e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Dimarahi Guru Niskala

Hampir seminggu ini saya tak pernah mimpi, hal itu berawal dari dimarahi guru niskala di dalam mimpi. Mimpinya singkat namun cukup mengejutkan. Dalam mimpi itu samar-samar saya berada di tegalan. Di sisi lain saya melihat guru (bapak saya) sedang tidur-tiduran di tempat tidur di rumah. Lalu beliau berkata dengan mimik marah, 'Dewa Hyange sesai ada di samping caine, kola ada jelek caine.. (Leluhurnya sering ada di sekitar kamu, tetapi ada keburukan kamu...)' ujarnya sambil menunjuk ke sekitar saya untuk memperlihatkan keberadaan Dewa Hyang (leluhur).

Belum sempat beliau menyebutkan keburukan saya, saya keburu bangun. 'Berarti selama ini saya sering mimpi karena sering didekati leluhur saya' suara hati bergumam. Itu artinya para leluhur sering melihat perbuatan buruk saya. Ada perasaan sedih timbul dalam lubuk hati. Di sisi lain merasa sangat sulit melawan musuh dalam diri. Meski tak disebutkan keburukan saya namun saya menyadari keburukan yang dimaksud. Seperti misalnya tak sabaran, di rumah jarang sembahyang, dan yang paling membuat sedih saya sering nakal sama cewek, sudah mengarah pada hal yang tidak patut dilakukan meski tak sampai 'gitu-gituan', juga sering menghayalkan cewek diajak bercumbu mesra. Urusan selangkangan, acapkali kita tanpa sadar berbuat dosa. Tak jarang pula tetap melakukannya meski kita sadar itu perbuatan dosa. Tak bisa dipungkiri ketertarikan dan keterikatan dengan lawan jenis merupakan musuh paling utama dalam diri kita, musuh mahutama. Meskipun agama mengajarkan bahwa dia yang bisa mengalahkan enam musuh dalam dirinya (sad ripu) sesungguhnya dia telah mengalahkan semua musuhnya di dunia.

Sebelum mimpi dimarahi guru niskala dengan menyamar sebagai bapak saya, setengah jam sebelumnya saya mimpi diajak bertamu oleh seseorang tak dikenal namun dia menganggap saya temannya. Saya memasuki rumahnya mau menginap disana. Rumahnya bertingkat tiga, namun sayangnya rumahnya sempit, ruangannya hanya berbentuk tangga, sehingga tempat tidurnya ada di bawah tangga, di atas tangga, dan di lantai teratas ada di atas tangga yang terbalik. Melihat keadaan itu, saya tak mau tidur disana, teringat bahwa saya tak boleh tidur di tempat yang biasa diinjak kaki.

Saya pun tersadar dari mimpi, dan paham dengan maksud mimpi tersebut. Hal itu isyarat bahwa saya tidak dibolehkan tidur di lantai yang sering diinjak kaki, tidak boleh tidur di tempat duduk (seperti sofa), dan yang terakhir tidak boleh tidur dengan posisi kaki terbalik. Malamnya sebelum tidur, saya nonton TV sambil tidur-tiduran. Sempat tiduran di sofa, lalu tidur-tiduran di tempat tidur adiknya dengan posisi kaki terbalik. Kaki mengarah ke bantal, kepala berada di posisi kaki. Hal itu dilakukan karena tidur-tiduran sambil nonton. Beberapa hari sebelumnya, di rumah orang lain sempat tidur-tiduran di ruang tamu seseorang beralasan karpet.

Walau mimpi urusan sepele, urusan tidur, namun sebenarnya larangan itu sudah ada dalam masyarakat Bali. Dalam tradisi di Bali sebenarnya seseorang tidak dibenarkan tidur di 'beten' (di bawah) dan tidur di 'teben' (di posisi kaki pada tempat tidur). Hal ini pula melatarbelakangi bahwa seseorang tidak boleh duduk di atas bantal, tentunya bantal yang dipakai tidur. Hal itu karena kepala kita dinyatakan sebagai bagian tubuh paling suci, sebab kepala sebagai tempat menyimpan segala ilmu, terutama pengetahuan suci. Selain itu di kepala terdapat cakra ajna (mata ketiga) dan cakra sahasra (cakra Tuhan). Oleh sebab itu penting sekali untuk menjaga kesucian kepala.

Kembali ke mimpi. Setelah mimpi dimarahi, namun beliau masih berkenan memberi petunjuk lagi sekali. Dalam mimpi itu, saya bersama kakak saya, kedua omnya, bapak saya, dan juga kakek saya pergi ke suatu perbukitan. Di bukit itu bapak saya menemukan jimat berupa pis bolong. Jimat itu ditunjukan ke om saya dari pihak ibu, lalu jimatnya dipamerkan dengan melempar-lemparkannya ke atas. Gara-gara pamer, jimatnya jatuh ke jurang. Lalu dicari oleh om saya bersama kakak dan kakek saya. Sudah lama dicari, tak ditemukan. Lalu saya turun ke tebing. Begitu turun satu sengkedan langsung saya menemukannya. Ternyata jimat pis bolong itu bergambar kijang kencana, kijang emas. Warna gambarnya pun kuning keemasan. Jimat itu lalu dipinjam om saya dari pihak bapak (jadi pemangku dewa Hyang). Setelah dilihat, menurutnya kegunaan jimat itu untuk melihat permukaan bumi di selatan menjadi terlihat di utara; posisi gumi mebading (letak wilayah buminya terbalik). Lalu saya coba melihat lubang koinnya untuk memastikan kebenaran itu. Ternyata benar, dengan melihat lubangnya dunia yang di barat jadi terlihat di timur. Hal itu membuat kepala uring-uring..Lalu kami pulang, namun tidak ingat siapa yang bawa jimat itu. Saat di perjalanan, saya teringat bahwa datang ke tempat itu untuk menemani kakak saya wisuda. Tadi kakak saya sudah duluan pergi ke acara Wisuda. Lalu saya tanya ke bapak saya, siapa yang menemani acara wisudanya. Ternyata sudah ditemani seorang sekretaris desa dan seorang gadis. Tak lama kemudian kakak saya sudah selesai Wisuda. Lalu bercakap-cakap sambil jalan kaki dekat sebuah rumah.

'Bli dapat juara, gak?' 'Gak nok.. dikalahkan sama yang lain'
'Gak penting dapat juara atau tidak, yang terpenting bagaimana proses kita untuk memperoleh juara. Mereka yang dapat juara tak sedikit yang berlaku curang' ujarku sok bijak.

Saya pun terbangun dari mimpi. Mimpi tersebut melambangkan karunia dari dewa Hyang dan sesuunan berupa rejeki; kijang kencana, kijang emas. Dunia terbalik melambangkan perubahan ekonomi. Mungkin akan muncul pertanyaan, kenapa bukan mimpi diberi emas? Dalam masyarakat lokal, bila mimpi diberi emas atau mendapatkan emas itu pertanda akan datangnya musibah. Emas artinya ngemasin (merugi).

Bagian akhir cerita mimpi di atas kemungkinan sebuah sindiran bagi mereka yang suka memperoleh sesuatu dengan cara curang. Namun secara khusus itu sebuah nasehat agar saya dalam mencapai suatu keinginan hendaknya mengutamakan proses ketimbang hasil. Baik dalam hal mencari ilmu, mencari harta, maupun mencari jodoh. Proseslah yang harus diutamakan. Puas atau tidak puas dengan hasil yang terpenting proses sudah berjalan sebagaimana mestinya, karena kualitas hasil ditentukan oleh proses yang kita jalani.

Catatan:
Ada yang menyatakan bahwa sangat berambisi dan memaksa diri berbuat baik adalah ketidakbaikan. Oleh karena itu perbuatan buruk kita sebaiknya dinikmati dahulu sepintas, lalu disadari, kemudian dilepaskan, dibuang dari kehidupan kita.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts