e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Nonton Acara TV Berlanjut ke Alam Mimpi

Secara umum, masyarakat menganggap bahwa apabila sesuatu yang dilakukan di dunia nyata kemudian terbawa ke alam mimpi, hal itu dianggap bunga tidur. Tetapi apa yang saya alami tadi malam justeru di alam mimpi menemukan jawaban atas persoalan yang saya tonton di TV.

Dalam acara TV 'Justice Street' atau pengadilan jalanan (keadilan berdasar pada pandangan masyarakat), menghadirkan kasus tentang kapan waktu terbaik menyekolahkan anak, apakah pada usia tiga tahun ataukah lima tahun? Disitu pasangan suami-istri beradu argumen. Menurut istrinya bahwa anak sebaiknya sekolah pada usia tiga tahun agar si anak lebih cerdas, lebih cepat mengenal lingkungan, lebih banyak bermain di play group, dlsb. Sedangkan sang suami tidak sepakat menyekolahkan anaknya terlalu dini, lebih baik ibunya jadi guru di rumah, lagi pula soal mengenal lingkungan bisa dikenalkan bersama keluarga saat libur kerja, jalan-jalan, dlsb. Baginya, usia terbaik menyekolahkan anak adalah usia lima tahun.

Masyarakat yang diminta menjadi hakimnya pun saling bertentangan satu sama lain berdasar cara pandang mereka pribadi. Saya sendiri menganggap bahwa menyekolahkan anak terlalu dini itu hal kurang baik, alasannya bahwa dalam ajaran Veda dinyatakan guru pertama bagi sang anak adalah orang tuanya, khususnya ibunya. Sehingga pada usia emas 3-5 tahun sebaiknya dididik oleh ayah-bunda, bukankah ayah bunda era sekarang sudah pada lulus sarjana sedangkan guru play group belum tentu lulusan sarjana, bukankah dalam hal ini anak akan mendapat guru yang terbaik di rumah? Selain itu, menyekolahkan anak terlalu dini juga bisa menjadi 'beban mental' sang anak. Menyikapi hal itu saya sempat ragu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi akhirnya keraguan itu ditutupi mimpi yang saya alami.

Dalam mimpi itu saya berada di keramaian, seperti di sebuah restoran. Disana saya bertemu wanita yang ada di acara 'Justice Street'. Wanita itu berpakaian batik hijau, pakaiannya seperti seorang guru (di acara TV tidak begitu pakaiannya).
'Loh! Bukannya ibu orang yang ada di acara TV justice street semalam?' Tanyaku. Merasa kaget bisa bertemu di dunia nyata, bukan hanya nonton di TV.
'Iya. Memang kenapa?' Ujarnya sembari duduk di depan meja saya, berhadap-hadapan. Saya tertarik untuk meluruskan pandangan wanita ini.
'Begini lo, Bu. Seorang anak pada usia dini sebaiknya diajari oleh ibunya karena energi yang dipantulkan seorang ibu sangat baik bagi anaknya, sedangkan energi guru lainnya belum tentu cocok dengan sang anak' ujarku.

Sepertinya saya tidak bangun dari mimpi itu, ada mimpi lainnya yang berbeda maknanya. Saya baru sadar sempat mimpi seperti di atas setelah bangun paginya. Bagi saya mimpi di atas cukup menarik. Wanita yang hadir dalam mimpi bukanlah 'sosok' wanita yang ada dalam acara TV, melainkan sosok seorang guru (meski seolah-olah yang hadir adalah tokoh wanita dalam acara TV), sehingga sosok itu sebenarnya perwujudan Bhatara Hyang Guru menyamar sebagai guru wanita. Beliau bermaksud menjelaskan jawaban yang benar atas perdebatan dalam acara TV tersebut, meski dalam mimpi seolah-olah saya yang menjelaskan kepada guru wanita itu. Begitulah bahasa mimpi.

Penjelasan dalam mimpi itu sangat logis, dimana energi yang berupa 'energi prana' ataupun aura yang dipancarkan ayah-bunda akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kecerdasan sang anak. Energi tersebut bisa juga berupa energi kasih sayang. Baik energi prana, maupun energi positif (emosi positif) berupa kasih sayang akan meghadirkan kenyamanan, ketentraman, dan kebahagian bagi sang anak, tentu hal ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan otak sang anak. Ketika pertumbuhan otak sangat baik maka kecerdasan anak akan jauh lebih mudah berkembang sebagai modal dasar berpikir. Menurut penelitian, kedekatan anak dengan orang tuanya yang cukup erat, terutama ayahnya, akan menjadikan anak lebih pintar dan cerdas. Dengan demikian, pendidikan usia dini 3-5 tahun itu sebaiknya dilakukan oleh ayah-bunda agar sang anak merasa cukup diperhatikan dan disayangi. Sesudah itu barulah pendidikan berikutnya diserahkan pada lembaga pendidikan di luar rumah.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts