e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Akhirnya Ilmu Silatku Terpakai

Waktu saya jadi anak sekolahan pernah terjun ke dunia persilatan. Waktu sekolah menengah pertama, awalnya belajar ilmu tenaga dalam, sayangnya baru naik ke tingkat dua sudah selesai. Tak jauh berbeda dengan waktu sekolah menengah kejuruan, waktu itu ikut belajar perisai diri (PD), hanya sampai di tingkat dua juga. Meski sudah pernah belajar dua jenis persilatan, akan tetapi hampir tidak pernah berantem, dengan kata lain ilmu silat tak pernah terpakai, baik dalam gelanggang olah raga maupun di luar arena. Bukan tipikal saya untuk bertarung. Hakekat belajar ilmu silat memanglah untuk menghindari pertarungan, bukan malah membuat onar. Meski demikian, adakalanya ilmu silat dalam keadaan darurat akan kita pakai tanpa sadar, seperti yang saya alami. Bisa dikatakan ilmu silat yang telah lama kutinggalkan, bahkan sudah melupakannya, akhirnya baru terpakai, pada tempat yang tidak biasanya. Kronologinya sebagai berikut:

Entah jam berapa, saya jalan kaki seorang diri hendak ke pusat desa, sekalian olah raga. Di perjalanan, saya melihat seorang gadis bernama D (inisial), dekat rumah bibi W. Tak jauh dari tempat itu, saya bersembunyi di balik dedaunan dekat gundukan tanah. Mau menunggu D. Gadis yang saya tunggu tak kunjung datang, malahan yang muncul dua pemuda, keluarga D. Entah apa maksudnya, orang itu menantang saya untuk bertarung secara sehat. Saya tanggapi ajakannya bertarung duel; satu lawan satu, yang lainnya tidak boleh ikut campur, hanya jadi penonton. Lalu kami putuskan tempatnya di dekat lapangan bola voley, di pinggir jalan. Sebelum bertarung datanglah kakak saya untuk menemani. Kami akhirnya menuju tempat yang telah disepakati.

Di dekat lapangan bola voley, terdapat bak air yang tak terisi apa-apa. Di atas tembok bak itulah kami hendak adu ketangkasan ilmu silat, bertarung. Pemuda itu mengambil ancang-ancang untuk menyerang, dengan gagahnya dia hendak menggarap saya, sayangnya belum menyentuh kulit saya, dia kena serangan siku saya, 'Daass..' Tepat menyasar di pangkal telinganya, berbarengan dengan hentakan kaki. Dia pun roboh seketika. Saya tak tahu bagaimana orang itu bangkit dari tempat dia roboh. Yang saya tahu mereka kabur, entah kemana perginya.

Tak lama berselang saya hendak balik ke rumah bersama kakak saya. Entah datang dari mana, saya melihat mereka lewat. Yang diajak bertarung, terlihat dibonceng keluarganya. Pipi dekat pangkal telinganya tampak membiru dan membengkak. Dia tak melihat keberadaan saya. Setelah dekat rumah bibi W, bibi W menyapaku, 'Bisa jadi dia melaporkan kamu ke polisi, soalnya dia tahu soal begituan. Lagi pula kamu sudah terbukti memukul dia sampai memar.'

'Biarkan dia lapor polisi, berarti orang itu tidak sportif, padahal dia yang nantang saya untuk bertarung secara sehat. Biarlah Hyang Widhi menjadi saksi kebenaran itu, dan kuserahkan kepada-Nya.' Ujarku membalasnya. Dalam hati timbul perasaan tak menyenangkan, takutnya saya jadi korban fitnah bahwa saya menyerang seseorang. Lalu merasa terjebak dalam kesalahan yang tak kusadari, 'Kenapa ya sebelum bertarung tadi lupa untuk membuat surat perjanjian bahwa pertarungan itu telah disepakati bersama untuk bertarung secara sehat.'

Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya sudah menyetir truk. Di bubung pegat pada jalan yang menanjak berpapasan dengan iring-iringan pernikahan seseorang yang tak dikenal dari bubung dangin.
Iring-iringan itu membuat jalan menanjak dan sempit itu jadi macet. Lalu saya bersama kakak saya turun, kemudian mengendarai motor agar lebih cepat sampai rumah. Sampai di puncak bubung pegat, saya dicegat oleh pecalang (polisi adat), tak diijinkan lewat. Samar-samar saya mengenal orang itu. Ada pula beberapa orang dari luar daerah pulang sembahyang dari Kayuselem, berlawanan arah dengan saya, juga dihalangi, tak ijinkan lewat. Karena dicegat di jalan raya, saya merasa tersinggung melihat kelakuan pecalang itu, lalu saya membentaknya, 'Kalau menutup jalan raya, apakah sudah ada ijin dari kepolisian? Jangan sembarangan menutup jalan, ini jalan umum!'

Tampaknya pecalang itu mengalah dengan gertakanku. Saya dibiarkan lewat. Sedangkan beberapa orang yang dari luar daerah itu saya suruh jalan saja, karena jalan sudah dibuka gara-gara saya memberontak. Bersambung...

Saya berada di danau Batur, di tempat itu ada beberapa laki-laki, dan ada juga adik saya. Saya juga membawa kucing kesayangan. Entah kemana perginya, kucing kesayangan saya hilang. Ternyata dia menyelam ke danau. Saya menangkapnya dengan berenang. Lalu menaikannya ke rakit. Tak lama kemudian, kucingnya lompat lagi. Lagi-lagi saya berenang menangkapnya. Dan akhirnya saya membawa ke tepi danau. Hendak diajak ke rumah. Anehnya, saat melangkahkan kaki dari tepi danau, tiba-tiba sudah berada di dekat bertarung kemarinnya. Di tempat itu melihat dua orang duduk di pos kamling, satu masih muda, lagi satunya sudah tua. Orang itu mengganggu kucing saya pakai pancing. Tak sengaja orang itu sempat menyenggol tangan saya. Perjalanan berlanjut ke dekat rumah bibi W. Tiba-tiba kucing saya berubah jadi anak anjing kesayangan saya. Saya merasa kasihan melihat anak anjing kesayangan basah kusup. Lalu saya berikan pada keluarga D.

Akhirnya tersadar dari mimpi. Alam gaib demikian panjangnya menjelaskan apa yang telah terjadi yang menimpa saya saat tidur. Sebelum mimpi itu saya sempat merasakan serangan gaib, berupa hawa panas dan energi gelap yang menekan tubuh saya hingga hampir tak mampu bergerak. Pada saat itu juga samar-samar muncul naga, namun hanya lidahnya yang terlihat. Saya melantunkan japa mantra Panca Aksara berulang kali, 'Om Namah Shiwa Ya'. Beberapa saat sempat bisa menggulingkan badan, namun belum mampu bangkit dari tidur. Lalu saya melantunkan Gayatri Mantram berulang. Kemudian saya hempaskan hawa panas dan energi gelap itu, sambil berteriak 'Huaaaahhhh'..Setelah sadar total, saya berdoa kepada Sesuunan, khususnya Bhatara Hyang Guru. 'Singgian pakulun sesuunan titiang sareng sami, bhatara hyang guru. Berkenanlah paduka memberi petunjuk kepada kami. Bila itu ulah manusia, biarlah ilmunya kembali pada orangnya, semoga dia kena batunya. Bila itu pertanda ada kendala di alam gaib, berkenanlah memberi petunjuk kepada kami supaya menemukan jalan yang terang.'

Tak lama kemudian mendapat kedutan di lutut kiri, pertanda akan menang berkelahi. Awignam astu, dewa menjawab doa saya dengan mimpi di atas. Terbukti menang berkelahi di alam gaib. Besar kemungkinannya orang yang menyerang saya jatuh sakit.

Berdasarkan kronologi mimpinya, dapat ditafsirkan sebagai berikut:Orang yang menyerang saya keluarga dekat D, atas saran D karena D sakit hati ketahuan mengadu domba saya dengan keluarga gadis yang saya sayangi hingga keluarganya marah, terutama ibunya. Keluarganya menumpahkan marahnya itu dengan menyerang saya juga. Saya bisa selamat dari serangan keluarga D berkat pertolongan Dewa Hyang Alit, yang menyamar menjadi kakak saya.

Orang yang menyerang saya itu mencari bantuan ke orang lain. Orang itu yang menjadi pecalang, yang mencegat saya dalam mimpi. Ilmu yang dipakai menyerang jenis 'panestian' dalam wujud kucing dan anjing. Sasarannya yaitu telinga saya. Namun saya berhasil menangkap ilmunya dan mengembalikan pada orang yang berniat jahat pada saya. Pada akhirnya ilmunya senjata makan tuan.

Atas peristiwa itu, dewa memberi petunjuk pada saya agar menyerahkan masalah ini kepada-Nya. Tidak perlu membalas atau menyerang balik. Oleh karena itulah dalam mimpi saya mengatakan, 'Biarlah Hyang Widhi menjadi saksi kebenaran itu, dan kuserahkan kepada-Nya.'

*Ditulis saat hari suci Siwaratri, Kamis 26 Januari 2017.

NB; Ada hal mengejutkan beberapa minggu yang terjadi di sekitar tempat yang muncul dalam mimpi. Dimana dalam mimpi saya trucknya tidak bisa naik karena ada iring-iringan orang menikah, di tempat itu tanahnya longsor sangat besar hingga menelan tujuh korban jiwa. Korbannya keluarga D. Di tempat mimpi mulai mengendarai motor juga longsor, demikian pula di pertigaan yang hadir dalam mimpi. Hal ini menandakan bahwa mimpi tersebut bermakna ganda. Seringkali mimpi kita tidak hanya menggambarkan apa yang kita alami, melainkan suatu tempat yang kita kunjungi dalam mimpi atau dijadikan simbol, maka di sekitar itu akan terjadi peristiwa penting. Seperti ada yang meninggal di sekitar tempat tersebut, atau sakit, bahkan musibah. Baik yang dialami alamnya, binatang, maupun manusia. Semakin jelas tempat itu digambarkan seperti dalam kenyataan, semakin jelas pula musibah yang terjadi. Apabila tempat itu disamarkan, hanya namanya saja yang sama, maka hal itu tidak akan terjadi apa-apa di sekitar tempat itu. Biasanya disamarkan dengan dihadirkan bentuk tanah pada masa lalu atau pada masa kecil kita. Apabila tempatnya disamarkan dan orang yang ditemui jelas digambarkan, maka manusianya yang akan kena musibah seperti sakit, kecelakaan, maupun masalah, dlsb.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts