e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Memetik Nangka Bersama Hari Tanu

Sepulang dari rumah nenek, saya jalan-jalan di tegalan bersama tante, Mitut Alus saya memanggilnya, anaknya nenek. Disana saya melihat dua Kayu Putih tumbang. 'Waktu ini tante yang memintanya dibawa ke rumah, sudah ada ijin dari guru' ujarnya. Saya kira kayu itu hilang, ternyata tante saya yang menebangnya. Perjalanan berlanjut, saya melihat ada satu lagi pohon kayu putih yang ditinggal, ternyata nyangkut di kayu lainnya sehingga tidak bisa diturunkan.

Saya berinisiatip untuk menurunkannya dengan memanjat pohon lainnya, naik hinggi ke ujung pohon. Begitu saya menarik ujung pohon yang sudah ditebang, batang kayu itu langsung terjun bebas ke bawah, sebaliknya saya justru dipentalkan ke atas bersama seseorang yang tidak dikenal, saya disuruh berpegangan erat-erat agar tidak terjatuh. Secepat kilat saya berpegangan erat. Lalu terayun ke pohon nangka.

Akhirnya saya selamat dari musibah dengan berpindah ke pohon nangka. Untungnya lagi saya melihat buah 'nangka buug' sudah ranum. Tampaknya enak sekali kalau dimakan, saya hendak memetiknya. 'Jangan dimakan, ijin dulu sama pemiliknya, pak Hari Tanu' ujar orang tadi yang menemani saya. Saat hendak turun dari pohon nangka, samar-samar saya melihat bapak Hari Tanu bersama temannya di meja kerja dekat pangkal pohon nangka. Teman saya hendak minta ijin untuk memetiknya tetapi tidak diijinkan. Hari sudah malam, tiba-tiba nangka itu sudah dipegang pak Hari Tanu. Lalu muncul sepupu saya, bli jero Kembar, diam-diam mengambil sedikit isi nangkanya, dia diikuti sepupu saya yang lainnya, nyoman Dedi. Lalu mereka berlarian seakan hendak pergi ke rumah nenek. Saya berteriak memintanya untuk menunggu karena saya tidak bawa lampu. Kemudian saya berlari mengejar mereka tanpa sempat mencicipi nangka.

Cukup terperangah saat tersadar dari mimpi. Agak lucu mimpi bertemu Hari Tanoe Soedibyo di tegalan saya. Dan secepat kilat saya mengerti maksud bahasa sandi Hari Tanu. Saya terjemahkan 'kari nu' (bahasa bali) yang artinya masih ada atau masih hidup. Walau mimpinya pertanda buruk namun saya merasa lega karena hal ini melambangkan kematian namun tidak jadi. Berdasarkan kronologi mimpinya secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai berikut;

Mimpi kayu tumbang pertanda tidak baik, akan tetapi karena dalam mimpi diminta tante saya, maka bermakna baik. Karena hal yang tidak baik dihaluskan (bahasa bali: alusanga, diambil dari makna nama Alus). Hal ini ditunjang lagi saya memanjat pohon sampai ke ujung, hal ini pertanda baik, diberi kesempatan untuk mencegah hal-hal yang tidak baik. Tetapi karena dibawa ke pohon nangka dan melihat nangka buug yang sudah ranum, hal ini pertanda tidak baik, pertanda akan ada keluarga yang akan meninggal (nangka diartikan bangka atau mati). Keluarga yang dimaksud yaitu nenek saya karena dalam mimpi samar-samar hendak lari ke rumah nenek. Akan tetapi nenek akan selamat dari musibah karena ditolong dewa kembar yang menyamar menjadi sepupu saya. Dan juga nangka itu milik pak Hari Tanu yang diartikan 'kari nu' (masih hidup). Berdasarkan tafsir kronologinya, mimpi di atas hanya peringatan, kalau pun terjadi musibah palingan hanya penderitaan kecil. Seringkali kita mimpi buruk namun tidak terjadi karena hanya sebuah peringatan. Peringatan inilah hendaknya kita telusuri untuk menghindari petaka yang lebih besar.

Berdasarkan tenung tanya lara mimpi tersebut melambangkan kemarahan dewata di rumah. Hari mimpinya Sukra Kliwon nuju Paniron. Sukra ngaran Sesuunan (dewata), arahnya kaja kangin (timur laut). Kliwon ngaran karang. Paniron ngaran sarwa hidup. Jumblah uripnya 6+8+8= 22:4= 5, sisa 2, artinya Kala. Kata tersebut bila disusun menjadi 'Kalan sesuunan di kaja kangin karange' (Kemarahan dewata yang berstana di timur laut pekarangan atau rumah). Meski dalam tafsir ini melambangkan kemarahan dewata di rumah bukan berarti dewa marah, melainkan dewata tidak memberi pertolongan kepada kita dari musibah. Lalu muncul pertanyaan, kenapa dewa di rumah neneknya murka? Hal itu akibat nenek saya atau keluarga kami menunda pembongkaran Palinggih untuk dewa yang menjadi Pemali Agung, sebagai mana yang pernah saya bedah dalam cerita mimpi yang berjudul 'Bercinta dengan Adik Sendiri'. Semenjak saya berhasil memecahkan penyebab nenek sakit tiada henti akibat pemali agung, nenek bisa sembuh total hingga bisa bekerja lagi karena nenek berjanji akan membongkar palinggih itu, namun karena menunggu hari baik, lalu ditunda berlarut-larut. Dan keluarga kami jadi abai dengan pemali itu. Disinilah kadang lucunya kita. Saat sehat abai dengan sesuatu yang bisa menyebabkan sakit, lalu ketika sakit barulah kita menyalahkan dewa.

Tadi waktu saya ke rumah nenek, katanya kemarin sore nenek hampir meninggal gara-gara sakit sesaknya kambuh. Sudah dari waktu ini saya meminta kepada keluarga agar pembongkaran Palinggih itu dilaksanakan, malahan saling lempar tanggung jawab. Memang sih membongkar tempat suci tidak asal bongkar ada pakemnya. Namun kalau dikerjakan bersama pasti cepat selesai. Sebagai anak muda, disitu kadang aku merasa sedih.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts