e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mimpi Sebulan Lalu Baru Terpecahkan Maknanya

Pada tanggal 12 November lalu ibu saya mendengar sabda bahwa janji kakek saya berada di dunia berakhir pada esok harinya. 'Janjin kakine mani lakar ngalahin mulih' (janjinya kakek besok akan berpulang). Sabda itu datang dari suara seorang wanita, didengar pada saat kehilangan kesadaran saat tidur sejenak. Sama kasusnya dengan sabda yang saya dengar yang menyatakan bahwa leluhur saya akan rapat besoknya, 'Dewa Hyange mani cang rapat' (leluhurnya besok akan rapat). Juga suara seorang wanita yang saya dengar. Suara itu terdengar dari tempat nenek saya dirawat.

Saya cocok-cocokan suara itu mirip dengan suara siapa yang masih hidup. Saya dan ibu saya sepakat bahwa suara wanita itu mirip dengan suara mbok Luh, istrinya sepupu saya. Dugaan bapak saya bahwa wanita itu adalah dewa hyang alit, saudara saya yang perempuan yang meninggal masih bayi. Anak kecil yang telah meninggal biasa disebut Dewa Hyang Alit..Waktu nenek telah diijinkan pulang dari klinik atau tiga hari setelah kejadian itu, saya mimpi yang sempat membuat saya gelisah. Mimpi itu sebagai berikut;

Di Tegalan milik kakek, saya menginjakan kaki dari atas, berasa turun dari langit. Di tegalan itu saya melihat nenek bersama adik saya, Pidi, sedang mencabuti rumput bawang merah. Melihat kedatangan saya, nenek menanyakan keberadaan kakek.
'Kaki jaa?' (kakek mana)
'Kaki ken ba ngalahin' (kakek kan sudah berpulang).
Mendengar kata-kata saya, nenek terkejut. Secepat kilat saya berpikir untuk membohongi nenek agar tidak sedih mendengar berita duka.
'Maksudi kene; kakine ba ngalahin mulih ke desa, sing je mati' (maksudnya begini; kakek sudah pulang ke desa, bukan meninggal).

Tersadar dari mimpi, saya bangun jam 2 dini hari. Langsung cerita ke bapak saya bahwa saya mimpi kalau kakek telah meninggal. Bapak saya sempat galau juga dibuatnya, karena waktu itu di rumah kakek hanya ada kakek seorang diri karena nenek masih suruh tinggal di rumah saya agar selalu ada yang jaga, karena waktu itu keluarga kami ada odalan dewa Hyang.

Saya tapsirkan mimpi di atas secara membabi buta dan curiga 'jangan-jangan kakek beneran sudah meninggal'. Diam-diam saya keluar rumah ke rumah sepupu minta nomor sepunya yang lagi satu, rumahnya dekat rumah kakek. Saya hubungi sepupu berulang kali tetapi tak diangkat. Lalu saya sms menyuruhnya untuk mengecek kakek apakah kakek baik-baik saja.

Setelah pagi, agak siangan, kakek malah datang ke rumah menjenguk nenek. Saya pun tertawa, ternyata mimpi itu hanya bunga tidur. Saya anggap mimpi itu hanya guyonan. Mimpi itu juga saya ceritakan ke nenek, diikuti sebuah pertanyaan, 'Kenapa ya saya mimpi membohongi nenek seperti itu, nek?' Padahal sampai saat ini, saya tak pernah membohongi nenek.

Beberapa hari kemudian, atas kesepakatan keluarga, nenek dan kakek dibuatkan upacara penunda kematian, seperti nebusin ke pura Dalem Prajapati, banten Atma Teka, Panyegjeg Tuuh, Pemahayu Urip. Kakek dibuatkan upacara seperti itu karena sabda yang didengar ibu, sedangkan nenek karena waktu hampir menghembuskan nafas, bapak saya melihat dengan indra keenam bahwa kumpi (ayahnya nenek) turun dari Pelanggatan (kamulan pada rumah kuno) mau mengambil nenek. Awalnya berwujud manusia, namun kemudian berubah menjadi celuluk. Celuluk itu hanya berada di samping nenek, tidak jadi diambil.'Kalau nenek masih bisa bertahan sampai besok pagi, segera buat banten nebusin ke pura Dalem Prajapati' demikian perintah bapakku waktu itu.

Ada hal menarik yang saya amati waktu itu, dimana semua keluarga menguap hampir bersamaan. Saya pun menduga bahwa ada kehadiran mahkluk gaib. Tak lama kemudian bapak saya bercerita bahwa beliau melihat kumpi turun dari pelanggatan.

Kembali ke mimpi di atas, saya kepikiran dengan mimpi tersebut. Jika mimpi tersebut hanya bunga tidur kenapa saya ingat betul kronologinya sampai sekarang, bahkan masih ingat percakapan saya dengan nenek. Bila bunga tidur seharusnya sudah saya lupakan. Saya renungkan kembali mimpi tersebut, ternyata mimpi itu merupakan sebuah peringatan agar keluarga kami tidak berduka pada saat kakek meninggal nanti karena datangnya kematian beliau sudah diketahui.

Mimpi di atas apabila dibawa ke dalam bahasa lokal maka menjadi; DAdong ajaka piDI mutbut bet bawang. Tiang ngorahang kaki suba ngalahin. Mimpi tersebut bila dirangkai ke dalam kata tapfsir mimpi maka; Sing dadi sebet suba tawang kakine lakar ngalahin. (Tidak boleh sedih sudah tahu kakeknya akan meninggal).

Sampai sekarang kakek saya masih sehat walafiat, sedangkan nenek masih sakit sedikit, namun bapak saya sudah tidak mau mengobati karena berdasarkan Tenung tanya lara, bahwa nenek sudah tidak boleh diobati. Hal ini akan dibahas secara khusus.

Bila tak tahu soal misteri kematian, hal di atas pasti akan menimbulkan pertanyaan; kakeknya dibilang sudah berakhir janjinya di dunia, habis usianya, kenapa masih hidup? Dalam masyarakat Bali dikenal istilah 'kejabut', arti kasarnya dicabut, yang bermakna bahwa keberadaan roh seseorang telah berakhir, telah diambil dari tubuh kasarnya. Meski demikian bukan berarti seseorang langsung meninggal. Ia masih bertahan hidup beberapa bulan kemudian, semisal 2-3 bulan. Ketika seseorang telah 'kejabut' biasanya orang tersebut mengalami perubahan sikap, seperti melunasi hutangnya, sering mimpi didatangi keluarga yang telah meninggal, senang berkunjung ke kerabatnya, merasa kangen berat dengan sanak keluarga, sering bengong-bengong, senang bercerita masa lalunya, jalannya linglung, bahkan ada yang lupa rumahnya, dan lain sebagainya. Sedangkan kerabatnya mendapat tanda-tanda kematian keluarga, seperti ada yang mimpi gigi tanggal, memimpikan seseorang yang telah tiada, dan lain sebagainya. Kasarnya, sebelum kematian benar-benar tiba, masih ada masa tenggang untuk menyelesaikan urusannya di dunia.

Nenek saya bahkan sudah menyediakan kain angkebnya, kain pembungkus mayat, tak tahu kapan dibelinya. Mudah-mudahan doa beliau dikabulkan dewa, beliau berkeinginan bahwa kematiannya dekat dengan hari baik.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts