e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Tak Ada Restu Mengobati Nenek Sakit

Beberapa hari lalu waktu menginap di rumah nenek, bapak saya mimpi buruk. Mimpinya sebagai berikut; Sedang berada di desa hendak diajak bepergian ke arah selatan oleh seorang sulinggih; Shri Mpu. Perjalanan akan diikuti juga oleh kerabat yang dikenal, namun bapak menolak untuk ikut. Lalu berjalan di air danau. Air danaunya semakin ke tepi semakin dalam, dan terperangkap dalam air yang dalam. Hampir saja tenggelam, kemudian memanggil orang untuk minta pertolongan, 'tulung, tulung, tulung...'

Saya yang tidur di sampingnya kaget mendengar bapak tidur mengeluarkan suara dengan nada bergetar, 'Huh,huh, huh. Huh...' Saya pun membangunkannya. Ternyata saat mengeluarkan suara itu saat meminta tolong. Untung saya membangunkannya. Bila sampai mimpi tenggelam maka itu pertanda buruk, terperangkapnya sang roh di alam lain. Oleh sebab itu, apabila seseorang mimpi tenggelam, mimpi dimasukan ke goa, mimpi dipenjarakan di tempat keramat, dan sejenisnya, maka hendaknya orang bersangkutan dibuatkan banten (sesaji) nebusin sanghyang atma (roh). Bila hal itu tidak dilakukan maka orang yang mimpi akan jatuh sakit atau sering merasa lelah, sedih tanpa sebab, merasa bingung, hingga dalam kurun waktu tertentu.

Mimpi tersebut di atas hanya sepintas dimaknai oleh bapak saya, bahkan jawabannya cenderung tidak tahu. Namun setelah saya renungkan kemungkinan hal itu pertanda bahwa bapak saya hendak diajak ke alam lain atau alam kematian (arah selatan) oleh bhatara yang hadir dengan simbol seorang sulinggih; orang suci.

Saat saya memikirkan artinya bapak saya lagi tertidur dan mengeluarkan suara 'Heeehh'. ternyata bapak saya mimpi lagi. Beliau mimpi singkat, katanya mimpi 'ngalap kacang jukut, kacang ento tali-taliin' (memetik kacang sayur lalu diikat). Lalu saya tanya, artinya apa? 'Cang juk, cang taliin' (mau tangkap, mau diikat). Demikian jawaban bapak saya. Kemungkinan bapak saya diperingatkan akan ditangkap oleh makluk gaib dari alam lain agar tidak bisa lagi berusaha menunda kematian nenek. Selama ini beberapa kali nenek saya bisa diselamatkan bapak saya dengan 'tatempuran' padahal nenek sudah hampir menghembuskan nafas. Menurut dugaan bapak saya, dikemudian hari nenek akan meninggal tanpa kehadiran bapak saya, tidak diketahuinya akan menghembuskan nafas.

Selain daripada itu, sebelum mimpi seperti di atas, sorenya bapak saya diminta untuk mengobati nenek. Namun bapak saya menolaknya, hanya menjelaskan dan mencari akar masalahnya, yaitu karena pemalinan dan ada kendala dengan sesuunan (dewata) di rumah. Yang membuat bapak saya tak mau mengobati adalah karena berdasarkan tenung tanya lara hari jatuh sakitnya nenek pertanda akan datangnya kematian. Yaitu hari Sukra Pon nuju Was, dengan pengunya-ngunyaan dina (hari) posisinya kaja (utara). Sukra ngaran sesuunan, pon ngaran pondok, was ngaran luwas, kaja ngaran ngajanang. Kata tersebut bila dirangkai artinya Luwas ngajanang uli pondoke ulian sesuunan (pergi ke utara dari rumah atas kehendak dewa).

Di tempat saya, bila perjalanan ke arah utara (ngajanang) maka arah itu merupakan perjalanan ke arah kuburan meski lokasi kuburan berada di sebelah selatan desa. Namun karena desa saya terbelah oleh perbukitan maka arah lokalnya berbeda-beda. Mirip kasusnya dengan daerah Denpasar dan Buleleng. Di Denpasar yang disebut kaja (utara) yaitu ke arah Buleleng, sedangkan di Buleleng yang disebut kaja itu ke arah Denpasar. Hal itu terjadi akibat arah mata angin lokal di Bali menganut konsep Hulu-Teben. Tempat yang tinggi dianggap arah suci, dijadikan patokan sebagai arah kaja (utara) sedangkan tempat yang lebih rendah dianggap arah kelod (selatan). Konsep Hulu - Teben masyarakat bali pada umumnya menyebut konsep arah Segara Gunung. Arah mata angin lokal tersebut terutama berkaitan dengan keagamaan, seperti pembangunan rumah, pura, pelaksanaan ritual keagamaan, dan lain sebagainya. Arah hulu -teben ini erat kaitannya dengan energi alam semesta yang bersifat lokal (meski secara umum Matahari sebagai patokan arah timur), namun hipotesa saya arah hulu - teben menggambarkan adanya energi semesta yang bersifat lokal; mengalir dari tempat yang lebih rendah ke arah yang lebih tinggi atau sebaliknya. Oleh sebab itu, secara kasat mata sering kita menyaksikan angin gunung dan angin lembah. Yang lebih penting dari konsep hulu-teben adalah tempat tinggi (gunung) disimbolkan sebagai arah suci, simbol lingga.

Kembali ke tenung tanya lara di atas, menurut saya bila hal itu diterapkan di masyarakat lainnya, kudu menyesuaikan dengan arah perjalanan menuju kuburan. Bila pada daerah setempat arah perjalanan ke kuburan ke arah selatan, maka pengunya-ngunyaan dina (hari) tentu jatuhnya ke arah kelod (selatan) sebagai pantangan mengobati orang sakit, bukan ke arah kaja (utara) seperti di tempat saya.

Selain tenung tanya lara di atas, ada banyak lagi tanda-tanda seseorang tak boleh diobati, seperti sakit 'disalahkan' dewa, tanda-tanda kematiannya telah datang; seperti seseorang yang sakit diambil oleh makluk gaib yang berwujud seram, yang merupakan pasukan dewa kematian (tentu dengan penglihatan indra keenam). Demikian pula bila seseorang sakit akibat Kala ataupun Buta Kala, maka tak boleh diobati. Biasanya hanya digunakan 'tatempuran' tanpa mantra. Bila orang dengan tanda-tanda demikian diobati maka siap-siaplah bertempur dengan mahkluk dari alam lain di alam mimpi. Hal inilah menyebabkan banyak Balian di Bali cendek tuuh (pendek umur) karena tidak tahu larangan-larangan orang yang tak boleh diobati, dan sialnya lagi tak memiliki indra keenam untuk melihat atau berkomunikasi dengan makluk gaib. Apabila memiliki indra keenam, tentulah akan tahu secara otomatis tanda-tanda orang sakit yang tak boleh diobati.

Seorang balian pengusadha yang memiliki indra keenam atau mampu berkomunikasi dengan mahkluk dari alam gaib biasanya jarang mengobati orang dengan mantra, lebih cenderung menyembuhkan orang sakit dengan mencari akar masalahnya atau kendala secara niskala.

*Pemalina rumah akhirnya dibongkar yaitu sengkedan tanahnya diubah bentuknya sehingga tidak numbak rumah.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts