e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Aksara Suci 'Pang'

Aksara 'Pang' mungkin sangat asing bagi kita, bahkan saya tumben melihatnya atau membacanya, itu pun saya melihatnya bukan dengan mata biasa, tetapi dengan cara lain. Kejadiannya begini;

Tiba-tiba saya berada di timur laut rumah, sekira setengah kilo dari rumah. Saya sedang duduk dan memperhatikan jimat pis bolong (koin china) yang didapat melalui petunjuk mimpi. Koin ini berisi aksara Panca Brahma dan Dwi Aksara. Saya merasa ragu apakah koin ini sungguhan jimat pelindung ataukah bohongan.

'Dibohongi tuh' ujar dek Poli berseloroh. Dia muncul tiba-tiba dari belakang saya. Hal itu membuat saya ragu. Lalu saya memperhatikan jimat itu, anehnya aksaranya hilang. Malah bentuknya seperti uang logam terbuat dari seng. 'Kurang ajar, ternyata saya dibohongi. Dasar orang china penipu. Pantesan orang china banyak yang sukses ternyata caranya mencari uang dengan cara licik' saya menggerutu merasa tertipu.

Sekali lagi saya memperhatikan jimatnya, tiba-tiba berubah. Samar-samar ada gambar Delem atau Sangut (tokoh wayang). 'Pasti gara-gara ini saya sulit dapat jodoh, sehingga terlihat jelek di mata cewek. Meski bisa membuat pandai bicara' Saya berkeinginan membuang jimat ini biar dapat jodoh. Lalu saya perhatikan sekali lagi, eh tiba-tiba muncul gambar baru. Kali ini gambar yang muncul dua gambar; Sri Krisna (pewayangan) bersanding dengan Bidadari. 'Kalau begini, berarti jimat ini bisa nih dipakai mencari cewek' pikirku.

Sesaat kemudian saya hendak ke rumah. Sekali lagi memperhatikan koin jimatnya. Eh kembali berubah menjadi koin biasa, berwarna putih seperti campuran seng dan perak. Lalu saya memperhatikan secara seksama, koinnya kembali berubah berisi gambar atau rerajahan. Kali ini gambar yang muncul luar biasa menakjubkan. Pertama muncul gambar Dewi, seperti dewi Shri. Disampingnya rerajahan Sanghyang Acintya, lengkap dengan aksara sucinya. Terdapat banyak aksara suci yang muncul, tetapi yang paling jelas aksara 'Pang', tumben melihatnya.

Sesaat kemudian saya sudah duduk di rumah membawa jimat. Di samping saya ada seorang gadis yang tidak saya kenal, di sebelah saya ada kakak saya. Beberapa saat kemudian saya diajak ke sekolah sama kakak saya. Disana saya melihat guru Balian (om dari pihak ibu), sedang belajar. Ternyata masuk kuliah lagi meski sudah punya anak. Lalu saya masuk ke kantoran sekolah, disana saya melihat Komang Resmi, anaknya guru Balian.

Kaget juga mimpi sepanjang itu. Menariknya memimpikan jimat yang saya dapat dari petunjuk mimpi. Perkiraan saya, dari kronologi tersebut menjelaskan fungsi dari jimat itu. Kata Dek Poli mengisyaratkan 'Pulih' artinya dapat. Dapat karunia jimat itu untuk tujuan tertentu. Fungsinya untuk dipakai agar bisa ngoceh meski ocehan saya tidak jelas, hal ini diambil dari makna gambar delem atau sangut. Dalam dunia pewayangan, kedua tokoh ini dikenal sebagai tokoh yang senang diskusi, meski hal sepele. Lalu muncul gambar Shri Krisna melambangkan berfungsi sebagai mencari kebijaksanaan. Sedangkan kemunculan gambar bidadari melambangkan bisa digunakan untuk memikat cewek (dugaan saya begitu).

Yang rumit dipahami muncul gambar dewi Shri bersanding dengan Sanghyang Acintya (Tuhan). Apakah hal ini melambangkan jimat tersebut juga berstananya Brahman. Tetapi dari isi aksaranya sepertinya benar, soalnya berisi aksara Ang Ah (dwi aksara) dan aksara Panca Brahma. Yang unik bagi saya muncul aksara 'Pang' padahal saya tidak pernah dengar yang namanya aksara suci atau aksara sakral 'Pang'. Malah lihatnya di alam mimpi. Belakangan saya baca buku catatan bapak saya tentang 'Sanghyang Griguh', ternyata memang benar ada aksara suci 'Pang'. Unik kan? Memang Sanghyang Griguh isinya Pengiwa tetapi kalau benar caranya menggunakannya menjadi Penengen. Sebenarnya tidak ada ilmu hitam atau ilmu putih. Yang ada itu perbuatan jahat dan perbuatan baik.

Kehadiran kakak saya melambangkan hadirnya Dewa Hyang Alit, sedangkan kemunculan wanita tidak tahu maksudnya. Melihat Guru Balian kuliah lagi dan melihat komang Resmi, ini merupakan bahasa sandi menggunakan bahasa lokal. 'Guru Balian masuk, komang Resmi'; Bhatara Hyang Guru ba resmi ngemasukang. Saya terjemahkan bebas yang artinya Bhatara Hyang guru sudah resmi memasukan kekuatan pada jimat itu. Kekuatan yang dimaksud yaitu fungsinya. *Hanya asumsi saja setelah analisa mimpinya.

Terkait dengan aksara suci, terdapat banyak aksara sakral atau suci dalam ajaran Hindu Bali. Bila dihitung dimulai dari ada aksara 1, 2, 3, 5, 10, dan lain sebagainya.

Eka Aksara, yaitu Omkara: Om atau Ong. Aksara suci ini paling sakral dan paling agung karena aksara ini simbol Brahman, dewanya dewa, Tuhan. Sehingga aksara ini selalu menjadi kata pendahulu pada setiap doa. Doa untuk pemujaan kepada Dewa atau Tuhan selalu didahului kata Om. Apabila aksara Om atau Ong digunakan untuk ilmu hitam cenderung dibalik disebut aksara omkara sungsang.

Dwi Aksara yaitu Ang dan Ah. Aksara ini simbol ibu dan ayah semesta. Ang simbol bapa Akasa, Ah simbol ibu pertiwi. Banyak mantra dilengkapi aksara ini untuk tujuan tertentu. Akan tetapi jarang digunakan sebagai doa harian.

Tri aksara, adalah aksara Ang, Ung, Mang atau A, U, M. Aksara Om terbentuk dari ketiga aksara ini yaitu Aum menjadi Om. Ang perwujudan Brahma, Ung perwujudan Wisnu. Dan Mang perwujudan Shiwa. Ketiga aksara ini apabila dijadikan pemujaan harian maka akan mendapat karunia dari dewa. Cara penggunaannya cukup sederhana. Aksara ketiga di atas bila dijadikan sebuah doa atau matra menjadi 'Om Ang Ung Mang ya nama swaha'. Ucapkan mantra ini 9 kali setiap sembahyang setiap hari dan lihat apa yang terjadi.

Aksara lima atau Panca Aksara. Di Bali panca aksara sangat sakral sifatnya. Demikian pula di India karena aksara ini membentuk nama suci Tuhan Shiwa. Yang dimaksud Panca Aksara yaitu Na, Ma, Si, Wa, dan Ya. Apabila dijadikan puja mantra harian menjadi 'Om Namah Shiwa Ya'. Mantra ini bisa juga dibolak-balik. 'OM Namah Shiwa Ya, Shiwa Ya Namah Om'. Lebih lengkap dibolak-balik berdasarkan uraian kitab Purana menjadi 'Om Namah Shiwa Ya, Shubam, Shubam, Kuru, Kuru, Shiwa Ya Namah Om'. Apabila mantra suci ini digunakan sebagai japa mantra setiap hari sebanyak 108 kali maka banyak dosa bisa dikurangi sehingga lebih mudah mengakses energi Tuhan.

Dasa Aksara atau sepuluh aksara, ini gabungan panca aksara dan aksara panca brahma. Yang dimaksud panca Brahma yaitu Sa, Ba, Ta, A, dan I. Kemudian aksara ini digabung dengan panca aksara menjadi Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya. Apabila dijadikan doa untuk menghidupkan energi dewa dalam diri maka mantranya menjadi 'Om, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang'. Bisa juga ditambahkan aksara Ang Ah di belakang.

Semua aksara tersebut dikuasai oleh dewa-dewi tertentu sehingga bila benar cara mengucapkannya akan memiliki kekuatan gaib. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat merafalkan doa atau mantra tersebut, setiap akan sembahyang hendaknya selalu didahului dengan Panugrahan Mantra agar tidak 'kepastu dening sanghyang mantra'. Panugrahan mantra doanya sebagai berikut; 'Om Awignam astu ya namah sidhyem'. Mantra tersebut juga bisa ditambahkan dengan mantra lainnya dengan mantra berikut; 'Mantra Ung sekar jempaka putih, metu saking seberang bayu, apan aku bima sakti, seraja karya wenang aku. Lah poma, poma, poma'

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts