e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Meremas Payudara Istri Orang

Pada malam hari saat hujan angin bergejolak saya lagi tidur di kamar. Tak lama berselang terdengar suara wanita memanggil. Ternyata Luh Pon, seorang wanita bersuami, lalu dia nyelonong masuk ke kamar saya. Dia membawa pisang satu tandan yang masih berisi montong.

Wanita itu lalu terbaring di samping saya. Entah setan dari mana datang memasuki pikiran saya, nafsu seks bergejolak. Memang benar nasehat para bijak; 'Wanita dan lelaki bagaikan bara api dan minyak, bila diletakan pada tempat yang sama akan membara. Oleh karena itulah bara api dan minyak hendaknya ditempatkan terpisah.'

Beberapa saat kemudian, tangan saya menjalar ke payudaranya, lalu meremas payudaranya. Tidak puas sampai disitu, saya mengulum payudaranya. Namun entah kenapa saya dibiarkan bertindak senonoh seperti itu. Tiba-tiba diluar terdengar suara bapakku, yang biasa dipanggil guru. Saya bergegas menghentikan tindakan nakal itu.

Entah apa yang terjadi, Luh Pon sudah tidak ada. Datanglah ipar saya, Ayu namanya. Dia memboncengku ke rumahnya, disana saya melihat kakakku merapikan kamarnya. Saya diajak iparku untuk merapikan kamarnya.

Sempat terkejut mimpi bercumbu mesra dengan wanita sudah bersuami. Mimpi ini sudah dapat ditebak melambangkan pemali, tanpa perlu digali dengan tenung tanya lara. Lalu saya merenungkan kronologi mimpinya; dibawakan tandan pisang oleh Luh Pon. Pasti ada kaitannya dengan pisang di sekitar rumah (Pon: pondok: rumah). Munculnya ipar, saya tafsirkan pelepah (papah) karena dalam bahasa lokal ipar itu disebut ipah. Sehingga pemali yang dimaksud yaitu papah biu (pelepah pisang) di pondoke (rumah). Sedangkan kemunculan bapak saya (guru) melambangkan mimpi itu petunjuk dari Bhatara Hyang Guru, dan kakak saya melambangkan dewa Hyang Alit yaitu saudara saya yang meninggal waktu kecil.

Ketika pagi datang, saya langsung melacak keberadaan pelepah pisang itu, ternyata daun pisang di sebelah utara rumah bersentuhan dengan atap rumah gara-gara diterjang angin. Lalu saya memangkasnya. Menariknya pisang yang menjadi pemali sudah berbuah, tandan pisang yang dibawa Luh Pon persis dengan yang di kenyataan.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts