e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Pelajaran Pemujaan di Alam Mimpi

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya sudah berada di tepi jalan di banjar Srongga dekat pura Tukad Bumbung. Lalu datanglah dua gadis cantik. Katanya, keduanya kenal dengan saya, dan samar-samar ingat kalau dulu saya pernah mengidolakannya, namun lupa namanya. Mereka mendekatiku dan duduk di sampingku. Lalu saya memeluknya.

Tidak tahu dari mana datangnya, muncul lagi seorang gadis cantik. Seingatku dulu dia pernah mengabaikanku. Seakan dia ingin mencari perhatian saya. Dalam hati aku berpikir, 'dulu waktu kamu kecil sok jual mahal padaku, kini gilirankulah yang akan sok jual mahal'. Aku segera menyandarkan kepalaku pada perut salah satu dari dua gadis tadi agar si gadis yang baru datang cemburu padaku.

Entah keajaiban apa yang terjadi tiba-tiba sudah berada di pertigaan di dekat Pura Jero Kamulan di Hulundanu. Ketiga gadis itu masih berada di sampingku. Katanya, dulu mereka barengan sekolah dengan Pebriyanti dan Ema Karisma, makanya mereka kenal denganku.

Keajaiban kembali terjadi, tiba-tiba sudah berada di halaman rumah, tinggal berdua dengan gadis yang pernah mengabaikanku namun aku tak tahu namanya. Kini dia menempel denganku duduk berdampingan. Aku bergairah memandang kecantikannya. Lalu mendekatkan tubuhku padanya, memeluknya mesra. Tak ku biarkan kesempatan emas lewat, aku kecup pangkal lehernya di bawah telinga. Itu rumusku kecup gadis muda agar diingat seumur hidupnya. Bahkan bisa membuatnya ketagihan.

Ada perasaan canggung akibat ulahku itu, takut bila gadis itu illfeel. Lalu saya menceramahi gadis itu tentang pemujaan di rumah. "Di pekarangan rumah, pada dasarnya ada dua jenis palinggih untuk pemujaan, yaitu dewa raksa dan kala raksa. Di tugun karang/kala raksa tak boleh nyumbah, hanya boleh ngayabang. Hanya di palinggih dewa raksalah boleh nyumbah." Tiba-tiba melihat seseorang, seakan diri sendiri menyembah di Tugun Karang, tapi posisi tangan berada di depan mata dan saya teringat tak pernah sembahyang di Tugun Karang. Tak lama kemudian, saya dan gadis itu beranjak dari tempat duduk dan hendak pergi.

Saya pun tersadar dari mimpi dan merasa kaget dengan mimpi itu. Setelah melihat kalender, mimpi tersebut bertepatan dengan Saniscara Kaliwon atau tumpek, nuju Paniron. Digali dengan tenung tanya lara, uripnya 25 dibagi 4: sisa 1. Sisa 1 artinya dewa alit. Dalam konteks mimpi di atas maka dewa alit yang dimaksud adalah dewan karang atau dewan umah (dewa pelindung di rumah).

Mimpi di atas erat kaitannya dengan petunjuk alam gaib agar selalu ingat sembahyang atau menghaturkan persembahan pada hari-hari sakral. Semenjak dua bulan dilinggihkan kembali (pemugaran) Tugun Karang, saya memang tak pernah sembahyang disana, termasuk pada saat hari sakral. Bapak saya yang rutin mempersembahkan canang sari sebagai persembahan harian, sedangkan pada Kajeng Kaliwon Wudan mempersembahkan caru segehan manca dan pelengkapnya. Sedangkan saya biasanya hanya sembahyang di Kamulan. Bila tak ada kamulan, biasanya hanya didirikan palinggih ke surya (tergolong palinggih Dewa Raksa). Sedangkan pelinggih Tugun Karang tergolong palinggih Kala Raksa.

Saya pernah membaca ceramah seorang Sulinggih. Katanya tak boleh nyumbah di Tugun Karang. Namun entah kenapa dalam mimpi seakan dibolehkan nyumbah hanya saja posisi tangan di depan mata, tak seperti pemujaan kepada dewa dimana posisi tangan di atas kepala. Menurut hemat saya cara penerapannya yaitu apabila menghaturkan segehan atau canang sari di Tugun Karang maka yang dilakukan 'ngayabang', sedangkan bila mau bepergian jauh, mepamit, maka nyumbah tetapi posisi tangan di depan mata.

Apabila dekat pekarangan atau perbatasan rumah terdapat tempat keramat biasanya dibangun palinggih padma capa atau Indra belaka. Di palinggih ini seseorang tak boleh nyumbah, hanya ngayabang. Di pekarangan keramat, seberapa besarpun caru dilaksanakan maka akan sia-sia; wajib hukumnya mendirikan Padma Capa atau sering disebut padma endep.

Penafsiran mimpi di atas pada bagian awal, pertemuan dengan gadis cantik melambangkan karunia dari mahkluk gaib berupa karisma untuk menarik hati orang yang mengabaikan saya. Kecupan saya itu sebenarnya melambangkan penarikan energi dari wanita cantik yaitu ratu Ayu Maketel, yang pelinggih pengayingannya ada di halaman rumah saya, dimana saya duduk dalam mimpi berada dekat pelinggih itu. Makna tersebut dapat digali dari nama teman wanita tersebut; Pebriyanti dan Ema Karisma: pemberian karisma.

Kemarinnya saya sempat ngomel dalam hati, 'Kenapa ya saya diabaikan seperti ini oleh orang yang disayang, malah sering berantem, rasanya rugi ada Dewa Hyang dan Sesuunan (dewata). Kalau begini mendingan tak usah bakti kepada dewa."

Adakalanya kalau merasa kecewa sampai lubuk hati pada dewa, mendapat jawaban melalui mimpi. Di sisi lain kadang merasa malu terlalu manja pada dewa. Masak sih urusan cinta masih bermanja ria pada dewa? Seperti anak kecil saja. Padahal sudah pernah diberitahu bahwa saya akan menikah dengan orang yang diajak musuh-musuhan. Walau musuh-musuhan, toh ujung-ujungnya akan jadi istri saya. Semoga saja alam gaib tidak membohongiku.

Tiga hari setelah tumpek, kembali saya mimpi berkaitan dengan pemujaan, bertepatan dengan hari sakral bulan mati, tilem. Kisah mimpinya sebagai berikut:
Di sebuah taman istana, saya dan guru (bapak saya), sedang duduk. Di dalam istana saya melihat ada pertarungan duel, busananya seperti seorang raja Bali kuno. Yang menang lalu pergi. Saya merasa takut melihatnya. Kemudian saya merasa itu cuma adegan drama, hanya sandiwara layaknya film laga.

Tak lama kemudian, dari luar istana datang seorang Sulinggih (orang suci) berjenggot putih sampai menyentuh dada. Bapak saya lalu menyambutnya, 'Om Swastyastu, Ratu Bhagawan'
'Om Swastyastu' jawab beliau sambil melirik saya. Lalu saya memberi salam hormat 'Om Swastyastu'. Beliau tersenyum. 'Oh ternyata beliau' gumamku dalam hati. Saya teringat bahwa sebelumnya pernah bertemu beliau namun lupa bertemu dimana. Orang suci tersebut diikuti dua orang wanita paruh baya, wanita itu sarati banten (tukang banten). Tak lama kemudian, sang sulinggih masuk ke gryanya (rumah). Sedangkan dua wanita tersebut mengajak saya dan bapakku ke tempat jamuan makan. Begitu memasuki tempat jamuan makan wanita itu mencari makanan yang tidak ada daging babi, begitu pula saya tak diijinkan mengambil daging babi.

Lalu kami duduk, wanita itu duduk di sebelah kiri saya, lalu menceramahi saya. 'Bila pasangan suami istri sembahyang (mempersembahkan yadnya), yang perempuan mengundang dewa, yang laki-laki mempersembahkan. Itulah sebabnya laki-laki bisa disebut 'putus', seperti kakek kamu. Kalau ngayabang begini caranya' ujar wanita itu sembari menggerakan telapak tangannya; digeser ke kiri, lalu naik berputar ke kanan (purwa daksina), ke arah saya. Jari-jarinya miring ke depan.

Saya akhirnya tersadar dari mimpi pada jam lima pagi, merasa heran dengan mimpi itu, sekaligus merasa bersyukur mendapat pelajaran di alam mimpi. Hal pertama yang menjadi pusat perhatian saya adalah soal larangan makan daging babi, soalnya kemarin siangnya saya mencicipi sate daging babi di tempat kundangan. Saya kira bukan berbahan daging babi, makanya dicicipi. Lalu tak jadi dimakan setelah diberitahu sate itu berbahan daging babi. Malamnya perut saya ada yang nusuk-nusuk, ditekan rasanya perih sekali. Seperti ada benda tajam di dalamnya. Sampai saya sempat merasa kena ilmu hitam, soalnya rasa tusukannya tak seperti biasa. Kemudian saya ke WC, namun tak mau BAB. Barulah saya sadar sempat mencicipi daging babi. Sekitar 15 menit kemudian sakit nusuk-nusuk itu hilang. 'Sepertinya saya memang tidak boleh makan daging babi, bukan sekedar karena belajar semi vegetarian.' Keluh kesahku dalam pikiran.

Larangan lain yang pernah saya dapatkan dalam mimpi yaitu tidur di bawah (lantai) yang biasa diinjak kaki. Dan juga menyentuh bagian terlarang wanita pada selangkangan dengan lidah. (Maaf) menjilati kemaluan. Pernah melakukan hal itu pada cewek perawan. Besoknya mata saya memerah, terasa panas. Dan luka di kaki jadi kambuh sakitnya. Malamnya saya mimpi turun dari lantai atas sebuah bangunan, berjalan pincang karena kaki sakit menuju tempat pembuangan sampah yang sangat jorok. Di dekat tempat jorok itu ada WC wanita. Saya ingin mengintip wanita yang sedang mandi. Tiba-tiba datang orang tua renta. Orang itu memanggil saya agar tidak berada di tempat jorok, lalu disuruh membantu beliau menuntun naik tangga ke lantai atas. Setelah terbangun saya langsung paham maksudnya, dan merasa menyesal melakukan hal jorok seperti itu, padahal saya sendiri pernah menulis artikel bahwa orang-orang tertentu sebaiknya menghindari menjilati kemaluan wanita bila menghendaki kehormatan di masyarakat. Karena saya merasa bukan siapa-siapa, juga karena dorongan nafsu, saya ceroboh melakukan hal tersebut, meski tak sampai melakukan hubungan seks terlarang karena gadis perawan itu tak mau.

Kembali ke topik mimpi di atas. Berdasarkan tenung tanya lara; Anggara Pon nuju Tungleh, uripnya 17, dibagi 4; sisa 1: dewa alit. Dalam konteks mimpi di atas, dewa alit yang dimaksud adalah Dewa di pondoke (dewan umah. Pon pinaka Pondok/umah). Lagi-lagi mimpi berasal dari dewa pelindung di rumah. Menurut bapak saya, orang suci simbol bhatara, hampir sama dengan orang asing atau turis simbol sesuunan (dewata).

Dengan demikian, wanita yang hadir dalam mimpi merupakan pelayan dewa yang berstana di rumah. Itulah sebabnya beliau mengajarkan tata cara sembahyang atau pemujaan di rumah.

Bila dicermati dalam masyarakat Bali, sebelum pemujaan di rumah, jarang yang mengundang dewa sebelum sembahyang, langsung begitu saja sembahyang. Dalam ajaran Hindu, bahkan ada enam belas langkah dalam sekali pemujaan. 'Di dalam keseluruhan Sandhya-Vandana, ada enam belas kriya; dua belas dilakukan sebelum meditasi yang besar, dan kriya yang ketiga belas adalah meditasi besar atas Gayatri. Sesudah meditasi sisanya yang tiga harus dijalankan lagi' (Dikutip dari buku Gayatri, Semedi Mahatingi).

Menurut kitab Siva Purana,  Enam belas cara pemujaan itu adalah (Avahana) pembangkitan atau mengundang beliau, mempersembahkan tempat duduk beliau (Asana), mempersembahkan air (arghya) membasuh kaki beliau (Padya), air untuk melakukan puja Acamana, minyak wangi (Abhyanga snana), mempersembahkan kain (vastra), wewangian (gandha), bunga (Puspa), lampu (Dipa), persembahan makanan (Nivedana), menyalakah lampu penerangan (Nirajana), daun betel/sirih (tambula), bersujud (namaskara) dan pembebasan mental (Visarjana). Atau ia juga boleh hanya mempersembahkan air dan makanan. Atau dalam kesehariannya sesuai dengan kemampuannya melakukan penyucian linggam dengan air (abhiseka), persembahan makanan (Naivedya), sujud (Namaskara) dan pengagungan (Tarpana). Semua ini akan mendekatkannya pada alam Shiva.

Hal itu terlalu rumit, bahkan sulit diterapkan dalam pemujaan sehari-hari. Kita bisa sederhanakan seperti penerapan dalam masyarakat Hindu di Bali.

Penafsiran saya terhadap penjelasan wanita dalam mimpi, saya akan menerapkannya seperti; terlebih dulu letakan persembahan di semua palinggih dilengkapi dengan dupa sambil mengundang beliau untuk hadir dalam pemujaan [isteri yang melakukan hal ini bila sudah berkeluarga]. Lalu melakukan pemujaan bersama; baik dengan puja tri sandya, berjapa, maupun kramaning sembah. Setelah berakhir pemujaan, lalu semua persembahan di semua palinggih diperciki tirta oleh suami, disertai doa agar beliau yang dipuja berkenan menerima persembahan kita. Setelah itu, baru kita menerima wangsuh pada-Nya. Pemujaan diakhiri dengan mempersilahkan beliau kembali ke Singgasana-Nya. Barulah paramashanti.

Tata cara ngayabang persembahan (baik di palinggih untuk Kala Raksa maupun Dewa Raksa) saat memerciki tirta dengan memutar telapak tangan mengikuti arah jarum jam, yaitu berputar dari kiri ke kanan atau purwa daksina,dimana saat menempatkan telapak tangan di depan kita menghadap pada palinggih, jari-jari tangan miring ke depan. Lalu geser telapak tangan ke kiri, kemudian naik memutar. Lakukan berulang kali, misalnya tiga kali atau sampai selesai berdoa.

Selama ini, di masyarakat tidak jelas arah memutar telapak tangan, bahkan banyak pula yang telapak tangannya malah miring ke belakang seperti penari yang jemarinya lentur. Semoga dengan pelajaran di alam mimpi tersebut menjadi jelas tata cara pemujaan saya di rumah, terutama ketika sudah menikah. Om Awignam astu.

Tulisan hasil mengetik pakai HP pada 3 Desember pukul 20:57

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts