e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Pemali Agung

Lagi asik jalan kaki ke arah utara dekat rumah omnya, saya dihentikan oleh sopir carry, seorang laki-laki ditemani istrinya. Orang itu menanyakan pemilik jagung yang sudah siap panen di sebelah utara rumah omnya. Lalu saya menceritakan bahwa jagung itu milik om dan tante saya. Dia ngotot ingin membeli jagung itu, katanya jagung sekarang mahal.

'Boleh gak saya minta tolong sama kamu, ceritakan ke om dan tantenya bahwa saya mau beli jagungnya' ujarnya berbisik di telingaku. Saya menyanggupinya, lalu bergegas menuju rumah tantenya. Dekat rumah omnya saya turun tangga menuju halaman rumahnya.

Saat saya menginjakan kaki di halaman rumah omnya, saya tersadar dari mimpi. Sudah sejak lama masyarakat di lingkungan rumah saya tak pernah menanam jagung, kini melihat pohon jagung di alam mimpi. Seringkali mimpi yang sungguh-sungguh mengingatkan kita pada masa kecil kita, bahkan adakalanya dalam mimpi melihat bentuk tanah maupun rumah di masa lalu, yang saat ini sudah berubah sedemikian rupa.
Mimpi di atas memang singkat tetapi mimpi itu bercerita hal penting meski tampak bercerita tentang jagung yang katanya harganya mahal. Setelah saya renungkan saya berhasil menterjemahkan kata sandinya; Meli jagung di dajan umah om dan tante. Meli saya terjemahkan pemali, jagung melambangkan agung: pemali agung. Pemali itu berada di utara rumah omnya. Dalam mimpi ada permintaan dari alam gaib untuk menceritakannya ke om dan tante. Karena itu, waktu tante dan om datang ke rumah saya menceritakan mimpi itu, dan menjelaskan bahwa di sebelah utara rumah ada pemali agung. Kata omnya, ternyata benar ada pemali di sebelah utara rumahnya yaitu sengkedan tanah numbak rumah (pangkedan numbak umah). Akhirnya om memutuskan akan menghancurkan sengkedan itu. Tante menduga sakitnya selama ini datangnya dari pemali itu.

Terkadang kita menganggap remeh keberadaan suatu benda yang ada di sekitar rumah, padahal bila keberadaan benda itu bila berada pada tempat yang tidak seharusnya bisa mengganggu rumah, terutama dewanya rumah. Menurut asumsi saya, Dewanya rumah sesungguhnya menyatu dengan dewanya kita (sang roh). Oleh karena itu, bila rumah mendapat gangguan maka kitalah yang terganggu, seperti sering jatuh sakit, apalagi pemali agung, bisa membahayakan nyawa kita.

Ada banyak pemali agung lainnya, seperti salah menempatkan tempat suci, salah menempatkan Tunggun Karang, rumah numbak bucu, dan lain sebagainya. Menata rumah di Bali memang berat, hal itu karena rumah di Bali disakralisasi dengan upacara atau ritual. Di sisi lain, bila membangun rumah tanpa disakralisasi maka kita seperti tidur di tanah lapang, makluk gaib apa saja bisa masuk ke rumah sehingga tidur kita tidak nyaman; sering mimpi buruk, sering didatangi hantu, jin, memedi, dan lain sebagainya. Dalam tradisi di Bali maupun dalam tradisi Veda dikenal beberapa sastra mengatur tata cara membangun rumah. Di Bali ada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, dsb. Di India terdapat ajaran Vastusastra mengatur berbagai hal kaitannya dengan rumah. Sedangkan di China dikenal fengsui. Besar kemungkinannya kebudayaan timur berdasarkan pada satu sumber yaitu ajaran Veda, hanya saja telah melebur dengan kebudayaan setempat sehingga menyesuaikan dengan tradisi lokal, local genus.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts