Voice Of Merta Mupu

Voice Of Merta Mupu : Cerita Tak Tertata

Motivasi Menulis

Channel Youtube

Video Porno Penyebab Seks Bebas?

Video Porno Penyebab Seks Bebas?

Pergaulan generasi muda saat ini semakin bebas bahkan liar. Seks diluar perkawinan dianggap biasa, kumpul kebo menjadi pemandangan umum, kasus pemerkosaan semakin menjadi-jadi. Dari kesenangan sesaat ini akan memunculkan berbagai masalah yang sangat pelik, bahkan dalam jangka panjang. Misalnya meningkatnya kasus aborsi; menggugurkan bayi dalam kandungan.

Sebenarnya yang lebih mengerikan, anak yang lahir (dicetak) dari seks diluar perkawinan akan menjadikan generasi rusak. Jangan salahkan anak nanti jika suatu saat dia menjadi anak yang brutal, suka melawan orag tua, tidak taat kepada orang tua, tidak lagi bebhakti kepada Tuhan; bisa jadi ia datang ke tempat suci (pura) untuk sembahyang, akan tetapi ia tidak rindu pada Tuhan tetapi rindu pada teman-temannya. Hahaha. Hal ini menjadi fenomena yang sering bikin aku tertawa.

Hasil penelitian, banyak yang mengungkap bahwa terjadinya seks bebas semakin menjadi-jadi akibat semakin mudahnya anak-anak mengakses video porno. Untuk mencegah hal itu, pemerintah terus berupaya untuk mempersulit orang untuk mengakses konten pornografi dengan memblokir situs-situs porno dengan cara pembatasan pada provider yang digunakan masyarakat.

Mungkin ada benarnya begitu, tetapi tidak seutuhnya benar. Saya agak meragukan hal ini, kenapa begitu? aku bercermin pada diri sendiri. Aku sering menonton video porno, dulu sih, sekarang sudah enggak. Sudah anggap basi, toh cuma itu-itu saja, dan aku anggap itu tidak penting. Meski begitu adakalanya pengen juga nonton.

Konon, kalau sering menonton konten porno; baik berupa video, gambar atau pun menyaksikan hal berbau porno secara langsung, misalnya mengintip cewek mandi, dsb. Hal itu dapat mempersempit atau memperkecil otak sehingga lama kelamaan kita akan menjadi pelupa, terutama ingatan jangka pendek. Dengan kata lain kita akan sulit mengingat sesuatu dengan cepat. Kalau dihubung-hubungkan dengan kitab suci, hal ini ada benarnya. Tetapi menurutku, berkayal atau berfantasi porno juga berdampak negatif.

Sudah lama aku tahu akan hal itu, makanya aku tidak lagi mengoleksi konten porno. Sudah sejak lama suka memberantas konten porno dari HP dan laptop. Dibersihkan sampai akar-akarnya. Hahaha. Setelah itu efeknya lumayan, pikiran jadi lebih jernih dan ringan, lebih suka merenung. Meski begitu, kebiasaan menghayal sesuatu yang hot masih menjadi tradisi. Qiqiqi.. maklum masih muda dan belum menikah. Tetapi saat ini sedang berusaha mempraktekan teori mengendalikan nafsu seks, teori ala gue digabungkan dengan ajaran dari Maha Guru Coa Kok Sui. Tetapi belum berhasil, soalnya aku mempraktekannya setengah-setengah, masih dikalahkan oleh hasrat keduniawiaan. Walau begitu, aku sudah bisa merasakan sedikit efeknya.

Eh kok kesana ya ulasannya? sebenarnya aku mau bernostalgia tentang pengalamanku menonton video porno. Kalau diingat-ingat, ternyata aku sudah terbiasa menonton video porno sudah sejak kelas 4 SD. Kok bisa ya? dulu aku sering menonton video porno bareng-bareng sama sepupu rame-rame, berempat. Aku yang terkecil. Sedangkan kakak sepupu yang paling dewasa. Dialah biang keroknya beli VCD porno. Waktu itu kakak sepupu sudah berumur, kira-kira 18 tahun. Setelah SMP, aku tidak pernah lagi menonton video porno. Setelah tamat SMP aku lagi menonton hal yang begituan, karena waktu itu sudah punya HP yang bisa diisi konten porno. Lanjut sampai awal kuliah.

Bagaimana efeknya terhadapku? ternyata tidak begitu berpengaruh. Saat SMP baru belajar jambret payudara cewek, itu pun dilakukan kalau di kegelapan malam, soalnya waktu smp aku tinggal di asrama. Waktu SMK hampir tidak pernah menyentuh cewek, pernah sekali menyentuh barang rahasia, itu pun karena diperkosa cewek smp, dikunci di kamarnya. Tak sampai gitu-gituan. Mana ada lelaki yang tahan dikacangi cewek?

Bagaimana setelah dewasa? saat kuliah pun bernasib sama. Hampir tidak pernah menyentuh cewek walau pun aku indekos, sendiri lagi. Pernah sih kecolongan dua kali (sekali di kosnya, sekali di kosku). Yang baca jangan marah ya! aku melakuakn itu karena suatu sebab; berniat menikahi dia dan gara-gara dikompori teman bahwa tidak jamannya lagi lelaki perjaka, dibilang aku tidak jantan kalau tidak berani menyentuh cewek, bahkan banyak orang dewasa yang bilang saat ini tidak lagi jamannya hamil setelah menikah, katanya lebih baik sudah ada jabang bayinya agar ada kepastian.

Ternyata apa yang dikatakan orang itu tidak benar, itu pemahaman palsu, mengarahkan generasi muda pada ketidakbenaran, hal-hal yang merugikan. Hal itu membuatku menyesal, dan aku sadari bahwa seks diluar perkawinan itu sangat merugikan kita, bahkan penderitaan yang ditimbulkan; kesulitan rejeki, kehilangan harga diri, kesulitan menemukan pasangan yang pantas, dan kehilangan kemilau tubuh, tidak lagi memancarkan aura kegantengan atau aura kecantikan. Kehilangan kesucian atau keperawanan lebih merugikan cewek, kalau cowok sih masih mendingan karena kekuatan lelaki terletak pada hartanya, sedangkan kekuatan cewek pada kesuciannya. Dari sinilah awalnya kenapa aku suka membahas tentang seks. Aku telah merasakan bagaimana kerugian yang ditimbulkan akibat terkena pengaruh pemahaman palsu.

Sejak merasakan efek negatif itu, sejak lima tahun yang lalu, aku berusaha mengembalikan kesucian itu, meski tidak lagi murni, akan tetapi menurut kitab suci, hal itu bisa dimurnikan dengan nama suci Tuhan. namun tidak bisa semurni lelaki perjaka. Layaknya baju yang terkena kotoran, walau bisa dicuci tetapi tidak bisa dikembalikan seperti semula. Oleh karena itulah lebih baik menghindari kotoran daripada membiarkan terkena kotoran lalu mencucinya.

Menyadari hal itu, meski sebagai lelaki kos-kosan, tak pernah lagi menyentuh wanita. Setahun kost di watu renggong, tak pernah kos dimasuki cewek, dua tahun lebih kost di penatih, tak pernah ngajak cewek. Setelah itu kos sudah setahun di akasia, tak pernah kamar kosku diinjak cewekku. Orang aku jomblo sudah lima tahun lebih. kwekeekkek.

Bukannya tak laku, tetapi memang karena prinsip. Tak mau dong seperti keledai, masuk ke dalam lubang yang sama. Aku merasa tak butuh cewek, yang aku butuhkan seorang istri, artinya mencari cewek untuk dijadikan pendamping hidup.

Tapi dalam kurun waktu lima tahun itu, pernah diselingi pacaran dengan janda kembang selama dua bulan, janda itu aku kejar mati-matian selama 7 bulan, sayangnya ketahuan sama orang tua pacaran sama janda, akhirnya dipisahkan secara paksa, padahal aku sayang banget sama janda kembang itu. Pasti penasaran deh, apakah aku pernah menyentuh janda itu? eheemm.. gak tuh. Bahkan menciumnya saja gak pernah, karena sayang. Yang paling lama, diselingi mengejar cewek kelas 2 SMP sampai saat ini dia sudah kelas 2 SMA, jadinya mengejar cewek selama 3 tahun tak berhasil. Lacur, lacur.. tepok jidat, lalu mengelus dada. Huhhh.. betapa serunya walau ada kesedihan didalamnya.

Saat ini, kalau punya cewek, aku ingin menyentuhnya setelah menikah. Beberapa temenku menentang prinsipku ini, dianggap gak jamannya, katanya harus dicicipi dulu baru diajak menikah. Padahal sudah dijelaskan berulangkali bagaimana dampak dahsyat jangka panjang hubungan seks diluar pernikahan. Bahkan aku pernah katakan jangan salahkan Tuhan bila hasil pernikahan itu tidak sesuai harapan bila sudah pernah melakukan hubungan seks diluar perkawinan. Banyak penderitaan yang dihadapi; sulit rejeki, mudah berslingkuh, bahkan peluang bercerai itu lebih besar.

Melihat apa yang aku alami, ternyata video porno itu tidak sepenuhnya bisa mempengaruhi kita, dengan kata lain tidak menjadi faktor utama penyebab pergaulan seks bebas. Faktor utama seks bebas menurutku adalah adanya kesempatan dan tidak ada kemauan untuk menjaga kesucian (keperawanan dan keperjakaan), dan yang lebih berbahaya ternyata efek berkayal hal-hal porno, seperti berkayal memperkosa orang (bagi lelaki), atau berkayal diperkosa (bagi cewek), berkayal berselingkuh (bagi yang sudah menikah), dsb.
Hukuman Bagi Orang Yang Meninggalkan Hindu

Hukuman Bagi Orang Yang Meninggalkan Hindu

ओम् स्वस्त्यस्तु
Om Svastyastu
Oleh Bp. I Nengah Aryata
Pindah agama kadang juga disebabkan kurang peduli orang tua terhadap anak gadisnya. Prinsip predana ikut purusa disalah artikan. Jika anak perempuan harus ikut suami walau suami beragama bukan Hindu. Padahal yang dimaksud adat bahwa istri ikut suami adalah bukan agamanya melainkan mengikuti adat yang masih berdasarkan Dharma. Gadis klungkung diambil pria Buleleng maka si gadis harus ikut tata cara yang ada di buleleng.
Hukuman bagi yang meninggalkan Hindu (dharma) antara lain :
1. Setelah Ajal Tiba Atamannya Tidak akan pernah mencapai alam kebahagiaan, kesempurnaan, dan tujuan tertinggi yaitu moksa.
Kata-kata ini tersurat dalam Bhagavadgita Xvi.23 "Ia yang meninggalkan ajaran-ajaran kitab Suci Veda, ada dibawah pengaruh kama (napsu) tidak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi".
Mantram ini memberikan tuntunan agar kita jangan meninggalkan kitab suci veda hanya karena menuruti nafsu (kama) maka ybs tidak akan selamat.
Bisa jadi orang yang meninggalkan Hindu di dunia ini dia bahagia, tetapi dapat dipastikan kelak Atmannya akan terseret ke lembah Neraka Dalam Bhagavadgita XVI.19 disebutkan juga : " Mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling Hina, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu ke dalam kandungan raksasa".
Kalau kita renungkan mantram ini menekankan orang yang pindah agama atau keluar dari agama Hindu sama artinya membenci Brahman, sehingga kelak atmannya patut dicampakkan lembah neraka. Itu akibat perbuatannya sendiri seperti tersirat dalam Atharwa veda II.12.6 " Perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupannya tersiksa"
2. Setelah Ajal Tiba Atmannya akan tenggelam ke lembah Neraka.
Dalam Manawa Dharma sastra VI.35 " Kalau ia telah membayar 3 macam hutannya (Kepada Brahman, leluhur dan orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikiran untuk mencapai kebebasan terakhir. Ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutannya akan tenggelam ke bawah.
Karena dia sudah meninggalkan agama Hindu berarti dia tidak bisa lagi membayar 3 macam hutangnya (tri Rna) , karena mereka tdk mengakui adanya Tri Rna ini. Sering kita melihat orang yang pindah agama saat orang tuanya meninggal dia memakai pakaian adat, dia melakukan sembahyang Hindu saat orang tuanya di aben, padahal dia sudah bukan hindu.
Keluarga mereka menerima seolah-olah tidak ada beban, demikian pula masyarakat tidak perduli melihat hal tersebut. Kalau dikeluarganya mengerti Hindu tentunya yang pindah agama tersebut tidak akan diperbolehkan menyembah orang tuanya, karena akan menghambat jalannya Atman orang tua menuju alam Leluhur dan alam para Dewa.
3. Setelah Ajal Tiba Atmanya tidak akan ketemu jalan menuju Swargaloka.
Dalam Bhagavad gita III.35 " Lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tiada sempurna daripada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain".
Kita sebenarnya telah beragama hindu sejak Atman, Roh dan Jiwa diceptakan Brahman, bukan saat kita dilahirkan, karena kita percaya dengan reinkarnasi / samsara punarbhawa. Berarti sejak Brahman menciptakan kita selama itu pulalah kita telah beragama Hindu. Bisa jadi kita atman telah berusia ribuan tahun, berarti karma wasana sudah melekat juga sejak ribuan tahun.
Kalau seseorang beragama Hindu sejak Atman diciptakan Brahman, lalu pindah ke agama lain, maka karma wasana di agama lain tidak ada artinya, karena dikumpulkan dalam waktu singkat kendati pun dilakukan dengan disiplin dan ketat, sehingga atman akan gentayangan karena tidak tahu tempatnya. Buktinya datang lagi dalam bentuk mimpi minta diaben atau di Hindu kan kembali melalu upacara ngaben.
ओम् शन्ति शन्ति शन्ति ओम्
Om śanti śanti śanti Om

Meninjau tentara-tentara di medan perang kuruksetra



..
Bhagavad-gita 1.1
dhṛtarāṣṭra uvāca
dharma-kṣetre kuru-kṣetre
samavetā yuyutsavaḥ
māmakāḥ pāṇḍavāś caiva
kim akurvata sañjaya
Artinya;
Dhrtarastra berkata; Wahai Sanjaya, sesudah putera-puteraku dan putera pandu  berkumpul di tempat suci kuruksetra dengan keinginan untuk bertempur, apa yang dilakukan oleh mereka?

 Kurukshetra disebut juga Dharmakshetra, terletak di Hastinapura di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para resi, kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa. Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagawad Gita di atas ini adalah kata Dharma, inilah inti sebenarnya yang harus diresapi oleh setiap pembaca, karena inilah salah satu pesan sesungguhnya Bhagawad Gita.
"Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma."
 Kata Dharma berasal dari kata "Dhru" yang berarti "pegang." Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, Dharma tidak terdapat dalam ucapan-ucapan manis, tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita. Dan Kshetra berarti padang, ladang atau medan. Seyogyanyalah kita bertanya pada pribadi kita masing-masing:  "Apa sajakah yang selama ini yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, Dharma ataukah Adharma? Bagi yang menanam Dharma maka hidupnya akan menghasilkan karunia Ilahi, dan yang telah melakukan Adharma maka kita dapat bercermin kepada para Kaurawa.
"Bersiap-siap untuk suatu yudha," Kaurawa menginginkan perang, sedangkan para Pandawa sebenarnya menginginkan perdamaian. Sang Kreshna yang Maha Bijaksana berusaha agar perdamaian terwujud, tetapi para Kaurawa selalu menolaknya. Maka untuk mempertahankan diri dan menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para Pandawa berperang walaupun dengan laskar yang sedikit. Tetapi yang sedikit ini akhirnya akan menang karena mereka berjalan tegak di jalan kebenaran. Dalam ucapan Dhritarashtra yang mengatakan di atas "tanahnya para Kuru (kuruksetra)" dan juga '"putra-putraku," tersirat adanya rasa egois atau ahankara (angkara) yang besar. Inilah sebenarnya sumber dari segala tragedi dalam hidup ini.

Bhagavad-gita 1.2
sañjaya uvāca
dṛṣṭvā tu pāṇḍavānīkaḿ
vyūḍhaḿ duryodhanas tadā
ācāryam upasańgamya
rājā vacanam abravīt
Artinya;
Sanjaya berkata; wahai Baginda Raja, sesudah meninjau tentara yang telah disusun  dalam barisan-barisan oleh para putera pandu, raja Duryodhana mendekati gurunya dan berkata sebagai berikut.

Yang dimaksud guru di sini adalah Dronacharya, guru sang Kaurawa dan Pandawa. Di Baratayudha ini Drona mendukung Kaurawa sampai akhir hayatnya.

Bhagavad-gita 1.3
paśyaitāḿ pāṇḍu-putrāṇām
ācārya mahatīḿ camūm
vyūḍhāḿ drupada-putreṇa
tava śiṣyeṇa dhīmatā
Artinya;
Wahai Guruku, lihatlah tentara-tentara besar para putera pandu, yang disusun dengan ahli sekali oleh putera Drupada, murid anda yang cerdas.

Yang dimaksud "murid yang cerdas " di sini adalah Dhristadyumna. Ia adalah putra Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Dia diangkat para Pandawa menjadi panglima perang untuk pihak Pandawa; Dhristadyumna sebenarnya masih merupakan saudara ipar para Pandawa Dalam perang ini Resi Dorna akan membunuh Raja Drupada, kemudian Dhristadyumna akan membunuh Drona. Disusul putra Drona yang disebut Asvatama kemudian membunuh Dhristadyumna. Inilah lingkaran karma.

Bhagavad-gita 1.4
atra śūrā maheṣv-āsā
bhīmārjuna-samā yudhi
yuyudhāno virāṭaś ca
drupadaś ca mahā-rathaḥ
Artinya;
Di sini dalam tentara ini ada banyak pahlawan pemanah yang sehebat Bhima dan Arjuna dalam pertempuran; kesatria-kesatria yang hebat seperti Yuyudhana, virata dan Drupada.
Bhagavad-gita 1.5
dhṛṣṭaketuś cekitānaḥ
kāśirājaś ca vīryavān
purujit kuntibhojaś ca
śaibyaś ca nara-puńgavaḥ
Artinya;
Ada juga kesatria-kesatria yang hebat, perkasa dan memiliki sifat kepahlawanan seperti Dhrstaketu, Cekitana, Kasiraja, Purujit, Kunti-bhoja dan Saibya.
Bhagavad-gita 1.6
yudhāmanyuś ca vikrānta
uttamaujāś ca vīryavān
saubhadro draupadeyāś ca
sarva eva mahā-rathāḥ
Artinya;
Ada Yudhamanyu yang agung, Uttamauja yang perkasa sekali, putera Subhadra dan putera-putera Draupadi. Semua kesatria itu hebat sekali bertempur dengan menggunakan kereta.
Bma : Putra kedua dari Pandu. yang kedua dari para Pandawa.
v  Arjuna : Yang ketiga dari Pandawa bersaudara, dan yang paling dikasihi Sang Kreshna.
v  Yuyudana : Disebut Juga Setyaki. pahlawan yang gagah perkasa.
v  Virata: Raja dari Matsya-desha. seorang raja nan arif bijaksana. Selama pengasingan para Pandawa di hutan (13 tahun lamanya), tahun terakhir pengasingan ini para Pandawa menyamar dan bersembunyi di istana Raja Virata. Alkisah putri sang raja kemudian dikawinkan dengan Abimanyu, putra Arjuna.
v  Dhristaketu: Putra Sishupala, raja dari Chedi-desha.
v  Chekitana: Salah satu pendekar yang gagah berani yang memimpin salah satu dari tujuh divisi laskar Pandawa.
v  Purujit dan Kuntibhoja: Saudara-saudara laki dari ibu Kunti, ibunya sang Pandawa,
v  Shaibya: Raja suku Sibi. Duryodana menyebutnya sebagai banteng diantara manusia, karena ia adalah seorang pendekar sakti yang bertenaga luar biasa.
v  Yudhamanyu dan Uttamauja: Pangeran-pangeran dari Panchala, juga merupakan pendekar-pendekar nan sakti-wirawan. Keduanya dibunuh Ashvathama sewaktu sedang tidur.
v  Saubhadra: Putra Arjuna dan Subadra (adik sang Kreshna). Ia dikenal juga dengan nama Abimanyu. Dalam perang ini ia memperlihatkan kepahlawanannya yang luar biasa.
v  Putra-putra Draupadi: Mereka berjumlah lima orang, yaitu Prativindhya, Srutasoma, Srutakirtti, Satanika dan Srutukarman.
Pendekar-pendekar di atas semuanya kalau bekerja untuk perdamaian niscaya akan menghasilkan suatu suasana damai bagi semuanya, tetapi rupanya takdir menentukan yang lain, dan itulah misteri Ilahi yang tak akan mungkin terjangkau oleh kita manusia ini.

Bhagavad-gita 1.7
asmākaḿ tu viśiṣṭā ye
tān nibodha dvijottama
nāyakā mama sainyasya
saḿjñārthaḿ tān bravīmi te
Artinya;
Tetapi perkenankanlah saya menyampaikan keterangan kepada anda tentang komandan-komandan  yang mempunyai kwalifikasi luar biasa untuk memimpin bala tentara saya, wahai brahmana yang paling baik.

Bhagavad-gita 1.8
bhavān bhīṣmaś ca karṇaś ca
kṛpaś ca samitiḿ-jayaḥ
aśvatthāmā vikarṇaś ca
saumadattis tathaiva ca
Artinya;
Ada tokoh-tokoh seperti Prabhu sendiri, Bhisma, Karna, Krpa, Asvatthama, Vikarna, dan putera Somadatta bernama Bhurisrava, yang selalu menang dalam perang.
Bhagavad-gita 1.9
anye ca bahavaḥ śūrā
mad-arthe tyakta-jīvitāḥ
nānā-śastra-praharaṇāḥ
sarve yuddha-viśāradāḥ
Artinya;
Ada banyak pahlawan lain yang bersedia mengorbankan nyawanya demi kepentingan saya. Semuanya dilengkapi dengan berbagai jenis senjata, dan berpengalaman di bidang ilmu militer


·         Bhisma: Pendekar tua yang ditunjuk menjadi panglima tertinggi di pihak Kaurawa, yang sebenarnya masih "kakek" para Kaurawa dan Pandawa, Bhismalah sebenarnya yang membesarkan raja Dhristarashtra dan para Kaurawa-Pandawa. Beliau amat mencintai para Pandawa, tetapi dalam perang ini beliau berpihak kepada para Kaurawa karena berhutang budi dan setia kepada Kaurawa sesuai dengan janjinya. Tetapi Bhisma pernah bersumpah dihadapan Duryodana tak akan pernah membunuh para Pandawa; dalam perang Baratayudha ini Bhisma membuktikan kehebatannya sampai akhir hayatnya.
·          Karna: Saudara tiri para Pandawa, adalah teman akrab Duryodana. Oleh Duryodana, Karna diangkat menjadi raja Anga (sekarang disebut daerah Bengal di India). Sebenarnya Karna adalah seorang kshatrya maha-sakti yang penuh dengan kasih-sayang kepada sesamanya, tetapi terikat sumpah setianya kepada Duryodana maka ia memilih pihak Kaurawa, Setelah matinya Drona, Karna diangkat menjadi panglima tertinggi Kaurawa tetapi hanya berlangsung dua hari saja, karena kemudian ia mati di tangan Arjuna, saudara tirinya sendiri. Beginilah kehendak Dewata.
·          Kripa: Saudara ipar resi Drona. Ia adalah diantara tiga pendekar dari pihak Kaurawa yang tidak gugur dalam perang Baratayudha.
·          Ahsvatama: Putra resi Drona, juga salah seorang panglima perangnya Kaurawa yang terkenal liciknya.
·         Vikarna: Putra ketiga raja Dhristarashtra, adik Duryodana.
·          Putra Somadatta: Somadatta adalah raja dari negara Bahikas yang membantu Kaurawa.

Bhagavad-gita 1.10
aparyāptaḿ tad asmākaḿ
balaḿ bhīṣmābhirakṣitam
paryāptaḿ tv idam eteṣāḿ
balaḿ bhīmābhirakṣitam
Artinya;
Kekuatan kita tidak dapat diukur, dan kita dilindungi secara sempurna oleh kakek Bhisma, sedangkan para pandava, yang dilindungi dengan teliti oleh Bhisma, hanya mempunyai kekuatan yang terbatas.

Jumlah tentara Kaurawa memang lebih banyak dari pihak Pandawa, kabarnya Kaurawa mempunyai laskar lebih banyak empat divisi dibandingkan pihak Pandawa. Ada juga yang menyebutnya berlipat ganda.

Bhagavad-gita 1.11
ayaneṣu ca sarveṣu
yathā-bhāgam avasthitāḥ
bhīṣmam evābhirakṣantu
bhavantaḥ sarva eva hi
Artinya;
Sekarang anda semua harus memberi dukungan sepenuhnya kepada kakek Bhisma, sambil berdiri di ujung-ujung strategis masing-masing di gerbang-gerbang barisan tentara.

Oleh sementara ahli, ucapan-ucapan Duryodana di atas dianggap juga sebagai ungkapan rasa khawatir Duryodana yang merasa di pihak Pandawa terdapat lebih banyak pahlawan-pahlawan sakti, walaupun jumlah laskar mereka lebih sedikit.
Bhagavad-gita 1.12
tasya sañjanayan harṣaḿ
kuru-vṛddhaḥ pitāmahaḥ
siḿha-nādaḿ vinadyoccaiḥ
śańkhaḿ dadhmau pratāpavān
Artinya;
Kemudian Bhisma, leluhur agung dinasti kuru yang gagah berani, kakek para ksatria, meniup kerangnya dengan keras sekali bagaikan suara singa sehingga Duryodhana merasa riang.
Bhagavad-gita 1.13
tataḥ śańkhāś ca bheryaś ca
paṇavānaka-gomukhāḥ
sahasaivābhyahanyanta
sa śabdas tumulo ‘bhavat
Artinya;
Sesudah itu, kerang-kerang, gendang-gendang, bedug, dan berbagai jenis terompet semuanya dibunyikan seketika, sehingga paduan suaranya menggemparkan.
Bhagavad-gita 1.14
tataḥ śvetair hayair yukte
mahati syandane sthitau
mādhavaḥ pāṇḍavaś caiva
divyau śańkhau pradadhmatuḥ
Artinya;
Di pihak lawan, Sri Krsna bersama Arjuna yang mengendarai kereta megah yang ditarik oleh kuda-kuda berwarna putih juga membunyikan kerang-kerang rohani mereka.
Bhagavad-gita 1.15
pāñcajanyaḿ hṛṣīkeśo
devadattaḿ dhanañjayaḥ
pauṇḍraḿ dadhmau mahā-śańkhaḿ
bhīma-karmā vṛkodaraḥ
Artinya;
Kemudian Sri Krsna  meniup kerang-Nya bernama Devadatta; dan Bhisma, pelahap dan pelaksana tugas-tugas yang berat sekali, meniup kerangnya yang mengerikan bernama Paundra.
Bhagavad-gita 1.16-18
anantavijayaḿ rājā
kuntī-putro yudhiṣṭhiraḥ
nakulaḥ sahadevaś ca
sughoṣa-maṇipuṣpakau
kāśyaś ca parameṣv-āsaḥ
śikhaṇḍī ca mahā-rathaḥ
dhṛṣṭadyumno virāṭaś ca
sātyakiś cāparājitaḥ
drupado draupadeyāś ca
sarvaśaḥ pṛthivī-pate
saubhadraś ca mahā-bāhuḥ
śańkhān dadhmuḥ pṛthak pṛthak
Artinya;
Raja Yudhistira, putera kunti, meniup kerangnya yang bernama Anantavijaya, Nakula dan Sahadeva meniup kerangnya bernama Sugosha dan Manipuspaka. Pemanah yang perkasa raja Kasi, ksatria hebat yang bernama Sikandi, Dhrstadyumna, virata, dan Satyaki yang tidak pernah dikalahkan, Drupada, para putera Draupadi, dan lain-lain, seperti putera Subhadra, yang berlengan perkasa, semua meniup kerang-kerangnya masing-masing; wahai Baginda Raja.
• Raja Yudhistira: Yang tertua di antara Pandawa adalah seorang maha-raja yang berwatak tenang, penuh kasih-sayang dan amat bijaksana dalam segala tindak-tanduknya, tak pernah bohong dalam segala hal. Beliau dikenal lebih sebagai seorang negarawan daripada seorang pendekar yang gemar berperang. Sangkalala yang dimilikinya disebut Anantavijaya yang berarti "Kemenangan Tanpa Akhir" atau juga disebut "Suara-Kemenangan."

• Nakula: Putra keempat Pandawa dikenal amat mahir berkuda, sangkalalanya bernama Sagosha yang berarti "Bersuara Indah."

• Sahadewa (Sadewa): Putra Pandu yang paling bungsu memiliki sangkalala yang bernama Manipuspaka yang berarti "Mutiara Yang Mekar" atau "Bunga-Bunga Mutiara," karena sangkalala yang satu ini teramat indahnya, selain bentuknya laksana mutiara ditaburi pula dengan mutiara-mutiara asli yang indah.

Shikandi (Srikandi) di India sering disebut juga sebagai putra raja Drupada (sebenarnya ia seorang banci), di Indonesia ia dikenal sebagai pahlawan wanita, merupakan titisan dewi Amba yang menuntut balas kepada Bhisma. Panahnya akan menghabisi nyawa Bhisma dalam perang ini.

Bersambung….
Back To Top