e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mimpi Darurat, Dibutuhkan Kecepatan Mengartikannya

Adakalanya mimpi kita menggambarkan suatu peristiwa yang segera akan terjadi. Biasanya mimpi yang demikian ketika kita mimpi pada saat matahari telah memancarkan cahayanya, telah terbit. Sedangkan apabila kita mimpi pada waktu dini hari maka peristiwa yang akan terjadi dalam waktu masih lama. Umpamanya dua mingguan, bahkan bulanan, sehingga waktu kita masih panjang untuk mengantisipasi hal yang tak kita inginkan. Berbeda halnya dengan mimpi yang menggambarkan peristiwa yang akan segera terjadi, sehingga untuk mencegah hal buruk dibutuhkan kecepatan untuk menafsirkan mimpi kita. Mimpi yang demikian kita sebut mimpi darurat. Untuk penafsirannya menekankan pada kronologi tanpa menggalinya dengan tenung tanya lara. Berikut contoh mimpi darurat;

Saya sedang berada di parkiran pasar menunggu ibu jualan. Ternyata ibu sudah selesai jualan. Kami pun hendak pergi ke tempat lain untuk mengirim barang lainnya. Karena sudah siang dan berada di dataran rendah, tubuh saya keringetan. Lalu kami ke arah utara mencari WC, mau mencuci wajah. Sambil jalan kaki saya mengobrol dengan ibu.
'Apakah sudah bayar parkir, ma?'
'Sudah. Baru saja'
Di luar WC ternyata ada kran tempat mencuci wajah. Disitu kami mencuci wajah. Setelah itu saya masuk ke kamar mandi.

Bingung juga dibuatnya, saya kira sudah beneran mau berangkat dari pasar, padahal saya tidur di dalam mobil di parkiran pasar. Hari memang sudah siang dan sepertinya ibu saya sudah hampir selesai jualan. Dan rencanya memang hendak mengirim barang ke tempat lain. Jadi, antara mimpi dan kenyataan hampir sama. Bedanya dalam mimpi sudah bersih-bersih wajah karena keringetan. Dapatlah dikatakan bahwa mimpi tersebut menggambarkan peristiwa yang akan segera terjadi.

Mimpi di atas pertanda buruk. Bila mimpi mandi ala dahat, sangat buruk. Demikian pula mimpi mencuci wajah, pertanda kurang baik. Kemungkinan akan kehilangan ataupun akan mendapat musibah ringan. Untuk mencegah hal buruk saya segera menafsirkannya. Hal pertama yang menjadi pemikiran saya pertanyaan saya ke ibu 'Apakah sudah bayar parkir, ma?'. Pertanyaan seperti itu dalam mimpi sebenarnya ditunjukan kepada kita, demikian pula bila mimpi menasehati orang lain, padahal maksud sebenarnya nasehat itu ditunjukan ke kita. Dari pemikiran itu maka pertanyaan tersebut saya terjemahkan bahwa saya ditanyakan apakah sudah menghaturkan persembahan di pura pasar. Bila dalam kenyataan kita bayar parkir ke tukang parkir, maka hubungannya dengan alam gaib tentu kita menghaturkan persembahan kepada dewanya pasar.

Menariknya, dari tempat saya parkir ke arah utara ternyata pura pasar, padahal dalam mimpi disana ada WC. Saya sangat yakin bahwa mimpi tersebut saya disuruh sembahyang. Lalu saya bergegas beli canang sari, kemudian sembahyang disana, memohon ampunan telah lalai pada kewajiban. Selesai sembahyang, ibu saya sudah selesai jualan, lalu diajakin pergi kirim barang lainnya. Lalu tanpa sadar saya bertanya, 'Apakah sudah bayar parkir?' tanyaku serius. 'Sudah. Sudah tadi' jawab ibuku. Perasaan saya jadi terasa lega. Dan yakin tidak akan terjadi apa-apa setelah melakukan apa yang tersirat dalam petunjuk mimpi. Dalam keadaan seperti kita perlu menafsirkan mimpi dengan bertanya pada kata hati atau menuruti kehendak hati agar cepat menemukan jawabannya, bukan menuruti logika yang kadang sulit menyentuh hal-hal magis.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts