e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Bila Ulama Meninggal Dunia

Tumben berkesempatan ngobrol dengan seorang penggali kubur, kebetulan di timur laut rumah saya ada kuburan muslim. Katanya malam ini ada seorang ulama atau Sunan meninggal dunia tapi mayatnya masih di perjalanan. Merasa ngeri juga berada di kuburan, siapa tahu ada roh gentayangan di sekitar saya. 'Mas, kalau seorang Sunan wafat, dikubur di sebelah mana ya?' 'Biasanya kalau tokoh masyarakat yang dihormati meninggal, dia dikubur di sebelah barat atau di hulu, sedangkan orang biasa agak di hilir' 'Ohh begitu. Sama aja dengan di Bali. Oya, mas pernah gak merasa takut saat menggali kubur?' 'Pernah! Terutama bila ada orang yang dikubur pada malam hari. Kalau siang sih biasa aja' ujarnya menjelaskan sembari menggali kuburan di samping pohon kopi. Sang penggali kubur juga memindahkan bekas-bekas nisan yang tidak terpakai. 'Satu lagi, mas. Bila makam seorang Sunan boleh gak ada yang menginjaknya? Soalnya waktu saya lewat di makam orang biasa tadi saya sempat berjalan di atas makam, tapi saat melewati makam ulama saya merasa tak boleh menginjaknya.' Tanyaku penasaran. 'Kalau makam Sunan gak boleh kamu injak karena orang-orang Islam sangat menghormati mereka. Bahkan mereka sembahyang (sholat) di makam Sunan. Kalau makam orang biasa kamu injak masih mendingan.' Terangnya lagi. Mimpi ini ada kelanjutannya, hanya saja cukup sampai disitu agar tidak panjang. Kronologinya sudah tidak lagi soal kuburan tetapi politik. Untuk memudahkan memaknai mimpi ini kudu berangkat dari doa saya. Doanya begini, 'Ratu Sesuunan titiang. Saya belum menikah, juga tidak mawinten (matelah/madiksa), apakah boleh saya ngadegang daksina linggih?' Saya berdoa begitu karena seminggu yang lalu saya ngadegang daksina linggih (karena orang tua tidak ada yang mau) tapi anehnya hanya berselang dua hari daksinanya lagi dirusak ayam jago. Dua hari yang lalu lagi membeli daksina, saya suruh ibunya untuk melinggihkannya. Katanya ibu tidak tahu, sedangkan bapak saya tidak mau padahal sudah sakit gara-gara mengabaikan petunjuk-Nya. Rencananya saya lagi mau melinggihkan daksinanya namun baru ditinggal sebentar telornya dimakan anjing, diambil di atas meja. Tidak bisa dipakai sudah karena sudah dijilati anjing. Mau ganti telornya saja ada perasaan takut dalam hati karena ada tatwanya bila sarana banten dimakan/disentuh anjing tidak boleh dipakai. Atas dasar kejadian itu saya curiga tidak boleh melakukannya. Simbol-simbol mimpi di atas; berada di kuburan pertanda kaletehan, ulama meninggal pertanda dewa hendak meninggalkan keluarga saya. Lebih-lebih dalam mimpi ulama disebut Sunan sehingga maknanya Sesuunan (dewata). Untungnya ulama yang meninggal masih di perjalanan. Kalau sampai dikubur, bisa celaka keluarga saya, karena bermakna dewa sudah meninggalkan kita. Roh gentayangan maknanya keletehan di kamulan itu menimbulkan roh kita dan roh leluhur luntang-lantung. Menggali kuburan ulama di dekat pohon kopi artinya keluarga saya dibilang pahit terhadap Sesuunan. Hanya daksina linggih saja kok susah? (Haha). Menginjak makam ini maknanya cukup menarik. Saya terjemahkan bahwa bila yadnya yang biasa seperti menghaturkan persembahan canang sari, masih boleh saya melakukannya. Akan tetapi bila yadnya utama maka orang tua yang melakukannya (makna hulu). Dalam susastra Hindu memang dinyatakan bahwa nangun yadnya hanya boleh dilakukan oleh mereka yang sudah menikah.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts