e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Ih Ngeri! Mayatnya Jatuh dari Keranda

Di salah satu rumah keluarga besar kami sedang ramai membuat Banten (sesajen), banten orang mati. Yang meninggal orang lain, bukan keluarga kami, orang tak dikenal. Mayat orang itu kami yang mengurus karena keluarga dari yang meninggal meminta bantuan kami untuk membantu membuatkan Banten dan menggotongnya ke kuburan. Pembuatan keranda mayat dan sesajennya cepat selesai karena keluarga kami hampir semua tahu urusan kematian; ada yang membuat keranda, ada yang membuat sesajennya. Anehnya, meski saya anggap keluarga dekat namun tak satupun orang-orang itu saya kenal. Saya juga tak pernah datang ke rumah ini.

Ketika hendak berangkat ke kuburan, keranda atau peti mayatnya dibuat tanpa tutup, sehingga terlihat tubuh mayatnya, agak ngeri melihatnya. Saya sebagai orang pertama yang menggangkat kerandanya sambil mengumandangkan kidung kematian, 'Bala ugu dina melah... ' Keranda mayatnya tak diijinkan diangkat tinggi sampai bahu, harus ditenteng agar posisinya rendah karena dekat rumah kerabat kami itu ada pura, ingatnya dekat pura Hulundanu Batur. Begitu mau mengeluarkan mayat melewati tempat 'pamegat', tempat memecahkan kelapa sebagai pertanda bahwa si meninggal telah resmi dinyatakan mati secara niskala, tiba - tiba keranda mayatnya rusak. Meski demikian, jenazah orang itu lanjut digotong hendak keluar dari halaman rumah menuju jalan raya. Sayangnya keranda jenazahnya benar-benar rusak. Karena ngeri, kami saling tarik menarik keranda. Mayat orang itu ikut ditarik-tarik. Daging mayatnya terjatuh ke tanah hingga dagingnya meleleh, berserakan di halaman rumah. Menyaksikan hal itu sampai air ludah tak bisa tertelan. Ngeri! Mau muntah sekaligus prihatin dengan keadaan itu.

Tiba-tiba datang salah satu keluarga kami yaitu MBK (inisial) dan adiknya, PS (inisial). Mereka protes dan marah-marah. Katanya, di rumahnya juga ada kematian salah satu kerabat, tetapi kenapa keluarga justru mengurusi mayat orang, sedangkan dia tidak ada yang mempedulikan. Ada keluarga yang jawab bahwa itu terjadi karena mayat yang ada di MBK tidak dibuatkan banten atau sesajen, terutama banten tirta Pangintas, sehingga keluarga akan 'sebel' (cuntaka) bila datang melayat ke rumahnya, padahal besok akan melaksanakan upacara ngenteg linggih di pura dewa Hyang, baru habis pemugaran. Sedangkan untuk mayat orang ini langsung dibuatkan banten dan tirta pangintas sehingga kita (keluarga kami) bisa melaksanakan ngenteg linggih besok. Karena sepulang dari kuburan langsung maintas (disucikan; mendapat air suci sebagai penyucian).

MBK belum juga terima hal itu, dia merasa dipandang sebelah mata, merasa diperlakukan tidak adil oleh keluarga besar kami. Lalu saya yang menjelaskan, 'Begini loh M. Mayat yang ada di kamunya tak dibuatkan upacara, sedangkan disini dibuatkan upacara dan penyuciannya. Kalau keluarga datang kesana, semua keluarga jadi 'sebel', padahal besok mau ngenteg linggih. Besarlah ruginya kalau sampai batal Ngenteg linggih.' Ujarku menjelaskan. MBK menerima penjelasan saya.

Tak lama kemudian, saya mau mengumpulkan daging mayat yang berserakan, mau dimasukan kembali ke keranda mayat, sedangkan keluarga tinggal sedikit, sudah banyak yang pergi. Lalu saya melihat keluarga perempuan sudah berjalan beriringan menjunjung banten yang mau dibawa ke kuburan. Entah kenapa tiba-tiba perempuan paling depan menyuruh saya membawa bantennya (sesajen).

Akhirnya saya terbangun dari mimpi dengan detak jantung agak kencang, masih terbawa emosi keadaan di alam mimpi. Kaget juga mimpi seperti itu. Menariknya, mimpi di atas menyerempat dengan keadaan sebenarnya, dimana keluarga besar kami akan ngenteg Linggih palinggih Dewa Hyang. Pemugarannya belum selesai tetapi upacara ngenteg linggih sudah akan dijalankan karena sudah terdesak oleh keadaan, terutama hari baik. Uniknya, kemarin adik saya juga bercerita bahwa dia mimpi menggotong mayat tetapi tidak diketahui mayat siapa. Katanya, dia memperebutkan mayat itu dengan keponakannya, jero Nova. Adik saya tidak begitu bisa menjelaskan mimpinya, sehingga ibu dan bapak saya tidak menghiraukannya. Bahkan nyaris tidak didengarkan. Anehnya kok jadi saya yang mimpi seperti itu.

Bila kita tafsirkan mimpi tersebut dengan primbon mimpi, kita akan menduga bahwa itu pertanda akan datangnya keberuntungan, tetapi ketika saya otak-atik dengan tenung tanya lara ternyata itu pertanda kemarahan Dewa Hyang (leluhur). Hari mimpinya Saniscara Pon nuju Aryang. Saniscara ngaran Sesangi, Carang, Canggah. Pon ngaran pondok (rumah). Aryang ngaran Dewa Hyang. Bila dihitung uripnya 9+7+6= 22. 22:4=5 sisa 2. Sisa 2 artinya Kala. Arah lokasi masalah; Saniscara arah kelod (selatan), Pon arah kauh (barat). Jadi arahnya kelod kauh (barat daya). Dari rumah saya, pada arah itu tidak ada apa-apa. Tetapi dihitung dengan pangunya-ngunyaan dina (hari), arahnya Kaja Kangin (timur laut). Disana ada Kamulan tempat pemujaan dewa hyang dan Sesuunan. Aryang arahnya juga Kaja Kangin. Intinya mimpi itu ada kaitannya dengan Kalan Dewa Hyang (Kemarahan leluhur).

Saya sempat mengira hal tersebut menandakan bahwa Dewa Hyang di Kamulan marah pada keluarga kami, khususnya saya. Setelah saya ceritakan ke bapak saya, ternyata tidak demikian. Katanya, kudu melihat kronologi mimpinya dimana mimpinya melibatkan keluarga besar dalam lingkup pangempon dewa Hyang yang memang benar di kenyataan hendak 'ngenteg linggih' palinggih dewa Hyang setelah pemugaran. Oleh karena itu kemarahan dewa Hyang bukan mengarah pada keluarga kami, melainkan pada keluarga MBK. Dimana dalam mimpi keluarga besar kami (yang tak saya kenal namanya) tidak mempedulikan keluarga MBK. Hal ini melambangkan bahwa dewa Hyang (dengan simbol kerabat namun tak dikenal namanya) tidak akan peduli pada MBK dan keluarganya. Kenapa dewa Hyang marah kepada keluarga MBK? Menurut bapak saya, ternyata keluarga MBK hampir tak pernah ngayah (kerja bhakti) di pasimpangan Dewa Hyang, padahal keluarga lainnya hampir setiap hari datang kerja bhakti.

Fakta yang terjadi kemudian yaitu ada yang sakit, ada kehilangan uang, ada yang kerja pontang-panting namun tak begitu menghasilkan. Hingga ada yang mencari pangenah ke Balian, ternyata apa yang dialami akibat kedengang dewa hyang (bermasalah dengan dewa hyang)

Makna yang lainnya yaitu; mayat orang tak dikenal melambangkan sisa-sisa tembok panyengker dan palinggih (bangken palinggih) yang telah dirobohkan yang masih berserakan, belum tuntas dipindahkan. Sesajen kematian dan tirta pangintas melambangkan upakara ngenteg linggih dan upakara pecaruan untuk menyucikan kembali palinggih yang dipugar. Leluhur memperingatkan kami supaya bekerja sama agar cepat selesai, supaya tidak rugi bila sampai batal ngenteg linggih gara-gara palingihnya belum selesai dipugar, padahal hari H ngenteg linggih sudah besoknya. Demikian tafsir berdasarkan kronologi mimpi.

Barangkali pada jaman modern seperti saat ini, kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan, dewa-dewi, dewa Hyang, dsb, semakin kesini semakin tak percaya. Padahal beliau-beliau sungguh-sungguh ada. Ketidakpercayaan pada keberadaan-Nya menyebabkan rasa bhakti kita semakin berkurang. Lebih-lebih keyakinan terhadap keberadaan leluhur dan pemujaan kepada beliau. Menurut ajaran Dharmasastra, pada jaman Kali (kali yuga) manusia semakin melupakan leluhurnya. Hal ini menandakan kemerosotan moral manusia dan mulai meninggalkan ajaran Veda, pertanda ajaran Veda mulai ditinggalkan, sedangkan golongan atheis semakin banyak jumblahnya.

Terkait pemujaan leluhur, dalam kitab purana terdapat kebijakan bahwa bilamana seseorang tidak mampu untuk melakukan pemujaan kepada leluhur, dibolehkan hanya melakukan pemujaan kepada Tuhan secara rutin. Dengan pemujaan kepada Tuhan maka para dewa dan leluhur akan disenangkan. Analoginya seperti menyiram akar tanaman dengan air maka cabang dan daunnya ikut menikmatinya. Namun bila mampu, alangkah baiknya merawat semuanya agar tanaman tumbuh dengan subur. Menyiram akarnya, merawat daunnya, bahkan mencabuti rerumputan liar di sekitarnya. Demikian pula dalam hal pemujaan, lebih baik melakukan pemujaan kepada semuanya yang memang harus dipuja dan disembah, maupun mereka yang harus dihormati. Mulai dari berkasih sayang pada sesama, hormat kepada kerabat, bhakti kepada orang tua, leluhur, dewa-dewi, dan Tuhan.

Pada era sekarang, masyarakat kebanyakan hanya cenderung memikirkan hal-hal dunia material ketimbang dunia rohani. Berpikir untuk berbuat sekarang dinikmati sekarang. Hal itu menyebabkan semakin mudahnya seseorang berbuat jahat, baik kejahatan terselubung seperti korupsi maupun terang-terangan seperti perampokan, pencurian, dan lain sebagainya. Mereka tak memikirkan hukum karma, apalagi memikirkan kehidupan setelah kematian, mereka tak percaya dengan adanya kehidupan setelah kematian, tidak percaya pada keberadaan mahkluk gaib ataupun makluk suci di alam sana.

Ada hal menarik yang sempat terjadi sebelum ngenteg linggih palinggih dewa Hyang. Waktu itu turun hujan lebat setiap hari, padahal keluarga kami sedang pemugaran palinggih dewa Hyang, sedangkan hari H ngenteg linggih sudah lagi dua hari namun pemugaran belum mencapai 60%. Katanya, pada saat bapak saya duduk dekat salah satu palinggih, tiba-tiba mendengar suara kakek saya yang sudah meninggal lama, sudah diaben, beliau kakek dari ibu. Katanya, beliau bilang, 'Ngudyang sing nunas selaa dii? Ken sesai terbukti jee!' (Kenapa tidak memohon 'Selaa'? Kan sudah sering terbukti!).

Oleh karena ada perintah seperti itu, lalu keluarga kami nunas selaa selama 3 hari. Nunas selaa artinya memohon kepada dewa Hyang maupun sesuunan (dewata) agar tidak turun hujan. Sarananya dupa 11 batang dilengkapi dengan bantennya. Dan terbukti selama 3 hari tak turun hujan di lingkungan sekitar tempat pemugaran palinggih dewa Hyang. Padahal di lingkungan sebelah selatan hampir setiap hari turun hujan. Awignam astu pemugaran palinggih dan ngenteg linggih dewa Hyang berjalan lancar. Hal tersebut menandakan bahwa dewa Hyang itu benar-benar ada.

Terkait dengan penundaan hujan, menghentikan hujan, dalam masyarakat lokal ada dua metode yang digunakan secara turun temurun, yaitu dengan nunas selaa menggunakan doa dan nerang menggunakan mantra. Nunas selaa biasanya untuk kepentingan bersama dan biasanya atas kehendak dewa. Sedangkan nerang untuk kepentingan pribadi dengan kekuatan batin (kesaktian) seseorang. Hal ini tentu berbahaya karena orang-orang yang belajar kesaktian bisa usil mengganggu, seperti dibuatkan petir menyambar dengan sarana daun kelapa muda. Sekarang jaman sudah maju, metode tersebut sudah mulai ditinggalkan diganti dengan Laser yang cukup efektif dan tidak beresiko. Hanya saja, bagi masyarakat kecil tak terjangkau.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts