e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Tanpa Sadar Bisa Terbang

Di tepi sumur sedang bersantai dengan salah satu keluarga. Tanpa disengaja sekarung dolmit (kapur pertanian) dijatuhkan ke sumur dekat rumah. Saya memintanya segera mengambilnya sebelum kapur tersebut mencemari air sumur. Sayangnya semua isi kapur sudah tenggelam. Tercemar sudah airnya, padahal biasa dipakai menyiram tanaman, bahkan juga dipakai minum. Bersambung..

Sedang mengolah tanah di tanah warisan yang ada di banjar Hulundanu. Tak lama kemudian datang beberapa buruh tani yang tidak begitu saya kenal. Kemudian mereka sibuk menumbangkan sebatang pohon yang agak tinggi. Pohon yang ditumbangkan berada di tepi tanah keluarga saya. Lalu saya mendekatinya tanpa ada perasaan marah, hanya sekedar ingin tahu saja siapa yang menyuruh menumbangkannya.

'Boleh gak saya tanya siapa yang menyuruh menumbangkan pohon ini?'
'Pekak Budi yang menyuruhnya. Saya gak tahu yang mana tanahnya, mungkin disini.'
'Oh bukan. Ini tanah keluarga saya'
'Lalu yang mana tanahnya?'
'Kayaknya itu' ujarku sambil menunjukan ke arah utara. Buruh tani itu kemudian sibuk bekerja hendak membersihkan rerumputan dan akan menumbangkan pohon. Tanah pekak Budi banyak ditumbuhi pepohonan dan rerumputan. Sedangkan tanah keluarga saya hampir tidak ada pohonnya karena terpelihara dengan baik dan biasa ditanami bawang merah.

Kaget juga setelah terbangun dari mimpi mengolah tanah warisan, padahal tanah itu sudah disewakan ke orang lain. Bentuk tanahnya juga berbeda dengan aslinya, seperti bentuk tanah waktu saya kecil. Anehnya juga, letak tanahnya berbeda dengan aslinya. Selain itu tanah keluarga saya aslinya tidak berbatasan dengan tanah pekak Budi. Masih ada pemisah sebidang tanah milik orang lain.

Saya bertanya-tanya dalam hati, kok saya mimpi seperti itu ya?

Entah dari mana datangnya, muncul bapak saya, yang biasa dipanggil guru. Mendatangi saya yang sedang berada di tanah warisan tersebut. Lalu saya menanyakan arti mimpi di atas. Katanya, bahwa itu pertanda akan ada kematian di keluarga. Yang akan meninggal orang perempuan.

Tak lama kemudian saya pergi, berjalan ke rumah orang. Ternyata disana ada banyak orang sedang sembahyang ala India, mereka menyanyikan nama suci Tuhan. Saya ikut gabung.

Salah satu dari mereka, yang ada di samping saya hendak memberi sesuatu ke saya. Telapak tanganku ditarik, lalu orang tersebut berjapa 'om namah shiwa ya' sambil mengolesi telapak tangan saya dengan ramuan berwarna merah. Seperti kunyit yang diparut tetapi warnanya merah gelap.

Tak lama kemudian saya pergi membawa sepeda gayung. Tiba di perempat jalan, hampir saya ditabrak mobil. Perjalanan pun berlanjut mengarah ke pusat desa. Sempat berhenti mengayuh sepeda karena sepedanya semakin sulit diputar rantainya. Saya paksakan mengayuhnya. Rasanya capek sekali. Lalu saya loncat dari sepeda, eh malah saya bisa terbang. Saya terbang gara-gara telapak tangan diarahkan ke tanah, telapak tangan yang diolesi ramuan itu memantulkan energi ke bumi makanya tubuh saya jadi melayang.

Bahagia rasanya bisa jalan sambil terbang. Lalu saya hendak terbang meninggi. Tiba-tiba ada orang yang menasehati agar tidak terbang tinggi, harus di bawah kabel listrik agar nanti tidak kena strum. Tak lama kemudian saya berpapasan dengan seorang gadis smk, kayaknya baru kelas 1 SMK. Dia juga bisa terbang, terbangnya lebih cepat dari saya. Pas berdekatan kami sama-sama turun ke tanah.

'Kamu bisa terbang juga! Siapa yang mengajari?'
'Namanya *Guru Bli*, belajar di Singapura'
Saya kaget juga ada orang namanya 'Guru Bli' disana, seperti nama panggilan orang Bali, Bli. Heran juga dia sampai belajar ke Singapura hanya untuk belajar terbang.
'Bli belajar terbang dimana?'
'Tadi ada orang yang mengolesi telapak tangan saya, ternyata hal itu membuat saya bisa terbang.' Ujarku. Lalu saya hendak terbang lagi, eh ternyata tak bisa.

Akhirnya saya tersadar dari mimpi. Gara-gara itu saya bangun kesiangan. Bangun jam tujuh pagi. Seru juga mimpi bisa terbang walau terbangnya rendah.

Kemudian saya otak-atik dengan tenung tanya lara. Hari mimpinya Buda Pahing nuju Maulu. Buda ngaran Banten, bantang (batang). Pahing ngaran paon, patok. Maulu ngaran Memedi, Sang Wengi. Uripnya 7+9+3= 19, dibagi 4=4, sisa 3, artinya Manusa. Arahnya ada di kelod kauh (barat daya), gabungan arah Buda-Pahing. Pengunya-ngunyaan dina juga berada di arah barat daya.

Bila mimpi dengan sisa 3 nuju Maulu maka hal itu ada kaitannya denga Sang Wengi (jero Sedahan), bukan manusa/manusia. Dengan demikian mimpi itu datangnya dari sang Wengi.

Saya amati arah itu terhitung dari rumah, tidak ada apa-apa. Sorenya baru saya berhasil menemukan kendalanya. Baru sadar, di barat daya rumah ada pipa air yang cukup banyak bersandar ke atap, mau dipakai mengalirkan air pertanian. Saya bawa arah tafsir mimpinya ke pipa karena buda ngaran bantang, pahing ada huruf Pa. Jadinya bantang piPA. Hal ini sesuai dengan mimpi di atas; air sumur tercemar bahan pertanian. Mengartikannya kudu dibalik yaitu bahan pertanian berupa pipa air mencemari atau mengganggu rumah. (Dalam kenyataan, dekat rumah tidak ada sumur. Adanya cuma jubang, itu pun agak jauh dari rumah).

Rumah bila diupacarai, apalagi dilengkapi dengan berbagai upacara khusus, maupun berupa rerajahan dan tetaneman maka rumah kita menjadi hidup, ada dewanya. Sehingga rumah kita menjadi seperti manusia, hidup dan sakral, bahkan kramat, tenget. Sedikit saja ada gangguan, lalu gangguan itu muncul ke alam mimpi dengan berbagai simbol mimpi yang kadang diluar jangkauan logika.

Mimpi bagian pertama sudah ketemu jawabannya dan sudah saya tuntaskan. Pipa sudah saya pindahkan.

Yang membuat saya penasaran dan menarik; mimpi mengolah tanah. Anehnya mimpi itu dijelaskan bapak saya di alam mimpi, seperti mimpi di atas. Setelah direnungkan, yang menjelaskan bukanlah roh bapak saya melainkan Guru di alam gaib, soalnya di rumah saya memanggil bapak saya dengan panggilan Guru, seperti panggilan Romo di Jawa. Itu sebabnya muncul dengan simbol bapak saya.

Dugaan saya kemungkinan akan ada dua keluarga yang akan meninggal berdekatan; keduanya perempuan. Lebih dulu di keluarga saya, baru di keluarga pekak Budi. Hal itu bisa ditafsirkan dari pohon yang ditumbangkan ada di tanah keluarga saya, kemudian di tanah pekak Budi yang letak tanahnya berdampingan, berbatasan. Meski aslinya tanah keluarga saya dengan keluarga pekak Budi tidak berbatasan. Itu hanya simbol bahwa akan ada kematian berdekatan. Kemungkinan orang yang meninggal akan saya iklaskan kepergiannya seperti yang terjadi dalam mimpi; tidak marah pohon ditumbangkan orang lain tanpa ijin. Namun entahlah, apakah mimpi itu hanya bunga tidur atau sungguh-sungguh? Mudah-mudahan hanya ilusi mimpi.

Yang menjadi tanda tanya, mimpi terbang gara-gara tangan diolesi 'ramuan' dan dimantrai. Belum bisa menafsirkannya, apakah itu hanya simbol ataukah ada maksud tertentu yang hendak disampaikan?

Yang tejadi kemudian setelah mimpi itu, seringkali dalam mimpi dari tangan keluar apa yang dibutuhkan pada saat perang tanding di alam gaib. Seperti pada tulisan mimpi berikutnya.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts