e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Memasak 14 Kali Sehari

Berada di rumah, saya dapati adik saya yang cewek, Puspita Sari, ribut-ribut tak jelas di rumah. Saya menyuruh dia memasak, namun dia malah 'wawa wewe' gak jelas.

'Pang kuda laja nyaine nyakan awai, Pus? Bani kantih uyut keto!' (Emangnya berapa kali kamu masak sehari, Pus? Kok ribut begitu!)
'Pang empat belas' (empat belas kali).

Saya pun tersadar dari mimpi jam setengah satu dini hari (pukul 00:35), hal ini sebagai pertanda bahwa petunjuk mimpi itu akan terjadi kurang lebih sekira dua minggu lagi. Saya langsung paham dengan bahasa sandi mimpinya. Mimpi di atas menggambarkan hubungan seseorang akan berakhir dalam waktu dekat. Hal tersebut dapat dimaknai dari bahasa sandi pada kalimat terakhir, 'Pang empat belas' artinya 'cang cepat belas' (Akan cepat berpisah).

Meski sudah tahu artinya, saya coba gali dengan tenung tanya lara untuk mengetahui dari mana datangnya petunjuk mimpi tersebut. Mimpi itu jatuh pada Redite Pon nuju Was. Redite ngaran tembok. Pon ngaran pondok (rumah). Was ngaran luwas (pergi). Jumblah uripnya 5+7+9= 21. 21:4=5, sisa 1, artinya Dewa (dewa alit). Kata tersebut bila dirangkai menjadi Dewa di pondoke, dewan pondok atau dewan umah (dewanya rumah). Hal tersebut menandakan bahwa mimpi itu berasal dari dewanya rumah. Itulah sebabnya saya mimpi berada di rumah. Sedangkan adik saya ribut-ribut melambangkan akan adanya keributan dalam hubungan seseorang, hubungan cinta.

Arah penafsirannya seperti itu karena pada sore harinya saya mengharapkan kehancuran hubungan seseorang. Kalau kita sudah marah dan kecewa, doa atau harapan buruk pun kita lakukan. Disitulah kadang bahayanya kita sebagai manusia, seharusnya kita mengharapkan kebaikan seseorang namun acapkali kita mengharapkan kehancurannya akibat ulahnya yang sudah menyakiti perasaan kita yang terdalam. Dari situ kemudian muncul sifat iri hati ataupun sifat mengingkari kata hati; sedih melihat orang lain bahagia, dan bahagia melihat orang lain menderita.

Barangkali akan timbul pertanyaan, apa mungkin rumah bisa memberi petunjuk pada kita? Sepintas bila kita logikakan tak mungkin rumah bisa memberi kita petunjuk melalui mimpi. Namun kenyataannya memang demikianlah adanya, rumah kita seringkali memberi kita petunjuk melalui mimpi. Hal ini terjadi terutama pada rumah yang diupacarai; meplaspas, nglumakuh, balik sumpah, diisi papendeman panca datu, rerajahan, dilengkapi pelangkiran untuk pemujaan dewan umah, dsb. Tentu hal itu menjadikan rumah menjadi hidup, ada dewanya. Rumah yang demikian menjadi tidak mudah dimasuki roh-roh jahat, umumnya hanya mahkluk suci yang bisa masuk ke rumah kita seperti dewa Hyang, Bhatara, Sesuunan. Di sisi lain, bila kita salah memperlakukan rumah yang demikian maka akan mengganggu kita. Sedikit saja ada gangguan pada rumah, akan mendatangkan penyakit, terutama pemalinan. Seperti misalnya setelah rumah diperbaiki maka harus dibuatkan upacara lagi. Pepohonan yang ada di sekitar pekarangan jangan sampai menyentuh atap rumah ataupun membiarkan ada akar pohon masuk ke bawah tembok rumah, dsb.

Nb: Mimpi ini tidak terjadi gara-gara saya ceroboh tulis di facebok, sehingga orang bersangkutan tahu sehingga menibulkan perang gaib di alam mimpi sebagaimana mimpi berikutnya.

Pada malam itu juga, saya mimpi lagi. Meski mimpi pada hari yang sama namun maknanya berbeda meskipun tenung tanya laranya sama. Mimpinya sebagai berikut:

Berada di rumah karang desa, rumah milik bersama. Saya melihat bayi cantik yang baru bisa jalan, anaknya mantan bos saya, ibu dayu namanya. Bayi itu duduk di depan pintu rumah. Lalu saya menyapanya, 'adik kecil yang imuts, apa kabar? Duhh cantiknya' ujarku sembari memencet pipinya, dan saya kecup dahinya.

Mimpinya singkat tetapi unik. Mantan bos saya anak-anaknya sudah pada kuliah, tetapi dalam mimpi dia memiliki anak kecil. Mimpi ini jatuh pada Redite Pon nuju Was. Redite ngaran tembok, raab (atap). Arahnya timur. Pon ngaran pondok. Arahnya barat. Was ngaran luwas. Arahnya selatan. Jumblah uripnya 5+7+9= 21: 4= 5, sisa 1, artinya dewa alit.

Bila mimpi ciuman, pacaran, bermesraan, memiliki anak, menyusui, memimpikan orang mati padahal masih hidup, dsb, itu pertanda pemali. Oleh karena itu mimpi di atas mengarah pada pemali. Ibu dayu: kayu. Memiliki anak kecil: cenik hidup. Kata ini lalu digabungkan dengan hari mimpi seperti di atas menjadi: Kayu cenik hidup di tembok pondoke atau di raabe (Kayu kecil hidup di temboknya atau di atap).

Dari petunjuk itu saya cari di atap rumah dulu, siapa tahu ada dahan pohon menyentuh atap. Ternyata tidak ada. Lalu saya cari di arah selatan rumah (arah Was). Disitu saya menemukan batang bunga jempiring baru tumbuh ditanam dekat tembok, di depan pintu kamar mandi. Setelah saya tanya ke adiknya ternyata bunga itu asal ditanam tidak memakai dewasa ayu. Lalu saya cabut dan dibuang ketimbang menjadi penyakit.

Mimpi karena pemali itu adakalanya menggelikan bahkan menakutkan. Contoh lain misalnya; seseorang yang masih hidup dimimpikan mati, dalam mimpi itu setelah mati, dia hidup lagi dan mengejarnya. Jadi ngeri! Padahal ternyata mimpi itu menggambarkan pemali berupa benda mati bertemu dengan benda hidup, yaitu batang bambu bersandar di pohon pepaya.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts