e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Kena Ilmu Hitam Sarana Jarum

Pada hari rabu cukup ramai kedutan di tubuh saya. Mulai dari kedutan di lambung; akan menderita. Sekira setengah jam, lengan bentol-bentol. Lalu saya obati dengan telapak tangan; 15 menit sudah hilang. Sejam kemudian kedutan di telapak kaki; pertanda akan kena ilmu hitam yang dipendam, lalu kedutan pada siku kiri pertanda akan sakit. Setelah itu mendapat sinyal dibicarakan orang: pembicaraan buruk. Paling tidak saya dianggap jelek. Biarkan saja gagak bersuara jelek, tidak perlu risau dari penilaian manusia, lebih risau bila jelek di hadapan dewa.

Sore harinya kedutan di siku kanan pertanda akan berkelahi. Menjelang malam kedutan di lambung lebih keras; pertanda penderitaan datang. Kembali kedutan di kaki pertanda ada orang yang hendak menyerang dengan ilmu hitam. Lalu kedutan di punggung kanan; pertanda akan bertemu orang berilmu. Ini pertanda baik. Yang terakhir kedutan di punggung kiri; pertanda akan dimuliakan orang.

Dari keseluruhan kedutan di atas, pertanda selamat dari petaka, pertanda akan menang. Kemungkinan orang yang berniat jahat kepada saya memasang ilmu hitam pada Kajeng Kliwon, hari selasa, dan baru terdeteksi hari rabu. Semua pertanda itu diperjelas melalui mimpi beberapa hari kedepannya. Mimpinya sebagai berikut;

Hari kamis mimpi berada di dekat rumah om saya, disana saya bersama bapak saya, biasa dipanggil guru. Saya melihat 4 ekor burung terbang bolak-balik seakan hendak menyerang saya. Awalnya mereka kompak terbang, tetapi pada akhirnya terpisah satu ekor seakan memancing saya untuk menangkapnya. Dan memang saya tertarik untuk menangkapnya satu ekor. Tetapi tidak berhasil. Malahan dia hendak mengambil bawang merah.

Agak kecewa juga mimpinya tidak jelas begitu, selain itu belum sinkron dengan kedutannya. Saya kira malamnya akan mimpi bertengkar tetapi cuma itu saja mimpinya. Makna mimpi itu saya menduga hendak dikeroyok 4 orang, namun tidak berhasil karena dilindungi Bhatara Hyang Guru, menyamar menjadi bapak saya. Empat ekor burung itu melambangkan sang atma (roh) 4 orang. Kenapa burung itu tidak menyambar saya? Bila itu terjadi maka pertanda buruk, karena hadirnya bapak saya maka hal itu tidak terjadi. Lalu, siapakah 4 orang itu dan apa yang mereka hendak lakukan? Pertanyaan itu dijawab melalui mimpi pada hari jumat sebagai berikut;

Berada di dekat rumah om saya, sama lokasinya dengan kemarin. Disana saya melihat 4 orang sedang berkumpul, seperti melantunkan kidung. Dari 4 orang itu, satu saya kenal, namanya JC dari BTM, satu orang lagi seperti pernah bertemu tetapi tidak tahu namanya, dari kelod kangin (tenggara) rumah saya, cukup jauh dari rumah saya, beda desa adat. Dua orang lagi sama sekali saya tidak mengenalnya. Mereka hanya menonton temannya mekidung (bernyanyi kidung). Lalu saya setengah sadar dari mimpi, mata masih tertutup, sadar sedang tidur di kamar. Anehnya, meski mata tertutup saya melihat jarum terbang mengarah ke tubuh saya. Jarum itu terbang seperti berisi plastik. Lalu saya mendengar suara, 'awas jarum'. Saya tak sempat menghindar, jarum itu masuk ke telinga kanan.

Saya tersadar total dari mimpi. Anehnya di telinga saya benar-benar terasa ada sesuatu yang masuk, seperti dimasuki semut membuat telinga gatal, lalu saya garuk. Beberapa saat hilang gatalnya, namun tiba-tiba dada terasa sakit, seperti sungguhan ada jarum berjalan di tubuh saya. Hal itu membuat saya resah sendirian dan berdoa dalam hati serta mencoba hendak mengobati diri sendiri dengan mantra panulak gering. Mulailah menghidupkan mantra dengan panugrahan, pangurip, pamandi swara. Anehnya, begitu saya memasuki ke inti mantra, saya selalu salah mengucapkannya gara-gara mengantuk berat. Lalu memasuki alam mimpi. Dalam mimpi itu saya memergoki seseorang yang saya kenal (ayahnya W) menaruh sesuatu di sebelah selatan rumah saya, di pertigaan. Saya curiga orang itu hendak menaruh sarana ilmu hitam. Saya melihatnya dari rumah, kemudian mendekatinya, tiba-tiba orang itu menghilang. Tetapi masih ada lelaki muda satu orang, masih smp, saya mengenalnya. Katanya dia hendak mengecek pipa air.

Mimpi itu terputus tanpa terbangun. Lalu saya memasuki alam mimpi lagi. Dalam mimpi itu saya berada di timur laut rumah saya, di bawah pohon nangka. Disana saya menemukan telor dibungkus plastik kecil, di dalamnya berisi jarum. 'Ohh.. ini ternyata ditaruh orang itu. Kudu dibuang nih biar saya tidak kena ilmu hitam' pikiranku mencercau. Lalu saya mengambil telor itu dan melemparkannya ke pangkung, sungai kering. Bukannya terhindar dari ilmu hitam, saya malah langsung merasakan di dalam tubuh saya ada besi balok bergerak dari punggung ke dada. 'Adooohhh' jeritku kesakitan berulang. Sungguh sakitnya luar biasa. Lalu saya memanggil bapak saya yang berada di seberang sungai di timur laut. 'Ruu.. ruu.. tolong saya' panggilku keras. Tampaknya bapak saya tidak mendengarnya.

'Om namah shiwa ya' saya berjapa dalam hati berulang, siapa tahu Tuhan bermurah hati. Sepertinya tak mungkin saya menunggu bapak saya untuk mengobati, sedangkan sakit di tubuh saya luar biasa. Rasanya saya ingin menangis, tak tahan dengan penderitaanku ini. Lalu saya berinisiatif mengobati diri sendiri. Saya hendak mengambil Hp untuk membaca mantra yang disimpan disana. Anehnya saya justru menekan lengan saya layaknya menekan HP. Di lengan saya itulah muncul mantra, mulai dari mantra panugrahan, pangurip, pemandi swara. Lalu ke inti mantra, mantra panulak.

Saat saya melantunkan mantra panulaknya saya tersadar dari mimpi. Menariknya di telinga saya ada sesuatu yang terbang keluar, 'berrr' demikian suaranya. Mantra dalam mimpi itu seakan sungguhan mengusir penyakit yang dikirim seseorang. Tubuh saya terasa ringan dan sakitnya hilang. Uniknya, mantra dalam mimpi hanya mantra panugrahan yang sama dengan di kenyataan, yang lainnya berbeda tetapi saya tidak hafal saat sadar jam 4 pagi dini hari.

Akhirnya saya bisa tidur nyenyak lagi. Paginya setengah enam, saya merasakan kembali sakit di dada. Terasa panas. Mungkin masih tersisa sedikit ilmu hitam orang itu. Lalu saya pasang mantra panulak gering. Beberapa saat kemudian saya memasuki alam setengah mimpi, dalam mimpi itu saya mendengar suara, 'Arooh gemesi! (Duuhh kejamnya)'. Saat sadar tubuh saya langsung mendapat kejutan yang cukup keras hingga tubuh saya bergeser. Hal ini menandakan ada orang memikirkan saya dan dia sangat terkejut. Saya merasa bahagia bisa terhindar dari serangan itu berkat pertolongan bhatara Hyang Guru meski dalam mimpi saya hanya memanggil guru, namun hal itu tetap melambangkan pertolongan dari-Nya, terlebih lagi saya mimpi berada di timur laut rumah, hal itu menandakan arah tempat pemujaan dewa; Kamulan. Saya sempat bisa kena ilmu hitam gara-gara kemarinnya enggan sembahyang padahal canang sarinya sudah dipersiapkan adik saya, namun tidak jadi sembahyang. Mungkin itu sebabnya dalam mimpi bhatara hyang guru terasa jauh dari saya.

Siang harinya kembali saya mendapat serangan ilmu hitam. Sepulang dari bekerja saya mengantuk berat. Lalu saya tidur. Bangun dari tidur tubuh saya gatal sana-sini, seperti di paha, pinggang, lengan, bahkan sampai di kepala bentol-bentol. Jengah juga dibuatnya. Lalu saya pasang mantra panulak gering tetapi tidak berpengaruh. Lalu diobati dengan telapak tangan, tidak begitu juga, hanya sedikit pengaruhnya. Kemudian saya mencari mantra pangesengan di buku bapak saya, saya baca itu saat sembahyang. Belajar untuk mandiri tanpa bantuan bapak saya. Awignam astu ternyata berhasil mengusir penyakitnya. Keesokan paginya, hari sabtu sudah benar-benar hilang.

Saya tidak begitu memikirkan siapa yang menyerang saya, yang terpenting saya bisa terhindar dari musibah. Selain itu, orang yang hadir dalam mimpi rasanya tak mungkin menyerang saya. Seperti mustahil mereka itu melakukan hal buruk pada saya. Saya curiga orang yang muncul dalam mimpi hanya dijadikan siluman oleh orang yang menyerang saya. Oleh karena itulah saya tetap berpikir positif saja.

Sabtu siang kembali saya diserang namun tidak begitu berpengaruh. Siang hari saat saya duduk di sofa tiba-tiba ada sesuatu masuk ke telinga. Beberapa saat kemudian saya mengantuk dan merasa lemas. Lalu terbaring di tempat tidur. Saat kehilangan kesadaran, saya melihat seekor burung turun dari pelangkiran di kamar saya, burung itu hinggap di samping saya. Kaget juga saat sadar. Lalu bertanya-tanya dalam hati, 'roh siapakah yang turun dari pelangkiran, roh baik ataukah roh jahat?'

Beberapa saat kemudian saya tertidur; setengah tidur. Di kamar sebelah, saya melihat paman saya, Wa Kmg. Beliau berjalan mendekati saya seakan masuk ke dalam tubuh. Lalu keluar.

Maksud mimpi itu barangkali dewa Kembar mengambil ilmu orang yang menyerang saya. Penafsiran ke arah itu karena paman saya lahir kembar. Kembali saya hilang kesadaran; ingat sedang tidur tetapi terlelap atau pikiran sadar tidak bekerja. Lalu saya melihat ayahnya GM (guru N) duduk di timur halaman rumah saya. Di depannya ada beberapa keluarga saya diajak berbicara, meski merasa keluarga, tidak ada yang saya kenal. Guru N seakan berbicara bahwa dirinya sudah lelah dengan perang-perangan selama ini, seakan sudah bosan.

Saat sadar saya langsung paham artinya, bahwa orang yang menyerang saya adalah orang suruhannya GM menyamar menjadi ayahnya Gm. Sedangkan keluarga saya kemungkinan simbol leluhur saya. Akhirnya tubuh saya terasa segar. Tidak lagi merasa lemas. Dalam hati merasa bersyukur atas pertolongan dewa dari hal-hal yang tidak diinginkan.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts