e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Penjor Merintangi Jalan Alam Gaib

Aku sedang berada di tanah tegalan omku, bentuk tanahnya seperti pada era aku masih anak-anak. Di tegalan itu aku judi sambung ayam, ceritanya baru belajar berjudi tajen. Anehnya, di tempat itu hanya bertiga, aku, lawan judi, dan omku yang tidak bisa jalan. Taruhan pun berlangsung, ayam bertarung mati-matian. Sedang asik menikmati pertarungan ayam jago, tiba-tiba di jalan raya muncul beberapa polisi, mau menangkap penjudi ayam. Kami pun lari berhamburan. Lawanku menggendong omku, sedangkan aku melompat sendirian ke pangkung, bersembunyi di sungai kering itu. Sayangnya diberitahu keberadaanku oleh omku kepada polisi, lalu polisi itu mengejarku, diikuti tante pujaan hatiku. Tante itu memintaku untuk menyerah saja. Jantungku berdebar-debar dibuatnya, bagaimana jadinya jika aku terpenjara gara-gara judi, padahal baru pertama kali berjudi. Memikirkan hal itu sungguh membuatku ketakutan. Rasa takut itu terasa hingga terbangun. Ternyata cuma mimpi, pada jam setengah satu dini hari tadi.

Kaget juga dibuatnya, lalu mencoba menerka-nerka arti mimpi. Kemungkinan aku akan kena masalah beberapa hari ke depan. Sepertinya masalah terkait adu-mengadu; fitnah. Bisa jadi akan terlibat masalah dengan keluarga dia, soalnya kemarin sebelum tidur jam 10 malam sempat mendapat sinyal diomongin orang sebanyqk dua kali, dan teringat dengan dia.

Aku mencoba mencari akar masalah itu datangnya dari mana sehingga aku akan tertimpa masalah. Berdasarkan tenung tanya lara, ternyata datangnya dari sebelah barat rumah dan mengarah pada penjor yang aku pasang sebulan lalu, apalagi hari ini hari sakral buda kliwon pegatwakan, dimana seharusnya penjor itu dicabut, namun karena di desaku ada upacara Panca Wali Krama di pura Hulundanu Batur, maka penjor itu akan didiamkan sampai upacara berakhir. Mungkin alam gaib memintaku untuk memindahkannya.


Cara mencari akar masalahnya itu menggunakan hari pasaran mimpi, dimana aku mimpi pada Buda Kliwon nuju Tungleh. Buda uripnya 7, arahnya barat, pinaka Banten, Bantang, Batu. Kliwon uripnya 8, arah tengah, pinaka karang. Tungleh uripnya 7, arahnya barat, pinaka tuwed tuh (pangkal batang kering).

Jika ditambahkan uripnya 7+7+8=22:4=5, sisa 2. Sisa 2 artinya kala (1. Dewa/dewa alit, 2. Kala, 3. Manusa, 4. Dewa/dewa agung/bhatara). Kala artinya kemarahan, kala juga berarti mahluk gaib.

Dari situ dapat ditafsirkan bahwa akar masalahnya berasal dari kemarahan mahkluk gaib akibat batang pohon kering di sebelah barat karang (rumah/pekarangan). Jaraknya 2 karena sisa 2. Dari karang jaraknya bisa 2 jari, 2 cengkang, 2 langkah, 2 depa, 2 penimbug (lemparan). Dan hasilnya penjorku berjarak 2 depa dari pekarangan.

Dugaan itu tidak semata-mata berdasarkan perhitungan namun ditunjang oleh kejadian lain, seperti kemarin, saat tertidur sejenak (ngliyer) ibuku melihat orang berjalan dengan langkah yang jauh-jauh, seperti orang berjalan melangkahi sesuatu.

Tidak hanya itu, waktu selesai menancapkan penjor, aku bermimpi melihat bola api berterbangan di halaman rumah dekat penjor itu, dan bola-bola api itu aku pentalkan ke arah orang lain. Beda sedikit dengan mimpi bapakku, bapakku mimpi melihat mobil kecelakaan di halaman rumah.

Setelah dihitung berdasarkan tenung, ternyata penjor itu bermasalah, salah penempatannya. Sebenarnya sudah sejak awal tidak diijinkan bapakku untuk menempatkan disana tetapi aku yang keras kepala. Inginnya ditempatkan disana biar terlihat lebih serasi posisinya.

Mengapa penjor itu begitu besar pengaruhnya terhadap keberadaan mahkluk gaib? Penjor yang ditancapkan bukanlah penjor serampangan, melainkan penjor yang diupacarai sehingga menjadi penjor tenget (keramat, suci) sehingga mahkluk gaib tidak berani melewatinya begitu saja, mereka kudu minggir. Kebetulan, tempat aku menancapkan penjor memang diyakini (berdasarkan penglihatan indera keenam) sebagai jalur atau jalan alam niskala (alam gaib).

*
Mahkluk alam niskala itu tak bisa diajak kompromi. Tadi siang kepalaku dipukul pakai bambu. Sebelumnya niatku tidak akan memindahkan penjor yang sempat aku ceritakan pada status sebelumnya.

Pulang dari pasar aku bercerita pada bapakku bahwa aku mimpi ada kaitannya dengan penjor bermasalah itu. Bapakku memintaku agar memohon untuk menunda pencabutannya kepada alam niskala, bahasa lokalnya disebut 'matempo'. Tak lama kemudian, tiba-tiba mataku mengantuk. Aku pun berbaring di tempat tidur dan hilang kesadaran (ngliyer). Tiba-tiba dari belakang kepalaku ada yang memukul pakai bambu sebesar seruling. Aku terkaget dan sadar kemudian. Seakan sentuhan bambu itu terasa sampai saat bangun.

Langsung deh aku bergegas memindahkan penjornya biar tak dimarahi lagi. Kalau hal itu tak dilakukan bisa-bisa aku jatuh sakit. Disitu untungnya mahkluk alam gaib itu mau berkomunikasi dengan hadir ke dalam mimpi. Itu tandanya mereka masih sayang. Mungkin kalau orang lain barangkali sudah disakiti.

-Ditulis 12 Oktber 2016

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts