e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Ditinggal Dewa?

Sedang terbaring tidur di kos, saya didatangi seorang teman akrab namun saya lupa namanya karena sudah sekian lama tak berjumpa. Ia duduk di sampingku, lalu menyapaku. 'Baru ya kamu datang?'
'Iya nih.. sudah lama di kampung. Ternyata barang-barang di kos diambil tuan rumah. Sekarang sedang menunggu tuan rumah datang'.

Tak lama kemudian temanku itu ikut tidur di sebelah kiri saya. Saya bergegas bangkit dari tidur mengambil dompet yang ada di tas di sampingnya. Takut nanti diambil sama temanku itu. Siapa tahu dia memiliki niat tak baik. Apalagi munculnya tiba-tiba. 'Soal uang saya ceroboh sekali. Kadang sembarangan menaruh dompet. Saya mengambil dompet soalnya lagi sebentar mau beli makanan" Ujarku padanya.

Temanku itu kemudian pergi tanpa pamit, mungkin tersinggung dengan kata-kataku. Saya juga ikut mau keluar, mau belanja, beli sesuatu. Saat mau menutup pintu, tiba-tiba saya melihat Lingga - Yoni agak besar warna putih gelap di kamarku. Muncul cahaya api dari Lingga-Yoni, sepertinya tertancap dupa harum.

Di luar saya masih melihat temanku, dia berjalan ke luar pintu gerbang, sedangkan saya mau menutup pintu namun pintunya tak bisa ditutup karena rusak, ternyata dipasang terbalik..Saya meninggalkan kamar indekos tanpa dikunci, lalu mengikuti temanku itu. Ternyata ia tak jauh tinggalnya dari tempatku. Saya melihat dia masuk ke dapurnya. Saya mengikutinya, dan dia bertanya tentang kuliahku.
'Sudah semester berapa sekarang?'
'Sudah semester akhir, menunggu penelitian aja. Kamu sudah semester berapa, sudah lulus S1?'
'Belum penelitian, aku baru pertengahan. Jurusan ilmu alam'
'Oh.. ' ujarku manggut-manggut. Padahal aku bingung dengan pengakuannya.

Seingatku, dulu temenku itu seumuran dengan saya, sepertinya barengan sekolah. Tapi kok baru pertengahan ya? bertanya-tanya dalam hati. Saya pun menyembunyikan aktivitas kuliahku yang sebenarnya. Hanya bilang sudah mau penelitian, agar dia kira kalau saya semester akhir strata satu (S1). Malu mengaku sudah mau penelitian S2, padahal tidak tahu apa-apa, apalagi seharusnya saya sudah selesai S2, namun ditunda karena suatu hal.

Saya berusaha mengingat nama temanku, masak dulu akrab tetapi sekarang saya lupa namanya. Tiba-tiba saya ingat namanya. 'Mustika' demikian nama teman yang muncul dalam pikiran. Rasanya ingin sekali memanggilnya agar bisa berteman akrab lagi.

Saya pun tersadar dari mimpi dan merasa kalau saya ditinggal teman yang namanya 'Mustika', yang melambangkan suatu yang berharga/bernilai pergi meninggalkanku. Terbesit dalam benakku kalau saya ditinggalkan sahabat di alam gaib. Demikian penafsiran kilat setelah sadar dari mimpi.

Mimpi di atas hampir sama kejadiannya dengan kenyataan, dimana saya sedang menunggu tuan rumah datang karena barang-barang saya dimasukan ke ruangan tuan rumahnya. Mungkin takut hilang karena tuan rumahnya juga jarang di kos, dia tinggal di rumah aslinya. Begitu pun letak tas saya juga berada di samping saya tidur. Yang berbeda yaitu pintu yang rusak ada di sebelah kanan, padahal aslinya di sebelah kiri. Dan juga pemandangan di luar kos berbeda dengan aslinya, dimana dalam mimpi terlihat di depan kos banyak tumbuhan hijau.

Yang menarik untuk dicermati adalah kemunculan Lingga - Yoni warna putih gelap dan agak besar, sedangkan Lingga-Yoni yang saya puja warna hitam dan agak kecil. Lingga-Yoni ini ternyata juga dipindahkan tuan rumah. Mungkin itu sebabnya saya mimpi ditinggal teman. Teman itu kemungkinan simbol Dewa yang saya lupakan, tak pernah melakukan pemujaan Lingga-Yoni karena saya berada di kampung sudah lebih dari sebulan.

Saya menafsirkan teman itu sebagai simbol dewa karena dalam Bhagavad Gita dinyatakan bahwa Tuhan adalah Kawan/kekasih pemujanya. Selain itu, berdasarkan tenung tanya lara jatuhnya sisa 4 yaitu Dewa Agung atau sesuunan. Letak permasalahannya berasal dari arah Kaja Kangin (timur laut) rumah. Dimana disana terdapat Sanggah Kamulan sebagai tempat pemujaan leluhur dan dewata.

Mirisnya, beberapa hari belakangan saya tak pernah sembahyang soalnya lagi kecewa berat dengan leluhur dan sesuunan (dewata). Waktu ini malam hari saya menangis memikirkan penderitaan batin yang saya alami terutama masalah asmara. Ngomel-ngomel dalam hati sambil menitikan air mata. Merasa tak ada gunanya sering-sering melakukan pemujaan toh akhirnya diberikan cobaan yang membuat hati putus asa. Lebih baik saya berhenti melakukan pemujaan. Yang membuat sedih, kenapa saya begitu mencintai seorang gadis yang tak mencintai saya, justru permusuhan semakin menjadi-jadi. Namun entah kenapa seakan saya tak memiliki kekuatan untuk memindahkan perasaan ini pada gadis lain. Saya sudah siap secara mental maupun fisik untuk menikah, sayangnya orang yang paling disayang dan diharapkan menjadi pendamping hidup justru pacaran dengan lelaki lain. Bahkan saya melihat pacar dia upload foto mesra-mesraan. Hal itu membuat saya protes ke keluarga dia. Padahal dulu keluarganya melarang saya sementara waktu untuk tidak mencintai anaknya karena masih sekolah. Namun sekarang kok dibiarkan pacaran dengan lelaki lain? Berikut sms saya ke keluarganya;

Kenapa ya tante pilih kasih, om? waktu tiang sayang sama wi katanya wi gak boleh pacaran karena masih sekolah. Tapi ketika Wi pacaran sama GM (inisial), kok Wi selalu dibiarkan mengumbar kemesraan di facebook? Seperti orang yang sudah menikah.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata ibu demikian pilih kasih sama cowok-cowok yang sayang sama Wi. Ibu sudah sampai tiga kali memarahi saya. Sampai ibu juga memanggil keluarga saya. Sekarang, apakah GM sudah sempat ibu panggil? Apakah bapaknya sudah dipanggil juga? Padahal GM upload foto mesra-mesraan. Sedangkan saya memberikan Wi kado; melakukan hal yang baik.

Baik sms ke ayah dia maupun ibunya (sms aslinya ibunya saya panggil meme atau mama. Hahaha) tak ada berani yang membalasnya. Mungkin malu atau mungkin pura-pura tak peduli. Yang terpenting luapan kekecewaan akibat ketidakadilan sudah saya tumpahkan. Itu sudah cukup bagi saya untuk membungkam keluarganya.

Kembali ke cerita di atas, gara-gara saya marah pada leluhur dan dewa, belakangan ini saya tak pernah mimpi, dan seperti kehilangan kemampuan lain; 'indra keenam'. Tadi sebelum mimpi, saya teringat dengan omelan beberapa hari lalu. Apa mungkin itu sebabnya tak pernah mimpi lagi? Bertanya-tanya dalam hati. Saya pun tertidur dan mimpi seperti di atas.

Yang membuatku terkejut, setelah barang-barang dikembalikan tuan rumah, juga Lingga-Yoni, ternyata Lingga-Yoninya mengelupas bagian atasnya. Saya bersihkan kelupasannya, ternyata bagian dalamnya warna putih gelap, seperti warna putih susu yang belum diseduh. Mirip seperti yang terlihat dalam mimpi. Setelah menata ulang indekos dan bersih-bersih hampir setengah hari, saya kemudian sembahyang. Menyucikan kembali Lingga-Yoni dan menstanakan kembali dan mengundag dewa dengan doa bahasa hati agar beliau berkenan kembali berstana pada Lingga-Yoni. Dalam hati saya berjanji takan lagi marah pada dewa bila menghadapi cobaan hidup dan semoga dewa bermurah hati mengampuni keegoisan saya selama ini yang terlalu manja pada leluhur dan dewa, padahal beliau sudah sayang pada keluarga kami, terutama padaku. Apalagi adakalanya didatangi ke alam mimpi dan diajari sesuatu atau diberi kemampuan lebih.

Sebenarnya kita tak baik untuk marah kepada leluhur, apalagi kepada dewa meski diberikan cobaan hidup yang demikian berat. Padahal cobaan itu sebenarnya untuk mematangkan jiwa dan mental kita dalam mengarungi peliknya perjalanan hidup. Hal yang paling utama ketika mendapatkan cobaan hidup dan penderitaan adalah sebuah upaya penebusan dosa; mengurangi dan mengikis karma buruk. Ketika karma buruk semakin berkurang kita akan menanti kebahagiaan, demikian sebaliknya ketika kita menerima kebahagiaan kita sudah siap dihantarkan pada penderitaan akibat kelalaian kita menabung karma baik pada saat mendapat kebahagiaan. Dengan kata sederhana bahwa kebahagiaan berakhir dengan penderitaan, penderitaan berakhir dengan kebahagiaan.

Menyadari hal demikian seharusnya kita selalu iklas menerima penderitaan akibat dosa kita, baik yang kita lakukan pada kehidupan ini maupun pada kehidupan sebelumnya. Bila kita menerima penderitaan dengan iklas, demikian pula menerima kebahagiaan dengan sikap biasa saja, maka hidup akan terasa indah, jiwa terasa tenang dan damai. Dengan kata lain kita seimbang dalam menyikapi penderitaan maupun kebahagiaan. Tidak bersedih hati dikala duka, tidak bersuka ria dikala senang. Tetap seimbang dalam keadaan suka dan duka.

I Love You My Lord.
Terupdate 10 Desember pukul 22:56

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts