaksanaanya, yaitu bahwa ia tidak sayang untuk mengorbankan harta benda, kekayaanya, walau nyawa sekalipun, apabila untuk kepentingan umum. Sebab ia sadar akan kekalan jiva dan ketidak kekakalan benda, keadaan lahiriah ini. Oleh karena itu ia rela mati demi untuk kepentingan umum. (SS.181)
Jiva yang ada didalam diri kita adalah kekal, jiva adalah percikan tuhan, “Brahman atman akyam” Tuhan dan atman (jiva) adalah kekal atau Tuhan dan jiva adalah hampir sama, yang membedakan adalah Jiva terikat oleh Karma. Pada saat mati hanya badan kasar yang mati sedangkan atman (jiva) tetap kekal , orang yang mengetahui hal ini maka ia tidak takut untuk mati mebela kebenaran dan berbuat demi kepentingan umum dan bella Negara.
Oleh karena itu yang harus diperbuat ialah jangan kikir dalam memberi dana puniya, buatlah usaha untuk amal, pergunakanlah kekayaan untuk meningkatkan kesejahteraan. Karena sesungguhnya, kewibawaan itu akan tidak berhenti menyertai kita apabila karma phala Yang menyebabkanya itu belum habis. (SS.182)
Begini nasehatku : kegunaan mempelajari pustaka suci veda ialah agar dapat memuja HYang Widhi Wasa dalam manifestasi Sanghyang Sivaagni, juga agar tahu mantra-mantra, tatacara pelaksanaan upacara korban dan upakara –uapakara lain dalam kehidupan (Widhi Wudhana) gunanya mengumpulkan harta kekayaan ialah untuk dinikmati dan disedekahkan. Gunanya wanita untuk diperistri dan melanjutkan keturunan. Manfaatnya kepandaian ialah untuk kebaikanya Sila dan Acara. Sila Artinya kepribadian dan budi pekerti, Acara artinya tingkah laku sehari-hari, sesuai dengan ajaran-ajaran agama. (SS.183)
Apalah gunanya harta kekayaan jika tidak disedekahkan dan tidak dinikmati, demikian juga kesaktian tidak akan ada gunanya jika tidak dipakai mengalahkan musuh, begitu pula ilmu pengetahuan tidak akan berguna jika tidak dipakai suluh untuk kesempurnaan terlaksananya tugas kewajiban. Demikian pula pengetahuan kebatinan tidak ada faedahnya jika tidak dipakai mengalahkan panca indra dan untuk menguasai sifat rajah(kebodohan) dan tamah(kegelapan). (SS.184)
Orang yang harta kekayaanya mengalir keluar masuk pembendaharaanya tetapi tidak dipergunakan untuk berdana puniya, ia adalah tidak lain dari orang mati, bedanya dengan mayat hanyalah ia masih bernafas, ia tidak bedanya dengan pompa apinya tukang emas. (SS.185)
Ada yang dinamai abhaya-dana ( pemberian perlindungan) yang nilainya lebih mulia dari segala pemberian , umpamanya pemberian sebidang tanah sekalipun, abhaya artinya tidak takut, dana artinya pemberian, ketidaktakutan itulah yang diberi pada setiap makhluk artinya ialah tidak menyebabkan takutnya mahkluk apapun juga , orang yang demikian perbuatanya tidak akan pernah mendapatkan bahaya di dunia ini semua mahluk menjadi cinta kasih dan hormat serta bhakti kepadanya sampai dikelak kemudian hari. (SS.186)
Didalam Lontar (kitab) slokantara disebutkan bahwa Ahimsa atau cinta kasih adalah kebenaran tertinggi
Bagaimana cara bersedekah?
Kapan waktu yang baik untuk bersedekah?
Apa saja yang patu disedkahkan?
Sekarang perhatikan dengan baik sloka yang selanjutnya.
Hal – hal yang tersebut dibawah ini memperbesar pahala dari suatu pemberian yaitu: Desa, Kala, Agama, Ksetra, Druwya, Datta, Manah.
Desa artinya pembagian tanah; Tanah yang subur dan sucilah yang patut di sedekahkan.
Kala artinya waktu yang baik berbuat sedekah antara lain waktu utarayan yaitu saat-saat matahari berkisar ke utara.
Agama yaitu pemberian ajaran pustaka suci yang menerangkan dengan mendalam perihal keagamaan.
Ksetra, yang dimaksud ksetra atau obyek ialah orang yang diberi sedekah itu antara lain orang yang berkelakuan baik dan orang yang memang tepat untuk diberi sedekah.
Druwya yakni barang yang disedekahkan haruslah baik.
Datta ialah orang yang memberi sedekah atau yang melakukan upacara korban hendaknya orang yang tepat untuk itu.
Manah artinya pikiran si pemberi sedekah itu haruslah tulus iklas.
Inilah yang menyebabkan pahala persedekahan yang lebih besar yaitu mendapatkan keselamatan. (SS.187)
Mengenai Kala (waktu) persedekahan Pada seloka SS.189 disebutkan juga Daksinayana (saat matahari berkisar ke selatan), Sadhamukha dan sitimukha(gerhana bulan dan gerhana matahari), serta ketika matahari berada di khatulistiwa. Bersedekah pada waktu – waktu tersebut amat besarlah pahalanya
Pemberian sedekah tidak tergantung dari jumlah sedekah melainkan bagaimana manfaat dan faedah sedekah itu terhadap si penerima dan juga dengan cara bagaimana sedekah itu diperoleh. Bukanlah jumlah yang banyak atau sedikit pemberian itu menghasilkan banyak sedikitnya pahala, tetapi tujuan utama pemberian itu yang penting dan juga halal atau haramnya cara memperoleh. hal ini disebutkan pada seloka Sarasamuscaya 190
Dan lagi orang yang memberi nasi pada waktu orang kelaparan dibandingka dengan pemberian emas pada waktu orang makmur, adalah sama nilainya. Kedua dermawan itu akan sama-sama menikmati kebahagian sorga kelak. (SS.188)
Janganlah berdana-puniya pada orang jahat, jangan suka mengagul-ngagulkan kegunaan atau jasa diri sendir, jangan menerima dana puniya yang diperoleh dengan jalan yang tidak patut dan jangan pula meminta tolong kepada orang jahat. (SS.191)
Adapun yang harus diberikan dana puniya ialah orang yang berkelakuan baik, orang miskin, orang yang tak dapat mencari makan, orang yang betul – betul memerlukan bantuan. Pemberian dana puniya (pertolongan) pada orang demikian akan besarlah pahalanya. (SS.193)
Yang harus diingat dan diperhatikan oleh para dermawan ialah jangan sekali-sekali mengharapkan pujian dan juga memberikan dana-puniya jangan berdasarkan karena takut, jangan mengharap supaya dapat balasan, dan jangan memberikan kepada orang yang ahklaqnya rendah. Itu yang patut diingat oleh seorang dermawan. Memberi sedekah adalah sudah merupakan kewajiban, tetapi bukanlah sedekah namanya jika diberikan dengan mengharapkan balasan (pahala). (SS.194)
Perhatikan juga seloka Bhagawad Gita sebagai berikut :
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material. (Bhagavad-gita 17.25)
Apa bila ayah bunda yang meminta, biar nyawa sekalipun yang diminta , berikanlah kepadanya, sebab merekalah yang mengadakan kamu. (SS.195)
Baca berulang –ulang sloka diatas (SS.195), jaman sekarang terutama generasi muda banyak yang sudah berani menentang permintaan orang tua. Sadarilah bahwa kita sangat berhutang kepada orang tua. Renungkan pula sloka dibawah ini
Bahwa amat besarlah kesakitan yang dirasakan oleh seorang ibu ketika melahirkan kita. Sekarang kita berhutang segala-galanya kepadanya yang tak akan terbalaskan sampai seratus tahun (seumur hidup). (SS.196)
Ya, anaku ri Janamejaya, orang yang miskinlah yang anaku hares beri dana puniya. Jangan bersedekah kepada orang kaya, memang seyogyanya kepada orang sakitlah obat itu hares diberikan , karena untuk orang yang sehat, obat itu tidak ada gunanya. (SS.197)
Apa bila ada orang melarat tetapi tidak meminta bantuan usahakan agar ia dapat pertolongan sebab memperhatikan kesejahetraan umum tanpa pamrih bagi diri sendiri adalah puncaknya kebaikan, itulah yang didapati dalam memberikan sedekah kepada orang yang memerlukan, tanpa menunggu untuk dimintai. (SS.198)
Dan lagi jangan sekali-sekali marah kepada orang yang meminta sedekah. Janganlah diusir, walaupun ia orang hina atau meski anjing sekalipun, karena sesungguhnya tidak akan sia-sialah pemberian dana-puniya terhadap mereka .(SS.199)
Dan lagi siapakah yang akan demikian gegabah mencela orang yang meminta sedekah, orang yang meminta-minta setiap hari dan orang meminta dengan sangat? Karena bukanlah mereka itu dapat diumpamakan sebagai guru yang mengajar kita untuk berbuat kebajikan? Atau sebagaia matahari yang setiap hari terbit menghilangkan gegelapan hati kita? Atau sebagai orang pembersih kaca yang tak hentinya menggosok menghilangkan kotor-kotoran dalam hati kita? Demikianlah orang yang meminta-minta itu sesungguhnya. (SS.200)
Sebenarnya tidak dosa yang lebih besar daripada hal-hal sebagai berikut yaitu orang yang menjawab dengan “ Nasti” dan orang yang mengatakan “ Dehi” .
“ Dehi” : ‘Berikan padaku’ demikian kata orang yang ingin mendapatkan apa yang diminta,
“Nasti” : ‘tidak ada’ demikian sahut orang kikir yang dimintai itu. Kedua hal yang merupakan puncaknya dosa.baikpun yang berkata “Dehi” maupun yang menjawab dengan perkataan “Nasti” keduanya itu berdosa secara timbal balik. Tegasnya , kedua belah pihak sama-sama berbuat dosa (SS.201)
Bagaimana cara sopan santun dalam meminta sedekah?
Untuk menghilangkan dosa dalam meminta-minta , si peminta-minta itu hendaknya meberi nasehat dengan berkata : “tidak baik orang bersifat kikir, usahakanlah memberikan sedekah, lihatlah akibatna orang tidak mau memberikan sedekah pada waktu hidup dahulu. Ia sekarang menjadi sebagai saya maukah tuan sebagai saya sekarang ini? Oleh karena itu buatlah persedekahan”. Demikian bayanganya yang diberikan sehingga sebenarnya tidak hanya meminta tetapi juga memberikan nasehat , itu menyebabkan perbuata menjadi suci (SS.202)
Perlu digaris bawahi, Walaupun dikatakan cara demikian dapat menyebabkan si peminta-minta menjadi suci, hendaklah jangan mencoba meminta-minta, karena hal demikian menyebabkan kita menjadi malas-malasan.
Tambahan pula, biarpun ada ataupun tidak ada pahalanya, berikanlah dana-puniya sebagaimana mestinya dan seberapa dapatnya. Demikian pulalah halnya di hadapan Hyang Widhi Wasa. Pemberian dana-puniya atau persembahan itu pastilah berpahala. Itulah yang diperbuat pertama-tama. (SS.203)
Bahwa dana puniya berwujud emas, sapi dan sawah ladang itu amat suci. Suci maksudnya dapat menghilangkan malapetaka dan menghantarkan manusia ke sorga loka. (SS.204)
Singkatnya, adapun yang patut disedekahkan ialah emas, perak, nutiara, perhiasan, sawah, ladang dan segala yang berharga itulah berikan. (SS.205)
Apabila dupa harum, boreh wangi, kain-kain halus, karangan bunga, dan lain-lain yang disedekahkan, orang-orang yang mensedekahkan itu akan menjelma kelak akan menjadi orang cantik, sehat walafiat dan berbudi pekerti yang baik. (SS.207)
Anda yang tidak meyakini adanya Kelahiran Berulang-ulang (reinkarnasi)mungkin akan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil, jika anda merenungkan sloka diatas mungkin pola pikir anda akan berubah. Itulah atas jawaban mengapa seseorag bisa lahir kaya, cakep, berwibawa, disegani begitu sebaliknya lahir berwajah buruk , hidup miskin dll. Tuhan itu maha adil dengan aturan yang beliau buat bahwa apa yang kita lakukan akan menghasilkan akibat yaitu dengan peraturan “hukum karma pahala” atau sebab dan reaksi
Adapun memberikan sedekah yang gampang mendapatkanya sebagai umpama: minyak, air,obor, pahalanya ialah akan hidup senang dengan seluruh keluarganya di akhirat. (SS.208)
Orang yang menyedekahkan pelita, pahalanya kemudian ialah bahwa matanya bersinar nyalang, rupawan, lampai, halus, jernih, berseri mukanya. Jika obor (lampu) yang di sedekahkan akan menjelma menjadi orang rupawan, berwibawa dan bergemilang cahaya mukanya kelak. (SS.210)
Pahalanya menghaturkan dana puniya (sedekah) pada seorang pendeta, kelak sampai Indralokadipuja dan dihormati oleh bidadara-bidadari. (SS.211)
Kalau terompah atau sandal sepatu yang disedekahkan, ia akan selamat tak kurang apa-apa, berpahala sorga kelak, disayangi oleh para dewa. (SS.212)
Bagaimana semestinya sikap kita dalam bersedekah?
Biarpun sedekahnya banyak tak ada taranya walaupun semua kepunyaanya di sedekahkan, tetapi jika memberikanya itu denga pikiran keruh dan tidak dengan tulus ihklas, tidaklah berguna sedekah itu. Singkatnya, kerelaan hatilah yang menentukan pahalanya dari persedekahan itu. (SS.213)
Apa bila seseorang ingin tidak kekurangan suatu apa di akhirat kelak maka ia hendaknya memberikan sedekah kepada orang gunawan(miskin) segala sesuatu (apa-apa yg miliki) yang ia sendiri sangat cintai dan sukai. (SS.214)
Apa yang tidak patut kita lakukan saat bersedekah?
Apa bila persedekahan itu diberikan dengan penghinaan dan kemarahan, dengan tidak tulus ikhlas serta tidak percaya akan adanya hukum karma phala, maka pemberian itu adalah sedekah yang hina dan amat rendah pulalah pahalanya kelak. Demikian kata orang pandai-pandai. (SS.216)
Segala perbuatan, baikpun memuja ataukah member sedekah, bertapa atau berbuat amal tetapi tidak disertai ketulusan hati, segala perbuatan itu dianggap hina dan tidak ada gunanya pada kehidupan ini ataupun pada penjelmaan yang akan datang. (SS.217)
Dibawah ini petunjuk bagi para pemula terutama generasi muda, cara mudah untuk memulai belajar bersedekah:
Bagi orang yang baru mulai belajar melakukan dana puniya, mulailah dengan memeberikan barang-barang yang tidak berharga mahal semacam pucuk kayu, kecambah, umbi-umbian dan banyak lagi sebangsa ini yang gampang diperoleh. Kalau telah ikhlas memberikan yang tersebut diatas (dan sebangsanya) tanpa sedikitpun ada rasa saying memberikanya, itulah permulaan dari kebiasaan baik yang akhirnya akan rela memberikan apapun juga walau sampai darah dan daging sekalipun (SS.218)
Orang yang memerintahkan saja , menyuruh kepada orang lain bersedekah (sedangkan ia sendiri tidak) banyak atau sedikit, orang demikian perbuatanya tidak akan bisa mencapai maksudnya kelak, tidak berpahala segala tujuan dan angan-anganya, sebagai halnya orang mandul yang tak berhasil segala yang dibuatnya. (SS.219)
Menyimak sloka diatas penulis jadi merasa malu…..
Ada yang berkata begini : “Ya Hyang Widhi , saya akan berbuat kebajikan , saya akan berbuat segala apa yang diaanggap baik” tetapi nyatanya ia tidak sungguh-sungguh melakukanya, maka hilang;ah “Ista” Dan “Purta”-nya. (SS.220)
Pemujaan kepada hyang Eka-agni, pada Hyang Tri-agni dan sedekah yang diberikan pada waktu upacara korban (pen-dana-an). Itulah “Ista” namanya. (SS.221)
Pemberian yang berbentuk waduk-waduk, sumur-sumur, telaga-telaga yang mengalir, kahyangan-kahyangan tempat memuja, penginapan-penginapan, tetamanan, balai peristirahatan, tempat berteduh di sepanjang jalan dan sebagainya termasuk dpur umum; inilah “Purta” namanya. (SS.222)
Adapun orang yang tanpa menghiraukan bahwa dirinya sendiri lapar, tetapi memberikan nasi bekalnya kepada kelana yang tidak dikenalnyayang dijumpai di perjalanan dan kepayahan, besarlah pahala kebaikan yang akan diterimanya kelak. (SS.225)
Apabila ada orang yang antara lain berbuat kebajikan dengan memberikan nafkah kepada orang yang kelaparan, miskin, rendah hati, dan yang tidak tahu dimana ia bisa mencari makan untuk menghilangkan laparnya maka orang yang berbuat kebajikan demikian tidak ada bandingnya di dunia ini dan pun di dunia sana. (SS.226)
Sebab sedekah yang berupa makanan pasti membuat senang baikpun bagi pemberi apa lagi yang diberi, demikianlah kenyataan akibat dari pemberian yang menyenangkan. (SS.227)
Yang harus diberikan kepada orang yang menderita, ditimpa kesusahan, ialah bantuan pertolongan. Kepada orang yang kepayahan dating padamu untuk beristirahat berikanlah tikar dan bale-bale, kepada orang yang haus airlah sedekahnya dan kepada orang yang lapar berikanlah makanan. (SS.228)
Dan lagi pandangan yang ramah , hati yang tulus ikhlas, kata-kata yang mengembirakan serta penyambutan yang sopan santun , semua ini hendaknya dilakukan untuk menyertai pemberian sedekah sebagai mana mestinya. (SS.229)
Sebagai pembanding Kitab sarassamuscaya mari kita simak juga isi kitab Canakya Niti Sastra yang membahas perihal Dana-puniya (sedekah)sebagai berikut:
Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan, kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkanya baik-baik. (CNs.V.11)
Pelajaran veda tanpa korban suci agni hotra (atau yadjna yang lainya) adalah sia-sia belaka. Korban suci tanpa disertai dana puniya tidaklah sempurna, tanpa disertai rasa bhakti semua ini tidaklah berhasil, oleh karena itu, hal yang paling penting adalah bhakti yaitu penyebab dari segala keberhasilan. (CNs. VII)
Sifat-sifat yang baik adalah hiasan dari wajah, keluarga diharumkan pleh tingkah laku yang baik dan benar, ilmu pengetahuan dicemerlangkan oleh keberhasilan, dan hiasan dari kekayaan adalah dengan mendana-puniyakan. (CNs.VIII.15)
Keindahan wajah, tanpa sifat-sifat yang baik tidak ada artinya, tingkah laku yang jahat menyebabkan keluarga hancur, tanpa kesuksesan ilmu pengetahuan menjadi sia-sia, kekayaan tidak ada gunanya dan akan mengalami kemusnahan kalau tidak dinikmati dengan cara mendana-puniyakan. (CNs.VII.16)
Orang baik-baik hendaknya senantiasa menyumbangkan makanan dan hartanya (kekayaan), semua itu jangan dikumpulkan,. Lihatlah, bahwa kemasyuran raja Karna, Maharaja Bali, dan Vikramaditya masih tetap dipuji-pujki hingga sekarang. Bahkan san lebah berpikir “oh , sialan,madu kita, yang sejak begitu lama kita kumpulkan, menahan diri untuk tidak dinikmatinya, tetapi sekarang dalam sekejap telah diambil pleh manusia”. Demikianlah keluh kesah sang lebah sambil menghentakan kakinya ke tanah. (CNs.XI.18)
Untuk kitab Bhagawad Gita yang membahas bersedekah diambil Cuma sedikit, silakan untuk disimak
Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana. (Bhagawad Gita. 18.5)
Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.
Korban suci apa pun yang dilakukan tanpa mempedulikan petunjuk kitab suci, tanpa membagikan prasadam [makanan rohani], tanpa mengucapkan mantra-mantra veda, tanpa memberi sumbangan kepada para pendeta dan tanpa kepercayaan dianggap korban suci dalam sifat kebodohan. (Bhagavad-gita 17.13)
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.( Bhagavad-gita 17.25)
Apa pun yang dilakukan sebagai korban suci, kedermawanan maupun pertapaan tanpa keyakinan terhadap Yang Mahakuasa tidak bersifat kekal, wahai putera prtha. Kegiatan itu disebut ‘asat’ dan tidak berguna dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.( Bhagavad-gita 17.28)
Sumber :
·Kitab Sarassamuscaya (terbitan upada sastra,1991) merupakan Veda Smerti yang isinya dikumpulkan oleh Bhagavan Wararuci dari sari-sari wiracarita (epik) Mahabharata susunan ‘Bhagavan Byasa’ yang di uraikan oleh Bhagavan Waisampayana di hadapan Maharaja Janamejaya (cucu Arjuna), Wararuci termasuk salah seorang dari sembilan pujangga mutiara di istana raja Wikramaditya. Pustaka suci Sarasasmuschaya (SS) ini tertulis dalam dua bahasa yaitu: bahasa Sansekerta dan bahasa Kawi (Jawa kuno) , bahasa Kawinya adalah tafsiran dan perluasan seloka-seloka (ayat) yang berbahasa Sansekerta dengan arti dan maksud yang tepat. Namun dalam pembahasan disini hanya terjemahan bahasa indonesianya saja yang ditulis, begitu juga dengan Seloka Bhagawad Gita dan Canakya Niti Sastra
·Canakya Niti Sastra( CNs), kitab ini tergolong Veda Smerti yang ditulis oleh Rsi Canakya, juga terkenal dengan nama lain yaitu “Visnu Gupta” dan “Kautilya”. Brahmana hebat ini adalah Penghancur Raja Nanda sedinasti.
·Bhagawad Gita merupakan Wejangan Sri Kresna kepada Arjuna pada saat Perang Mahabharata, yang merupakan Inti sari Veda Sruti dan Smerti
Sebagai penutup, silakan renungkan seloka Canakya Niti Sastra sebagai berikut:
Meremehkan kebijksanaan ajaran Veda, menghina tingkah laku / kegiatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran sastra (veda), menjelekan orang yang selalu berkata-kata lembut bijaksana, tidak lain lagi inilah yang menyebabkan kekalutan dunia. (CNs.V.10)
Om shanti, Shanti, Shanti Om
Semoga semua makluk berbahagia dan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru
PERIHAL TANPA KEPERCAYAAN (Nastika) ATAU ATHEIS YANG TERTUANG DIDALAM KITAB SARASSAMUSCAYA
Om avighnam astu
Atas wara nugraha Hyang Widhi,semoga tidak ada rintangan
Kitab Sarassamuscaya (terdiri dari 517 bait) adalah tuntunan bagi mereka yang sudah meliwati Grhasta Asrama(hidup berumah tangga), atau tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama (mejauhkan diri dari kesenangan duniawi,hiburan.dll), apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka (orang suci,pertapa,Lansia.dll). walopun demikian isi seloka/ayat-ayat bagian awal sesuai juga untuk kita (anak-anak,remaja dan dewasa) terutama yg membicarakan perihal:
Dasar dan Tujuan hidup ; Kelahiran sebagai manusia adalah kelahiran yg utama sehingga mampu merubah dari hal-hal yg buruk menjadi hal-hal yang baik untuk mencapai tujuan hidup yaitu kebahagian rohani (moksa) dan kebahagian jasmani(tercapainya keinginan dan kepuasan duniawi),sloka 8 sampai sloka 17
Keagungan Dharma; Dharma bagaikan cahaya matahari yg menghilangkan kegelapan dunia, Dharma merupakan jalan untuk sampai ke sorga dan moksa (kembalinya Atman/roh kepada sumbernya yaitu Brahman/tuhan),sloka 18 sampai sloka 42
Sumber Dharma ; Veda sruti, Veda smerti dan Sistacara/meniru dari orang-orang bijaksana (orang suci), yaitu sloka 43 sampai sloka 46
Pelaksanaan Dharma ; Dharma/kebenaran adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri, untuk mencapai tujuan hidup harus berlandaskan Dharma, kekayaan yang didapat tidak dengan berbuat dharma adalah kekayaan yang sia-sia,haram dll, sloka 47 sampai sloka 60
Catur Varna; Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra. sloka 61 sampai 78, kedudukan ini didapat berdasarkan profesi bukan berdasarkan keturunan. Catur varna diselewengkan menjadi kasta, padahal tidak ada satupun sloka veda yg menyebutkan kasta, yang ada adalah catur varna.
Trikaya Parisuda ; berpikir,berkata dan berbuat yg baik dan benar ,dijelaskan bahwa pikiranlah faktor utama dalam segala hal.sloka 79 sampai 99
Kemarahan ; kemarahan dikatakan sebagai sumber malapetaka, segala yadnya/korban suci akan sia-sia jika kemarahan tidak terkendali,d itekankan bahwa begitu perlu adanya kesabaran (ksamawan) dalam kehidupan sehari-hari. sloka 100 sampai 115
Orang Tanpa Kepercayaan (Nastika atau Atheis ala jaman kuno) sloka 116 sampai sloka 122
Nah untuk yang ini mari kit baca sloka-slokanya sebagai berikut:
Sarasamusscaya.116
Yang harus kita jauhkan ialah ketidakpercayaan akan dunia akhirat, ketidakpercayaan pada pahala dari baik buruknya perbuatan(karma phala), mencela pustaka suci veda, memaki tuhan, iri hati,suka memuji diri sendiri, angkara, pemarah, suka bicara menyinggung perasaan, suka mendengar Yang tidak patut didengar,semua itu patut dijauhkan dari pikiran.
Kelihatanya mudah memang, tetapi dalam prakteknya sulit sekali. tetapi sebegitu sulitkah? Sepertinya tidaklah sesulit apa yang kita bayangkan asal ada kemauan seperti kemauan mencari kekayaan. Kenapa pada sloka diatas disuruh menjauhkan dari pikiran? sebab sumber utama dalam menentukan sesuatu adalah pikiran, maka dari itu pikiran disebut Raja Indria (rajendrya)
Sarassamuscaya 117
Biarpun tidak percaya dengan dunia akhirat dan pahala baik buruknya perbuatan(karma phala), sedikit-sedikitnya lenyapkanlah juga perbuatan jahat,demikian tersebut dalam kitab agama, Meski keterangan seorang pendeta itu tidak seluruhnya benar,walaopun keterangan agama mengenai sorga dan neraka serta pahala perbuatan baik buruk itu menyimpang,tak ada celanya menuruti perkataan sang pendeta dan menjauhkan perbuatan jahat.demikian tersebut dalam kitab agama. Apabila ajaran agama mengenai pahala perbuatan baik buruk itu benar, maka jika orang yang tidak percaya akan hal itu, waktu meninggal tentulah ia tenggelam di neraka.
Sekarang Kita hitung-hitungan ala modern karena kita hidup pada jaman modern,
1.Jika keterangan pahala baik buruknya perbuatan dan adanya surga neraka benar maka;
\Orang yang tidak percaya hukum karma dan surga neraka : Rugi
\Orang yang percaya hukum karma dan surga neraka : Untung
2.Jika keterangan pahala baik buruknya perbuatan dan adanya surga neraka salah maka;
\Orang yang tidak percaya dan orang yang percaya hukum karma dan surga neraka : sama-sama tidak rugi
Sekarang anda mau pilih yang mana? Namanya pilihan,, terkadang orang sudah tahu yang dia pilih rugi tetapi tetap dia pilih yang rugi beginilah kali yuga , jaman kemerosotan moral, seperti disebutkan didalam bawisya purana bahwa pada jaman kali “Orang buta di tuntun orang buta”
Note: Kali Yuga sudah mulai ribuan tahun yg lalu dan masih berlangsung ribuan tahun yg akan datang , Kali-Yuga adalah salah satu dari empat (catur) Yuga yang kondisi kehidupan manusianya paling buruk dan paling jelek akibat kegelapan spiritual. Keempat Yuga dimaksud adalah Satya-Yuga, Treta-Yuga, Dvapara-Yuga, dan Kali-Yuga.
Sarassamuscaya 118
Orang bijaksana sadar bahwa adanya alam sana atau sorga neraka itu tidak dapat dilihat dengan mata,tetapi karena sudah ada ajaran agama yang menentukan , maka kepercayaan kitapun teguhlah
Sarassamuscaya 119
Dan lagi kalau kita tidak mempercayai ajaran suci veda,tidak menuruti petunjuk-petunjuk perikebijakan (Dharmasastra) dan tidak menuruti suruhan agama,tentu setelah meninggal akan kembali menjelma dalam hidup kesengsaraan.
Yang dimaksud veda disini jangan diartikan secara sempit, veda urat kata dari Vid : tahu, Veda : Pengetahuan (pengetahuan suci pen), jadi bukan hanya veda yang ada di agama hindu, bisa juga pengethuan suci masing-masing agama yang anda yakini. Begitu juga dengan perikebijakan (dharmasastara) dharmasastra yang dimaksud bukan hanya kitab undang-undang Manawa dharmasastra, Yajnavalkya smrti, Samkhalikhita smrti dan Parasara smrti melainkan kitab undang-undang Negara dimana kita berada seperti di Indonesia UUD 45, Perpu, PP, Undang-undang tindak pidana dll
Sarassamuscaya 120
Apabila ada orang yang tidak percaya kepada pahala baik buruknya perbuatan, melanggar suruhan agama, biar pun ia suka menerimamu, jauhilah ia, janganlah bergaul akrab denganya, sebab ia itu tidak berbeda keadaanya dengan angin kencang di tebing sungai, selalu menimbulkan kekhawatiran. Dan lagi ia seperti debu berterbangan yang kelihatanya halus tetapi kotor diliputi kecemaran
Biasanya orang yang tidak percaya akan sebab akibat baik buruknya perbuatan ,surga neraka akan berbuat semaunya dan menyenangkan diri dengan mengejar kepuasan duniawi yg bersifat sementara saja dan hanya mementingkan diri sendiri,menyakiti makluk hidup tanpa menaruh rasa cinta kasih terhadap makluk ciptaan Tuhan, menjadi duri didalam kehidupan bermasyarakat. “bagaikan debu berterbangan yang kelihatanya halus tetapi kotor diliputi kecemaran” . tujuan hidup sebagai manusia adalah merubah hal-hal yang buruk menjadi baik sehingga bisa mencapai kebahagian rohani (moksa) bukan merubah hal-hal yang baik menjadi buruk untuk mencapai kesengsaraan rohani (masuk neraka)
Sarassamuscaya 121
Sebenarnya orang yang tidak berkepercayaan (nastika/atheis) adalah orang yang tidak berusaha berbuat kegunaan, kebajikan dan kebahagian jiwa , orang yang tidak menghargai ajaran agama atau nasehat guru-guru suci, orang yanng suka menyiksa dan membunuh, orang yang berkelakuan jahat. Orang demikian sama dengan berkeadaan mati
kebahagian jiwa artinya kebahagian atman (roh) didalam tubuh, kita hendaknya berusaha bebas dari kukungan badan kasar (seperti burung dalam sangkar) dengan berbuat kebajikan agar roh bisa bebas dari karma buruk sehingga roh terbebas (hidup kekal/kembali ke asal mula yaitu Brahman (tuhan)
berkeadaan mati sama dengan mayat hidup artinya orang yang hidup tiada berguna dalam kehidupan bermasyarakat karena perilaku jahat orang tersebut.
Sarassamuscaya 122
Adapun orang yang tak berkepercayaan itu hanyalah mementingkan keadaan badan-badan kasarnya saja yaitu dengan memperbanyak darah dan dagingnya, pekerjaan yang menguntungkan hanya pada waktu sekarang saja yang dikerjakanya, tetapi hal-hal yang berpahala sorga atau nirvana kelak dilalaikanya , tidak dihiraukanya sama sekali
Walopun kita tahu berbuat baik sesuai aturan, percaya akan pahala sorga bukan berarti setiap kita berbuat selalu memikirkan atau menghitung pahala surga, itu salah besar . lakukanlah dengan ilklas, lakukan dengan senang hati sebagai kewajiban. Mungkin, seperti kita makan, minum, tidur dll
Mari kita simak sloka Bhagawad Gita yang menjelaskan kerja tanpa pamerih sebagai berikut;
Bhagavad-gita 2.48
Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.
Bhagavad-gita 2.49
Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah orang pelit.
Bhagavad-gita 2.50
Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan.
Bhagavad-gita 2.51
Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa).
By : Mertamupu
Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru
Om shanti, shanti , shanti Om
I Ketut Merta Mupu,SH.03.12.00AdminBandung Indonesia
PERIHAL TANPA KEPERCAYAAN (Nastika) ATAU ATHEIS YANG TERTUANG DIDALAM KITAB SARASSAMUSCAYA
Om avighnam astu
Atas wara nugraha Hyang Widhi,semoga tidak ada rintangan
Kitab Sarassamuscaya (terdiri dari 517 bait) adalah tuntunan bagi mereka yang sudah meliwati Grhasta Asrama(hidup berumah tangga), atau tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama (mejauhkan diri dari kesenangan duniawi,hiburan.dll), apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka (orang suci,pertapa,Lansia.dll). walopun demikian isi seloka/ayat-ayat bagian awal sesuai juga untuk kita (anak-anak,remaja dan dewasa) terutama yg membicarakan perihal:
Dasar dan Tujuan hidup ; Kelahiran sebagai manusia adalah kelahiran yg utama sehingga mampu merubah dari hal-hal yg buruk menjadi hal-hal yang baik untuk mencapai tujuan hidup yaitu kebahagian rohani (moksa) dan kebahagian jasmani(tercapainya keinginan dan kepuasan duniawi),sloka 8 sampai sloka 17
Keagungan Dharma; Dharma bagaikan cahaya matahari yg menghilangkan kegelapan dunia, Dharma merupakan jalan untuk sampai ke sorga dan moksa (kembalinya Atman/roh kepada sumbernya yaitu Brahman/tuhan),sloka 18 sampai sloka 42
Sumber Dharma ; Veda sruti, Veda smerti dan Sistacara/meniru dari orang-orang bijaksana (orang suci), yaitu sloka 43 sampai sloka 46
Pelaksanaan Dharma ; Dharma/kebenaran adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri, untuk mencapai tujuan hidup harus berlandaskan Dharma, kekayaan yang didapat tidak dengan berbuat dharma adalah kekayaan yang sia-sia,haram dll, sloka 47 sampai sloka 60
Catur Varna; Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra. sloka 61 sampai 78, kedudukan ini didapat berdasarkan profesi bukan berdasarkan keturunan. Catur varna diselewengkan menjadi kasta, padahal tidak ada satupun sloka veda yg menyebutkan kasta, yang ada adalah catur varna.
Trikaya Parisuda ; berpikir,berkata dan berbuat yg baik dan benar ,dijelaskan bahwa pikiranlah faktor utama dalam segala hal.sloka 79 sampai 99
Kemarahan ; kemarahan dikatakan sebagai sumber malapetaka, segala yadnya/korban suci akan sia-sia jika kemarahan tidak terkendali,d itekankan bahwa begitu perlu adanya kesabaran (ksamawan) dalam kehidupan sehari-hari. sloka 100 sampai 115
Orang Tanpa Kepercayaan (Nastika atau Atheis ala jaman kuno) sloka 116 sampai sloka 122
Nah untuk yang ini mari kit baca sloka-slokanya sebagai berikut:
Sarasamusscaya.116
Yang harus kita jauhkan ialah ketidakpercayaan akan dunia akhirat, ketidakpercayaan pada pahala dari baik buruknya perbuatan(karma phala), mencela pustaka suci veda, memaki tuhan, iri hati,suka memuji diri sendiri, angkara, pemarah, suka bicara menyinggung perasaan, suka mendengar Yang tidak patut didengar,semua itu patut dijauhkan dari pikiran.
Kelihatanya mudah memang, tetapi dalam prakteknya sulit sekali. tetapi sebegitu sulitkah? Sepertinya tidaklah sesulit apa yang kita bayangkan asal ada kemauan seperti kemauan mencari kekayaan. Kenapa pada sloka diatas disuruh menjauhkan dari pikiran? sebab sumber utama dalam menentukan sesuatu adalah pikiran, maka dari itu pikiran disebut Raja Indria (rajendrya)
Sarassamuscaya 117
Biarpun tidak percaya dengan dunia akhirat dan pahala baik buruknya perbuatan(karma phala), sedikit-sedikitnya lenyapkanlah juga perbuatan jahat,demikian tersebut dalam kitab agama, Meski keterangan seorang pendeta itu tidak seluruhnya benar,walaopun keterangan agama mengenai sorga dan neraka serta pahala perbuatan baik buruk itu menyimpang,tak ada celanya menuruti perkataan sang pendeta dan menjauhkan perbuatan jahat.demikian tersebut dalam kitab agama. Apabila ajaran agama mengenai pahala perbuatan baik buruk itu benar, maka jika orang yang tidak percaya akan hal itu, waktu meninggal tentulah ia tenggelam di neraka.
Sekarang Kita hitung-hitungan ala modern karena kita hidup pada jaman modern,
1.Jika keterangan pahala baik buruknya perbuatan dan adanya surga neraka benar maka;
\Orang yang tidak percaya hukum karma dan surga neraka : Rugi
\Orang yang percaya hukum karma dan surga neraka : Untung
2.Jika keterangan pahala baik buruknya perbuatan dan adanya surga neraka salah maka;
\Orang yang tidak percaya dan orang yang percaya hukum karma dan surga neraka : sama-sama tidak rugi
Sekarang anda mau pilih yang mana? Namanya pilihan,, terkadang orang sudah tahu yang dia pilih rugi tetapi tetap dia pilih yang rugi beginilah kali yuga , jaman kemerosotan moral, seperti disebutkan didalam bawisya purana bahwa pada jaman kali “Orang buta di tuntun orang buta”
Note: Kali Yuga sudah mulai ribuan tahun yg lalu dan masih berlangsung ribuan tahun yg akan datang , Kali-Yuga adalah salah satu dari empat (catur) Yuga yang kondisi kehidupan manusianya paling buruk dan paling jelek akibat kegelapan spiritual. Keempat Yuga dimaksud adalah Satya-Yuga, Treta-Yuga, Dvapara-Yuga, dan Kali-Yuga.
Sarassamuscaya 118
Orang bijaksana sadar bahwa adanya alam sana atau sorga neraka itu tidak dapat dilihat dengan mata,tetapi karena sudah ada ajaran agama yang menentukan , maka kepercayaan kitapun teguhlah
Sarassamuscaya 119
Dan lagi kalau kita tidak mempercayai ajaran suci veda,tidak menuruti petunjuk-petunjuk perikebijakan (Dharmasastra) dan tidak menuruti suruhan agama,tentu setelah meninggal akan kembali menjelma dalam hidup kesengsaraan.
Yang dimaksud veda disini jangan diartikan secara sempit, veda urat kata dari Vid : tahu, Veda : Pengetahuan (pengetahuan suci pen), jadi bukan hanya veda yang ada di agama hindu, bisa juga pengethuan suci masing-masing agama yang anda yakini. Begitu juga dengan perikebijakan (dharmasastara) dharmasastra yang dimaksud bukan hanya kitab undang-undang Manawa dharmasastra, Yajnavalkya smrti, Samkhalikhita smrti dan Parasara smrti melainkan kitab undang-undang Negara dimana kita berada seperti di Indonesia UUD 45, Perpu, PP, Undang-undang tindak pidana dll
Sarassamuscaya 120
Apabila ada orang yang tidak percaya kepada pahala baik buruknya perbuatan, melanggar suruhan agama, biar pun ia suka menerimamu, jauhilah ia, janganlah bergaul akrab denganya, sebab ia itu tidak berbeda keadaanya dengan angin kencang di tebing sungai, selalu menimbulkan kekhawatiran. Dan lagi ia seperti debu berterbangan yang kelihatanya halus tetapi kotor diliputi kecemaran
Biasanya orang yang tidak percaya akan sebab akibat baik buruknya perbuatan ,surga neraka akan berbuat semaunya dan menyenangkan diri dengan mengejar kepuasan duniawi yg bersifat sementara saja dan hanya mementingkan diri sendiri,menyakiti makluk hidup tanpa menaruh rasa cinta kasih terhadap makluk ciptaan Tuhan, menjadi duri didalam kehidupan bermasyarakat. “bagaikan debu berterbangan yang kelihatanya halus tetapi kotor diliputi kecemaran” . tujuan hidup sebagai manusia adalah merubah hal-hal yang buruk menjadi baik sehingga bisa mencapai kebahagian rohani (moksa) bukan merubah hal-hal yang baik menjadi buruk untuk mencapai kesengsaraan rohani (masuk neraka)
Sarassamuscaya 121
Sebenarnya orang yang tidak berkepercayaan (nastika/atheis) adalah orang yang tidak berusaha berbuat kegunaan, kebajikan dan kebahagian jiwa , orang yang tidak menghargai ajaran agama atau nasehat guru-guru suci, orang yanng suka menyiksa dan membunuh, orang yang berkelakuan jahat. Orang demikian sama dengan berkeadaan mati
kebahagian jiwa artinya kebahagian atman (roh) didalam tubuh, kita hendaknya berusaha bebas dari kukungan badan kasar (seperti burung dalam sangkar) dengan berbuat kebajikan agar roh bisa bebas dari karma buruk sehingga roh terbebas (hidup kekal/kembali ke asal mula yaitu Brahman (tuhan)
berkeadaan mati sama dengan mayat hidup artinya orang yang hidup tiada berguna dalam kehidupan bermasyarakat karena perilaku jahat orang tersebut.
Sarassamuscaya 122
Adapun orang yang tak berkepercayaan itu hanyalah mementingkan keadaan badan-badan kasarnya saja yaitu dengan memperbanyak darah dan dagingnya, pekerjaan yang menguntungkan hanya pada waktu sekarang saja yang dikerjakanya, tetapi hal-hal yang berpahala sorga atau nirvana kelak dilalaikanya , tidak dihiraukanya sama sekali
Walopun kita tahu berbuat baik sesuai aturan, percaya akan pahala sorga bukan berarti setiap kita berbuat selalu memikirkan atau menghitung pahala surga, itu salah besar . lakukanlah dengan ilklas, lakukan dengan senang hati sebagai kewajiban. Mungkin, seperti kita makan, minum, tidur dll
Mari kita simak sloka Bhagawad Gita yang menjelaskan kerja tanpa pamerih sebagai berikut;
Bhagavad-gita 2.48
Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.
Bhagavad-gita 2.49
Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah orang pelit.
Bhagavad-gita 2.50
Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan.
Bhagavad-gita 2.51
Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa).
By : Mertamupu
Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru