e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Debat dengan Guru

Berada di tegalan tetangga, dadong Kadia nama pemiliknya. Entah bagaimana ceritanya, di tempat itu saya bersama guru (bapak saya) mencabuti rerumputan di lahan kosong. Juga ada adik saya, Pidi namanya. Juga ada ibu dan juga dibantu Mejro Wi (ibunya dia) Bapak saya bercerita bahwa sempat ada gempa. Menurutnya, bahwa sesungguhnya ketika terjadi gempa maka getarannya dirasakan di seluruh bumi namun tidak dirasakan oleh semua manusia. Saya tak sependapat dengan bapak saya. Setahu saya, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa gempa bisa dirasakan pada bagian bumi di sekitar pusat gempa. Bahkan jika gempa kecil, misalnya gempa kecil di Denpasar bisa saja hanya dirasakan di sekitar kota Denpasar.

Debat dengan guru tak menemukan kesepakatan, sama-sama berpegang pada pengetahuan masing-masing. Tak lama berselang Mejro Wi pergi tanpa pamit gara-gara saya tak menyapanya. Lalu ibu mendekati saya, sembari berujar, 'Tadi mejro pergi ngomel-ngomel sendiri, sebenarnya dia ingin menyapa kamu tetapi kamu cuek' kata ibuku menyesali sikap saya.

Tak tahu bagaimana saya tersadar dari mimpi tersebut soalnya hanya sebentar terbangun kemudian mimpi lagi. Mimpinya akan diulas tersendiri. Semalaman dijejali beberapa mimpi gara-gara seminggu tak mimpi akibat dimarahi guru niskala. Beliau hadir kembali ke alam mimpi gara-gara saya berbalik memarahi-Nya waktu siang harinya pada saat sedang di jalan. Saya marah dalam hati, merasa rugi memiliki guru alam gaib namun hidup saya merana, terutama soal asmara. 'Di kemudian hari saya takan percaya lagi kalau saya memiliki guru di alam niskala' demikian kurang lebih kata-kata saya, marah pada sesuatu yang tak ada namun sesungguhnya ada. Setelah sampai rumah saya terkejut, saya kehilangan uang. Hilangnya agak janggal. Barangkali hal itu bertujuan untuk menyadarkan saya bahwa apa yang saya katakan itu tidak baik dan tidak benar. Dan sore harinya saya merasa sedih sekali, seakan sedih tanpa sebab. Sore itu saya inginnya di tempat tidur saja. Mungkin juga saya sedih karena hari itu saya berencana mengakhiri perjuangan cintaku yang telah disemai bertahun-tahun. Gara-gara sedih itu, malamnya beliau hadir ke alam mimpi dengan menyamar menjadi bapak saya yang biasa dipanggil guru.

Mimpi di atas sebagian merupakan bahasa sandi sehingga perlu ditulis ke dalam bahasa sehari-hari saya, bahasa ibu. Yang ditulis hanya kalimat yang menjadi bahasa sandi, sebagai berikut; "Di abian dadong kadiane mutbut bet ngajak guru. Guru ngorahang ada linuh. Ditu masi ada Pidi." Dari kalimat tersebut maka dijumpai bahasa sandinya; Dadi (cai) nyadia sebet ngajak guru? Guru ngorahin (cai), sing dadi inguh! Terjemahan bebasnya: mengapa (kamu) tega bersedih hati pada guru? Guru menasehati (kamu) tidak boleh gusar! (Gusar: ngambul bercampur marah).

Pada bagian debat dengan beliau, itu bukanlah bahasa sandi melainkan bahasa isyarat. Menurut beliau bila terjadi gempa, getarannya itu sampai ke seluruh bumi namun tidak semua manusia merasakannya. Maknanya bahwa guru niskala tahu secara menyeluruh apa yang akan terjadi, sedang terjadi, dan yang telah terjadi pada manusia. Beliau tahu segalanya, yang tak mungkin diketahui manusia. Berbeda dengan saya, yang hanya tahu apa yang dirasakan dan dilihat oleh panca indra, sehingga saya hanya fokus pada inti masalah. Analoginya; hanya dirasakan di sekitar pusat gempa. Misalnya bila kita mencintai seorang gadis, maka inginnya menjadikan dia seorang istri. Padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari bila menikah dengan gadis itu. Bisa jadi akan buruk sehingga dewa menghalang-halangi niat kita demi kebaikan hambanya, hanya saja kita merasakan bahwa itu ketidakpedulian dewa kepada kita. Padahal sebenarnya dewa sayang pada kita namun kita tidak menyadari tujuan dan kehendak-Nya.

Barangkali akan muncul pertanyaan; siapakah guru niskala itu? Ada yang menduga bahwa guru itu adalah Bhatara Hyang Guru: Tuhan sebagai asal mula kita yaitu ayah-ibu ( i meme, i bapa ) pada awal ciptaan (Tuhan ibu-Tuhan bapa atau Pertiwi-Akasa). Ada pula beranggapan bahwa guru niskala itu Sang Wengi, sebangsa Jin. Memang tak bisa dipungkiri adakalanya kita diberi suatu ilmu oleh jin, seperti diberi mantra. Biasanya kita mimpi berada di hutan atau tempat keramat, lalu bertemu orang tua yang tidak dikenal, kemudian orang itu memberi kita sesuatu. Bila sebangsa jin menjadi guru kita, tentulah kita merasa tidak sudi berguru pada jin. Setelah saya renungkan dari beberapa mimpi, sebenarnya guru niskala itu adalah dewa penjaga kita. Oleh karena itulah beliau hanya memiliki dua tugas pokok; melindungi dan memberi petunjuk, terutama melalui mimpi. Tetapi menurut bapak saya, dewa penjaga itu adalah Bhatara Hyang Guru. Hanya beda istilah saja.

Setiap orang memiliki dewa penjaganya atau guru niskala, hanya saja tidak semua orang bisa berkomunikasi pada-Nya: pada umumnya komunikasi melalui mimpi, meski bagi orang tertentu bisa diajak berkomunikasi langsung. Bapak saya biasa berkomunikasi dengan guru niskala, bila beliau berkenan. Katanya, komunikasi dengan-Nya bisa dikembangkan, terutama berlatih konsentrasi pada saat sembahyang, lalu undang beliau agar berkenan memberi petunjuk. Hal itu dilakukan bila ada orang yang berobat sehingga kita bisa tahu apa yang menyebabkan seseorang menderita sakit.

Menurut saya, setiap orang bisa berkomunikasi melalui mimpi dengan guru niskala: diberitahu tentang banyak hal melalui mimpi. Dari pengalaman saya, awalnya saya percaya bahwa memiliki dewa penjaga. Lalu, bila mengalami masalah yang membuat merasa menderita, pada saat sembahyang memohon kepada-Nya agar beliau berkenan memberi petunjuk melalui mimpi. Tentulah doanya dari lubuk hati yang terdalam dan tulus, bukan bermaksud untuk menguji keberadaan-Nya. Biasanya, satu atau dua hari sesudahnya pasti mimpi, bahkan sering langsung mimpi malam itu juga. Akan tetapi pada umumnya mimpi mencari hari tertentu sesuai dengan kendala yang kita hadapi, lalu digali dengan tenung tanya lara atau dengan primbon mimpi.

Kembali ke mimpi. Kronologi mimpi lainnya yaitu kehadiran ibu dia itu melambangkan bahwa ibunya hendak baikan dengan saya, tetapi saya cuek. Dalam kenyataan memang begitu. Ibu dari gadis yang saya cintai tak saling sapa dengan saya gara-gara diperlakukan tidak adil. Cowok lainnya dibiarkan mencintai anaknya, sedangkan waktu saya mencintai anaknya katanya anaknya masih kecil, masih sekolah, tak boleh pacaran. Akan diijinkan pacaran bila sudah tamat sekolah, bahkan menikah bila saling mencintai. Oleh karena itu saya sempat mengomeli ibunya dan juga bapaknya via sms, sehingga saya juga tak menyapanya. Dengan bapaknya sudah saling sapa, sedangkan sama ibunya belum. Belakangan ibunya beberapa kali datang ke rumah saya, namun saya cuek. Sebenarnya dalam hati, saya sayang padanya, namun pura-pura cuek.

Barangkali benar ibunya berkeinginan baikan dengan saya sesuai petunjuk ibu saya dalam mimpi. Yang memberitahu ibu kedua saya, hal tersebut melambangkan ibu saya yang telah tiada, yang meninggalkan saya saat baru berumur setahun sehingga saya tak tahu wajah ibu kandung. Oleh karenanya dalam mimpi beliau menyamar sebagai ibu kedua (kasarnya ibu tiri). Sebelum tidur memang sempat ada kejadian yang mengagetkan. Saat kehilangan kesadaran sejenak, nama saya ada yang memanggil, suara seorang wanita.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts