e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Hiks! Ternyata Aku Kena Guna-Guna

Pada umumnya orang yang menjadi korban guna-guna adalah wanita, terutama guna-guna pyolas dan pengasih. Namun tak bisa dipungkiri laki-laki pun terkadang jadi korban guna-guna. Biasanya, laki-laki kena guna-guna jenis 'pamiat', dimana guna-guna ini berfungsi sebagai pemisah cinta; dari sayang menjadi biasa saja, bahkan bisa menjadi benci tanpa sebab.

Hal seperti itulah yang aku alami, dimana sejak beberapa waktu lalu tiba-tiba rasa sayangku pada seorang gadis mendadak hilang tanpa sebab, sampai-sampai aku merasa heran dan aneh. Padahal sebelumnya aku sampai pontang-panting berusaha agar bisa berhenti mencintai gadis itu, namun aku tak bisa, tiada berdaya dengan kekuatan cinta yang aku miliki. Pernah juga sengaja mencari guna-guna agar bisa membencinya, sayangnya hanya bertahan sebulan. Penyakitku kambuh lagi; mencintai kembali gadis itu meskipun diabaikan. Barangkali cintaku yang demikian dahsyat itu gara-gara pernah memohon kepada leluhur, dewa-dewi, agar aku tak bisa mencari gadis lain bila aku dan dia akan berjodoh. Permohonan itu aku lakukan di pura Kawitan. Semenjak itu aku sulit sekali mendekati gadis lain, bahkan bila ingin dekat dengan gadis lain timbul rasa sedih, nyesek, bahkan menitikan air mata. Pernah diperkenalkan dengan seorang perawat oleh temenku, sempat ada semangat mendekatinya, namun begitu berpikir untuk berhenti seutuhnya meninggalkan gadis yang dicintai sebelumnya, air mataku tumpah, tak rela meninggalkannya.

Berat rasanya untuk memindahkan rasa sayang yang aku miliki diberikan pada yang lain, padahal seharusnya bangga seandainya ada gadis lain untuk dicintai karena cintaku telah diabaikan hampir 4 tahun. Kebayang tidak betapa sulitnya aku berhenti mencintai gadis itu? Meskipun sudah berulangkali dicaci maki, diremehkan, tetapi tak pernah dia bisa membuatku marah, malahan kadang tersenyum kalau diremehkan. Pernah sms-an sama dia, aku dibilang anjing malah aku tertawa terpingkal-pingkal karena aku jadikan lelucon. Cewek lain berani berbuat demikian, meh sudah aku habisi. Jangankan dibilang anjing, dipanggil kamu saja sudah illfeel, soalnya aku suka dipanggil bli, kakak, mas, wi, oleh orang yang disayangi.

Demikian sepintas betapa luar biasanya cinta yang pernah aku rasakan. Dapat dikatakan cintaku itu sebagai level tertinggi dalam hidupku. Terkadang merasa bangga pada diri sendiri bisa merasakan cinta yang luar biasa seperti itu, mampu mencintai seorang gadis demikian dalam, walaupun diabaikan bertahun-tahun. Cinta atas dasar pilihan hati.

Sayangnya rasa sayang yang begitu dalam hilangnya tiba-tiba, mendadak sirna tanpa bekas, tiada yang tersisa. Biasanya cinta itu hilangnya perlahan, terlebih lagi cinta yang dalam, butuh proses panjang untuk hilang dan setidaknya sudah ada penggantinya. Sedangkan yang aku alami hilangnya tiba-tiba, belum ada penggantinya. Aneh, bukan?

Setelah hilangnya perasaan itu, beberapa hari kemudian aku sering merasa takut saat tidur. Bahkan sempat sampai menggigil karena merasa takut terhadap sesuatu yang tak bisa aku lihat namun kehadirannya dapat aku rasakan. Pernah juga melihat mahkluk seram masuk ke kamarku hingga aku terkejut dan sedikit berteriak, yang ternyata ibuku masuk ke kamarku untuk mematikan lampu.

Mengalami hal janggal seperti itu, aku meberanikan diri untuk bertanya pada bapak, dan bercerita apa yang aku alami, terutama soal perasaanku pada gadis itu yang hilangnya tiba-tiba. Bapakku tidak bisa menjawabnya. Kemudian aku bercerita mimpi yang aku alami beberapa minggu lalu, sekitar sebulan lalu.

Dalam mimpi itu, pada saat mahgrib aku disuruh ibu untuk mengambil barang ke Kayuselem membawa sepeda motor, melewati rumah dia. Ketika aku balik membawa barang itu, dekat rumah dia, di sebelah selatannya (betenne) sandalku terjatuh sebelah dan aku membiarkannya karena repot mengambilnya gara-gara bawa barang yang agak berat. Sebelahnya lagi jatuh di sebelah utara rumahnya (duurne) sudah agak jauh, dekat jalan kecil menuju rumah kakakku. Setelah sampai rumah, aku lupa mengambil sandal itu, baru ngeh atau sadar saat mau mandi, sedangkan hari sudah mulai gelap. Kemudian aku mencari sandal itu bersama kakakku membawa motor dan bawa obor dari botol. Sampai pada tempat jatuhnya sandal belakangan, aku menemukan sandal itu dan menemukan lagi sandal dua pasang. Di dekat tempat itu seharusnya ada rumah kakakku. Namun rumah kakakku tidak ada, malahan bentuk tanah disitu seperti sebelum dibangun rumah.

Perjalanan berlanjut mencari sandal lagi sebelahnya, sandal itu pun aku temukan di sebelah selatan rumah dia. Saat balik, berada di depan halaman rumah dia, aku melihat ibunya sedang menyapu halaman rumah. Dan tiba-tiba obor yang aku bawa meledak, membakar telapak tangannku, lalu aku lempar ke tepi jalan, mengenai rerumputan kering. Api pun membara. Ibunya melihat api itu dan menyuruh mbok jero Kerti untuk menyiramnya. Saat disiram, apinya tak mau padam, malah membesar, namun baru kedua kalinya baru mau padam. Setelah api padam, aku meninggalkan tempat itu, dan di sebelah timur rumah dia aku melihat sanggah kamulan dia beratapkan pohon Jepang.

Aku pun terbangun dari mimpi. Saat sadar, aku merasa pasti ada keluarga dia yang marah padaku, namun ibunya mencoba mendamaikannya [makna dari api yang dipadamkan]. Demikian logikaku memaknai sepintas mimpi itu. Namun setelah diceritakan pada bapakku artinya ternyata jauh berbeda dari logikaku itu. Bapakku mencoba melihatnya dengan mata batin (indra keenam).

'Apakah kamu pernah guna-guna dia?' Tanya bapakku.
'Pernah sekali, uji coba'
'Gadis itu pernah merasakan sesuatu yang kamu inginkan. Dan mungkin menceritakannya pada ibunya'
Aku memang pernah mencoba guna-guna dia, guna-guna yang baru aku pelajari. Aku baru belajar hal begituan sehingga ingin coba kemampuan, ternyata berhasil.

Guna-guna yang aku gunakan jenis 'pengaradan' dimana orang yang diinginkan merasa rindu dan segera ingin bertemu. Waktu itu dia biasanya pulang kampung setiap hari minggu, dan aku sudah gak pernah ketemu hampir dua minggu. Aku kangen banget sama dia, saking kangennya sampai aku menitikan air mata, sedangkan dia sedang praktek kerja lapangan di seminyak. Gak mungkin aku bisa bertemu dengannya. Gara-gara kangen itulah aku coba mengarad dia agar segera pulang kampung. Dan besoknya ternyata dia beneran pulang kampung, rindu pun terobati. Damai rasanya hatiku bisa melihat dia. Selain mengarad dia, aku juga sempat uji coba kirim pesan melalui mimpi, hal ini tak menggunakan mantra namun hanya menggunakan kekuatan pikiran. Pesan yang aku kirim tentulah nasehat-nasehat baik seperti misalnya; aku sayang banget sama kamu, mungkin kita akan berjodoh, jaga diri baik-baik ya. Jangan bergaul bebas selama jauh dari orang tua. Kamu boleh berteman dengan siapa saja, tapi jaga kesucian.

Kembali ke penglihatan mata batin, dari penglihatan bapakku, ibunya pernah memberikan anaknya tirta angsuhan (air suci). Tirta itu diambil dari 'duwe' yang dimiliki keluarganya yang distanakan di pelinggih sanggah kamulan. Perkiraan bapakku, aku tak hanya kena pamiat, bahkan kena aji panglinglungan. Hal ini bisa dilihat dari apa yang aku alami.

Sederhananya, bila aku logikakan mimpi itu, mungkin aku kena 'guna' itu dua kali dimana sandalku terjatuh. Pertama di selatan rumahnya, kedua dekat rumah kakakku. Ibunya sedang menyapu artinya sedang membersihkan rasa sayangku untuk anaknya. Menyiram api maknanya menghanguskan guna-guna yang aku uji coba dengan tirta angsuhan. Aku melihat sanggah kamulan dia beratap pohon Jepang, artinya tirta itu didapat dari pelinggih itu. Yang sama sekali tak paham, kenapa aku mendapat dua pasang sandal baru lagi?


Sebulan terakhir ini aku sering melihat gadis lain seperti melihat dia. Kemana-mana aku pergi, setiap melihat cewek sedikit saja mirip dia tetapi aku seperti melihat dia seutuhnya. Padahal dulu gak pernah mengalami hal seperti itu. Pernah dekat rumahku melihat dia membawa motor sampai jantungku berdebar-debar, gak nyangka ternyata dia pulang kampung. Eh baru dekat ternyata bukan. Duuh kecewanya aku.

Waktu Galungan juga sempat terjadi hal seperti itu. Pada malam hari, di pesimpangan Dewa Hyang aku melihat seorang cewek sedang duduk, cewek itu menutup mulutnya dengan jaket yang dipakainya. Lama aku memperhatikannya, di mataku gadis itu adalah dia. Sampai berulangkali aku melirik cewek itu namun selalu aku merasa cewek itu adalah dia, padahal tadinya aku sempat melihat dia sudah berangkat ke Seminyak. Tapi kok dia masih ada di sini? Aku mendekati gadis itu meski agak gemetar untuk memastikan cewek itu bukan dia. Bersyukur cewek itu menurunkan jaket dari mulutnya sehingga aku berhasil memastikan gadis itu bukan dia. Lalu aku mengajak cewek itu ngobrol dan aku memeluknya mesra, anggap saja aku memeluk dia, apalagi gadis itu masih abg, cantik lagi.

Back to topik, setelah menyadari aku kena pamiat, aku sempat sms bapaknya, ingin memastikan apakah itu benar atau tidak. Pura-pura ingin memastikan kebenaran mimpiku. Tapi memang ada benarnya juga berawal dari mimpi.

*
Dadi tiang metakon bedik, ruu? Kola eda mekala gurune, tiang masi lega kenehe. Wi maan baanga tirta angsuhan apa si ken mejro tow? Bani jeg ilang seleh perasaan tiange ken Wi. Suba sekitar uli seminggu tiang merasa keto. Sangkana tiang metakon keto soalne penasaran teken ipian tiange.
*
(Boleh gak saya bertanya sedikit, om? Tapi om jangan marah, perasaanku juga senang. Wi itu pernah diberikan tirta angsuhan apa ya sama tante? Entah apa sebab hilang tuntas perasaanku sama Wi. Sudah sekitar sejak seminggu aku merasakan hal seperti itu. Sebabnya aku bertanya seperti itu karena penasaran dengan mimpiku.)

Sms itu terkirim tetapi tak ada balasan. Entah dibaca atau tidak, entah benar atau tidak penglihatan mata batin bapakku dan mimpiku. Tetapi aku tetap senang kalau keluarganya mau membantuku untuk menghilangkan rasa sayangku pada anak gadisnya. Hal itu membuatku senyum-senyum sendiri, karena aku gak perlu repot berusaha berhenti mencintai anak gadisnya hingga sekarang sudah tak punya perasaan sama anaknya. Namun entah kenapa aku yakin suatu saat aku akan memulai lagi rasa itu. Dan itu aku yakini sebagai tonggak awal bertemunya cinta sejati.

Meski aku tak marah, namun ada perasaan kecewa sedikit. Dimana aku merasa terkena kekuatan lain yang mampu membuatku keder. Dua hari aku tak bisa tidur gara-gara setiap mau tidur selalu bangun dalam keadaan terkejut. Baru sebentar tidur, bangun lagi, seperti ada yang membangunkan. Setiap tidur sebentar itu aku selalu melihat teman-teman lamaku, padahal di dunia nyata sama sekali aku tak memikirkan mereka.

Merasa janggal seperti itu, aku pindah tidur ke kamar bapakku. Tetapi tetap juga begitu, tidurnya hanya semenit, dua menit. Tidur siang sebentar juga begitu. Pindah ke tempat tidur yang ada warungnya, juga mengalami hal yang sama. Waktu kundangan bantu-bantu om (om salah satu keluarga besarku) sibuk mau buat upacara ngotonin, disitu juga aku sempat tidur karena kelelahan, namun masih juga mengalami hal yang sama; tidur sebentar terbangun dalam keadaan terkejut.

Jengkel juga dibuatnya, kok terus-terusan mengalami hal seperti itu hampir selama dua hari, padahal aku sudah ngantuk berat dan merasa lelah sekali, tenaganya seperti terkuras. Ngeteh basange, aku pakai mantra pemanggil saudara empat (kanda empat) menggunakan bahasa gado-gado:
Mantra ih.. Anggapati, prajapati, banaspati, banaspati raja. Bli nonden cai (kakakanda menyuruh kamu), hancurkanlah segala kekuatan yang menggangguku, sirna hilang, lah poma, poma, poma.

Akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak di rumah omku itu sekitar sejam. Awignam astu, sampai sekarang tak ada gangguan tidur pagi.

*Kadang aku rindu pada perasaan cinta yang dalam itu meski meninggalkan luka, sejujurnya hal itu tetap sebagai sesuatu yang indah untuk dikenang.

Ditulis 11 September 2016
-
Status facebook sebelumnya yang menyagkut dengan tulisan di atas sebagai berikut:

Aneh, Tiba-Tiba Rasa Sayangku Hangus Tak Berbekas

Ada perasaan janggal yang aku rasakan sejak dua hari lalu mengenai perasaanku pada dia; orang yang sering aku ceritakan, yang selalu ada dalam pikiran dan hatiku. Namun dari dua hari lalu, hatiku terasa hampa, kosong. Ingin memikirkan dia tapi tak bisa, ingin agar rindu pada dia, juga tak mau. Perasaanku seperti hangus terbakar. Saat ini sedikit pun tak mengharapkan dia.

Parahnya lagi, foto-foto dia semua aku hapus, baik di HP, maupun di facebook. Saat menghapusnya tanpa ada perasaan sedih, tanpa ada penyesalan, tak takut lagi kehilangan. Tentangnya semua menghilang. Padahal biasanya selalu ingin menjaga fotonya, semua tersimpan rapi. Gampang sekali rasanya tangan ini main delete foto-fotonya. Begitu juga semua foto adiknya, terhapus dengan mudahnya. Aneh!.

Apa yang menghapus perasaanku? akankah dia kebablasan menjalin hubungan dengan cowok lain? ataukah ada kekuatan lain yang mampu menghapus perasaanku ini? semuanya menjadi tanda tanya.

Balik ke beberapa hari lalu, tepatnya 3 hari lalu, malamhari, aku sempat berdoa kepada ibu almarhum, agar rasa sayangku hilang untuknya bila dia tidak layak diperjuangkan. Akankah itu terkabul?

Yang tersisa sekarang hatiku terasa hampa, kosong melompong. Sepertinya baru kali ini aku akan bisa mencintai cewek lain tanpa takut meninggalkan dia. Biasanya selalu ada perasaan sedih jika ingin mencintai cewek lain, sekarang tak ada perasaan itu sama sekali. Aneh Loh.

Ditulis 27 Agustus 2016

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts