e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Haram Menikah dengan Sepupu

Dulu waktu mengelola sebuah blog bernuansa hukum agama pernah mendapat pertanyaan yang bagi saya rumit untuk dijawab, ‘Saya dari kab Buleleng, mau konsultasi, saya mau dijodohkan keluarga dengan sepupu, pertanyaannya kemudian, dalam ajaran Hindu ataupun hukum adat di Bali apakah boleh menikah dengan sepupu?’ kurang lebih seperti itu pertanyannya.

Atas pertanyaan itu hanya memberikan jawaban seadanya, bahwa sebaiknya jangan menikahi sepupu. Akan tetapi dalam masyarakat India, idealnya mereka menikahi orang diluar gotra mereka, menghindari pernikahan sagotra; yaitu kerabat tujuh tingkat, mungkin mirip seperti keluarga satu sanggah di Bali. Menikahi sepupu derajat pertama (sepupu seayah) dalam ajaran Hindu sangat dilarang. Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, di bawah ini aturan menikah dengan sepupu di India;

Hindu Marriage Act bans all kinds of first cousin marriage, but allows these type of marriages when allowed by local custom. North Indian Hindus treat all kinds of first cousin marriage as incest, but same is not the case with South Indian Hindus. Marrying cross cousins is common and favoured among South Indian Hindus. Marriage between maternal uncle and niece is also practised among South Indian Hindus, which is considered as incest by other Hindus. Major Dharmaśāstra like Yājñavalkya Smṛti and Manusmṛti also ban all kinds of cousin marriage. In Hinduism marriage within the same gotra is prohibited, where a gotra is believed to be the group of descendants of a sage who lived in the remote past. Two persons in the same gotra cannot marry even if they come from different linguistic areas. However, same-gotra marriages have been legal under Indian civil law since the Hindu Marriage Act of 1955. Additionally, marriages within certain degrees of consanguinity are considered sapinda and banned in Hinduism. Hindu lawgivers differ in the definition of sapinda: at one extreme, according to some sources marriages are prohibited within seven generations on the father's side and five on the mother's side. In contrast, other sources allow cross cousins to marry, including first cross cousins. The Hindu Marriage Act prohibits marriage for five generations on the father's side and three on the mother's side, but allows cross-cousin marriage where it is permitted by custom.
Hindu rules of exogamy are often taken extremely seriously, and local village councils in India administer laws against in-gotra endogamy. Social norms against such practices are quite strong as well. In the 18th and 19th Centuries, Hindu Kurmis of Chunar and Jaunpur are known to have been influenced by their Muslim neighbors and taken up extensively the custom of cousin marriage. In the Mahabharata, one of the two great Hindu Epics, Arjuna took as his fourth wife his first and cross cousin Subhadra, the sister of Krishna. Arjuna had gone into exile alone after having disturbed Yudhishthira and Draupadi in their private quarters. It was during the last part of his exile, while staying at the Dvaraka residence of his cousins, that he fell in love with Subhadra. While eating at the home of Balarama, Arjuna was struck with Subhadra's beauty and decided he would obtain her as his wife. Subhadra and Arjuna's son was the tragic hero Abhimanyu. According to Andhra Pradesh oral tradition, Abhimanyu himself married his first cross-cousin Shashirekha, the daughter of Subhadra's brother Balarama. Cross cousins marriages are evident from Arjuna's marriage with Subhadra, Pradyumna's (Eldest son of Krishna) marriage with Rukmi's (Brother of Rukmini) daughter. Also Krishna married his cross cousin Mitravinda (Daughter of Vasudeva's sister Rajadhi who was Queen of Avanti) and Bhadra (Daughter of Vasudeva's sister Shrutakirti who was the Queen of Kekaya Kingdom.)

Dalam masyarakat Bali, terutama Bali Utara, menikah antar sepupu sering terjadi melalui perjodohan. Barangkali tak mau anak gadis yang cantik dimiliki oleh orang lain diluar keluarga besarnya, tak jarang anak gadisnya jadi korban perjodohan, namun ada juga yang atas dasar suka sama suka namun berkedok didorong keluarga.

Sedikit berbeda di Bali Selatan, mereka cenderung menghindari pernikahan antar sepupu. Pernah saya baca buku, lupa dimana sumbernya, dikatakan bahwa pernikahan antar sepupu itu dilarang. Larangan ini bersumberkan pada sebuah ajaran yang menyatakan bahwa mereka yang menikah antar sepupu akan dikutuk Dewi Durga.

Menikah antar sepupu dalam berbagai suku di dunia cenderung dilarang, meski banyak pula yang mentoleransi. Hasil penelitian menunjukan, perkawinan dengan kerabat dekat, misalnya dengan sepupu; rentan melahirkan anak cacat, memiliki resiko lebih besar penyakit – penyakit genetik, dan lain sebagainya. Akan tetapi pernah saya baca, ada penelitian belakangan yang mengungkapkan bahwa menikahi keluarga dekat efek negatifnya mulai berkurang.

Terlepas dari hasil-hasil penelitian, ternyata berdasarkan hukum adat Bali yang tertulis dalam lontar, menikah antar sepupu itu dilarang, ‘Ala dahat, kojarnia’. Ada dua lontar yang menyatakan hal ini, yaitu Lontar Catur Dasa Purana, pada bagian Tingkahing Alaki Rabi, dan Lontar Tingkahing Asu Paha. Dikatakan bila menikahi sepupu dari saudara ayah (Bapa pada lanang) disamakan dengan menikahi saudara kandung. Mereka yang menikah dengan sepupu biasanya hidupnya panas-sengsara.

Hal tersebut juga berlaku pada sepupu tiri dengan ayah yang sama (beda ibu- kakek memiliki istri lebih dari satu), juga sebaiknya hindari menikah dengan sepupu tiri dengan ibu yang sama (beda ayah-nenek menikah lebih dari sekali). Namun, menikahi sepupu dari ibu tidak dilarang, dengan kata lain boleh menikahi sepupu yang berasal dari keluarga ibu, seperti Arjuna menikahi Subadra. Malahan dalam masyarakat hal ini dianggap bagus, bahkan bisa membawa keberuntungan.

Hal-hal tersebut di atas juga berlaku dalam hal hanya sebatas berhubungan seks.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts