e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Dicintai Adik Sendiri

Malam hari saya sedang tidur-tiduran di kamar, lalu masuklah adik saya. Entah bagaimana ceritanya, adik saya yang baru kelas 1 SMP, katanya jatuh cinta sama saya. Di kamar, saya mau mengajak dia ciuman, lalu pintu ditutup. Belum sempat ciuman, dari jendela saya melihat ibu keluar dari kamar sebelah. Kemudian memanggil adik saya. Hampir saja ketahuan ibu, bikin jantung berdegup kencang. Adik saya disuruh memberi sapi pakan bersama Pidi, adik saya lagi satunya. Ibu juga mau pergi, lalu sayah disuruh mengunci pintu kamar tamu, namun ternyata pegangan gemboknya rusak. Kemudian saya pasang di pintu kanan bagian bawah.

Kaget juga mimpi seperti itu. Saya otak-atik dengan tenung tanya lara. Mimpi itu terjadi pada jam 1 dini hari, pada hari Anggara Wage nuju Paniron. Jika dijumblahkan uripnya 3+4+8= 15:4=3 sisa 3 yang artinya manusa atau memedi atau sang wengi. Anggara ngaran nganggar, wage ngaran gumi, gedogan. Paniron ngaran sarwa hidup (tumbuh-tumbuhan). Anggara dengan arah kelod kauh (barat daya), wage arahnya utara, paniron arahnya kelod kangin (tenggara). Arahnya agak kacau sehingga sulit menentukan arahnya. Lalu hitung dengan pengunya-ngunyaan dina, arahnya kelod kauh (barat daya).

Dalam konteks tenung tanya lara, mimpi pacaran, memiliki anak, mesra-mesraan, itu pertanda pemali, apalagi didukung oleh hari mimpinya dengan jumblah urip sisa 3. Pada awalnya arah pemalinya saya duga berada di kelod kauh rumah, hal ini berdasarkan pengunya-nguyaan dina yang jatuh di arah kelod kauh (barat daya).

Setelah pagi tiba, saya cari-cari tumbuhan yang menjadi pemali di arah barat daya, namun tidak ada. Saat diobrolkan dengan bapak saya, ternyata arahnya dikatakan kelod kangin dari rumah. Disana ada pohon sengapur yang telah dipotong cabang-cabangnya waktu ini; inilah disebut nganggar. Akar pohon ini sudah masuk ke pekarangan. Pohon inilah yang sudah menjadi pemali. Bila pohon seperti ini tidak segera dicabut atau ditumbangkan bisa membuat pemilik rumah jatuh sakit berulang-ulang. Kata ibuku, di utara rumah, juga ada daun pisang yang menyentuh atap. Cocok sudah dengan wage yang posisinya utara.

Kembali ke waktu habis mimpi. Saya memiliki keyakinan bahwa mimpi itu memiliki makna ganda, tidak hanya berkaitan dengan pemali, melainkan juga berkaitan dengan asmara yang saya alami. Dugaan saya begini; percintaan saya gagal (mau bercinta digagalkan ibu) atau tidak ketemu jodoh karena masih terkunci (mengunci pintu) akibat ada banten atau ritual yang harus dilaksanakan. Makna banten ini diambil dari peristiwa adik saya disuruh memberi sapi pakan (disuruh membuat upacara). Sapi atau sampi ngaran sampian, sampian ngaran banten.

Sebelum saya tidur lagi, saya berdoa dengan ketulusan hati agar diberikan petunjuk lagi karena bingung tidak tahu harus berbuat apa. Doa saya begini, 'ratu sesuunan tiang, dewa hyang sareng sami, titiang nunas mangda ledang memberi tiang petunjuk malih apisan melalui mimpi' (Dewata junjunganku, leluhur semuanya, aku memohon semoga berkenan memberiku petunjuk sekali lagi melalui mimpi.'

Tak lama kemudian saya mimpi lagi; Berada di pekarangan rumah kuno bersama ibu, rumah ini antara ada dan tiada. Lalu saya berjalan ke arah barat, ke tegalan, bentuk tegalannya seperti waktu saya kecil. Di tegalan itu ada tanaman bawang putih (suna) yang cukup luas, ada yang baru ditanam sudah muncul daunnya, ada yang sudah menghijau. Lalu saya jalan menurun, saya melihat buah nanas, lalu dipetik. Kemudian berjalan ke arah timur, hendak balik. Di dekat pangkung kecil (sungai kering) saya melihat sebatang tebu yang ditinggal seseorang, disana juga ada lagi buah nanas.

Antara sadar dan masih dalam mimpi, kata hati saya mengartikannya sendiri. 'Ngalih penunasan di babune apang ngenah. Manas ngaran nunas, tebu ngaran babu'

Saya belum terbangun total, malah masuk ke alam mimpi lagi. Dalam mimpi itu, tidur saya merasa terganggu. Lalu keluar dari kamar malam-malam. Adik saya yang satunya, Pidi, melihat keluar dari jendela, mungkin dikiranya ada maling. Saya ayunkan kamben ke jendela biar adik saya kaget. 'Oh ternyata bli' ujarnya. Kemudian dia nanya sudah jam berapa. 'Jam tiga' jawabku.

Tak lama kemudian pidi dan ibu mau ke pasar kirim barang bawa mobil pickup, sekaligus mau beli sesuatu, seperti mau beli perlengkapan upakara. Adik saya yang nyopir (aslinya adik saya tidak tahu nyetir). Mereka pun pergi.

Pagi hampir tiba, ngedas lemah. Adik saya yang mau diajak ciuman tadi dia datang. Katanya sudah selesai memberi sapi pakan. (Mimpinya seperti bersambung). Tak lama kemudian ada orang berbelaja, orangnya agak sinting. Dia nanya harga jajan yang dibeli, namun saya tak tahu. Saya tanya ke adik saya, lucunya adik saya berubah kembali jadi kecil seperti baru berumur 6 tahun. Dia hafal semua harga barang-barang yang dijual ibu. Dia pun menghitung harga belajaan orang itu, ternyata yang dibeli jajan kerupuk beberapa jenis, juga tembako. Saat adik saya selesai menghitung belanjaan orang itu, tiba-tiba saya mendengar suara orang, tak tahu dari mana datangnya. Orang itu bilang, 'kitab sarasamuscaya, guru Santika Putri'.

Saya pun tersadar total dari mimpi. Bingung juga mimpi sepanjang itu, namun tak ditelusuri maknanya. Renungan saya bahwa mimpi itu harus dipercaya karena petunjuk dari guru niskala. Diambil maknanya dari 'kitab sarasamuscaya (harus percaya), guru santika putri (guru ngandikang iki: ini sabda guru).

Sedangkan mimpi yang duluan sudah jelas maknanya. Saya pun merasa aneh, belum tersadar total tetapi sudah diterjemahkan. Mimpi tersebut di atas kalau dibawa ke dalam bahasa lokal menjadi; ngipi nepukin pemulaan suna, ngalih manas, nepukin tebu. Artinya seperti di atas, 'Ngalih penunanasan di babune apang ngenah' (cari petunjuk niskala di babu agar tahu). Babu yang dimaksud adalah tempat pemujaan leluhur gabungan dari beberapa dewa Hyang (leluhur). Sepertinya mirip dengan paibon yang dikenal di Bali, hanya saja dalam skala kecil.

Di Bali ada sebuah tradisi, bila menghadapi kendala yang ada hubungannya dengan niskala maka mencari solusi dengan nedunang dewa hyang (menurunkan leluhur) untuk memohon petunjuk agar diberitahu apa yang harus dilakukan, apa kendala yang dihadapi hingga mendapat cobaan hidup dalam keluarga. Ada beberapa istilah untuk menyebut tradisi ini, seperti ngalih pangenah, nunas rawos, mapeluas, mapenunasan, dsb.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts