e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Dewa Tak Mau Menyapaku

Saya berada di rumah sedang bersama dengan bapak, kakak laki-laki, kakak perempuan, dan samar-samar ada adik dan keponakan yang masih bayi; anaknya kakak saya yang cewek. Meski berada dalam satu rumah, satu pun tidak ada yang diajak berbicara.

Selain keluarga, di luar kamar di sebelah timur ada tiga orang teman dari pusat desa (uli dumah) datang bertamu. Meski saya anggap teman namun tidak tahu namanya. Lalu saya keluar hendak menyapanya. Ketiganya berdiri berbaris kesamping menghadap ke utara. 'Apakah sudah sempat ditawari makanan sama ibuku?' Tanyaku untuk mencairkan suasana. Entah apa sebabnya tidak ada yang mau menjawab pertanyaan saya, seakan sengaja membuat kesepakatan untuk tidak mau bicara padaku. Mungkin mereka kesal dengan perbuatan saya selama ini. Karena tak mau bicara, saya masuk ke kamar. Lalu, saya melihat ketiga temanku itu masuk ke kamar bapak saya.

Beberapa saat kemudian, saya keluar dari kamar hendak melihat mereka, siapa tahu mereka mau berbicara dengan saya. Entah kenapa mereka tetap bungkam, saya juga tidak bertanya kenapa mereka marah. Kemudian saya balik mau ke kamar. Tiba-tiba saya melihat kucing kesayanganku matanya tertutup dan dililit dengan karet. Ternyata kakak saya yang mempermainkan kucing itu sehingga jalannya main seruduk kesana kemari. 'Kok dibegituin sih kucingnya, bli? Kan kasihan!' Ujarku dengan nada suara meninggi. Lalu saya melepaskan karetnya. Kakak saya tetap tak mau bicara pada saya.

'Waduh, ternyata dewa kesal juga pada saya. Kayaknya beliau marah gara-gara lupa sembahyang nih' batinku saat sadar dari mimpi. Saya terbangun jam dua dini hari. Kemarinnya saya lupa menghaturkan canang sari sebagai persembahan, demikian pula keluarga lainnya tak ada yang sembahyang. Malamnya sebenarnya saya ingin sembahyang, akan tetapi jam delapan ketiduran, dan bangun jam sebelas malam. Selain itu, dua hari sebelumnya tidak sembahyang ke pura padahal odalan. Awalnya mau sembahyang namun tidak jadi. Mungkin itu sebabnya bhatara dan dewa hyang tidak ada yang mau berbicara pada saya.

Yang dimaksud bhatara yaitu Bhatara Tiga menyamar menjadi teman dari 'dumah', yaitu Ratu Sakti Maduwe, Ratu Sakti Makulem dan Ratu Sakti Hulundanu. Di tempat saya, bila memimpikan orang datang 'uli dumah' melambangkan bhatara karena di pusat desa (dumah) hampir semua pura ada disana. Baik pura merajan agung maupun pura kahyangan lainnya. Oleh karena itulah bila mimpi ada orang 'uli dumah' melambangkan datangnya Bhatara ataupun leluhur.

Selain bhatara tiga, juga hadir bhatara Hyang Guru menyamar menjadi bapak saya, biasa dipanggil guru. Sedangkan kakak saya melambangkan Dewa Hyang alit. Saya memiliki saudara yang meninggal waktu kecil perempuan dan laki-laki. Saudara itulah menyamar menjadi kakak saya yang masih hidup. Hal ini didukung lagi dengan hari mimpinya, Anggara Wage, nuju Aryang. Jumblah uripnya 3+4+6= 13:4= 3, sisa 1, artinya dewa alit. Yang dimaksud dewa alit yaitu dewa Hyang karena hari mimpinya nuju aryang. Aryang ngaran dewa Hyang.

Muncul pertanyaan, kenapa dalam mimpi keponakan disamarkan? Hal ini bertujuan agar tidak memiliki makna baru. Apabila saya melihat keponakan yang masih bayi maka bermakna ada pemali atau pemalinan. Itulah sebabnya dalam mimpi apa yang kita lihat acap kali ditiadakan atau disamarkan agar tidak memiliki makna baru. Lebih sering dimunculkan benda-benda yang sebenarnya tidak ada atau sering kali kita dibawa ke masa lalu.

Kronologi menanyakan apakah ibu saya sudah menawarkan makanan, hal ini melambangkan mempertanyakan persembahan. Meskipun dalam mimpi bertanya pada teman yang bertamu, namun hal itu mengisyaratkan pertanyaan kepada saya. Tidak jarang apa yang kita ungkapkan dalam mimpi ditunjukan kepada orang lain, padahal maksud sebenarnya ungkapan itu ditunjukan kepada diri sendiri.

Kronologi mimpi kucing dipermainkan kakak saya melambangkan rejeki diganggu. Pada kasus ini, kucing dimaknai sebagai uang. Dalam masyarakat Bali kucing dipanggil 'Piiss', pis artinya uang.

Dari mimpi di atas kita dapat mengambil hikmah bahwa memberi persembahan kepada dewa memiliki peranan penting dalam kehidupan kita sebagai umat Hindu. Lalu akan timbul pertanyaan yang mungkin menggelitik; apakah dewa butuh makan, butuh persembahan? Pertanyaan sederhana seperti ini sering menggoyahkan iman kita. Terlebih lagi bila mendapat pertanyaan itu dari umat agama lain. Barangkali kita akan menyerang balik dengan pertanyaan yang lebih gila; apakah Tuhan gila hormat hingga harus disembah tunggang-tungging sekian kali setiap hari? Ada sebuah analogi sederhana untuk menjelaskan pertanyaan seperti itu.

Sebagai warga negara kita wajib bayar pajak negara. Apakah negara makan uang, butuh uang? Pajak negara yang kita bayar sesungguhnya dari kita untuk kita. Dalam Mahabharata ada sebuah cerita menarik terkait dengan hal ini. Suatu hari ketika Panca Pandawa dan Drupadi tinggal di hutan, Rsi Durwasa dan pertapa lainnya hendak bertamu. Mereka akan datang bertamu seusai mandi di sungai suci Gangga. Dalam tradisi Veda, bila ada seorang brahmana bertamu wajib hukumnya menyediakan makanan pada mereka. Kala itu, di rumah Drupadi sedang kehabisan beras. Hanya tersisa beberapa butir. Pandawa dan Drupadi kebingungan bagaimana caranya mendapatkan makanan. Sedangkan bila tidak menyediakan jamuan pada Rsi Durwasa maka tak urung beliau mengutuknya. Rsi Durwasa terkenal mudah marah dan suka mengutuk.

Pada saat Drupadi kebingungan seperti itu datanglah Shri Krisna. Ia menyuruh Drupadi untuk mengambil sebiji beras yang ada di tempat beras. Lalu Shri Krisnha menelan biji beras tersebut. Tiba-tiba Rsi Durwasa dan pertapa lainnya merasa kenyang sehingga beliau tidak jadi bertamu ke rumah Drupadi.

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya apa yang kita persembahkan kepada-Nya akan kembali berlipat dari apa yang kita persembahkan. Bukan hanya untuk kita pribadi melainkan juga untuk orang lain, terutama keluarga besar kita. Mempersembahkan sesuatu kepada dewa sebenarnya bukan untuk 'menyuap' ataupun 'menyogok' beliau, melainkan dengan persembahan itu kita mengambil energi dewa atau Tuhan sehingga kita terhindar dari hal-hal buruk, energi negatif.

Energi Tuhan dapat kita ambil dengan berbagai cara, yaitu dengan catur marga yoga: empat jalan menuju Tuhan, yaitu dengan jalan karma (karma yoga; perilaku yang baik), jalan pengetahuan (jnana yoga), jalan meditasi (tapa yoga), dan dengan jalan bhakti (bhakti yoga). Dari keempat jalan tersebut bhakti yoga dinyatakan yang terbaik. Oleh karena itulah seseorang yang menekankan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari, penting juga untuk melakukan pemujaan kepada Tuhan (bhakti yoga). Demikian pula bila seseorang senang bergelut dibidang pengetahuan sangat penting untuk sembahyang, meski hanya sekali dalam sehari. Melantunkan nama suci Tuhan bukan berarti Tuhan gila hormat, melainkan dengan nama suci Tuhan dapat mengurangi bahkan menghanguskan karma buruk kita.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts