e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Ini Sebabnya Sulit Memaknai Mimpi

Setelah bergulat dengan banyak mimpi, saya menemukan alasan kenapa mimpi itu sulit dimaknai. Hal itu dilatarbelakangi oleh berbagai faktor;
 1. Mimpi terkadang bercerita apa adanya, hal ini termasuk langka. Terkadang kita berusaha mencari makna suatu mimpi, tetapi ternyata bercerita apa adanya.
 2. Bermakna ganda: di satu sisi memiliki makna, di sisi lain bercerita apa adanya. Misalnya saya mimpi berada di timur laut rumah, di kebun. Disana melihat ibu saya sedang memanem bawang merah (bawang). Bawang yang sudah layu akarnya dipotong-potong (mateges), mau dijual. Melihat hal itu saya agak marah.
"Maa.. tolong jangan dipotong bawangnya, mau dijadikan bibit ditanam pada sasih keenam, soalnya bawangnya akan bagus panennya' ujarku. Mimpi ini bermakna ganda, di satu sisi dia bercerita tentang ramalan bawang merah yang akan datang, disisi lain bercerita tentang jodoh. Kok bisa?
Ceritanya begini; saat sembahyang saya berdoa memohon agar dipertemukan dan disatukan dengan orang yang akan menjadi jodoh saya. Lalu malamnya mimpi seperti di atas. Mimpi tersebut menggunakan bahasa sandi yaitu bawang mateges, maknanya 'suba tawang teges': sudah diketahui dengan jelas. Hal ini menjelaskan bahwa jodoh saya sebenarnya sudah ada di depan mata, gadis itu sudah saya kenal dengan baik.
 3. Bercerita tentang dua orang sekaligus. Seringkali mimpi seolah-olah kita yang mengalami, padahal dia bercerita tentang orang lain, begitu pun sebaliknya. Bahkan adakalanya bercerita tentang dua orang lain sekaligus, bahkan lebih.
Umpamanya: Saya berada di suatu tempat yang tidak begitu saya ketahui, seperti tempat semasa kecil di arah selatan rumah sekira sekilo dari rumah. Di tempat itu saya bertemu Mangku D. Kami menaiki pohon kayu Santen untuk menikmati udara segar.
'Kenapa ya hidup saya carut marut begini?' Tanya Mangku D (pemangku dewa kembar, sekaligus guide).
"Kayakne Mangku kurang peduli pada dewa kembar"
"Emang sih jarang sembahyang disana. Tapi sebenarnya karena salah memperlakukan turis, makanya jarang sekarang dapat turis' jelasnya. Lalu saya memanjat pohon lebih tinggi lagi. Tiba-tiba pohonnya melengkung karena masih muda batangnya. Saya pun terpelanting dan diayunkan ke bawah.
Saat hampir tumbang itulah saya merasa ngeri hingga terbangun. Makna: Kayu arti ayu. Tapi karena Kayu sanTEN, maka maknanya nenten ayu: tidak baik. Menaiki pohon artinya akan mendapat keuntungan tetapi disini maknanya akan mengalami kerugian karena kayunya hampir patah. Lalu kita cermati obrolannya.
Saya tafsirkan bahwa apa yang dialami Mangku D adalah kurang peduli dengan Dewa Kembar. Sedangkan kata 'Salah memperlakukan turis' maknanya salah memperlakukan Sasuhunan (dewata: makna turis). Saya bingung dibuatnya, mimpi ini tentang Mangku D ataukah tentang saya. Dan mendapat  jawaban melalui mimpi lainnya, ternyata  mimpi itu juga bermakna ke saya yaitu disuruh membuat banten.
4. Mimpi bukan hanya bahasa simbol. Secara umum masyarakat menganggap bahwa mimpi adalah bahasa simbol, tetapi sebenarnya mimpi seringkali muncul sebagai bahasa isyarat dan bahasa sandi. Dalam satu mimpi bisa gabungan dari semua bahasa mimpi.
5. Mimpi berangkat dari bahasa dan sistem kepercayaan masyarakat lokal. Hal ini menyebabkan mimpi yang sama tetapi maknanya akan berbeda-beda masing-masing suku. Umpanya dari segi nama: pisang, di bali disebut biu sehingga maknanya ayu (selamat); mimpi makan pisang artinya mendapat keselamatan.  Mungkin dalam budaya lain mimpi makan pisang maknanya jelek sesuai sebutan bahasa setempat. Terkadang bahasa mimpi mengecoh. Umpamanya mimpi tentang kayu yang artinya ayu. Maka bila mimpi menebang kayu maknanya jelek (menumbangkan hal yang baik). Tetapi kalau menumbangkan kayu nangka maknanya baik karena nangka artinya bangka/sakit, sehingga menumbangkan kayu nangka maknanya baik. Tapi kalau mimpi menumbangkan kayu berisi sarang lebah/nyawan maka maknanya buruk.
 6. Multi simbol. Satu makna mimpi seringkali dengan banyak simbol. Misalnya dewa atau Tuhan dalam budaya Bali muncul dengan banyak simbol, seperti: Sulinggih (orang suci), turis, pemangku, jero dasaran, balian, dokter, ayah-ibu, raja (pejabat), teman, bahkan muncul sebagai mantan. Hal itu terjadi karena dalam kepercayaan Hindu, Tuhan dinyatakan sebagai seorang ayah-ibu (bhatara hyang guru: sanghyang rwa bhineda: i meme - i bapa), Ratu (raja), guru, bahkan dinyatakan Tuhan adalah teman kita. Terkadang terjadi sebaliknya, satu simbol memiliki banyak makna.
Umpamanya ular: dalam keadaan tertentu bermakna ilmu hitam, terutama ular ganas karena beberapa ilmu hitam memang mengambil wujud ular-naga (rerajahan ular-naga). Terkadang ular bermakna jin (wong samar) sebab jin seringkali mengambil wujud (mesiluman) ular. Bahkan seringkali mimpi tentang ular bermakna pekarangan leteh sebab dalam tradisi di Bali bila ada ular masuk pekarangan itu pertanda karang leteh (kotor secara niskala), wenang carunin. Leteh ini pun disebabkan oleh dua faktor; bisa karena pamali (leteh ringan), bisa juga karena cemer (leteh sungguhan). Dalam keadaan tertentu ular bermakna janin, terutama ular kobra, sebab bentuk janin (seperma) bentuknya seperti ular. Dalam keadaan ini ular muncul sebagai bahasa isyarat. Umpamanya mimpi melihat ular kobra di dalam gua maka maknanya akan hadir momongan di keluarga kita.
 7. Muncul simbol baru Yang lebih rumit adalah simbol baru, seperti mobil, kapal terbang, hotel, hp. Tumbuh-tumbuhan baru yang tidak ada pada jaman dulu. Untuk memaknai simbol baru inilah kita akan kesulitan. Mengakali hal ini kita bisa mencari esensi dari simbol tersebut. Misalnya mobil esensinya tempat duduk (palinggihan). Bila mobil ayah kita dimimpikan terbakar maka maknanya Palinggihan Bhatara Hyang guru leteh, wenang carunin.
Begitu pula bila mimpi mobilnya berisi mayat maknanya palinggih leteh. Karena dalam kepercayaan di Bali mayat itu ngletehin. Hal apapun dalam tradisi di bali yang bisa menimbulkan cuntaka/leteh maka maknanya leteh. Umpamanya seorang wanita mimpi sedang menstruasi tapi dia masuk kamar suci, maka maknanya kamulan kita leteh. Leteh itu bisa disebabkan oleh dua hal; bisa pamali, bisa leteh sungguhan.
Contoh lain, hotel esensinya tempat turis menginap maka maknanya juga palinggih sesuunan/rumah dewa. Demikian pula kapal terbang bermakna palinggih sesuhunan (tumpangan tamu).

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts