e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Ulangan Matematika di Tegalan

Seminggu ini ulangan umum sedang berlangsung, padahal habis hari libur. Masih tersisa beberapa mata pelajaran yang belum selesai. Lucunya, kami ulangan di tegalan di sebelah timur laut rumah. Pada hari ini ulangan Matematika hanya bertiga, tiga siswa, yang lainnya sudah kemarinnya. Kami tidak ikut ulangan kemarin karena ada suatu sebab. Posisi kami bertiga dipisahkan, ada yang di timur, di tengah, dan di Barat. Yang di timur saya, di tengah sepertinya seorang gadis, sedangkan yang di barat jero Kadek Arcana. Ingetnya yang membuat soal adalah pak Kadek Ardiana, guru Matematika. Tetapi hari ini beliau tidak hadir, yang hadir adalah petugas atau panitia ulangan umum.

Lembar soal ulangan pun dibacakan oleh petugas sekaligus pengawas. Saya kenal dan akrab dengan pengawasnya, tetapi tidak tahu siapa namanya. Soal ujian baru sedikit ditulis namun sudah selesai dibacakan sehingga saya tidak bisa menulis jawaban. Padahal soal matematikanya hanya ada tiga namun satu pun tidak berhasil saya jawab karena soal ulangan itu tidak mau dibacakan lagi. Melihat kenyataan itu, saya pun marah, mengomeli petugasnya, 'Mana soal ulangannya! kenapa hanya dibacakan sekali, kenapa tidak dibagikan kepada kami, bukankah kemarin siswa lainnya dapat kertas soal? Kalau begini kan tidak adil!' Ujarku dengan nada tinggi sembari menudingnya dengan telunjuk. Lalu saya minta agar soal itu diperbanyak dengan mesin scaner. Pengawasnya itu pun hendak memperbanyak, namun sayangnya datanglah panitia ulangan yang saya kenal, dipanggil guru Mu, masih ada ikatan keluarga. Dalam hati merasa akan ditolong, dibantu. Sayangnya harapan itu tinggal kenangan. Malah guru Mu lebih tegas dan galak. Saya disuruh menulis jawaban matematika di papan kayu triplek ukuran 1 m persegi dekat kandang sapi. Ditulis menggunakan kapur.

Tak lama berselang, guru Mu dan pengawasnya sudah pergi. Waktu ulangan hampir habis, saya mencontek kepada jero Kadek Arcana. Dia sudah hampir selesai menjawab. Saya pun menyalin jawabannya. Nomor satu jawabannya cukup panjang dengan hasil akhir 14/33 (empat belas per tiga puluh tiga). Jawaban nomor dua dengan huruf, dengan hasil akhir AU. Untuk menulis jawaban nomor tiga sudah tidak cukup di papan, lalu saya tulis di ember dengan tanah merah. Mencontek pun selesai. Kami hendak mengumpulkan jawabannya. Sialnya, papan yang sudah isi jawaban kehujanan. Jadinya hilang jawabannya, yang tersisa hanya satu jawaban yaitu yang di ember. Duuh keselnya hati saya. Lalu saya dan jero Kadek Arcana berjalan ke rumah saya hendak mengumpulkan jawaban. Jero Kadek menyuruh saya untuk memperbaiki di rumah, ditulis dengan spidol agar permanen hasil jawabannya.

Tiba di rumah, saya melihat guru Mu dan pengawasnya di sebelah timur laut rumah saya duduk dekat dapur. Guru Mu dan pengawasnya hendak disuguhkan makanan oleh keluarga kami. Melihat mereka saya merasa jengkel. Lalu saya memukulkan gembok ke tembok di sebelah timur rumah disertai suara mengusir anjing. Daarr! 'Seehhhh' suaraku bergema. Kedua pengawas itu tetap bengong melihat kelakuan saya. Sepertinya merasa tersinggung tetapi dipendam dalam hati.

Saya ingin melanjutkan menulis jawaban ulangan tadi, lalu masuk ke kamar suci mencari spidol, sayangnya tidak ada spidol. Perasaan saya semakin gundah bercampur marah. Saya menemukan gembok kunci lagi satu, sehingga kedua tangan saya berisi gembok kunci. Rasa jengkel masih tersisa. Kemudian lagi membenturkan gembok dekat guru Mu dan pengawas ulangan itu disertai suara mengusir kucing. Darr.. 'Heepp!' Suaraku menggema. Saya yakin guru Mu dan temannya merasa tersinggung. Padahal hendak disuguhkan nasi oleh ibuku namun saya bersikap tak sopan seperti itu.

Kaget juga mimpi seperti itu, saya kira beneran tidak bisa menjawab soal Matematika dan bersikap tidak hormat pada keluarga yang hendak disuguhkan makanan. Saya mulai menyadari makna mimpi itu, namun belum tahu arti detailnya. Berdasarkan tenung tanya lara mimpi itu ada kaitannya dengan sesuunan (dewata). Hari mimpinya jatuh pada Anggara Umanis nuju Paniron. Anggara ngaran anggaranga (direncanakan), umanis ngaran umah (rumah). Jumblah uripnya 3+5+8= 16:4= 3, sisa 4, artinya dewa agung, sesuunan. Dalam mimpi dekat kandang sapi, hal ini melambangkan upacara atau banten. Sapi atau sampi ngaran sampian, sampian ngaran banten/upakara/upacara/ritual. Lokasi mimpi ada di timur laut (kaja kangin) rumah. Dengan demikian, berdasarkan tenung tanya lara mimpi tersebut maknanya; banten di kaja kangin umahe suba anggaranga (Upacara di timur laut rumah/Kamulan sudah direncanakan). Untuk mengetahui lebih detailnya bisa digali berdasarkan kronologi mimpinya sebagai berikut:

Ulangan matematika setelah libur melambangkan rumus kehidupan yang tertunda, yaitu upacara yang sudah direncanakan namun belum terlaksana sehingga diberikan ujian, cobaan. Yang memberi ujian Bhatara Hyang Guru, menyamar menjadi Guru Matematika. Pengawasnya kemungkinan melambangkan Sesuunan (dewata) karena merasa kenal dan akrab namun tidak tahu siapa di kenyataan. Sedangkan guru Mu melambangkan Dewa Kembar karena guru Mu menjadi pemangku Dewa Kembar.

Posisi siswa dipisahkan menjadi tiga melambangkan suatu perintah untuk membuat banten (ritual) sebanyak tiga lokasi, banten diambil dari makna Sapi (kandang sapi). Hal ini diperjelas dengan hasil contekan ulangan nomor satu yaitu 14/33: empat belas tiga-tiga, maknanya 'belasang ketiga-tiganya' (pisahkan ketiga-tiganya). Nomor dua jawabannya AU artinya Ratu (dewa). Kalau orang bisu bilang 'Ratu' pasti ngomongnya 'A.U'. Jadi, banten itu ketiga-tiganya untuk Ratu.

Diberikan contekan melambangkan diberikan rejeki. Tiga kali lipat hendak diberi rejeki namun yang tersisa hanya satu. Dua kali lipat rejeki hilang disapu hujan. Yang terjadi dalam kenyataan itu tanaman bawang merah tamat riwayatnya gara-gara terus-terusan kehujanan, hanya sedikit berhasil dipanen. Padahal sudah sampai susah payah bekerja (menyalin contekan), akhirnya hilang juga. Bersyukur masih ada satu sisa jawaban di ember yang ditulis dengan tanah merah, maksudnya bawang merah. Yang memberi rejeki (jawaban) Ratu Sakti Makulem, menyamar menjadi Jero Kadek Arcana karena dia menjadi jero Dasaran atau tapakan dewa Ratu Sakti Makulem, kahyangannya di pura Yeh Panes.

Agar kedepannya bisa mendapat rejeki (bisa mengumpulkan jawaban), hendaklah Sesuunan itu diajak ke rumah. Saat ini dewa kembar dan sesuunan hanya bengong di rumah, belum sempat menerima persembahan (guru Mu dan pengawasnya hanya bengong hendak disuguhkan nasi). Supaya rejekinya langgeng (jawabannya permanen) disarankan mengajak sesuunan ke kamar suci/tempat suci yaitu di Kamulan.
Kemarahan saya dalam mimpi melambangkan kekecewaan saya dalam dunia nyata. Saya bertanya-tanya kenapa bisa gagal panen padahal menanam bawang merah berdasarkan petunjuk mimpi, petunjuk dewa. Ternyata kegagalan itu gara-gara sekira dua bulan yang lalu batal membuat banten piuning di pura Puseh-Desa, Yeh Panes, dan Pura Dalem. Banten itulah yang harus dilaksanakan terlebih dulu untuk mengajak dewata ke Kamulan. Gara-gara batal itulah sebabnya rejeki yang hendak diberikan diambil lagi. Hilang dua, sisa satu. Tega sekali para dewanya.

Mimpi di atas saya ceritakan ke bapak saya, agar segera membuat banten piuning agar tidak selalu rugi bekerja. Namun responnya tidak menyenangkan, padahal odalan Bhatara Hyang Guru di Kamulan sudah dekat yaitu jatuh pada Radite Umanis wuku Ukir. Dalam hati saya merasa marah dan kecewa, padahal dewa sudah melimpahkan kasih sayangnya dengan menjelaskan kendala yang kami hadapi melalui petunjuk mimpi. Lalu dalam hati saya berharap agar bapak saya kena murka Bhatara Hyang Guru. Harapan saya itu hampir jadi kenyataan, malam harinya bapak saya mimpi hampir digarap anjing. Katanya, kronologi mimpinya sebagai berikut:

Berada di rumah, tiba-tiba datang anjing putih besar hendak menggigit bapak saya, namun berhasil menghindar. Anjing itu lalu dibantai pakai bambu hingga kabur. Katanya, anjing itu milik Guru Kantram. Kabur yang putih, datang anjing hitam besar. Lalu anjing itu meloncat hendak menerkam bapak saya, namun berhasil menghindar. Anjing itu lalu dipukul pakai kayu, tidak kena. Anjing itu sangat licin, selalu berhasil menghindar dari hantaman kayu. Bapak saya hampir digigit, lalu dibantu kakak saya. Dan berhasil membunuh anjing itu, dipukul pakai Sanan. Darahnya hingga muncrat ke kepala bapak saya. Tiba-tiba anjingnya hidup dan berubah jadi saya.

Dalam hati saya tertawa mendengar cerita mimpi bapak saya. Ternyata doa dalam hati saya seperti mantra mujarab. Hampir bapak saya digigit anjing (simbol kala/bhuta kala) milik Bhatara Hyang Guru, menyamar menjadi Guru Kantram. Untung bapak saya diselamatkan dewa Hyang Alit, menyamar menjadi kakak saya. Disitu bahayanya doa dalam hati, seringkali bisa mendatangkan petaka bagi orang lain.

Akhirnya saya sendiri yang melaksanaka upacara tersebut setelah sebelum hari piodalan Bhatara Guru.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts