e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Menikah Mendadak

'Jodoh akan datang bila waktunya sudah tiba' demikian kata orang-orang. Ternyata ungkapan itu tidak bohong. Buktinya saya akhirnya menemukan jodoh meski menikah mendadak, menikah darurat dengan pesta ala kadarnya, yang terpenting sudah sesuai dengan aturan dan tradisi, tidak perlu gengsi karena gengsi tidak membuat hidup bergengsi. Diluar keluarga besar, saya hanya mengundang beberapa orang saja. Saya mencoba membangun konsep acara pernikahan sederhana. Itu pun saat ada kesibukan membangun. Ceritanya begini;

Dua hari sebelumnya surat undangan sudah disebar, demikian pula keluarga besar sudah diberitahu dengan mengunjungi ke rumahnya. Keluarga besar saya kira-kira sebanyak 100 KK. Lagi pula gadis yang saya nikahi adalah Jero N, masih sepupuan sehingga tidak begitu repot dengan tata krama pernikahan yang amat ribet. Acara akad nikah dilaksanakan di rumah sepupunya, di rumah orang tua gadis yang saya nikahi. Hari ini adalah hari hajatan itu, meski ada hajatan yang demikian penting namun karena masih pagi di keluarga kami masih sibuk nembok membuat pagar sembari menunggu undangan datang. Keluarga kami semua sibuk, ada yang mencampur semen dengan pasir, ada yang nembok, dan yang perempuan mempersiapkan acara pernikahan saya. Saya ikut meladeni guru putu yang nembok.

Ada yang memberitahu saya bahwa sudah ada undangan yang hendak datang. Lalu kami berdua disuruh berhias pengantin agar tidak duluan undangannya yang datang. Kalau telat berhias, bisa jadi undangannya menyambut pengantin. Lagi pula berhias pengantin tidak bisa grasa-grusu. Untuk menghindari hal itu saya tidak mandi, cukup cuci tangan, kaki dan wajah. Saat mencuci kaki saya melihat telapak kaki cukup kotor. Lalu, saya menggosokannya di tembok agar lebih cepat bersih. Air yang saya pakai mencuci kaki, air sisa mencampur adonan semen dan pasir.

Tak lama berselang, saya berpakaian pengantin adat Bali. Saya tidak mau pakai baju lengan pendek, saya memakai pakaian lengan panjang agar tidak kelihatan kurus. Kan malu dengan tamu undangan bila terlihat tulalit; tulang dan kulit. Sedikit tidaknya saya tahu tata rias pengantin soalnya waktu abg pernah menjadi objek yang dirias pada saat ada ujian rias pengantin di sebuah hotel di Denpasar. Setelah berpakaian, saya naik tangga, disana saya melihat Mbok Mu (istri sepupu saya) sedang duduk bersama anaknya yang masih kecil. Kemudian saya masuk ke kamarnya bli kembar, sepupu saya yang laki. Disana saya bercermin dan bersisir untuk melihat diri sendiri apakah sudah ganteng apa belum.

'Haa! Kok saya mimpi gitu sih?' Bertanya pada diri sendiri. Kirain sungguhan ternyata cumi; cuma mimpi. Lalu berenung sejenak, dan mengambil kesimpulan bahwa mimpi itu pertanda buruk dan baik sehingga hanya sebuah peringatan sehingga tidak perlu risau. Dengan menuruti petunjuk-Nya dalam mimpi maka hal buruk tidak akan terjadi.

Berdasarkan tenung tanya lara pertanda ada petunjuk dari sesuunan (dewata). Hari mimpinya jatuh pada Buda Kliwon nuju Urukung. Buda ngaran bantang, arahnya barat. Kliwon ngaran karang. Jumblah uripnya 7+8+5= 20:4= 4, sisa 4, artinya Sesuunan. Sehingga mimpi tersebut pertanda petunjuk dari Sesuunan di pekarangan (dewata di rumah). Bisa juga diterjemahkan ada bantang atau batang pohon di sebelah barat pekarangan rumah yang menjadi pemali. Dan juga bisa diterjemahkan banten untuk pekarangan.

Berdasarkan kronologi mimpinya, menikah pertanda buruk, pertanda kaletehan (kotor). Hal itu karena bila seseorang menikah belum diupacarai maka termasuk cuntaka. Hal ini didukung dengan kronologi mencuci kaki yang terlihat kotor, digosokan ke tembok. Kekotoran itu disebabkan pemali, diambil dari makna melihat anak kecil. Pemali itu menyentuh tembok di gedong dewa kembar (pura kecil untuk pura dewa kembar). Penafsiran itu karena dalam mimpi saya masuk ke kamarnya bli kembar, padahal dalam kenyataan disana gedong dewa kembar. Sedangkan kronologi menembok pagar dan mencampur adonan semen dan pasir (luluh), hal ini pertanda baik. Luluh dimaknai aluh (gampang, mudah, dimudahkan). Sehingga hal buruk itu dimudahkan atau disederhanakan oleh dewa kembar. Selain pertanda leteh karena pemali di gedong dewa kembar, juga pertanda leteh di pekarangan. Hal ini berdasarkan hari mimpinya yang jatuh pada Kliwon, kliwon ngaran karang.

Untuk memastikan kebenaran itu, saat saya bertemu dengan tantenya saya mencoba menebak bahwa di pekarangan rumah tantenya sedang kaletehan (kotor dari sisi niskala). Dugaan pertama saya bahwa di kamulan tantenya ada longsoran, ternyata tidak benar. Namun yang terjadi adalah gedong gedong memedi anak Alit (gedong untuk anak kecil yang belum diaben) sempat kena longsoran tanah dan juga longsoran tanah itu masuk ke pekarangan sehingga hal inilah yang menyebabkan kaletehan. Sedangkan untuk pemali di gedong dewa kembar tersebut prediksi saya akurat.

Untuk menghindari hal buruk saya menasehati tante agar segera membuat ritual pebersihan pekarangan dan juga untuk membersihkan pemali yang ada. Hal itu karena dalam mimpi dikatakan undangannya sudah mau datang. Saya tafsirkan yang dimaksud undangan adalah musibah hampir datang.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts