e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Gagal Memisahkan Roh dari Tubuh

Hari senjakala saya berada di pangkung (sungai kering) dekat rumah. Entah dari mana datangnya, saya didekati orang tua sakti berpakaian putih. Lalu beliau mengajari sekaligus menguji saya untuk belajar melepas sanghyang atma (roh) dari dalam tubuh, mungkin seperti merogo sukma.

Orang sakti itu memintaku untuk mengikuti mantra yang beliau rafalkan. Sayang mantra yang diucapkan tidak ada yang saya ketahui karena memang tidak suka menghafalkan mantra. Ada sekira 5 jenis mantra yang diucapkan, tetapi hanya ada satu mantra yang saya ketahui, 'Om Awignam astu ya namah sidyem', kebetulan mantra ini memang sering dipakai, merupakan mantra panugerahan agar tidak kepastu dening sanghyang mantra.

Usai merafalkan mantra tubuhku terasa lemas, gagal untuk mengeluarkan sanghyang atma. Orang itu lalu berujar, 'Jero masih kecil, spiritualmu masih murahan, belum pantas belajar tentang sang roh, nanti jero bisa gila. Kamu juga tak boleh pamer kebisaan'

Tiba-tiba orang tua sakti itu berubah menjadi bapakku. Kemudian beliau mengajakku berjalan menanjak ke arah utara, tak jauh berjalan, melihat nangka liling sudah matang, bapakku lalu memetiknya. Perjalanan dilanjutkan naik menanjak, disana melihat banyak pohon pisang yang rusak, dan ada pisang yang sudah tumbang, ternyata buahnya sudah matang, lalu saya disuruh memetiknya.

Aku pun terbangun dari tidur, ternyata cuma mimpi. Serem juga mimpinya dan rasa lemas itu masih terasa saat terbangun. Setelah direnungkan sejenak, saya senyum-senyum sendiri. Orang tua yang hadir dalam mimpi itu sudah sering datang ke mimpiku. Perubahan wujud dari orang tua sakti itu berubah menjadi bapakku, itu maknanya bahwa beliau adalah guruku di alam gaib atau pun di alam mimpi. Di dunia nyata, bapakku biasa dipanggil 'guru'.

Saya coba hitung dengan tenung tanya lara, ternyata mimpi itu berasal dari Sesuunan (dewata). Mimpi seperti ini sifatnya hanya diberitahu atau peringatan, bukan petunjuk kejadian akan datang, sehingga tak perlu penafsiran lebih jauh.

Sebelum mimpi seperti itu, siangnya saya teringat dengan mimpi dulu, sekitar 8 bulan lalu, dimana waktu itu saya merasakan bahwa roh saya keluar melalui ubun-ubun. Saat roh mau keluar, seluruh persendian seakan mau lepas, dan sadar sedang tidur. Tiba-tiba saya sudah berada di rumah si dia (orang yang disayang), dan dalam sekejap rumahnya menghilang, berganti dengan tumbuhan labu. Saya pun balik, dan memasuki tubuh, lalu tersadar kemudian.

Sulit saya melupakan pengalaman mimpi seperti itu dan ingin kembali merasakannya, soalnya seru. Itu sebabnya kemarin terbesit dalam benakku bagaimana caranya agar bisa merogo sukma sesuai kehendak kita. Eh tahu-tahunya malam harinya mimpi seperti di atas.

Celotehan terkait dengan mimpi di atas:

Ternyata makna mimpi memetik buah nangka liling itu bermakna buruk. Sebagaimana diketahui mimpi merupakan bahasa simbol, memaknai simbolnya pun kudu menggunakan bahasa lokal. Dalam konteks mimpi, Nangka dalam bahasa lokal dimaknai Bangka (mati), sedangkan Liling dimaknai Ngeling (menangis). Jadi, mimpi memetik Nangka Liling bermakna bahwa akan ada yang meninggal yang membuat menangis. Demikian pula mimpi memetik nangka buug artinya bangka matabug; mati dikubur.

Merasa Akan Kehilangan Keluarga

Tadi sambil nyetir tak terasa air mata menetes gara-gara memikirkan kejadian kemarin. Kemarin nenekku sakitnya kambuh dan semakin parah. Sepulang dari mengajak nenek berobat, di rumah nenek ibuku ribut-ribut gegara melihat orang tua duduk di sebelah selatan rumah, dikiranya kakek, tapi ternyata kakek sedang tidur di kamar. Setelah dilihat kembali, orang itu menghilang. Gegerlah ibuku. Ibuku memang sering bisa melihat sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.

Dugaan saya yang dilihat itu kumpi atau kompyangku (ayahnya kakek yang telah tiada). Entah kenapa, saya merasa ngantuk tiba-tiba. Biasanya, bila ngantuk tiba-tiba ada kedua kemungkinan, sedang dibicarakan orang atau sedang didekati mahkluk gaib.

Saya mencoba memberi nenek energi prana, nenek sedang berbaring di samping perbaringan kakek. Entah kenapa hati berkata, 'kayaknya kakek akan meninggal lebih dulu dan diikuti nenek, meski yang sakit adalah nenek'. Lalu dalam hati berdoa, 'Dewa, jadikanlah aku alat penyembuh-Mu. Kalaulah nenek akan meninggal, biarlah nenek pergi dalam keadaan sehat. Atau biarlah nenek sembuh, dan tak terjadi apa-apa. Semoga apa yang terjadi atas kehendak-Mu.'

Setelah usai mecaru (upacara pembersihan karang rumah), akhirnya nenek baikan. Anak cucunya pun pada pergi, termasuk saya. Waktu saya mau tidur di kamar, di tempat tidur tiba-tiba saya mencium bau tak sedap, bau anyir. 'Loh kok ada bau gini, bau apaan nih?' Bertanya-tanya dalam hati.
Aku pun kehilangan kesadaran, tapi masi merasa kalau saya sedang tidur. Tiba-tiba saya sudah berada di samping kakek, persis keadaannya seperti kakek berbaring waktu saya masih berada di rumah kakek. Lalu saya melihat kakek mengeluarkan air kotor kecoklatan berbau anyir (serupa dengan bau yang dicium saat sadar), air kotor itu keluar terutama pada bagian kaki. Lalu saya memijat kakinya sambil meratapinya, 'Kakek, kok kakek seperti ini ya!'
Tanganku berlanjut mengurut kaki bagian atas, tanpa sadar menyentuh dan melihat burungnya kakek,(maaf).

'Celaka' demikian hati berujar saat kaget dan tersadar mengalami mimpi singkat seperti itu. Sebagaimana diketahui, barang milik lelaki dalam bahasa Bali disebut 'Celak'. Mungkin itu sebabnya suara hati menafsirkannya akan terjadi suatu celaka (bahkan kematian). Saya pun bercerita kepada bapakku, beliaupun mendapat tanda-tanda buruk akan terjadi.

Dengan kejadian itu, apapun yang akan terjadi pada kakek dan nenek, semoga tidak membuat kaget dan bisa iklas menerima kehendak dewa.

Tak Bisa Menolak Pemberian Nenek

Hari ini saya diberi uang sama nenekku. Padahal seharusnya saya yang memberinya uang. Tetapi karena permintaan nenek, saya pun tidak menolaknya.

'Nenek sedih kalau kamu tidak mau menerima uang dari nenek. Kamu cucuku yang paling nenek sayang. Sudah dari beberapa hari nenek kangen sama kamu tapi kamu tak sempat kesini. Entah kenapa nenek begitu kangen sama kamu. Bahkan bila nenek sudah meninggal, nenek akan sayangi kamu dari alam sana. Nenek mohon terima uang dari nenek. Nenek merasa bahagia bila kamu mau menerima uang itu. Sekali ini saja, semoga kamu bisa menerimanya'. Ujar nenekku terbata-bata. Air matanya tumpah, tak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Bila menerima pemberiannya adalah kebahagiannya, bagaimana bisa saya menolaknya. Saya tak bisa menahan linangan air mata, mengalir di sudut mata. Seakan diberi tanda bahwa nenek sudah ingin pergi ke desa kuno (desa wayah atau karang wayah).

Terkadang, orang-orang tanpa sadar sayang sama anak terkecil ataupun cucu terkecil. Saya terdaftar sebagai cucu laki-laki nenekku yang termuda. Mungkin itu sebabnya lebih disayang dari yang lainnya. Namun entah kenapa, rohku sering menjaga nenek yang sedang sakit, padahal saya jarang bisa ke rumah kakek - nenek. Sering sekali mimpi tidur di rumah nenek, mimpi menjaga nenek sakit. Bahkan pernah sampai linglung; sudah terbangun namun tetap merasa berada di rumah nenek, padahal di kamarku.

Ternyata rohku begitu sayang sama nenek. Suka memisahkan diri dengan badan fisik. Setelah saya mimpi diajari melepaskan sang roh dari dalam tubuh *Aji Kalepasan*, rohku jadi suka jalan-jalan. Mirip seperti mimpi, namun yang dilalui sesuai dengan kenyataan. Misalnya; saya mimpi tidur di rumah nenek, sedang jaga nenek sakit. Posisi tidur nenek sama seperti biasanya. Jadi, antara mimpi dan kenyataan itu hampir sama. Bedanya, aslinya saya tidur di rumah.

Menariknya juga, dua hari yang lalu saya mimpi berdiri dekat nenek tidur, lalu melihat sakit nenek kambuh, seakan nenek gelisah menahan sakitnya.

Saya pun terbangun. Besoknya saya tanya ke adik saya yang selalu tidur di rumah nenek; apakah sakit nenek kambuh? Katanya tidak. Eh tadi saya ke rumah nenek, katanya dari tiga hari perut nenek sakit nusuk-nusuk. Katanya sakit sekali. Untung saya ke rumah nenek, sehingga terobati. Juga dilihat dengan indra keenam oleh bapakku, ternyata sakitnya akibat pemali. Sekarang sudah baikan. Awignam astu.

Catatan ini saya tulis di rumah nenek. Mau tidur di sini agar tidak rohku saja yang rajin jaga nenek. Hahaha.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts