e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mimpi Jadi Nyata - Dua Kali Berturut-turut Disengat Kala Jengking

Beberapa hari belakangan nasibku rada-rada sial, apes banget. Coba bayangkan, baru dua hari disengat kala jengking, kemarin malam lagi diganjar racun kala jengking. Saking sakitnya, sampai nangis aku, ngeling garo-garo. Sekarang aja masih jalan terpincang-pincang. Tapi maksain bawa motor.

Ada hal menarik bila dicermati, kedua kalinya sama-sama terjadi pada hari sakral umat Hindu. Dua hari lalu purnama, kemarin kajeng kliwon. Sebelum kejadian juga sama-sama unik. 3 hari lalu di abian hampir menginjak ular hitam, kemarin di jalan raya bawa motor hampir nabrak ular. Padahal aku sudah sejak lama tak pernah melihat ular. Begitu pula disengat kala jengking sudah hampir 10 tahun lalu, terakhir kalinya waktu kelas 5 SD.

Bagian tubuh yang disengat juga hampir serupa. Dua hari tangan kanan pada 'cekokan' diantara ibu jari dan telunjuk. Kemarin telunjuk jari kaki kanan. Anehnya lagi, dua hari sampai dua kali dibuatkan obat penawar tetapi tidak begitu berpengaruh. Juga sudah diobati pakai minyak angin, ditetesi getah pepaya, diolesi sambal mentah (basa). Tidak pula mempan. Hanya obat penawar kedua yang bisa membuat sedikit mendingan.

Dulu waktu masih kecil pernah disengat kala jengking, dibuatkan obat penawar sama bapakku, baru disentuh obat penawar sakitnya langsung terasa menghilang, yang tersisa hanya rasa nyeri pada tulang dan daging. Tetapi dua hari dan kemarin, setelah bangun dari tidur baru terasa mendingan.

Merasa ada yang janggal, dua hari sebelum tidur, memohon petunjuk agar diberitahu melalui mimpi, apa sebabnya tak bisa sembuh padahal sudah dibuatkan obat penawar, apakah ada hal keliru yang aku lakukan.

Waktu tidur, mau mimpi. Dalam mimpi itu, *aku tidur di rumah seka roras, rumah kuno, sekitar jam 12 malam. Jam 3 pagi dibangunkan sama kakakku. Katanya mau sibuk, mau membuat upakara banten pejati yang lumayan banyak, makanya pagi-pagi sudah harus bangun.*

Aku pun terbangun, mencoba mengartikan mimpi itu, tetapi tidak juga paham maksudnya. Akan tetapi, kalau dilogikakan, mungkin maksudnya aku harus membuat upacara memindahkan stana atma dari pelanggatan ke sanggah kamulan. Namun upacara itu sudah akan dilaksanakan besok, karena besok mau ngenteg linggih sanggah kamulan.

Sekedar untuk diketahui, rumah yang ada dalam mimpi itu sudah hancur lama, yang ada hanya puing-puingnya saja, tetapi dalam mimpi masih terlihat utuh.

Sore harinya aku sempat ceritakan mimpi itu kepada bapakku, sayangnya malah ditertawakan, dibilang epen-epen; bunga tidur, tidak dipercaya. Hanya berselang 3 jam kemudian lagi aku disengat kala jengking. Sakitnya gak ketulungan, jari kaki seperti diiris-iris pisau, 'kebet-kebet'. Sakitnya sampai pangkal paha dan perut.

Semakin membuatku penasaran, ada apa gerangan kok bisa-bisanya disengat kala jengking dua kali berturut - turut pada hari keramat, rerainan. Setelah dicoba ditelusuri sama bapakku, katanya aku disalahkan Dewa Hyang (leluhur), Sayangnya tidak dijelaskan apa kesalahan atau dosaku. Namun ada satu kesalahan yang aku ingat, pagi hari sebelum disengat kala jengking, aku bercanda sama ibu (ibu kedua), juga ada bapakku. Waktu itu (3 hari lalu), ibuku protes padaku. Ibuku bertanya, 'Kenapa waktu ini kamu gak sembahyang di dewane? Padahal yang odalan ibu kamu. Mengapa kamu bertindak bodoh seperti itu?'

'Kan beliau sudah tidak ada, ngapain menyayangi ibu yang sudah meninggal. Kalau masih hidup baru seharusnya disayangi sepenuh hati. Aku sih gak mau kayak orang lain, saat masih hidup keluarganya dimusuhi, setelah meninggal baru ditangisi, dirindukan,disayangi, disembahyangi"

Mendengar kata-kataku itu, ibuku wajahnya memerah, sedangkan bapakku tertawa dan mendukungku. Sebenarnya aku hanya bercanda ngomong seperti itu, walau ada unsur keseriusan. Setelah bercanda seperti itu, aku disuruh macekang tinjeh di abian, disitulah aku disengat kala jengking. Langsung lari ke rumah minta dibuatkan obat penawar.

Sekedar untuk diketahui, ibu kandungku sudah meninggal waktu aku berumur setahun, aku dibesarkan ibu kedua (adiknya ibu kandung), walau dibesarkan ibu kedua, hampir tak pernah merasa gak punya ibu, ibu kedua selayaknya ibu kandung, mungkin karena bersaudara sehingga ikatan batin sangat kuat, bahkan katanya aku juga menyusui pada ibu kedua.

Meski ibu kandungku sudah meraga Dewa Hyang, tetapi tetap dibuatkan otonan atau ngodalin setiap 6 bulan sekali karena beliau jadi 'dewa dalem'.

Sekitar dua tahun lalu, aku pernah merindukan beliau, ingin rasanya melihat wajah ibu meski hanya dalam mimpi. Ada perasaan kecewa, kalau benar aku punya ibu, setidaknya pernah didatangi sekali saja dalam hidupku, walau hanya dalam mimpi. Sampai aku menitikan air mata.

Seminggu kemudian, beneran aku didatangi ke dalam mimpi. Waktu itu aku di Denpasar, tidur di kos sendirian, lampu dimatikan. Dalam mimpi itu (sedikit sadar), aku melihat pintu kos didubrak seseorang, yang muncul mahkluk hitam besar, tinggi, bentuknya seperti bayangan hitam. Tiba-tiba muncul lagi sosok baru, samar-samar seperti seorang wanita. Mahkluk hitam itu bicara, 'Nak, inilah ibu kamu yang datang'

Beberapa saat kemudian, kedua bayangan itu pergi, ada perasaan sedih ditinggalkan, lalu aku memanggilnya, 'ibu, ibu.. ' sambil tanganku hendak menariknya, tubuhku seperti ditiup angin, dingin. Akhirnya aku pun sadar seutuhnya dengan tangan tergeletak ke samping, seperti yang terjadi dalam mimpi, ingin menarik seseorang.

Waktu aku pulang kampung, aku ceritakan apa yang aku alami pada bapakku. Bapakku kaget, ternyata bapakku juga didatangi, katanya ibuku bercerita ke bapakku bahwa beliau akan mengunjungiku.

Semenjak mimpi itu, seringkali aku mimpi menjadi petunjuk kejadian akan datang. Padahal dulu jarang mimpi, kira-kira cuma setahun sekali.

*Pada era sekarang, meski keberadaan dunia lain diajarkan agama, namun kita kadang tidak percaya, hanya karena kita tak bisa membuktikannya secara nyata.

 Bunga Tidur Jadi Kenyataan

Minggu lalu aku sempat menuliskan tentang mimpi setelah disengat Kalajengking pada hari sakral umat Hindu. Gara-gara tak sembuh setelah diobati, aku memohon petunjuk kepada alam gaib agar diberi petunjuk melalui mimpi. Alhasil, aku pun bermimpi.

Dalam mimpi itu, *aku tidur di rumah seka roras, rumah kuno, sekitar jam 12 malam. Jam 3 pagi dibangunkan sama kakakku. Katanya mau sibuk, mau membuat upakara banten pejati yang lumayan banyak, makanya pagi-pagi sudah harus bangun.*

Kalau dilogikakan, mungkin maksudnya aku harus membuat upacara memindahkan stana atma dari pelanggatan ke sanggah kamulan. Namun upacara itu sudah akan dilaksanakan. Setelah mimpi seperti itu, aku bercerita ke bapakku. Karena mimpi seperti itu menjelang melaksanakan upacara dengan banyak banten pejati, gara-gara itulah mimpiku dibilang epen-epen atau bunga tidur oleh bapakku.

Namun ada hal mengejutkan yang terjadi ketika hari H pelaksanaan upacara 'ngingsiran' sanghyang atma dari pelanggatan ke sanggah kamulan.

Sebelum semua upakara mau ditempatkan, 'digelarkan' dan mau dipuput atau didoakan oleh beberapa jero dasaran dan jero mangku, dari penglihatan mata batin bapakku, katanya upakaranya ada yang tidak lengkap, bahkan di kemudian hari akan mendatangkan bencana atau penderitaan. Dibilang demikian, tentulah sang sarati banten atau orang yang dibeliin banten jadi terkejut. Tanpa dicek secara nyata tetapi bantennya dibilang kurang dan akan menimbulkan petaka.

Mulailah sang sarati banten / tukang upakara mengecek sepintas upakara yang ada dan banten apa saja yang sudah dibuatkan. Menurutnya sudah semua lengkap. Kemudian dihitunglah keluargaku yang akan dibuatkan upacara, termasuk aku. Sudah lengkap juga upakaranya. Setelah direnungkan bersama-sama untuk menjawab penglihatan Indra keenam itu, akhirnya ternyata ibuku tidak dihitung, ibuku sudah almarhum. Kagetlah semua, baik keluargaku maupun tukang banten, sama-sama tak ngeh bahwa ibuku juga harus dibuatkan upakara sama seperti yang masih hidup, mengingat beliau dulu juga di stanakan di pelanggatan.

Keadaan pun jadi gusar, bila banten untuk ibuku dipisahkan belakangan atau ditunda tentu upacaranya jauh lebih besar, tidak cukup terdiri dari beberapa banten pejati dan sesayut maupun salaran. Setelah ditanya ke tukang bantennya, untung masih ada banten yang sudah jadi, tinggal menambahi beberapa bantennya lagi, sehingga untuk metandingnya cuma butuh beberapa jam saja.

Terus aku ngledek bapakku, 'nak bes coba men, ipian tiange ni orahang epen-epen. Anu ba orahin melut ipianne.' (makanya jangan terlalu mengingkari. Mimpiku dibilang bunga tidur. Padahal sudah diminta untuk mengulasnya). Memang sih mimpiku rumit untuk diartikan. Tapi disitu sudah ada tanda-tandanya yaitu banten pejati, banyak, dari rumah tua di bawa ke rumah baru, jam 3.

Menariknya, gara-gara masih melengkapi upacara untuk ibuku, upacaranya baru selesai jam 3 pagi. Walau dalam mimpi dibangunkan jam 3 pagi. Lucunya juga, aku disengat kala jengking diantara ibu jari dan telunjuk, tapi sakitnya di ibu jari. 3 jam setelah bercerita mimpi ke bapakku dan tidak dipercaya, dikatakan bunga tidur, aku lagi disengat kalajengking. Ternyata sengatan kalajengking itu di ibu jari agar aku ingat dengan ibu yang sudah almarhum. Untung bapakku bisa merasakan dengan indra keenam, sehingga kekurangan upakara akhirnya bisa digenapi.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts