e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Lampu Hangus Gara-gara Mantra Gayatri

Sedang nyenyak tidur di kamar, saya merasakan ada energi panas memancar ke dalam tubuh. Saya curiga ada serangan gaib. Pancaran energinya tidak hanya merasa panas tetapi juga memiliki kekuatan mendorong tubuh saya, seperti ditindih. Menyadari ada hal tak beres, saya berjapa gayatri mantram berulang kali hingga akhirnya energi panas berkurang dan dorongannya juga semakin ringan. Lalu saya berbalik mendorong energi itu dengan mendorong selimut, kemudian selimut dikibaskan. Akhirnya saya tersadar dari mimpi. Namun ada hal aneh yang terjadi. Gara-gara kuatnya energi yang ditimbulkan mantra gayatri, lampu di kamar jadi hangus. Perasaan pun mulai tenang setelah berhasil menghancurkan energi panas tersebut.

Saya pun tersadar dari mimpi. Saya lihat lampunya ternyata masih hidup. Sempat bingung juga, saya kira itu sungguhan terjadi. Namun ternyata hanya mimpi di dalam mimpi, dengan kata lain mimpi bertingkat. Sempat curiga bahwa mimpi itu pertanda diserang lawan dengan kekuatan gaib. Setelah digali dengan tenung tanya lara, ternyata bukan akibat ulah manusia melainkan hal lain, meskipun jatuhnya sisa 3, yang artinya manusa atau manusia.

Hari mimpinya jatuh pada Buda Pon nuju Urukung. Buda ngaran bantang (batang), arahnya barat. Pon ngaran pondok (rumah), arahnya barat. Urukung ngaran rurung (jalan), arahnya timur. Jumblah uripnya 7+7+5= 19:4= 4, sisa 3, artinya manusa. Manusa disamakan juga dengan Sang Wengi (sebangsa jin) dan Memedi (roh orang yang belum diaben). Rangkaian kata tersebut bila disusun menjadi: ada bantang dauh pondoke kena jalan niskala (Ada batang pohon di sebelah barat rumah dilalui jalan alam gaib).

Saya langsung ingat tiga hari yang lalu menaruh jemuran di sebelah barat rumah. Jemuran itu terbuat dari batang bambu. Jemuran itu terus menerus disana akibat tak pernah kering gara-gara selalu kehujanan. Di sebelah barat rumah memang diyakini ada jalan alam gaib, di samping juga memang ada jalan raya, jalan manusia. Di sebelah barat rumah, dulu bapak saya bahkan pernah melihat iring-iringan mahkluk gaib memikul Bhatara di singgasana-Nya, layaknya seorang raja sedang ditandu prajuritnya. Diperkirakan iring-iringan Bhatara kawitan di Kayuselem. Jalan di niskala memang banyak juga di permukaan bumi, terutama jalan Sang Wengi dan mahkluk gaib sejenisnya. Sedangkan jalan bhatara atau dewa pada umumnya ada di langit. Bila beliau jalan di permukaan bumi maka akan ditandu oleh makluk gaib seperti para bhuta, kala, roh leluhur, dan lain sebagainya.

Benda-benda yang kita tempatkan dengan sengaja pada jalan niskala, seringkali menimbulkan gangguan bagi perjalanan mereka, terutama bagi mahkluk gaib yang setara dengan manusia yaitu sang wengi. Mereka bisa kecelakaan juga akibat ulah manusia. Oleh karena itulah seringkali benda-benda yang kita tempatkan pada tempat yang tidak semestinya bisa menimbulkan penyakit. Selain menimbulkan energi negatif, tak kalah penting mahkluk gaib akan murka kepada kita. Mereka bisa menyerang kita. Kalau kita melik masih mendingan karena tak jarang bisa mengalahkan mereka perang tanding di alam gaib. Perang itu kita bisa ketahui melalui mimpi. Adakalanya pula mahkluk gaib seperti itu bisa kena kita tabrak saat jalan, terutama bila kita membawa kendaraan yang pernah diupacarai. Tak jarang orang kecelakaan akibat menabrak makluk gaib, bahkan ada yang mampu melihatnya saat ia ditabrak, namun saat ditengok tidak ada siapa-siapa. Oleh karena itulah ada kepercayaan di masyarakat bahwa kalau kita melewati tempat keramat kudu memberi tanda hendak lewat; misalnya membunyikan klakson kendaraan, terutama pada waktu malam dan sandi kala. Yang dimaksud sandi kala sebenarnya ketika pergantian malam ke pagi dan ketika sore berganti malam. Mahkluk gaib setingkat manusia diijinkan keluar dari rumahnya atau beraktivitas pada bagian malamnya, terbalik dengan manusia yang beraktivitas pada siang harinya.

Mimpi di atas ada mimpi pendahulunya, namun saya anggap bunga tidur. Gara-gara saya abaikan petunjuknya, maka saya diberi peringatan dengan serangan berupa energi panas. Mimpi pendahulunya sebagai berikut:

Sedang berjalan kehujanan di sebelah barat rumah, hendak berjalan ke timur menuju rumah om saya, Guru Nas saya memanggilnya. Saya melihat rumah saya terbuka dan tidak ada siapa-siapa (kosong). Lalu saya masuk ke rumah, tidak jadi ke rumah omnya.

Mimpi di atas merupakan bahasa isyarat dan bahasa sandi. Guru nas artinya guru nunas (guru minta tolong). Yang dimaksud guru adalah guru niskala. Lalu, beliau minta tolong apa? Setelah dicocokan dengan apa yang telah terjadi dengan kronologi mimpinya, maka hal yang harus dipindahkan adalah jemuran yang kehujanan dibawa ke timur atau ke rumah pada tempat yang kosong. Itulah sebabnya saya mimpi berjalan kehujanan di sebelah barat rumah.

Nb: Menafsirkan mimpi diri sendiri itu jauh lebih mudah ketimbang menafsirkan mimpi orang lain. Hal itu terjadi karena kita tahu apa yang telah kita lakukan dan tahu betul kronologi mimpinya sehingga mudah mencocokannya. Oleh karena itulah sebaiknya mimpi digali sendiri.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts