e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mengundang Leak

Secara umum Leak dalam masyaralat Bali mendapat stigma negatif, hal tersebut terjadi akibat ilmu leak disalahgunakan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab. Layaknya bom, yang dahulu digunakan untuk menghancurkan bangunan yang sudah rusak sehingga memudahkan tukang bangunan bekerja, kini bom identik dengan senjata peledak yang menakutkan dan mematikan. Akibatnya bom identik dengan tindakan teror. Demikian pula halnya dengan ilmu leak, pada awalnya ilmu leak digunakan sebagai tahap pemurnian diri untuk mencapai 'kelepasan' atau 'kamoksaan'. Lama kelamaan ilmu leak digolongkan menjadi ilmu hitam sehingga dipandang buruk dalam masyarakat. Saking dianggap negatifnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), leak diartikan sebagai hantu jadi-jadian, konon berupa binatang seperti kera, burung hantu, dsb, yang diciptakan seseorang dengan jalan memantrai diri.

Pada saat ini, ilmu leak digolongkan menjadi dua aliran, yaitu pangiwa; aliran kiri dan, panengen; aliran kanan. Leak aliran kanan seperti leak sari digunakan untuk tujuan kebaikan. Sedangkan aliran kiri tergolong leak perusak, untuk tujuani menyakiti orang lain. Secara khusus masyarakat mengenalnya sebagai 'panestian'. Banyak orang yang menjadi desti turunan dari keluarga terdahulunya tanpa disadarinya, biasanya dialami kaum perempuan. Sedangkan kaum laki-laki cenderung disengaja, sengaja belajar ilmu leak agar sakti mandra guna. Orang seperti ini biasanya suka perang di alam gaib, siat peteng istilah di Bali. Mereka berkumpul di gunung Agung dari segala penjuru pulau Bali bahkan dari luar Bali, misalnya Lombok. Untuk mencapai gunung Agung hanya dilalui dalam hitungan kedipan mata, layaknya mimpi tiba-tiba sudah di puncak gunung. Mereka juga biasa saling undang, lalu rapat untuk bertempur. Yang datang hanyalah rohnya, sedangkan raga fisiknya tidur. Istilah kerennya 'merogo sukmo', astral injection. Semakin tinggi tingkatan ilmunya, semakin cepat pergerakannya. Secara umum, terdapat sebelas tingkatan ilmu leak. Seperti berubah jadi sapi berkaki tiga, kera, dsb, dan yang paling tinggi menjadi bade tumpang sebelas.

Ada yang berpendapat bahwa belajar pangeleakan sebuah kemunduran. Akan tetapi kalau dipahami hakekat ilmu leak, malahan itu adalah sebuah kemajuan spiritual. Tidak sembarang orang bisa melepaskan rohnya dari badan fisik. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Kalau dipikir-pikir ilmu leak itu menakjubkan. Perang di alam mimpi saja merasa senang apalagi bisa merogo sukmo lalu adu kesaktian di alam gaib, pasti menakjubkan. Saya pernah mengundang leak namun akhirnya mereka hangus terbakar. Kronologinya sebagai berikut:

Saya sedang berada di halaman rumah nenek bersama Jero Kadek Suaraman, sepupu saya. Ada beberapa orang lain yang tak saya kenal hadir disana, mereka seakan ingin menonton hiburan tarian Calonarang, tarian yang bercerita tentang ratunya Leak Rangdeng Dirah. Sepupuku menyuruh saya untuk menari menjadi muridnya leak. Supaya murid-murid leak bisa merasuk ke dalam diri saya, saya lalu menari nengkleng; menari dengan kaki terangkat sebelah dan berkerudung kain kasa putih merajah. Sebelum mulai menari, punggung saya ditepuk oleh jero Kadek. Lalu saya berputar tiga kali mengelilingi halaman rumah nenek diikuti jero Kadek Suaraman. Pada putaran terakhir, saya merasakan dan melihat mahkluk gaib berkelebat, seakan sungguhan leak akan datang. Timbul perasaan takut bila sungguhan dirasuki leak. Tiba-tiba telapak tangan terasa panas, lalu mengeluarkan asap, menyembur layaknya semprotan nyamuk. Hal itu membuat leak yang hendak datang seakan merasa terbakar sehingga tidak jadi hadir merasuki saya.

Seusai menari seperti itu, saya masuk ke kamar nenek. Lalu berceloteh ke jero Kadek Suaraman. 'Bli sih disuruh mengundang leak, gak ada yang berani datang. Mereka pada terbakar. Soalnya tangan bli 'panes'. Ujarku tergelitik.

Sesaat kemudian tersadar, ternyata hanya mimpi. Mimpi tersebut pertanda buruk dan baik. Mimpi menari pertanda buruk, hal buruk datang dari makluk gaib untuk mengganggu atau menyakiti nenek atau kakek. Akan tetapi karena mahkluk gaibnya terbakar dan tidak jadi datang, maka hal itu pertanda baik. Hal baik ini merupakan pertolongan Ratu Kauh, dewata yang kahyangannya di pura Tringan. Apa penyebab hal buruk hampir datang untuk nenek atau lakek? Untuk mengetahuinya dapat digali dengan tenung tanya lara. Berdasarkan hari mimpinya jatuh pada Soma Wage nuju Tungleh. Soma ngaran umah (rumah), arahnya utara. Wage ngaran gumi (bumi) atau gedogan (kandang hewan), arahnya utara. Tungleh ngaran sarwa mati. Jumblah uripnya 4+4+7= 15:4= 3, sisa 3, artinya manusa atau sang wengi atau mamedi. Karena nuju tungleh disertai hari pasaran wage, maka hal ini cenderung pemalinan sehingga hal buruk cenderung datang dari Sang Wengi. Hal di atas bila disusun menjadi sebuah kalimat maka berarti 'Sang Wengi dajan umahe' (jin dari arah utara rumah).

Setelah saya cek ke rumah nenek, ternyata waktu kakek memperbaiki kandang, kakek menaruh beberapa batang kayu bekas tiang kandang. Tempat menaruh kayu itu dilalui jalan niskala (jalan di alam gaib) sehingga mengganggu perjalanan Sang Wengi yang ada di utara rumah nenek. Itulah penyebab hampir datang musibah namun masih diselamatkan dewa sehingga tidak terjadi apa-apa. Dapat dikatakan mimpi tersebut baru peringatan.

Hal menarik yang perlu dicermati dari kronologi mimpi tersebut bahwa tangan 'panes'. Panes dalam konteks ini bukan berarti panas melainkan bermakna memiliki khasiat. Khasiat tersebut bisa merugikan maupun menguntungkan. Telapak tangan kita sesungguhnya memang bisa memancarkan energi yaitu energi prana yang berasal dari energi prana semesta, terutama prana matahari. Sehingga telapak tangan kita bisa digunakan untuk mengobati dan juga untuk mengusir kekuatan jahat. Untuk bisa merasakan adanya energi di telapak tangan caranya cukup sederhana, dengan mengaktifkan cakra tangan.

Cobalah sentuh atau tekan bagian tengah telapak tangan kanan sekira sepuluh detik dengan ibu jari tangan kiri. Demikian sebaliknya, telapak tangan kiri disentuh dengan ibu jari tangan kanan. Kemudian pusatkan pikiran pada kedua telapak tangan, lalu rasakan dan nikmati energi hangat yang timbul. Lakukan setiap hari minimal seminggu dan rasakan apa yang terjadi. Telapak tangan kita mulai bisa mengakses energi semesta, energi prana. Energi tersebut bisa digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri maupun orang lain.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts