e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Ini Sebabnya Hari Sakral Umat Hindu Jatuh pada Kliwon

Umat Hindu Bali terkenal dengan banyak kegiatan keagamaan; hari raya, hari suci, hari sakral. Sehingga nama Bali kadang dijadikan dagelan. Bali; Banyak Libur. Hal tersebut terjadi akibat penanggalan kalender Hindu Bali menggabungkan 3 sistem penanggalan: sistem surya-chandra-wewaraan. Hampir serupa dengan penanggalan kalender china yang menggabungkan lebih dari satu sistem penanggalan.

Akibat penggabungan dari sistem penanggalan itu, di Bali kegiatan keagamaan digolongkan menjadi dua; berdasarkan pawukon (wewaraan) dan sasih (bulan). Berdasarkan sasih misalnya Nyepi dan Shiwa Ratri. Sedangkan berdasarkan pawukon ada banyak sekali hari-hari sakral dan hari sakral tersebut terjadi setiap sebulan sekali, seperti Tumpek (sabtu kliwon), Anggara Kasih (selasa kliwon), Budha Kliwon (Rabu Kliwon), dan Kajeng Kliwon Wuudan. Di antara hari-hari sakral tersebut, Budha Kliwon Dungulan yang paling meriah, disebut Galungan, yaitu hari memperingati hari kemenangan dharma melawan adharma, kebajikan melawan kebatilan. Galungan erat kaitannya dengan pemujaan dewi Uma atau dewi parwati, meskipun dalam prakteknya lebih terlihat pemujaan kepada leluhur. [Baca Juga di google: Hari Raya Galungan, Pemujaan Kepada Dewi Parwati].

Yang menjadi pertanyaan kenapa hari sakral umat Hindu Bali kebanyakan bertemu dengan Kliwon? Hal ini erat kaitannya dengan keberadaan Sekte yang dianut sebagian besar umat Hindu Bali yaitu Shiwa Sidhanta.

Dahulu kala, sebelum abad ke sepuluh, di Bali terdapat banyak sekte, 9 yang utama: Bhairawa, Smarta, Pasupata, Sora/Surya, Wesnawa, Ganesha, Shiwa Siddhanta, Rsi, Bodha atau Budha. Bhairawa, Pasupata, Ganesha, dan Shiwa Siddhanta sebenarnya berasal dari pemujaan yang sama yaitu pemujaan kepada Shiwa.

Pada masa itu terjadi perang besar antar sekte, sama-sama mengganggap keyakinan yang dianut sebagai yang terbaik. Hal tersebut menimbulkan huru-hara di masyarakat. Tak hanya perang di Skala, lebih mengerikan perang tanding di alam niskala (alam gaib). Oleh sebab itu, Raja yang berkuasa mengumpulkan para pandita kerajaan dan mendatangkan Mpu Kuturan dari Jawa untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat. Beliau menjadi pimpinan hakim perdamaian (Raja Kertha). Dan akhirnya beliau menyatukan seluruh sekte menjadi satu ajaran agama yang kita kenal sebagai Hindu Bali sekarang. Ajaran-ajaran utama masing-masing sekte diambil, seperti misalnya caru dari bhairawa, upakara dari Shiwa Siddhanta, (mungkin) pelinggih ke Surya diambil dari Sekte Sora, dan lain sebagainya. Namun dari sembilan sekte itu, Shiwa Sidhanta yang paling mendominasi sehingga banyak kegiatan keagamaan mengarah pada pemujaan kepada Shiwa dan pasukan Beliau, baik dewa-dewa maupun bhuta kala. Hal utama dari hasil penyatuan sekte-sekte tersebut adalah dibuatkannya konsep Kahyangan Tiga, yang pada awalnya ada di madya Gunung Agung. Pura Puseh dan Bale Agung ada di Besakih, pura Dalem Puri berdiri sendiri.

Suatu ketika, tersebutlah raja sakti Mayadanawa berkuasa di Bali, mengaku sebagai dewa dan harus disembah, maka masyarakat tak berani sembahyang di kahyangan tiga itu: besakih dan dalem puri. Siapa yang menyembah dewa, mereka ditangkap, dipenjarakan, bahkan dibinasakan. Oleh sebab itu, masing-masing desa dibuatkan pengayingan pura kahyangan tiga tersebut sebagaimana yang kita kenal sekarang. Pura Puseh tempat pemujaan dewa Wisnu, Bale Agung tempat pemujaan dewa Brahma, pura Dalem tempat pemujaan dewa Shiwa dan Dewi Parwati (duwati) atau dewi Durga.

Dari beberapa aktivitas keagaaman yang ada Bali, pemujaan kepada dewa Shiwa paling menonjol dan persembahan caru kepada pasukan-Nya: para bhuta kala. Hal ini terlihat dari hari-hari sakral umat Hindu jatuh pada Kliwon. Ada apa dengan Kliwon?

Berdasarkan lontar Wraspati Kalpa, kita temukan masing-masing hari atau wewaraan ada dewanya, terutama panca wara dan sapta wara, yaitu:
Redite; bhatara Indra
Soma: bhatara Soma atau dewa Bulan
Anggara; bhatara Ludra
Buda: bhatara Uma
Wrespati: bhatara Guru
Sukra: bhatara Sri
Saniscara: Bhatari Durga.

Umanis: Sanghyang Iswara
Pahing : Sanghyang Brahma
Pon: Bhatara Mahadewa
Wage: Bhatara Wisnu
Kliwon: Bhatara Shiwa.

Dari panca wara dan saptawara tersebut, kita menemukan hari sakral bertemu kliwon.
- Anggara Kliwon sebagai hari sakral Anggara Kasih: bhatara Ludra/Rudra bertemu dengan bhatara Shiwa. Rudra merupakan perwujudan Tuhan Shiwa sebagai pelebur, masuk ke dalam Tri Murti: Brahma, Wisnu, Rudra.

- Buda Kliwon. Bhatara atau Bhatari Uma bertemu dengan Shiwa. Bhatari Uma merupakan perwujudan dewi Parwati yang sangat cantik, sifat feminim dari Tuhan Shiwa, sebagai ibunya alam semesta, termasuk sebagai Ibu kita.

- Saniscara Kliwon, dikenal sebagai tumpek. Bhatari Durga bertemu dengan Bhatara Shiwa. Bhatari Durga merupakan perwujudan mengerikan dari Parwati, penghancur kejahatan, pemusnah para iblis yang semena-mena.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts